Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Berusaha berdamai dengan hidup>>>



April melihat sekeliling , berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia tidak bisa menemukan ke beradaan Kenzo di dalam kamar mereka. Apa mungkin lelaki itu sudah berangkat kerja?


Matanya langsung tertuju ke arah ponsel yg terletak di atas meja samping tempat tidur, lalu melihat waktu di ponselnya. Sudah pukul 09.00 ternyata sudah begitu pagi.


Hari ini mereka sedikit terlambat bangun. Mengingat kejadian tadi pagi membuat April sedikit merona dan malu.


" Ah apa yang sudah ku pikirkan." Gumamnya berusaha kembali ke realita kehidupan. Lalu kembali meletakkan ponsel ke tempat semula.


Dia berdiri di depan cermin menatap perutnya yang terlihat mulai menonjol. Ada perasaan yang tak bisa dia mengerti ketika melihat bayangan dirinya di cermin. Wajahnya, tubuhnya, terlihat begitu berbeda. Wajah yang dulu bergairah dan bersemangat kini sudah menghilang.


~ Seharusnya sekarang aku bermain bersama teman-temanku masih banyak mimpi yang ingin ku raih. Tapi sekarang aku terjabak dalam pernikahan ini. Aku tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya kepadaku setelah melahirkan anak ini. Apakah hidupku akan bisa kembali normal seperti dulu?


April menatap nanar pantulan bayangan wajah dan tubuhnya di cermin.


" Nyonya.. sarapan dulu? Entar makanannya ke buruh dingin."


Bi Sumi berdiri di depan pintu kamar memberitahukan April.


April menoleh dengan wajah kurang bersemangat.


" Bentar ya Bi? saya ganti baju dulu." Sahutnya.


Setelahnya dia berjalan keluar menuju meja makan.


Dia langsung duduk dan menegak setengah gelas susu, sambil matanya melihat lihat ke sekeliling ruangan.


" Bi, Tuan sudah berangkat kerja?"


" Sudah Nyonya, saya lihat Tuan buru- buru pergi setelah buatin Nyonya sarapan?" Ujar bi Sumi, tangannya masih sibuk membersihkan peralatan masak.


" Apa sarapan ini di siapkan Tuan lagi?" Wajah April terkesan canggung dan ragu bertanya.


" Iya Nyonya? Tuan itu gak mau bibi bilangin, padahal sudah bibi bilang biar bibi saja yang masak buat Nyonya. Eh malah bibi cuma di tatap dengan senyuman."


April hanya bisa tersenyum mendengar celoteh Bi Sumi. Namun di hatinya memikirkan perlakuan Kenzo yang selalu menjaga dan memenuhi ke butuhkan harianya. Ada perasaan yang sulit ia ungkapkan.


" Saya aneh gitu Nyonya." Bi Sumi menjeda ucapannya, lalu berbalik menatap April, seperti sedang berpikir.


" Aneh.. aneh kenapa Bi?" Respon April


" Tuan itu, jarang sekali sy lihat sarapan pakai nasi, roti atau makanan berat lainnya. Pagi- pagi selalu minum kopi, terkadang saya lihat Tuan seperti tidak suka sama aroma makanan yang di masaknya, karena setiap dia masakin sarapan untuk nyonya, Tuan terlihat begitu menderita, selalu menutup hidungnya dengan ini."


Bi Sumi menmperlihatkan jepitan jemuran kepada April.


April mengangkat alis tidak mengerti, menunggu penjelasan Bi Sumi yg terlihat berpikir.


" O iya.. ini ni, benda yg Tuan pakai buat menjepit hidungnya." Jelasnya melihat ekpresi tanya di wajah April.


Garis wajah Bi Sumi kemudian berubah seperti menyimpan tanda tanya.


" Nyonya." Panggilanya eksaited


" Boleh nanya?"


" Nanya apa Bi." Tanggap April serius.


" Nyonya kan sekarang lagi hamil... ? saya kok gak pernah lihat Nyonya Muda ngidam, atau mual- mual karena mencium bau sesuatu." Tanya bi Sumi langsung ke inti rasa penasrannya.


" Memang harus ya Bi?" Ujar April sambil memasukkan sesuap demi sesuap makanan kemulutnya.


" Ya... biasanya kalau lagi hamil muda, pasti kebanyakan wanita ngelewati pase yg namanya mual dan ngidam."


