Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Malam pertama yang terencana



Ruangan kamar terasa begitu pengap,, Busana pengantin masih melekat di tubuhnya.


~ Apa yang harus aku lakukan? suasana ini benar-benar canggung. Bagaimana kalau dia mendekat ke arahku. Jantungku seakan ingin melompat keluar, bisakah malam ini cepat berlalu?


" Apa Kau semalaman akan mengenakan gaun itu." Teguran Kenzo membuyarkan semua pemikiran yang melintas di kepala April.


Kenzo berdiri mengenakan baju tidur berwarna coklat muda, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yg masih basah.


April tak bisa berkedip menatapnya. Pikirannya mulai kacau.


Tiba-tiba Kenzo mendekat perlahan ke arahnya, membuat jantung April berpacu cepat, tubuhnya kaku, dan matanya melotot seakan ingin melompat keluar.


Karena gugup dia meremas kuat gaun pengantinnya.


" A..a.. apa yang mau kamu lakukan." Ucapnya terbata, tampa mengalihkan pandangannya dari Kenzo.


Kenzo membungkuk tangannya seakan ingin meraihnya.


" Arkkkkhhh.... " April berteriak, lalu replek melindungi dirinya. Matanya terpejam, sementara ketegangan tergurat di wajah cantiknya.


" Kamu kenapa? Kenapa berteriak..?"


Kenzo mengernyit bingung menatapnya.


Perlahan April membuka matanya. Ekor matanya melirik Kenzo, karena menyadari tidak ada sesuatu yang terjadi kepadanya. Dia melihat Kenzo membungkuk di dekatnya mengambil remote Ace.


~ Anji..r apa yang aku lakukan, ku pikir dia akan menyentuhku. nyatanya cuma mengambil remote toh. Lagian kenapa juga remotenya ada di dekatku. Ah.. aku malu ni,, gi mana dong?? apa dia tadi melihatku dengan tatapan aneh? dan apa dia berpikir kalau diriku ini aneh?


" Ace nya terlalu dingin." Kenzo menjelaskan sambil mengarahkan remote ke arah Ace.


Karena malu, April tak menggubris. Dia dengan cepat berlari begitu saja ke kamar mandi.


" Ha... handukmu.."


Suaranya semakin pelan berusaha memberi tahu April kalau dia lupa membawa handuk. Namum sepertinya karena grogi April tak bisa mendengarnya dengan jelas.


April belum sadar kalau dirinya tidak membawa handuk dan baju ganti.


Selesai mandi dia begitu kebingungan harus menggunakan apa untuk mengeringkan tubuhnya. Dia tidak mungkin harus semalaman di dalam kamar mandi menunggu Kenzo tidur. Bukankah dirinya akan terlebih dahulu mati kedinginan?


April berpikir keras apa yang harus di lakukannya. Haruskah meminta tolong kepada Kenzo? Ah... sepertinya itu tidak mungkin.


Sementara Kenzo yang tadinya ingin langsung berbaring, malah tidak jadi, pandangannya bergantian terpokus ke jam di tangannya dan handuk yang masih terlipat rapi. April sudah lebih dari dua jam di kamar mandi. Perasaan Kenzo menjadi cemas membayangkan yg pernah sebelumnya gadis itu lakukan.


Dengan panik, Kenzo bergegas bangun langsung menuju kamar mandi tidak lupa menyambet handuk.


" Tok... tokk.. tokk...


Pintu dengan begitu bertenaga di gendornya, membuat April seketika panik. Tidak tahu harus menyembunyikan dirinya di mana. April begitu kebingungan dan tak bisa merespon. Pikirannya benar-benar ngebleng.


" Aaaaaa...... dasar cabul!!" April berteriak mengatai Kenzo sembari berusaha menutupi tubuhnya. Tangannya seperti kerepotan menutupi tubuhnya yang terespos.


" Ah maaf." Dengan cepat Kenzo membelakangi April.


" Tarik kembali kata katamu itu. Aku pikir kamu pingsan. Soalnya kamu mandinyq lama sekali."


Kenzo lalu melemparkan handuk ke tubuh April. Dia tanpa berdebat lagi berlalu meninggalkannya.


~ Hah.. cabul? gue di bilang cabul? dia itu lupa apa, gue ini kan suaminya? yaa.. gak pa-pa kalau gue lihat tubuhnya. toh cepat atau lambat juga bakalan gue lihat.


Kenzo berdecak kesal memikirkan sebutan baru untuk dirinya Ca-bul . Gadis itu selalu sembarangan kalau mendiskripsikannya.


Emutnya benar-benar buruk. Kenzo ingin meninggalkan kamar hotel, tapi pintunya tidak bisa di buka. Dia dengan kesal ingin menelpon Asisten Thomas. Tapi sepertinya hpnya tidak ada.


Kenzo mencarinya keseluruh ruangan kamar. Benar-benar tidak ada.


Pintu dikunci, hp tidak ada? sepertinya hal ini bukan sembarang orang yang bisa melakukannya.


" Oh my Good nyonya Melisa?!!"


Kenzo mengngertakkan gigi menyadari semuanya. Ulah ibunya ini benar-benar luar biasa. Sekarang dia terjebak di kamar hotel bersama April.


Malam pertama yang benar-benar terencana.


Kenzo sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa pasrah menerima keadaannya.


☆☆


" Bagaimana, apa semua sudah di jalankan sesui instruksi dariku." Pertanyaan itu Nyoya Melisa tujukan ke pada Asisten Thomas dan supir tadi yang mengantar Kenzo dan April ke hotel.


" Sudah seperti yg Nyonya printahkan." Supir yg tadi menyahut sambil sedikit membungkuk hormat.


Wajah asisten Thomas terlihat kurang enak di pandang. Dia begitu menghawatirkan ke adaan bosnya.


Nyonya Melisa menyeringai melihatnya. Lalu dia mendekat ke arah Asisten Thomas dan berbisik ke telingannya.


" Awas saja, sampai aku tau Kamu pergi ke Hotel mengganggunya!!"


Bisikan itu terdengar mengancam. Dengan cepat wajah nyonya Melisa tersenyum sambil membetulkan kerak jas asisten Thomas.


Asisten Thomas sampai berkeringat dingin mendengar ancamannya.


" Sudah, kalian malam ini boleh pulang dan istirahat." Printahnya sambil mengibaskan tangan.


Keduanya sebelum pergi membungkuk hormat. Nyonya Melisa pun berjalan elegan menuju kamarnya. Sepertinya mulai dari malam ini dia benar-benar bisa tidur dengan nyenyak.


^_^