
Aryan Andra pranata senior yg 1 tingkat di atasnya.
Saat itu berusaha masuk di dalam hubungannya dan Aryo, dia juga merupakan anak kepala sekolah di tempatnya mengenyam pendidikan sekolah menengah.
April tidak Akan pernah melupakan kata- katanya.
" Ingat, kamu Akan mengemis cinta padaku." Bisiknya tersenyum sinis. Najis banget pikir April kesal. April bahkan tak tertarik kepadanya meski Aryan mati- matian mengejarnya dengan segala trik Busuknya.
Namun satu hal yg April tak mengerti dengan maksud dari ucapannya waktu itu." Kamu akan menjadi milikku dan Akan segera datang padaku Hotel Lurta."
Bukankah Hotel Lurta Adalah tempat yg tidak ingin di ingat April. Tempat yg mengubah seluruh hidupnya.
Tak sempat April menghindarinya, Aryan sudah tepat di depannya memandangnya dengan seksama, ujung bibirnya tersenyum seolah menyiratkan sesuatu yg salah setelah memperhatikan Kondisi tubuh April yg menonjolkan bentukan dari perut nya.
" Hay, lama tak ketemu?" April tak menggubris, terlihat jelas raut ketidak sukaan di wajahnya.
Aryan mendekat, Lalu berbisik. " Kamu tidak lupa waktu itu kan?" Sambil melirik perut April. Hingga membuat nya tak nyaman dan tanpa sadar berusaha menutupi perut nya.
" Anda siapa!!?" Kenzo menarik keras tangannya setelah cukup memperhatikan ke Intenenannya bersama April yg membuat Kenzo panas. Dia tidak suka ada yg mengusik barang miliknya. Padahal baru berapa langkah dia meninggalkan April untuk mengankat belanjaan ke mobil yg terparkir tidak jauh dari tempat mereka berbelanja. Namun berani-beraninya ada seseorang yg membuat nya panas.
Aryan menghempas tangannya dari genggaman Kenzo, sambil menatap dengan senyuman sinis, lalu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Kenzo.
Namun sempat-sempatnya dia berbisik di di samping April. "Jangan lupakan kenangan indah kita." Ucapannya sebelum Aryan benar2 pergi membuat Kenzo semakin memanas.
Dia dengan erat mengepal tinju. Kalau saja Kenzo tidak mempertimbangkan ucapan Dokter tentang Kondisi April, pukulan sudah lama mendarat di wajah Aryan mengingat temperamen Kenzo.
" Siapa lelaki itu.! "
April tak menjawab, wajahnya sedikit pucat kaku, dia meninggalkn Kenzo yg masih memandangi tubuh Aryan dengan tatapan berapi.
°°®
Beberapa minggu telah berlalu, namun April masih tidak bisa melupakan ucapan Aryan, bahkan kejadian pahit waktu itu terus menerus menghantui mimpinya.
Apa yg sebenarnya terjadi, sungguh April tidak tahu.
" Hay.. " Sapaan lembut se orang laki2 muda.
April menengok ke samping, Ternyata Brayan. Dia lalu tersenyum sampul.
" Ada apa? siang- sian bengong, entar kesambet." Goda Brayan melihat kegelisaan di wajah April.
April masih dengan senyumnya memandangi sesaat wajah Brayan. Lalu memejamkan mata berusaha menikmati hembusan angin yg bertiup di wajahnya. Meski siang hari, namun udara tidak panas.
Tempat mereka berada saat ini Adalah taman belakang rumah yg hijau dan asri, bahkan di pagi hari masih bisa terdengar kicauan burung.
Bunga dengan bermacam warna tumbuh menghiasi taman. Taman ini sangat cocok untuk tempat melepas stress.
Hembusan angin yg meniup lembut wajah serta menggoyang rambut April, membuat Brayan terpesona. Hingga saat ini dia belum bisa mengubur perasaannya, apa lagi setelah dia tahu tujuan dan penyebab dari pernikahan April dan kakanya.
