
Keadaan Rumah sangat tenang, beberapa pelayang datang menyambut, sementara yg lainnya berbaris rapi seperti sudah terlatih, ada yg dengan sigab mengambil tas di tangan Ny. Melissa dan meletakkan langsung pada tempatnya. Ny. Melisa sudah terbiasa di layani bak ratu jadi tidak heran kalau semua pelayan di rumahnya mengerti akan tugas mereka masing-masing.
Dari depan saja sudah terlihat begitu indah, dengan hiasan lampu yg begitu terang berbentuk bunga. Suasana nya tak terlihat seperti malam hari, Karena ke indahan taman dan rumput hijau yg masih bisa di lihat dengan jelas.
April tidak bisa tidak takjub melihat kemegahan Rumah suaminya. Di tambah lagi ke datangan mereka yg di sambut belasan pelayan berseragam saja membuatnya seperti berada di negeri dongeng. Karena pikirnya hal seperti ini hanya ada di negeri dongeng.
" Kamu pasti belum makan malam kan sayang? ayo sama mama ke dapur kita makan, mama sudah suruh pelayan masakin makanan enak buat kamu." Dengan bersemangat menggandeng April berjalan menuju dapur . Sementara Kenzo mengekor di belakang sambil memperhatikan setiap langkah April. Bahkan dengan isyarat menyuruh pelayan memindahkan setiap benda yg bisa saja membahayakan buat April.
" Ada apa?" Ny. Melissa semakin bingung melihat kelakuan Kenzo.
Wajah Kenzo hanya datar menanggapi pertanyaan ibu nya, lalu mengambil posisi duduk. Lagi lagi matanya kembali pokus ke April. Setelah matanya memastikan makanan yg di sajikan, ketegangan di wajahnya mulai menghilang, dan Kenzo bisa dengan santai menyantap makanan nya.
" O- ya pak Muldi, anak2 mana?" NY. Melissa memutar mata melihat sekeliling.
" Ya, yg lain pada ke mana?" Kenzo menyela melihat ke arah pak Muldi. NY. Melisa sendiri menunggu jawaban pak Muldi.
Pak Muldi yg hendak pergi setelah selesai mengatur Persian makan menghentikan langkahnya, berbalik menjawab pertanyaan ibu dan anak tersebut dengan sopan.
" Maaf Tuan, Nyonya, Tuan Brayan sama Non Indri Sudah tidur, Besok ada kulia pagi katanya. Jadi Sudah makan malam duluan.
NY. Melissa dan Kenzo tak bertanya lagi, mereka kembali melanjutkan menyantap makan malam nya setelah mendengar penjelasan pak Muldi.
Namun tidak dengan April, mendengar kata Kulya nafsu makannya seketika lenyap. Perasaan nya menjadi tak karuan, dia tadinya ingin berkuliah, namun Karena keadaannya sekarang membuat dia menyerah akan mimpi mimpi nya.
Dia menunduk mentap perutnya yg membuncit. Perasaan nya semakin berkecamuk.
Kenzo mengernyit, dengan serius memperhatikan kesedihan di wajah April, membutnya menghentikan makan. Dia tidak bisa menebak apa yg ada di pikiran wanitanya, namun dia tau kalau istrinya tidak baik2 saja.
Keadaan ini membuat Ny. Melissa ikut memperhatikan keduannya. Lalu dengan cepat berusaha menetralkan suasana.
" Sayang.... Kamu kenapa gak berselera gitu? apa makanan nya gak enak?"
" Ah.. nggak ko Ma, April cuma ngerasa kurangvenak badan aja." Kilahnya.
Dia tidak tahu kalau sudah cukup lama Kenzo memperhatikannya.
" Mah April mau istirahat duluan, boleh kan?"
" Tentu boleh dong sayang... biar nanti pelayan yg bawain makanan ke kamar kalian."
Ny. Melissa tersenyum bercampur cemas melihat sikap tak wajar menantu dan putranya.
" Kok, bengong aja! bantu istrimu ke kamar ."
" I- ya ma." Jawab Kenzo lalu menuntun April ke kamar.
Pertama kali memasuki kamar suami nya, dia di suguhkan dengan suasana yg sangat kental dengan aroma laki laki, matanya langsung melihat kesekeliling ruangan yg sesuai sekali dengan kepribadian Kenzo, dingin dan tegas. Meski begitu, kamarnya bisa di katakan cukup nyaman karena luas, bahkan lebih besar dari kamar Hotel Narata, di dalamnya juga lengkap dengan shopa dan Tv.