Bi Sumi memperhatikan lekat lekat wajah April yg terdiam sperti memikirkan ucapannya.


" Selama ini saya gak da ngerasain hal itu Bi, dan saya juga gak terlalu ngerti gimana rasanya, soalnya ini kali pertama saya."


April menganguk pelan, matanya terlihat penuh pertanyaan.


" Pantesan." Bi Sumi tersenyum cerah. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.


Kedua alis April terangkat sejajar, semakin tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan wanita setengah abad ini.


" Nyonya beruntung deh." Ucapnya lagi. Semakin menambah garis kerut di dahi April karena tak mengerti dengan ucapan nya.


" Beruntung kenapa si Bi....? Bibi itu dari tadi ngomongnya gak jelas."


" Ya beruntung, soalnya saking cinta dan pedulinya Tuan sama Nyonya, ngidampun di gantiin." Bi Sumi tersenyum lebar memberitahu April.


☆☆


Sore hari seperti biasa, April menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau membaca buku kehamilan.


Hal itu membuatnya jenuh dan bosan, seharian hanya berada di dalam rumah. Dia berniat keluar. Namun niatnya itu dia urungkan, melihat kondisi tubuhnya yang sudah kelihatan menonjol. April belum siap bertemu dengan teman-teman kalau sampai mereka tidak sengaja ber-paspasan. Walau bagaimanapun April adalah seorang remaja yang sepenuhnya belum siap menerima kondisi mendadaknya saat ini.


April terlihat kesal dan uring- uringan.


Sementara Kenzo memperhatikan setiap kelakuan April lewat layar ponselnya yang sengaja dia sambungan ke cctv di Apartemennya.


Semenjak insiden April di culik, Kenzo mulai protektif menyangkut segala sesuatu mengenai April. Dari mengurus makananan yg bisa dan tidak bisa April makan, masalah kebersihan dan ke amanannya. Dia tidak ingin melewatkan semua itu.


" Tuh anak kenapa bete dan uring uringan gitu?" Kenzo membatin. Matanya menyipit pokus mperhatikan setiap tingkah dan ekpresi kesal di wajah April.


" Apa dia merasa bosan di rumah terus.." Kenzo berpikir sejenak.


Seperti sudah memutuskan sesuatu di pikirkanya dia memanggil Asisten Thomas menyuruhnya membatalkan semua jadwalnya hari ini.


Asisten Thomas tidak terlalu kaget dengan ke putusan bos nya, karena ini bukan kali pertama bosnya melakukan ini semenjak menikah, Kenzo berubah 180 derajat. Moodnya sangat sulit untuk di prediksi.


" Oya.. siapkan mobil juga. Aku mau keluar, urusan Kantor hari ini Aku serahkan kepadamu." Ujarnya kepada Asisten Thomas, sebelum asisten Thomas melangkah keluar dari ruangannya.


Sesampainya di dalam mobil, Kenzo langsung menelpon ke Apartemennya, karena dia tahu April pasti tidak akan mengangkat ponselnya kalau tau dia yg menelpon.


Kenzo tanpa basa basi langsung menyuruh April bersiap siap.


" Bersiap-siaplah, 20 menit lagi aku sampai." Ujarnya langsung menutup sambungan telpon tanpa mendengar persetujuan April.


Walau enggan April tetap menuruti perkataan Kenzo.


Seperti yang sudah di beritahukan, Kenzo sudah sampai di Apartemen dalam waktu dua puluh menit.


Matanya langsung di kejutkan oleh penampilan April.



Gadis itu begitu cantik dan elegan, walau dengan penampilannya yg terbilang sederhana.


" Kenapa..? apa Aku terlihat aneh." April bertanya kaku melihat keterkejutan di mata Kenzo.


Kenzo seperti tak bisa mengeluarkan kata kata saking terpesonanya. Dengan cepat pandangannya langsung tertenduk berusaha menguasai dirinya.


" Ikut Aku." Ajaknya


April hanya bisa mengikutinya, tanpa bisa menolak. Saat ini dia berusaha berdamai dengan hidup. Setidaknya dia harus bisa bertahan melewati semua ini. Karena ini adalah pilihannya. Pilihan yang dia pilih demi pengobatan bundanya dan demi perusahaan Ayahnya.


Apapun kepahitan dalam hidupnya, akan berusaha ia lewati. Ini sudah di putuskannya.


April menarik napas kemudia menyusul langkah Kenzo tampa bertanya.


^_^