
Godaan itu berbalik kepadanya, April tersipu, matanya melotot kaku, jantungya bergetar, tatapan Kenzo seakan menusuk langsung Kedasar hatinya. April bingung harus bersikap bagaimana, tubuhnya benar-benar tegang.
" Tu..tu..runkan aku. Aku bisa jalan sendiri." Ucapnya gugup dan terbatah bata, Kenzo tak menggubris, dia terus berjalan menggedong April menuju meja makan.
Sesampainya di meja makan, dengan hati hati Kenzo menurunkannya. Pikiran April langsung teralihkan oleh bau makanan yg menggugah selera. Dengan bersemangat dia duduk dan langsung mencicpi makanan itu Satu persatu, Kenzo memperhatikan, bibirnya berkedut. Aura kebahagiaan dan kehangatan terpacar di mata dan gurat wajahnya.
"Enak...?" Pertanyaan itu membuat April menganngguk dengan perasaan sedikit malu dan canggung sebab dari tadi dia makan dengan begitu lahap sampai sampai melupakan Keberadaan Kenzo dan di mana saat ini dirinya berada.
" Baguslah... kalau begitu habiskan." Kenzo kembali menyeruput kopinya, tidak ada sepotong makananpun yg di sentuhnya, hal itu membuat April sedikit bingung dan penasaran, apa orang kaya sarapannya hanya minum kopi aja, pikirnya. Namun pemikiran itu hanya melintas sesaat di benaknya. Dia kembali menikmati sarapan paginya.
Kepala April celingak celinguk melihat kesekeliling ruangan, membuat Kenzo mengernyit melihatnya.
" Ada apa? apa makanannya mau ditambah, atau ada yg kamu ingin makan.
" Ah...tidak...tidak, udah cukup kok, sy udah kenyang." Ujarnya sopan.
Dia sesikit ragu ingin bertanya, namun kemudian memberanikan diri bertanya. "Apa kamu melihat ponsel saya?"
" Ponselmu rusak. Pakai ini saja." Kenzo menyodorkan ponsel model terbaru kepada April.
April tampak canggung ingin menerimanya. Tetapi saat ini dia butuh benda itu untuk menghubungi Ayahnya. Dia tidak ingin Ayahnya cemas memikikan dirinya yg tidak pulang semalaman.
April mengotak atik ponsel tersebut, ia mengetik nomor telpon Ayahnya. Ternyata nomornya sudah tersimpan di hp itu. April menatap wajah Kenzo dengan gurat tanya.
" Aku sudah simpan nomor penting di situ, jadi kamu bisa hubungi kapan saja. Kamu tinggal pencet angka 1 maka akan muncul namaku." Jelasnya begitu saja tanpa ekpresi melihat tatapan tanda tanya April.
April dengan senyuman yg dipaksa mengernyit mendengarkan. Dalam hatinya dia mencibir Kenzo." Hah.. orang penting?? songong amat ni orang! nganggap dirinya orang penting.
Kenzo melihat Arloji ditangannya kumudian kembali menatap April.
" Kalau begitu, aku mau berangkat kerja, kamu kalau butuh apa² bisa telpon aku. Ada bi Sumi juga nanti yang bakal nemanin kamu.
" Tunggu. Ini maksudnya apa? kenapa aku harus hubungi kamu dan Bi siapa namanya tadi? oh bi Sumi. Kenapa bi Sumi harus nemani aku. Aku tidak berniat tinggal di sini?
Kenzo tak menjawab pertanyaan April. Dia justru menyuruh April untuk memilih baju yg mau dikenakan saat ini.
" Kamu boleh ganti bajumu, silahkan di pilih, semuanya milik kamu."
" Aku mau pulang!!" Teriaknya Kepada Kenzo yang bejalan pergi memunggunginya.
Wajahnya terlihat marah melihat Kenzo tidak merespon ucapannya. April tidak terima diperlakukan seperti ini, meskipun mereka sudah menandatangani kontrak pernikahan, tetapi saat ini mereka belum menikah. Apa dirinya seoarang tahanan. Dia bahkan tidak tahu di mana saat ini dirinya berada.
" Aku mau pulang..aku mau pulang..... aku ma-u pulang.....!!" April terus merenggek dan berteriak seperti anak kecil.
