
April benar-benar membenci Kenzo. Ucapanya dan kelakuannya sungguh sudah melukai perasaan April. Hal itu membuat Kenzo begitu dilema.
Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya, sama sekali tak di sadarinya. Kemarahan April berdampak kepada Asisten Thomas. Dia menjadi sasaran kekesalan Kenzo dan kemarahannya.
Banyak pekerjaan yang di abaikannya hingga membuat Asisten Thomas kelabakan mengurus semuanya. Belum lagi pertemuan yg sudah terjadwal, tiba-tiba di batalkan begitu saja. Tentu saja Asisten Thomas yang menjadi sasaran amukan dan kekesalan Klayen. Semua ini belum pernah terjadi sebelumnya. Apapun yg terjadi Kenzo selalu mengutamakan pekerjaannya dan tidak pernah bersikap tidak propesional.
Moodnya sering berubah-ubah. Kemarahan April benar-benar membuat semuanya kacau.
Seharian Kenzo duduk berpikir di ruang kerjanya di dampingi asisten Thomas.
" Kamu sudah menikah." Pertanyaan itu tiba-tiba di lontarkannya kepada Asisten Thomas. Membuatnya sedikit terkejut.
Kenzo mengernyit menatap tampang terkejut Asisten thomas. Alisnya terangkat sebelah wajahnya menjadi mengkerut.
" Ekpresi macam apa itu? aku hanya menanyaimu sudah menikah apa belum? bukan menyuruhmu membunuh orang."
" Be..belum Presdir." Ucapnya tergagap, garis di wajahnya menegang dan kaku.
" Pacar?"
" Belum juga Presdir?" Masih dengan ekpresi yang sama.
Wajah Kenzo tiba-tiba berubah aneh mendengarnya, tangannya memutar mutar bolpoin berulang ulang. Ekpresi wajahnya seperti menyimpan banyak pertanyaan. Kalau dia belum menikah dan punya pacar, bagaimana bisa membantunya menyelsaikan permasalahannya dengan April.
Kenzo ingin meminta maaf kepada April. Tapi dia tidak tau bagaimana caranya meminta maaf, karena selama ini dia belum pernah melakukannya. Biasanya orang-orang yang selalu menunduk dan minta maaf kepadanya.
Hah... Dia benar-benar terlihat kesal dan bingung.
" Usiamu sekarang sudah berapa."
" 27 Presdir." Kenzo kembali mengernyit mendengarnya. Ternyata usia Asisten Thomas lebih muda satu tahun darinya.
" Berapa tahun dudah bekerja denganku."
" Se-puluh tahun Presedir." Jawab Asisten Thomas menegang, melihat kekesalan di wajah bosnya.
Ekpresi Kenzo tiba-tiba berubah, dia terlihat berpikir. Ternyata Asisten Thomas sudah berkerja cukup lama dengan Kenzo. Dia mengingat sedikit kenangan itu, orang tuanya menjadikan Asisten Thomas penjaga sekaligus temannya di saat usianya 18 tahun, saat itu dia masih remaja. Namun ada beberapa kenangan yang tidak bisa di ingatannya.
Kenzo berusa keras mengingatnya. Tiba-tiba kepalanya menjadi begitu sakit. Seolah-olah ada memori yang berusaha di lupakannya. Hal itulah yang membuat kepalanya begitu sakit saat ini.
" Aowww.. " Kenzo memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa semakin sakit ketika beberapa kenagan melintas di ingatannya. Sebuah senyuman yg begitu menawan samar samar di ingatnya.
" Maafkan aku." Kata- kata itu tergiyang di telingannya. Membuat kepala Kenzo semakin sakit.
" Arkkkk..." Kenzo meringis kesakitan memegangi kepalanya.
Asisten Thomas begitu panik, melihat keadaan bosnya.
" Presedir... Presedir.." Dia berusaha menggoyangkan tubuh Kenzo yg semakin berteriak kesakitan dan mulai kehilangan kesadarannya.
☆☆
" Apa yang sebenarnya terjadi." Nyonya Melisa langsung menamyai Asisten Thomas sesampainya di Rumah sakit.
Dia terlihat begitu panik dan cemas setelah menerima telpon dari Asisten Thomas.
" Presedir tiba-tiba kesakitan memegang kepalanya setelah itu langsung pingsan usai menanyai berapa lama saya berkerja." Jelas asisten Thomas.
Dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan kepada Kenzo. Nyonya Melisa bergegas menghampiri dan menayainya.
" Dokter.. bagaimana putraku? apa dia baik-baik saja."
" Hahhhh.." Dokter itu menghela napas.
" Nyonya bisa ikut keruangan saya?" Ajaknya.
Nyonya melisa menganguk lalu mengikuti Dokter ke ruangannya.
" Begini Nyonya." Dokter itu menatap wajah cemas Nyonya Melisa kemudian mengeluarkan lembar hasil Sitiscan dari amplop di mejanya Lalu menempelkannya di dinding khusus.
" Ada pergeseran di syaraf otaknya pasca operasi 10 tahun yg lalu. Sepertinya memori yang ingin di lupakannya muncul secara paksaan hal itu menganggu kinerja otaknya.
Nyonya Melisa gemetar lemas mendengarnya. Wajahnya begitu panik dan ketakutan.
" Apa Dok,, Di..dia mulai mengingatnya.?"
" Hanya potongan kecil."
" Dok? apa yang akan terjadi kalau Dia mengingat semuanya. Tidak, dia tidak boleh mengingatnya. Kumohon Dokter, lakukan sesuatu.
