Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Terlalu obsesif 1



Malam semakin pekat, denting waktu tak lagi diam di sudut waktu yg sama.


Sepertinya kegelisaan beberapa jam yg lalu menumpuk diwajah Kenzo, kini sudah mulai sedikit memudar menyaksikan damai di wajah April. Hatinya begitu sangat bersyukur Karena April tenang dan baik2 saja.


Deringan ponsel yg terus menerus berbunyi membuat suasana yg tadinya tenang menjadi gaduh. Buru2 Kenzo mengangkatnya, menghidar cukup jauh dari tempat tidur April.


Suara Kegelisaan terdengar di balik ponsel meski tak di lodspeker. Siapa lagi kalau bukan dari nyonya Melissa.


[ " Anak nakal! bagaimana keadaan menantu dan cucuku. Bi Sumi bilang kalian kerumah sakit. Ini sebenarnya ada apa?! Apa kamu melakukukan sesuatu yg buruk!! ]." Cerocosnya pecah dalam satu tarikan napas yg terdengar cemas dan juga khwatir. Gendang telinga Kenzo seakan mendengung dibuatnya.


[ " Bu, ngomong-nya pelan- pelan, menantu dan cucu ibu baik2 saja. "] Ujar Kenzo lembut berusaha menjelaskan, namun ibunya itu masih terus mendumel.


[ " A- was saja mantu ibu sampai kenapa2. Tunggu.! ibu kesitu sekarang. "] Tegasnya tanpa mau mendengar apapun penjelasan Kenzo.


" Bu.. " Telpon sudah di putus oleh Ny. Melissa. Kenzo hanya bisa menatap pasrah layar ponselnya.


Pandangannya langsung di arakan ke April yg sedari tadi menyaksikan pembicaraanya.


" Kamu terbangun karena suaraku ya?" ucapnya merasa bersalah.


" Sorry. " Ucapnya lagi, yg di balas senyuman oleh April.


" Bagaimana, apa perutmu masih sakit?" Kenzo mendekat, terlihat gurat kecemasan di wajahnya.


April menggeleng, dengan maksud dia baik2 saja.


" Syukurlah." Kenzo tertegun melihat perut April yg membuncit.


" Mau pegang.. " Tawar April terdengar canggung.


" A-pa bo-leh?" ucap Kenzo tersemat sedikit keragun di wajah dan suaranya.


April menganguk dengan senyum sedikit malu2.


Ada Perasaan yg tak ia mengerti, ketika tangan Kenzo mendarat di perut buncitnya. Perasaan hangat, bahagia, haru, semua bercampur aduk. Andai ini pernikahan sesungguhnya, pasti dia akan merasa lebih bahagia. Batinnya berkecamuk.


Air mata tiba- tiba menitik di bawah matanya.


Gurat kebahagian yg terlihat beberapa saat di wajah Kenzo seketika menghilang bersamaan dengan senyum yg berganti kecemasan.


Dia menarik tangannya seketika.


" Ada apa?" Tanyanya cemas melihat setitik air mata yg dengan cepat di usap April.


" Apa perutmu sakit lagi ?"


Kenzo semakin cemas dan juga bingung dengan perubahan di wajah April yg tiba2.


" Gak pa2 Kok." Dia berusaha memaksakan senyuman di wajahmya.



" April sayang...?" Suara tidak asing itu berlari kecil tergopoh gopoh menghampirinya.


" Ada apa dengan wajah cantik ini? Kamu barusan nagis ya? Apa Dia yg membuat menantu cantik ibu menangis.!" sorot Matanya langsung tertuju ke arah Kenzo.


Kenzo mengernyit, membantah tudingan nyonya Melissa yg menatapnya penuh curiga.


April yg berada di antra keduanya, dan sumber dari semuanya ingin menjelaskan, namun tidak mendapat kesempatan, Dia hanya bisa pasrah melihat perang tanpa senjata yg terjadi di depan matanya.


" Awas saja!" Ancamnya dengan tatapan seperti silet, lalu berpokus kepada April, seketika wajah Ny. Melissa berubah menjadi lembut dan di penuhi senyuman.


" Kamu kenapa bisa sakit gini sayang,,, bagian mananya yg sakit, bilang sama mama ya?"