Kenzo menghela napas panjang, mendengar teriakan April. Mau tidak mau dia harus tinggal dan berdebat dengan wanita keras kepala yang saat ini tengah marah ke padanya. Dia dengan terpaksa menelpon Asisten Thomas untuk tidak perlu menungguhnya dan segera berangkat ke Kantor. Lalu dia berbalik berjalan menghampiri April.
Dari ekspresinya dia terlihat tidak senang mendengar April yang merenggek minta pulang. Sebenarnya bukan tidak senang, tapi lebih ke rasa takut, dia sebenarnya takut kalau April akan melakukan hal nekat setelah mengetahui dirinya hamil. Perasaan itu benar-benar membuatnya takut sehingga bertindak berlebihan dalam menyangkut April.
Setidaknya kalau April tetap berada dalam pengawasaanya, dia bisa mencegah hal buruk yang ingin dilakukan gadis itu. Namun sayang mungkin cara Kenzo terkesan salah. April justru mengangap dirinya sudah dikurung dan hal itu yg membuatnya memberontak tak terima.
" Pulang..? kamu gak akan kemana-mana. Aku sudah kasih tahu Pak Sanjaya, kalau kamu bakal di sini sampai pernikahan kita di langsungkan." Tegas Kenzo.
" Apa hakmu ngatur-ngatur hidup saya. Enggak..!! pokoknya aku mau pulang!! aku gak mau tinggal di sini sama mahluk aneh kaya kamu!!" Dia tersulut emosi dan menolak menuruti keinginan Kenzo yang tidak masuk akal, hal itu membuat Kenzo tidak senang.
" Kenapa tidak mau?? jangan lupa, kamu itu siapa dan milik siapa. Sejak kamu menandatangani kontrak pernikahan di hari itu, kamu sudah menjadi milikku. Jadi biasakan dirimu, karena Penthouse ini akan menjadi tempat tinggal kita." Jelasnya tersenyumam mengerikan.
April menciut, dia tak berani menatap langsung wajah Kenzo. Lelaki itu terlihat seperti iblis, kata katanya terdengar lembut tapi kejam.
" Ow.. aku tahu, kamu bukannya ingin pulang kan? tapi kamu pasti ingin bertemu dengan kekasih mu itu." Kenzo tiba-tiba di bakar cemburu, mengingat kembali nama kontak yang di lihatnya di hp April yang tertera my love, di tambah lagi dia membaca pesan rindu dari Aryo untuk April, bukan hanya itu, Aryo juga mengajaknya ke luar untuk makan malam.
" Apa maksud kamu?"
" Maksudku sudah jelas. Kamu tidak akan ke mana-mana. Dan aku tidak mau wanitaku ternoda oleh lelaki manapun." Dia dengan tegas mengatakannya lalu menyunggingkan senyuman sinis, tatapan matanya terlihat menakutkan dan mendominasi.
" Kalau tidak,, kamu dan keluargamu tanggung sendiri akibatnya." Ujarnya lagi terdengar seperti mengancam.
Mendengar itu, tubuh April bergetar, wajahnya menjadi pucat, dia begitu takut dan bingung, berpikir kenapa dirinya sampai lupa, kalau saat ini tengah mengandung. Mengandung anak lelaki yg dia sama sekali tidak tahu. Apa yang haru dia lakukan? bagaimana kalau sampai Kenzo tahu? apa yang akan terjadi dengan nasib ibu dan juga perusahaan yang di bangun susah paya oleh ayahnya.
**
Kecemburuannya yang berlebihan membuatnya meluapkan emosi kepada April. Kini dia mulai tenang, wajahnya menjadi khawatir dan perasaan bersalah mengerayangi hatinya, melihat April yang memucat dan takut kepadanya. Kenzo tak tahan melihat penderitaan dan rasa takut di wajah April tiap kali ia mendekat.
Tak tahan melihatnya dia bergegas keluar dengan perasaan bersalah meninggalkan April.
Perasaan marah dan bersalah merayapi hatinya. Lama dia meluapkan kemarahannya kepada diri sendiri di luar Apartemen. Tangannya sampai berdarah meninju tembok Apartemen.
" Bodo..!! bodo..!! bodo...!! Teriaknya memaki diri sendiri sambil meninju- ninju tembok Apartemen.
Dia terlihat begitu kacau.
Happy reading