Wajah Dokter begitu berat, mengedip menyetujui permintaan nyonya Melisa.
☆☆
Kenzo siuman dari pingsannya, matanya berkedip kedip, tangannya mulai bergerak.
" Ahhh... " Suara napasnya masih berat memegangi kepalanya yg terasa sakit."
Nyonya Melisa yg sedang duduk menungguinya bersama Asisten Thomas langsung bangun menghampiri.
" Panggil Dokter."
Nyonya Melisa menyuruh Asisten Thomas, melihat kenzo yg sudah siuman.
Wajah Nyonya Melisa begitu tegang diliputi kecemasahan.
" Bagaimana. Apa dia sudah baik-baik saja."
" Tidak perlu khawatir. Tuan muda sekarang baik-baik saja, dan sudah boleh pulang."
" Tu kan? Dokter bilang Aku baik-baik saja. Ibu tidak perlu panik begitu." Kenzo tersenyum lembut berusaha menghilangkan kecemasan diwajah ibunya.
" Anak nakal." Nyonya Melisa terharu dan mencubitnya.
" Aow.. sakit Bu?" Kenzo berpura pura meringis mengelus pipinya yg di cubit.
" Kamu itu, selalu saja bikin ibu cemas."
" Saya minta maaf queen mother? lain kali janji tidak bikin queen mother cemas."
Nyonya Melisa tersenyum mendengar kekonyolan Kenzo. Namun garis wajah terlihat tegang menatapnya, ada sesuatu yang beruasaha sebisa mungkin di tutupnya dari Kenzo.
☆☆
April masih sama, dia tidak banyak bicara ketika Nyonya Melisa mengantar Kenzo ke Apartemennya.
Bi Sumi mengetahui kedatangan Nyonya Melisa langsung membuatkan teh hijau melati kesukaannya.
" Terimakasih ya Bi? Bibi masih ingat saja teh kesukaanku." Tersemyum sambil mencium aroma melati dari teh yang di berikan bi Sumi.
" Tentu saja atuh nyonya? bibi mana mungkin lupa." Ucapnya tersenyum.
Nyonya Melisa kemudian menatap serius ke arah menantu dan putranya yang tengah duduk berhadapan dengannya.
" Apa tidak sebaiknya kalian berdua tinggal di rumah saja sama Ibu?" ucapnya memberi saran melihat kondisi April yang saat ini tengah hamil mudah, di tambah kejadian yg baru saja di alami Kenzo. Tidak menutup ke mungkinan kalau tiba-tiba kenangan yang berusaha di blokirnya kembali dia ingat. Hal itu membuat nyonya Melisa cemas.
" Jujur, Ibu khawatir kalian tinggal terpisah dari kami, apa lagi jarak dari Rumah dan Apartemen ini cukup jauh."
" Bu, bukankah kita sudah membahas ini sebelum aku menikah. Biarkan kami tinggal di sini, kalau ibu kangen sama aku dan menantu ibu ini? ibu bisa datang kapan saja menjenguk."
Nyonya Melisa sepertinya tidak bisa mengubah keputusan Kenzo.
" Baiklah. Terserah kalian saja."
Dia kemudian tersenyum kepada April.
" Bagaimana sayang? apa kamu betah tinggal disini?"
April hanya menganguk menekan kepahitan dihatinya.
" Apa dia menindasmu?"
Pertanyaan itu, seketika membuat April terdiam. Gelagapan Kenzo memeluk April.
" Ha..ha..." Dia tertawa kecil
" Bagaimana mungkin Aku menindasnya. Ibu berpikir berlebihan."
" Benar sayang? Dia tidaj menindasmu." Nyonya Melisa bertanya penuh selidik kepada April.
Kenzo meremas bahu April.
Membuatnya tersenyum paksa dan menganguk menjawab pertayaan Nyonya Melisa.
" Kalau Dia menindasmu, hubungi saja ibu. Ibu pasti akan menghukumnya.
Kembali April memaksakan senyumannya sambil mengangguk pelan merespon perkataan nyonya Melisa.
" Baiklah kalau begitu Ibu pulang dulu."
Ke duanya hendak berdiri mengantarkan. Namun di hentikan oleh nyonya Melisa.
" Tidak perlu, ibu bisa sendiri. Kalian berdua beristirahatlah.
☆☆
Kamar itu begitu hening. Setelah makan malam seperti biasa April lansung tidur.
Wajah Kenzo begitu kacau, berpikir sambil mondar mandir si ruang kerjanya.
Gadis itu sampai kapan akan marah kepadanya. Haruskan dia meminta maaf? Tapi pikirannya bertentangan dengan hatinya.
" Masa iya Aku yg seorang Kenzo Beliondra. Pria berwibawa dan terkemuka di Kota A ini, harus minta maaf kepada gadis kecil itu." Gumamnya tidak percaya dengan pemikirannya.
" Arkkkkhhh... kenapa ini begitu susah sekali dan menjengkelkan." Grutunya mengeprak meja kerjannya.
Hmm... Author mau kasih bonus gambaran Asisten Thomas. Kalian semua bebas berimajinasi siapa saja ya? ini cuma imajinasi autor aja. 🤭😊
^_^
Hai semua.. Author ucapkan terimakasih bagi yang sejauh ini selalu setia mengikuti cerita author. Kalau kalian punya saran dan masukan demi berkembangnya cerita ini. Mohon di tulis di kolom komen ya?
Dan jangan lupa buat mainin jempol kalianya ya🥰🥰🥰