Brayan tersenyum samar, kepuasaan dan ke bahagiaan terpancar di aura wajahnya.
°°®
Rumah tiba tiba menjadi ramai dan sedikit gaduh. Bahkan kegaduhannya bisa terdengar sampai taman, tentu saja kegaduhan itu di terus kan melalui bisik2 pelayan.
Brayan melihat ke arah pelayan tidak senang, takut menggangu April.
" Ada apa brisik2!" ketus Brayan menghampiri 3 orang pelayan wanita yg bergosip sedari tadi.
" Ada apa di dalam." Brayan mengernyit tidak sabar.
Belum sempat pertanyaan Brayan di jawab. Teriakan manja se orang wanita memanggilnya.
" Little marmutku yg unyu....!! Ternyata kamu disini to."
Seketika April bersamanan dengan Brayan menoleh ke arah sumber suara.
Wanita dengan penampilan bak model, mengenakan dress merah maron di atas lutut, kaca mata hitam merek ternama bertenger di hidung nya, dengan memakai Sepatu hil tinggi sekitar 9 senti, berjalan lenggok menghampiri Brayan.
Benar2 wanita elegant, April sebagai wanita pun terpesona melihat nya. Kacamata di sangkut kerambutnya, hingga terlihat jelas wajahnya, bibirnya di poles dengan lipstick warna peach. pipinya di poles dengan blas on pink tipis2 sangat soft. Make-up nya terlihat natural dan cantik sekali.
" Kak Sonya!" Brayan sedikit terkejut melihat wanita yg di kenalnya dengan nama Sonya.
" Kok ekpresinya kaya kaget gitu sih? Kamu gak senang ya, aku balik lagi ke negara kita." Wajah Sonya sedikit kecewa dengan senyuman yg di paksa melihat wajah masam Brayan.
" Nga pain balik lagi ke seni. Bukan nya impian kamu sudah terwujud." Ketus Brayan
Kali ini wajah Sonya berubah, senyuman yg tadi menghiasi wajahnya seketika hilang.
" Tante sama Indri mana?"
Sonya berusaha mengubah topic pembicaraan, karena merasa tidak nyaman.
" Dia... ?" Matanya seketika terpokus ke April yg baru pertama kali di lihat nya.
Namun Sonya tidak sempat mengetahui siapa April karena Indri tiba- tiba berteriak eksaitid memanggilnya.
Sonya pun menyambut pelukan Indri yg sangat bahagia mengetahui ke datangannya.
Tanpa perduli sekitar Sonya dan Indri masuk ke dalam sambil mengobrol banyak hal yg membuat mereka se sekali terlihat tertawa bahagia.
" Dia siapa? " Tanya April sedikit penasaran
" Sonya." Jawab Brayan terlihat berat
" Ya, aku tahu dia Sonya."
" Ow."
April mengerutkan jidat mendengar jawaban singkat Brayan yg tidak sesuai dengan maksud dari pertanyaan April.
" Ya sudah aku ke dalam dulu, apa kamu masih mau di sini?" Tanya Brayan terlihat tidak pokus.
April Menganguk begitu saja. Dia masih tetap ingin sebentar lagi menjernihkan pikirannya.
°®®
Sonya dan Indri tengah asyik mengobrol di ruang keluarga sambil melihat majalah fashion. Mereka berdua mempunyai selera yg sama, itulah yg membuat ke duanya nyambung, dan Indri sangat mengidolakan Sonya terlepas dari apa yg terjadi antara Sonya dan kakaknya di masalalu.
Deruhan knalpot mobil terdengar berhenti di depan rumah, Suara langkah kaki yg tenang berjalan mendekat.
Suasana yg tadi nya terlihat ramai oleh obrolan Sonya dan Indri, tiba2 sunyi, karena ke hadiran Kenzo.
Sonya tiba tiba berdiri, wajahnya Canggung dan bingung. Begitu juga dengan Kenzo.
🥰🥰