
Kenzo keluar dari mobilnya sambil memegang sebuah kaleng. Dengan tak sabar dia bertanya dan bergegas menghampiri April yang terlihat menunduk menyembunyikan wajahnya.
Kenzo dan April sama sama terkejut.
" Kamu..!" Om...!" ucapnya secara bersamaan.
" Ow... ternyata kamu to anak kecil! ngapain kamu disini sendirian malam malam. Bukannya tidur, malah kelayapan."
" Om tu yang kelayapan! lagian om sendiri ngapain malam malam lewat sini, manaku tau kalau bakalan masih ada mahluk yang lewat." April malah bersengut acuh sambil memanyunkan sedikit bibirnya, merasa tidak bersalah.
" Mahluk..??!!" Kenzo mengulang kembali ucapan April.
" Kamu bilang apa tadi!? Mah..luk!!? Hhhh" Kenzo menyeringai greget tak percaya diri nya di katain mahluk.
Kemudian dengan wajah serius sedikit kesal berkacak pinggang menegur April.
" Hey anak kecil! matamu itu rabun ya?!orang sekeren, ganteng serta semaco aku ini kamu bilang mahluk??"
Masih dengan kesalnya menceramahi April, namun April malah bersikap cuek dan acuh.
" Cih...narsis bangettt..." April bergumam, namun masih bisa di dengar oleh Kenzo.
" Wah...benar benar ni bocah."
" Enak aja..!? bilangin gue bocah." April menggerutu tak terima masih dipanggil bocah, padahal dirinya akan segera menikah, meskipun dengan orang yang belum pernah ia temui. Tiba-tiba wajahnya berubah.
Perubahan diwajah April membuat Kenzo merasa sedikit bersalah, mungkin ucapannya barusan sudah membuat April sedih.
Kenzo lalu berusaha menggoda April.
" Apa kamu mau berdebat semalam disini, dan tidak ingin meminta maaf kepadaku, aku hampir celaka low, akibat kalengmu ini."
Sepertinya usaha Kenzo sedikit berhasil, buktinya wajah April terlihat bersemangat lagi.
" Maaf.." permintaan maafnya terdengar begitu ketus dan asal. Namun itu membuat Kenzo sedikit legah.
" Hah...?! gi..tuu caranya minta maaf,, gak niat banget."
" Tuan narsis yang terhormat.... April minta maaf, gak sengaja." Ucapnya sembari membungkuk malas.
" Sudah..sudah...maafmu tidak ku terimah."
" Ya udah. Bodoh amat." April mengerling malas.
Karena tidak ingin berdebat lagi, Kenzo meninggalkan April dengan berpura pura kesal, lalu mobil yg dikendarai nya dengan cepat melajukan meninggalkan April.
Namun tiba-tiba mobilnya mundur kembali dan berhenti tepat didepan April.
April melihatnya bingung.
" Hay bocah. Naik sinih. Aku antarin. Bahaya anak gadis sendirian malam malam." Tawar Kenzo
April melongi bingung tak bergerak,, dia hanya diam terpaku mendengarkan tawaran Kenzo.
" Ditawarin malah bengong.. " Ujar Kenzo lagi, membuat kesabarannya habis. Dan dengan segera turun menghampiri April lalu dengan paksa menggendongnya.
Namun tanpa sengaja pandangan mereka beradu membuat keduanya terdiam, Kenzo seperti terhipnotis melihat wajah April yang terlihat mempesona, jantungnyapun secara spontan ikut berdegup kencang.
Pemandangan itu berlangsung cukup lama,, cukup untuk membuat perasaan mereka menjadi dekat satu sama lain, namun semua itu hanya angan-angan Kenzo, suara cempreng April menyadarkannya.
" Turunin gue..." April berteriak keras sembari meronta.
Namun Kenzo mengacuhkan teriakan April. Dia menggendongnya
dan dengan paksa meletakkannya dikursi tepat disampingnya.
Mendengar April yang masih berteriak membuat kesabarannya hilang.
" Diam..." sarkasnya memerintah. April terhentak kaget dan dia mulai terlihat patuh serta tidak lagi bersuara, meski diperlakukan demikian, entah kenapa perasaannya merasa tenang dan terlindungi tiap kali didekatnya, padahal pertemuan mereka bisa dihitung menggunakan jari.
Tapi dia seperti merasa akrab dengan Kenzo. Dia seperti sudah bertemu sebelumnya dengan Kenzo, jauh sebelum pertemuannya di rumah sakit.
Walau berusaha memikirkannya, April tetap tidak bisa mengingat dimana pernah bertemu dengan Kenzo. Tak bisa dipungkiri saat ini dia terlihat menyembunyikan kesenangannya oleh perhatian Kenzo yang bukan siapa-siapanya, perasaan yg dirasakannya saat ini begitu rumit.
