Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ April merajuk



April menarik napas dalam dalam sebelum akhir nya melangkahkan kaki masuk ke dalam apartment.


Pikirannya terasa sedikit kacau dan berantakan. Ada getir kegelisahan di hatinya mengingat kembali kejadian siang tadi.


" Ah...!! apa yang kupikirkan." seringainya tersenyum masam dengan wajah datar.


" Apa peduliku, terserah dia mau waras atau gila!" ujarnya lagi menekankan pada diri sendiri sambil terus berjalan masuk.


Namun begitu, dia tidak bisa tidak memikirkannya, hati kecilnya bertanya tanya, ada apa sebenarnya dengan lelaki es itu.


Bertolak belakang dengan hati dan pikiran warasnya yang tidak ingin peduli dengan apa yang dilakukan Kenzo, April berjalan perlahan ke ruang kerja Kenzo memeriksa apakah dia sudah pulang atau tidak, karena hari sudah hampir gelap.


April sedikit kecewa mendapati Apartemen itu tidak ada siapapun selain dirinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 menit, namun tidak ada tanda tanda pintu kamar akan terbuka. Tidak biasanya Kenzo belum pulang.


April berusaha tak perduli, namun dia tetap menunggunya dalam kegelisahan di ruang tamu, tanpa sadar ia terlelap.


Pagi hari yang begitu cerah, sinar mentari yang hangat menyentuh pipinya. April terbangun, dia sedikit terheran mendapati dirinya yang berada di atas tempat tidur. Padahal jelas jelas semalam dia menunggu Kenzo di ruang tamu sambil menonton Televisi.


Dia bergegas bangun, lalu keluar Kamar setelah tidak menemukan siapa siapa dikamar, wajajahnya mulai celingak celinguk ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan Kenzo.


Melihat bi Sumi yang sedang menyiapkan sarapan, April mendekat. Wajahnya seperti tergores tanda tanya dengan sedikit keraguan. Bi Sumi yg melihat raut majiakannya yg terlihat ragu akhirnya bertanya.


" Ada apa Nyonya? apa Nyonya membutuhkan sesuatu?"


Lama April memandang bi sumi sebelum akhirnya dia bertanya.


" Tu.. Tuan mana bi?"


Bi sumi mendongak, menghentikan sesaat aktivitasnya.


" Ow... nyari Tuan to Nya? Tuan, sudah berangkat pagi-pagi sekali Nya?"


Mendengar itu, wajah April sedikit suram dan tak bersemangat. Tanpa bertanya lagi April berlalu dengan gontai dan sedikit perasaan kecewa meninggalkan bi Sumi tanpa menyentuh sarapan yg sudah dihidangkan.


" Nya, gak sarapan dulu?"


" Males Bi? gak nafsu."


" Tapi Nya, Nyonya harus tetap sarapan? kalau Tuan tahu Nyonya gak sarapan, Bibi bisa kena omel."


April tidak menghiraukan ucapan Bi Sumi, dia tetap berjalan masuk ke kamarnya dengan wajah kesal.


" iiiiiiiii.... dasar! nyebelin." Grutunya kesal sambil membejek bejek selimut. Mulutnya terus saja dia manyunkan.


April berusaha menenangkan dirinya. "Tunggu, kenpa aku harus kesal, wah ini gak benar. Lagian apa urusannya sama aku, dia mau ada atau gak ada.


Tersadar dengan kelakuannya,April sedikit bergidik dengan kelakuannya sendiri.


" Tapi gimana dong?! Aku sangat kesal....!!" grutunya lagi, mengambil bantal guling, kemudian meninju ninjunya melampiaskan kembali kekesalannya.


Tok.. tok. .. tok


" Nya? Nyonya kenapa?"


Bi Sumi bertanya khwatir mendengar kegaduhan di kamar April.


April menoleh ke pintu, dengan sedikit emosi yg ditahan.


" Gak kenapa napa Bi. Cuma lagi kesal, ada tikus besar tadi."


" Ti, kus?" Gumam Bi Sumi sedikit heran.


" Tikusnya apa perlu Bibi tangkap nya?"


" Gak Usah Bi. Tikusnya udah kabur."


" Masa iya si, di Penthous semewah ini ada tikusnya." Gumam Bi Sumi sedikit ragu dan tak percaya.



" Sudah kamu temukan keberadaan wanita itu?"


" Sudah Presdir, ini alamatnya." Asisten Thomas menyodorkan dokumen dengan alamatnya lengkap ke meja Kenzo.


" Sepertinya wanita itu, baru baru ini kembali ke Indonesia." Ujar Thomas menjelaskan.


Kenzo hanya diam menanggapi. Wajahnya terlihat serius.


" Baiklah kamu boleh pergi." Ujarnya sambil berdiri.


" Apa Presdir mau pergi?" Tanya Asisten Thomas yg tak langsung pergi melihat Kenzo yang sudah berdiri mengenakan jasnya.


" Iya, ada sedikit masalah."


" Perlu saya temani?" Tawarnya.


" Tidak perlu, tolong siapkan mobil saja."


☆▪︎


" Bi, mana Nyonya?"


Kenzo langsung menghampiri bi Sumi sesampai di Apartemennya.


