Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Curhatan Kenzo



Warning!!!


Bijaklah dalam memilih bacaan ya? Adik - adik yang belum cukup umur dilarang mengintip. Karena ini ada adegan 18+


Happy reading..


Sendok terjatuh di tangan April mendengar apa yang barusan Kenzo ucapkan. Makanan sehat untuk ibu hamil?? apa maksudnya Kenzo tahu kalau dirinya hamil.


" Ada apa?" Kenzo bertanya, seolah olah dia lupa dengan apa yang barusan di ucapnya. Dia mengeryit melihat ke anehan dari tingkah dan perubahan raut wajah April.


Melihat dari ekpresi biasa Kenzo, April berpikir apa dirinya salah mendengar? apa mungkin lelaki ini akan bersikap tenang kalau benar benar dia tahu dirinya hamil?


April masih bungkam, suaranya seakan tertahan di tenggorokannya. Perasaannya menjadi semakin cemas. Dia tak berani menatap Kenzo, pandangannya tertunduk. Tangannya gemetar. Dia berusaha menenangkan dirinya. Namun ketakutannya terlalu besar.


" Apa dia tahu, apa yang harus ku katakan? apa seharusnya aku jujur saja?" April bergelut dengan batinnya. Ekspresi wajahnya terlihat jelas sangat cemas dan bingung. Keringat dingin bercucuran di dahinya.


" Hey ... ada apa?? apa Kamu kurang sehat?"


Kenzo mendekat dan menempelkan tangannya ke dahi April. April justru karena panik menghindari Kenzo yang berhasil menyentuh dahinya.


" Maaf." Dia langsung berdiri panik lalu meninggalkan Kenzo yang masih terbengong menatapnya. Pikiran April masih dipenuhi dengan apa yang barusan Kenzo ucapkan. Kakinya seqkqn lemas dan tak kuat menopang tubuhnya. Sebisa mungkin dia berusaha menyeret langkahnya yang gontai meninggalkan ruang makan itu.


Kenzo masih tertegun menatap sedih makanan yang dengan susah payah dia masak namun tak terjamah oleh April.


" Apa makanan buatan ku ini kurang enak?" Sambil mencicipi satu persatu masakan yang sudah di hidangkannya.


" Aku rasa tidak terlalu buruk?" Gumamnya berpikir keras dengan perubahan sikap April.


Kenzo berusaha mengingat apa yang di ucapnya tadi. Wajahnya seketika berubah masam mengingat ucapannya.


" Bego! pantesan dia tidak jadi makan? apa mungkin aku membuatnya kembali sedih? Tapi kenapa dia masih harus bersedih? bukankah aku akan bertanggung jawab?"


Kenzo tak bisa tidur. Dia menelpon Asisten Thomas meminta sarannya.


" Kau tahu, wanita memang aneh. Kenapa dia masih bersedih, padahal aku jelas jelas akan menikahinya. Bukankah aku bertanggung jawab?"


Asisten Thomas yang langsung di serbu dengan curhatan bosnya, benar benar bingung dan tak mengerti, wajahnya benar-benar terlihat memprihatinkan. Dia menjadi sasaran kekesalan bosnya.


" Menurut Kamu di mana coba letak kesalahan ku." Kenzo terus mendumel di telpon sambil mondar mandir di ruang kerjanya.


[ " Wait... Presedir. Ini maksudnya apa?" ]


" Maksudnya apa? apa Kamu begitu bego tidak mengerti apa yang sudah aku ceritakan panjang lebar."


Pertanyaan Asisten Thomas membuat Kenzo menjadi semakin kesal.


[ " Bukan begitu Presidir. Hanya saja?"] Dengan cepat Asisten Thomas menyela sebelum benar benar membuat Kenzo semakin marah kepadanya. Mengingat bosnya yang mempunyai tempramen buruk dan itu pasti akan menyulitkannya nanti.


" Hanya saja apa!" Sahutnya ketus.


[ " ini...."]


" Percaya tidak, kalau kamu masih bermain teka teki. Akan ku jadikan kamu santapan paus."


