Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Kecemasan April



Kaki April menjadi lemas ketika Brayan menyalaminya.


Kenzo dengan sigab menyanggah tubuh April.


" Apa kamu kurang sehat." Kenzo bertanya sedikit cemas, tangannya masih memegangi April.


April gelapan, dan tidak menjawab pertanyaan Kenzo.


" Duduklah." Kenzo membantu April untuk duduk.


April mendengarkan ucapan Kenzo untuk duduk, matanya menerawang melihat aula pernikahan yang begitu megah dan di hadiri tamu penting dari manca Negara.




" President Kenzo, congratulations on your marriage. Wish you a long-lasting relationship. your Wife is young and beautiful ( Presedir Kenzo, selamat atas pernikahan anda. Semoga langgeng. Istri anda muda dan cantik )."


Mr. Jancki rekan bisni sekaligus ipestor yang berkewarga negaraan asing, memberi ucapan selamat kepada Kenzo dengan begitu antusias. Tangannya dia julurkan untuk menyalami Kenzo.


" Thank you Mr. Jucki for having the opportunity to attend my wedding day. And I hope Mr. Jucki enjoys the party. ( Terimakasih Tuan Jucki karena sudah berkesempatan hadir di hari pernikahan saya.Dan saya harap Tuan Jucki menikmati pestanya. )" Ucap Kenzo menyambut jabatan tangan Mr. Jucki.


Mr. Jacki di dampingi oleh istrinya, begitu elegan dan anggun berdiri di samping Mr. Jacki.


" Congratulations to you beautiful girl. ( selamat untukmu gadis cantik.)" Ucap istri Mr. Jucki, sambil memeluk April.


April dengan tersenyum canggung membalas pelukan istri Mr. Jucki.


Pesta pernikahan ini benar-benar membuatnya sesak. Di tambah tamu undangannya adalah orang orang dari kelas atas.


Sesekali April mencuri pandang terhadap Brayan, hatinya tidak tenang. April takut Brayan mengatakan sesuatu yang tidak di inginkannya. Karena Brayan tahu kalau dirinya hamil.


Brayan terlihat begitu kesal, sambil menegak begitu banyak gelas anggur yang di bawa pelayan.


" Bang. Kamu kenapa, datang - datang langsung minum banyak. Ibu nyariin tu." Indri menghampiri Brayan, bertanya Sambil mengisyaratkannya ke arah nyonya Melisa yang tengah sibuk menemani tamu undangan. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Bagaimana tidak bahagia, dia berhasil menutup mulut ibu - ibu rempong yang selama ini bergosib, kalau Presdir HG yaitu putranya Kenzo Beliondra tidak tertarik kepada wanita.


Penikahan ini bukan hanya membungkam mulut ibu ibu rempong itu, namun juga sekaligus membuat posisi Kenzo sebagai Presdir Muda Perusahaan HG menjadi lebih kuat. Apa lagi sekarang menantunya sedang mengandung keturunan Keluarga besar Beliondra.


" Malas ah..." Ucap Brayan cuek, kemudian meninggalkan aula pernikahan.


Tamu undangan satu persatu mulai pergi meninggalkan aula pernikahan.


Pak Sanjaya dan Nyonya Melisa langsung menghampiri Kenzo dan April.


Dengan senyuman bahagia Nyonya Melisa memeluk April.


" Ibu ucapkan selamat sekali lagi ya sayang, kamu sekarang sudah menjadi bagian keluarga Beliondra. Kalau Dia berani menindasmu, kasih tau Ibu." Ucapnya sambil melirik ke arah Kenzo.


" Kamu jaga diri baik-baik ya Nak? sekarang Kamu sudah menjadi istri orang, harus bisa menjaga sikap."


April mengangguk mendengar ucapan Pak Sanjaya.


" Bunda bagaimana kabarnya Yah."


" Bunda baik, lusa akan brangkat ke Cina untuk pengobatan."


Pak Sanjaya kemudian membungkuk mengucapkan terimakasih kepada Kenzo dan Nyonya Melisa.


" Jangan begitu Pak, ini adalah hal yang wajar. Sekarang kita ini keluarga." Ujar nyonya Melisa menghentikan pak Sanjaya dari membungkuk hormat kepdanya dan Kenzo.


" Baiklah Pak.. sekarang saatnya kita pergi dan membiarkan pengantin baru untuk pulang beristirahat." Ujarnya kepada pak Sanjaya.


" Dan kalian berdua, mama sudah pesankan kamar hotel termewah di kota ini untuk kalian. Nikmati malam pernikahan kalian ya..?"


Nyonya Melisa berucap begitu menggoda sambil mengedipkan mata kepada Kenzo. Kenzo benar-benar di buat malu oleh kelakuan ibunya yang tidak ada habis habisnya. Selalu selangkah lebih maju dari dirinya.


" Nah.. jemputan kalian sudah datang tu." Nyonya Melisa mengarahkan pandangannya ke arah seorang lelaki berseragam supir yang berdiri di dekat pintu Aula.


Mobil penganti sudah terparkir di depan Aula pernikahan.



Supir segera mengatar mereka ke hotel yang di arahkan nyonya Melisa.


Sesampainya di kamar hotel, April takjub tak bisa berkata-kata melihat kamar hotel begitu luas dan mewah. Dan dia juga canggung dan malu melihat kamar pengantinnya yang di hias begitu indah.







" Kenapa bengong." Ucap Kenzo, berjalan masuk terlebih dahulu ke kamar mandi mengganti tuxedonya dengan baju tidur. Karena hari sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Meski terdengar belum terlalu malam si, namun Kenzo tidak punya tenaga lagi untuk keluar, mengi gat mereka seharian menyambut dan menyalami tamu undangan.


April duduk di atas tempat tidur, perasaannya mulai tidak tenang dengan apa yang akan dilakukan Kenzo terhadapnya. Meski ini hanyalah pernikahan kontrak. Namun di pernikahan kontrak di tuliskan dengan jelas kalau dia harus melahirkan keturunan untuk keluarga Beliondra. Dan bukan tidak mungkin Kenzo akan berniat menyentuhnya, meski selama ini mereka sudah pernah seatap, dan Kenzo tidak pernah macam macam kepadanya. Namun statusnya kali ini sudah menjadi istri.


Gaun pengantin masih melekat di tubuh April. Dia bahkan tak brani bergerak, ruangan yang dingin terasa pengab baginya.


^_^