Cat tembok yg berwarna Abu2 gelap bersih, garden abu2 bercampur sedikit warna putih. Semua yg ada di kamar identik dengan warna Hitam, putih dan abu2 tak terkecuali prabot di dalamnya.
Pelayan mengetuk pintu. " Tuan makanan nya."
Kenzo menyuruh pelayan meletakkan makanan di
meja depan tempat tidur.
April yg masih berdiri menatap ke sekeliling langsung duduk dengan sedikit kikuk sambil mengangguk canggung menatap Kenzo, lalu menyantap makanan nya perlahan.
Sementara Kenzo, menyiapkan obat yg harus di minum April.
Tok.. Tok..
" Tuan mohon maaf menggangu, apa bapak boleh masuk? " Suara pak Muldi dari luar kamar.
" Masuk Pak. "
" Maaf Tuan, baju ganti Ny. mudah dari Nyonya." Ucap pak Muldi meletakkan baju di atas meja. Kenzo mengedipkan mata paham. Pak Muldi pun keluar meninggalkan suami istri itu.
Suasana seketika hening, ke canggungan terukir jelas di wajah keduannya. Meski telah tinggal bersama, namun entah kenapa kali ini terasa sangat berbeda bagi keduannya.
" Kamu bisa ganti baju, aku mandi dulu." Ucap Kenzo berusaha megusir ke canggungan di hatinya, lalu cepat2 berjalan menuju kamar mandi yg terletak di dalam kamar juga.
April selesai berbenah, dia bingung harus tidur di mana, takut lancang dia mengambil bantal dan memutuskan tidur di shopa, belum juga sempat dia berbaring, matanya langsung dia buat takjub oleh pemandangan di depannya yg sayang kalau di lewatkan. April tertegun, pikirannya menjadi tidak terkontrol dan tercemar๐.
Entah sadar atau tidak, entah sengaja atau tidak, tubuh seksi Kenzo dengan roti sobeknya yg bergaris terpampang nyata dan indah, berjalan melewati April sambil mengosok rambutnya yg masih basah, sementara tubuhnya hanya di balut selembar handuk sepinggang, Tetesan air rambutnya mengikuti lekuk jakunnya, terlihat begitu menggoda.
Gadis waras mana yg tidak akan terguncang kewarasannya melihat ke seksian yg terpampang nyata dan jelas di depan mata. Kenapa baru sekarang aku sadar kalau tubuhnya begitu indah, pikir April.
" Ah..!! pikiran kotor yg berkecamuk...... apa yg kamu pikirkan." April menggeram pelan, mengigit bibir berusaha menyadarkan diri.
April terlihat heboh bertengkar dengan pikirannya sendiri. Membuat Kenzo menatap aneh tingkahnya.
Dia begitu sibuk menahan pikirannya yg aneh aneh sampai tidak sadar, Kenzo mendekat ke arahnya, tanpa berucap sepatah kata menggedong April kepelukannya.
Tentu saja April menjadi panik, setelah pikiran aneh yg barusan ada di kepalanya, Dia membeku napasnya tertahan. Matanya tanpa berkedip menatap wajah Kenzo. Suara detak jantung Kenzo yg berpacu sangat jelas di dengarnya. Membutnya tak berani bergerak sedikit pun.
" Kenapa tidur di shopa." Ucap Kenzo lembut membaringkan pelan tubuh April di tempat tidur lalu menyelimutinya.
Kenzo tersenyum melihat kelakuan April.
" Ada apa?" Tanyannya tersenyum sambil menoer hidung April.
" Apa aku se begitu tampannya, hingga membuatmu terpesona tak bisa ber kata kata." Narsisnya mulai kumat, membuat April tersadar dengan kebodohannya yg terlihat jelas.
" Apa an.!? April mengelak lalu membelakangi Kenzo, menyembunyikan rasa malu yg terlukis jelas di wajahnya.
" iiiii.. " April mengigit ujung selimut berteriak kecil Karena malu.
Suara nya membuat Kenzo panik, belum kelar menukar baju langsung berlari menghampiri.
" Ada apa? apa perutnya sakit lagi." Tanyanya begitu serius bercampur panik.
April sedikit bingung harus menjawab apa, teryata ulah kecil nya membuat se orang Kenzo panik.
^_^
jangan lupa tinggalkan jempol kalian ya?๐๐
jgn lupa komen juga, kalau kalian punya ide cerita April dan Kenzo.