[ '' Presedir? jangan marah dulu, nona April tentu saja masih sedih walaupun Presedir bersedia menikahinya. Tapi Presdir kan tahu sendiri pernikahan Presdir dan nona April cuma sekedar kontrak. Dan nona April juga tidak tahu kalau Presidir Ayah dari bayi yang di kandungnya." ] Jelas Asisten Thomas. Meskipun sulit mengatakannya, namun dia harus tau semuanya.


**


" A..ku ti-dak per-caya sama Kamu." Kata katanya terdengar tak karuan dan tersenggal senggal. Terkadang dia menagis dan terkadang dia tertawa.


" Pulang yuk.."


Yuri berusaha membopong Aryo yang sudah setengah sadar dan masih mengingau.


Sesampainya di luar clubs Yuri menjadi bingung, kemana dirinya akan membawa Aryo pergi. Karena tak mungkin membawanya pulang, orangtuanya pasti kecewa melihat keadaannya yang seperti ini.


Yuri mendesah dan berpikir keras. Dia memandang Motel di depannya cukup lama. Perasaannya sedikit ragu, namun dia mulai kewalahan membopong Aryo yang masih saja mengigau menyebut nama April. Tidak mungkin juga dia dengan teganya membiarkan Aryo tergeletak seperti orang gila di jalanan.


" Baiklah." Yuri mantapkan hati, kemudian sedikit canggung dan malu melangkah memasuki Motel.


" Mas, apa masih ada Kamar kosong?" Tanyanya sedikit gugup dan ragu kepada Resepsionis di meja kasir.


Pria itu memperhatikannya dengan tatapan aneh. Karena Yuri yang selalu menunduk dan wajahnya tidak terlihat jelas. Kemudian bertanya.


KTP nya mana?"


" Tunggu sebentar Mas." Sahutnya, sambil sedikit menyembunyikan wajah dengan rambutnya yang sengaja di biarkan tergerai.


Yuri memeriksa kantong celana Aryo mencari KTP Aryo. Setelah berhasil menemukannya, segera di berikannya kepada Resepsionis.


" Silahkan, kamar 17." ucap Resepsionis itu.


Tanpa menunggu lama langsung mengambil kunci kamar yg di sodorkan kepadanya.


Aryo terus merancu memanggil nama April.


" Istirahatlah. Aku akan pulang." ujar Yuri berusaha menahan sesak di dadanya, mendengar lelaki yang di cintainya, masih memanggil nama April meski dalam ke tidak sadarannya. Padahal jelas-jelas diri nya yang sekarang berada disamping Aryo. Namun Aryo berbicara seolah-olah dirinya adalah April.


" Jangan. Jangan pergi."


Aryo memohon menghentikan Yuri pergi. Dia bangun mendekati Yuri. Namun sebenarnya yang ada di penglihatannya bukan Yuri, tetapi wajah April. Dia memeluk tubuh itu, tubuh yang diam mendengar semuanya.


" Ril.. jangan pergi... jangan tinggalkan Aku.


Bahkan di saat seperti ini, di pikiran Aryo hanya ada nama April. Yuri begitu sakit mendengar semuanya, kenapa? apakah dia tidak ikhlas melepas Aryo waktu itu.


" Yo lepasin. Aku Yuri, bukan April.


Aryo memandang wajah yg dipikirannya adalah April dengan tatapan sendu. Yuri terpaku menatap sepasang mata itu, mata yang menatapnya penuh cinta. Perlahan Aryo mendekatkan wajahnya ke wajah Yuri. Ciu..man lembut jatuh di bibir Yuri. Lama kelamaan menjadi ciu..man panas.


Mereka saling beradu ci..uman. Tangan Aryo mulai melepas satu persatu baju yang menempel di tu..buah Yuri. Ini benar-benar kegilaan dalam cinta. Apa yang sebenarnya ada dipikiran Yuri. Seakan dia rela mberikam semuanya kepada Aryo. Padahal dia sangat tau dengan siuasi yang terjadi saat ini.


Air mata menetes di pipi Yuri, tak kalah benda asing mema...suki tu..buahnya.


" Arkkkkk... " Pekiknya menahan nyilu dan sakit yang menghantam tubuhnya.


Aryo terus berpacu, lembut dan berirama. Dia melu..mat bibir itu, bibir yang di penglihatannya bibir April.


******* napasnya begitu panjang menyudahi per..cinta..annya. Dia terkulai lemas di atas tu..buah Yuri.


^_^