Kenzo melihat ke arah meja makan yg makanannya masih terlihat utuh.


Hhhhh..


Kenzo menghela napas berat, mengetahui April belum sarapan.


Seperti tidak terjadi apa-apa, Kenzo menghampiri April, lalu duduk disampingnya yg lagi berbaring.


" Hey.... kata bi Sumi kamu belum sarapan."


Suara Kenzo terdengar begitu lembut.


April diam, tidak mau merespon sedikitpun pertanyaan Kenzo.


" Apa kamu tidak enak badan."


Kenzo menempelkan tangannya ke kening April, namun tiba-tiba di tepis oleh April.


Kenzo terdiam sejenak memandangi istrinya yg sedang merajuk. Sebenarnya dia tidak terlalu tahu bagaimana menghibur seorang wanita. Karena selama ini keadaan seperti ini belum pernah di laluinya. Namun Kenzo berusaha berpikir keras bagaimana membuat April agar mau sarapan dan tidak merajuk.


Mengingat kelakuannya waktu itu, tentu saja April marah. Kenzo benar-benar menyesali perbuatannya. Dia tidak tahu kenapa dirinya bisa bersikap kasar seperti itu.


Kenzo benar-benar menyesal, hanya saja dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan penyesalannya, karena dia meninggalkan April begitu saja di lampu merah.


Sekali lagi Kenzo menghela napas panjang dan berat.


Hhhhhhh....


" Kamu marah ya sama aku, yaaaa,,, itu wajar sih, aku juga sangat marah sama diriku sendiri. Yang berbuat salah kan aku, kenapa baby nya yg dihukum, kan kasian baby nya sudah jam segini belum di kasih makan."


Kenzo dengan sabar berusaha membujuk April. Wajah Kenzo penuh pengharapan berharap April bisa luluh dengan bujukannya tadi.


" Aku buatkan sarapan yg baru ya?"


Tanpa menunggu persetujuan April yg masih tak menghiraukan nya, Kenzo bergegas ke dapur membuat sarapan baru untuk April.


April berusaha mengintip Kenzo yang akan keluar, wajahnya tampak bahagia setelah Kenzo tidak ada, dia merasa geli sendiri dengan kelakuannya tadi.


Apa lagi mendengar kata permintaan maaf dari seorang Kenzo. Dia tak menyangka akan mendengarkan itu semua dari mulut seorang Presdir yg dingin dan kaku.


▪︎▪︎


" Bi, Ada kentang gak?"


" Ada Tuan, tapi mau buat apa Tuan?" Tanya bi Sumi penasaran.


" Mau buat kentang goreng saos salmon buat Nyonya Bi, sekalian mau buatin Kwitiu makanan kesukaan Nyonya."


" Low.. bukannya Tuan bilang itu gak sehat buat Nyonya."


" Gak pa-pa Bi, sekali kali. o, iya bi? tolong kupaskan dan potong buahnya juga, sekalian mau buatin Nyonya salah buah."


" Apa perlu Bibi bantuin masak ya Tuan?"


" Gak usah bi, potongan buahnya saja."


Akhirnya dengan lihai Kenzo mulai melakukan aksi. memasaknya.


Diam-diam April mengintip apa yg tengah dimasak untuknya di dapur, bibirnya sedikit tersungging. Dia tidak menyangka kalau si wajah dingin itu tau juga makanan kesukaannya.


Tanpa sadar April terpesona menatapnya, Kenzo seperti seorang koki yg handal memasak. Lelaki itu, apa ada yg tidak bisa dilakukannya pikirnya. Kenapa dia terlalu sempurna.


" Ah.. apa yang sedang ku pikirkan." April menyadarkan dirinya menepis pikirannya.


Dia buru-buru kembali ke kamar sebelum tertangkap basah mengintip Kenzo.


▪︎▪︎


" Hay... aku masakin sesuatu yg kamu suka, mau di cicipi gak?"


Dengan sengaja Kenzo mengipas ngipas makanan favorit April, agar aromanya bisa tercium olehnya.


" Ummm.. ini baunya enak banget, yaaakin gak mau? kalau gak mau aku kasikan ke bi Sumi saja untuk di bawah pulang, sayang kalau gak da yg makan. Jatuhnya entar mubasir. "


Ujung matanya melirik ke arah April, sambil berpura pura beranjak memberikan makanan kepada bi Sumi.


" Tunggu." April menghentikan langkah Kenzo.


Mendengar itu Kenzo tersenyum samar.


" Makanannya akan aku makan." Wajah April terlihat merah bersemu karena malu sambil mengigit sedikit bibirnya.


" Nah gitu dong, mau makan disini atau di meja makan."


April benar-benar merasa sangat malu, tampa menjawab pertanyaan Kenzo dia keluar menuju meja makan.


Kenzo hanya bisa tersenyum melihat kelakuan April. Lalu mengikutinya menuju meja makan.


Dengan lahap April memakan masakan Kenzo tampak berani melihat atau mengintip wajah Kenzo yg duduk memperhatikannya.


Sementara bi Sumi hanya bisa tersenyum sambil mengeleng geleng kepala melihat tingkah pasangan itu.


^_^