Dalam perjalanan April terlihat mulai lelah berusa menahan kantuk. Namun sepertinya usahanya sia-sia, saat ini April sudah terlelap, membuat Kenzo tersenyum memperhatikannya.
Mobilnya sudah sampai diparkiran rumah sakit, Sepertinya Kenzo tidak tegah membangunkan April yang tertidur pulas. Pada akhirnya Kenzo menelpon Thomas menyuruhnya mengatur kamar VIP yang terbaik dirumah sakit untuk keluarga April, dan memerintahkan asisten Thomas memindahkan orang tua April ke ruangan tersebut di malam ini juga.
Thomaspun dengan segera melaksanakan perintah bos-nya, tidak butuh waktu lama semuanya telah selasai disiapkan, Hal ini merupakan pekerjaan mudah bagi Thomas, karena rumah sakit itu milik keluarga Beliondra.
Asisten Thomas mengiriminya pesan teks, kalau semua sudah siap ditempati keluarga April.
Dengan hati hati Kenzo mulai mengendong April dan membawanya keruangan tersebut.
Didalam ruangan terdapat pak Sanjaya yang masih terjaga karena mencemaskan April yang belum juga kembali. Dia takut putrinya itu akan melakukan hal nekat.
Namun kekhawatirannya berubah menjadi keterkejutan melihat April yang digendong masuk oleh Kenzo dalam keadaan tidur.
Dia ingin menyapa namun Kenzo memberinya isyarat untuk tidak perlu menyapanya dan bersikap tenang.
Pak Sanjaya hanya bisa menuruti,, Kenzo dengan hati hati meletakkan April di tempat tidur yang sudah disiapkan. April benar benar tertidur pulas dengan wajahnya yang terlihat polos,, membuat Kenzo kembali tersenyum samar melihatnya.
Senyuman itu benar benar tulus tanpa ia sadari.
" Jangan salah paham..." ucap Kenzo memberi penjelasan melihat tatapan dari pak Sanjaya.
" Ini.. maaf sudah merepotkan Presdir?"
Pak Sanjaya yang sudah mulai berangsur membaik bangun mendekati Kenzo sambil membungkuk hormat. Sebenarnya banyak pertanyaan ingin dia ajukan, namun dia ragu untuk bertanya.
Kenzo sangat jelas melihat keraguan diraut wajah pak Sanjaya yang penuh tanda tanya kepadanya.
" Kami tak sengaja bertemu, dan aku menawarkan diri mengantarkannya, lagian dia calon istriku, sudah sewajarnya aku mengantarnya." Jelasnya tenang tanpa berbelit.
Pak Sanjaya tak bisa berkata, karena apa yang dikatakan Kenzo memang benar, dia masih bersikap sopan dan sedikit membungkuk.
Namun Kenzo tetaplah Kenzo, dia sudah terbiasa dihormati, melihat hal itu hanya biasa biasa saja baginya. Memang dia terlihat angkuh, tapi itu bukan salahnya, dirinya yang dari mudah sudah melihat berbagai karakter licik orang membuatnya tidak mudah untuk bersikap sopan, apa lagi kepada seorang pria yang bersedia menikahkan anak perempuannya hanya demi sebuah perusahaan.
Kenzo tersenyum jijik, namun terlihat samar. Dia bukanlah tipe orang yang berpura-pura baik.
Namun sejenak, dia melihat keluarga itu sangat memprihatinkan membuatnya merubah pandangannya terhadap pak Sanjaya, dia tidak lagi ingin memikirkan alasannya atau apapun itu antara baik atau buruk.
Dia tanpa berbasa-basi langsung bertanya.
" Bagaimana..? kapan keluargaku bisa datang melamar."
" Segera tuan." Pak Sanjaya terlihat gugup menjawabnya.
" Pak..aku ini calon menantumu, tidak usah bersikap pormal. Baiklah satu minggu, apa itu sudah cukup?"
Pak Sanjaya berpikir satu Minggu adalah waktu yang cukup lama, bagaimana dengan operasi istrinya, bukankah akan dilakukan dua hari lagi, apa operasi istrinya juga akan dibatalkan dan menunggu satu Minggu lagi, pak Sanjaya terlihat bingung, wajahnya berubah menjadi pucat.
Lengkungan kecil terlihat dibibir Kenzo, dia seperti mengerti dengan apa yg dikhawatirkan pak Sanjaya.
" Tenang saja pak..?! istri anda akan tetap dioperasi dua hari lagi." Dengan santai menepuk pundak pak Sanjaya.
" Jaga dia untukku..!" Ucapnya tegas sambil memandangi April yang masih tertidur pulas.
Dia kemudian keluar meninggalkan ruangan itu.
Pak Sanjaya terduduk lemas ditempat tidurnya. Dia berpikir kembali, apa keputusannya sudah benar? Dia tidak seharusnya mengorbankan putrinya,, dia menatap istri dan putrinya secara bergantian. Perasaannya menjadi campur aduk.
happy reading 😘😘