" April gak pa2 kok tante." Dengan wajah terbebani dan canggung yg sebisa mungkin berusaha di tutupi dengan senyuman.


" Kok Tante sih, panggilnya mama dong sayang?" Ujar Ny. Melissa tak puas dengan panggilan yg di ucapkan April untuknya.


" I- ya Mamah." ujar April canggung.


" Nah, itukan enak di dengar."


April menatap jam menggantung di tembok kamar, Ternyata tak terasa waktu menunjukkan pukul 9 malam. Dia merasa gerah dengan bau Rumah sakit mengingat Ibu dan Ayahnya yg pernah di rawat cukup lama di rumah sakit.


Matanya seakan ingin mengatakan sesuatu kepada Kenzo. Tapi mulutnya terkatu rapat.


Akhirnya setelah cukup berdebat dengan batinnya, ia memberanikan diri membuka mulut yg bagai di lem.


" Infus April sudah habis, kita sudah boleh pulang kan?" Ucanya sedikit bingung harus memanggil apa kepada Kenzo, selama ini belum ada panggilan yg bisa ia pikirkan selain Tuan, tapi aneh rasanya jika ia harus memanggil suaminya dengan sebutan Tuan di depan mertuanya. Karena mertuanya tidak tahu apa2 tentang status pernikahannya dan Kenzo.


Di tengah pikirannya yg berkecamuk, Dokter Andre masuk di ikuti 3 perawat perempuan dibelakanngnya.


" Nyonya April." Sapanya rama. " Bagaimana apa malam ini mau pulang atau di rawat inap." Tanyanya.


" Pulang Dok." Jawab April mantap.


" Dokter, yakin?? menantuku ini sudah boleh pulang?" Nyonya melissa menyela. Khawatir dengan kondisi kesehatan menantunya, mendengar keputusannya itu.


" Mah, April baik2 saja kok, April gak betah di rumah sakit." Sambil memegang tangan nyonya Melissa menatapnya lembut penuh keyakinan.


" Kamu Yakin sayang?"


April tersenyum mengganguk.


" Tenang saja nyonya? Nyonya Muda baik2 saja, hanya kurangi stres dan jaga pola tidur." Timpal Dokter Andre.


Kenzo yg sedari tadi di dekat mereka hanya menjadi pendengar setia. Meski begitu dia mendengarkan dengan seksama apa yg di samapaikan oleh Dokter.


" Tu.. dengar!! apa yg dikatakan Dokter. " Ucap nyonya melisaa menatap Kenzo.


" O- iya Tuan, apa kita boleh bicara sebentar?"


" Oh.. silakan." Jawab Kenzo tegas namun ramah.


" Kalau begitu mari ikut saya ke ruangan.." Ajak Dokter Andre sembari berjalan keluar.


Kenzo menatap April dengan tatapan yg sulit di mengerti, lalu bergegas menyusul Dokter Andre.



Ruangan Dokter Andre.


Kenzo mengambil posisi duduk tanpa di suruh.


" Ini ada apa ya?"


" Begini, menurut hasil Lab." Dokter Andre menyodorkan hasil pemeriksaan kedepan Kenzo.


" Ini apa maksudnya." Kenzo semakin penasaran dan cemas.


Dokter Andre menatap berat wajah Kenzo, suaranya seakan tercekat di tenggorokannya. Namun mau tidak mau dia harus mengatakan kondisi sesungguhnya April kepada Kenzo.


®®


Kediaman Alex Biliondra.


" Mulai sekarang kalian tinggal di Rumah sama mama, mama gak mau kejadian seperti ini terulang lagi." Tegas Ny. Melissa begitu sampai di depan rumahnya.


Mau tidak mau Kenzo terpaksa mengikuti ke inginan ibunya, mungkin ini yg terbaik mengingat apa yg dokter sampaikan tadi ke padanya.


" Kamu hati- hati. " Ucap Kenzo tiba2 reflex memegang tangan April.


April dan nyonya Melissa mengernyit bingung, sambil melihat ke sekeliling April, dan merasa tidak ada apa2.


" Ada apa sih." Ny. Melisa menatap Kenzo penasaran.


" Batu bu." Jawab Kenzo melempar pandangan ke arah batu sebesar kepalan tangan yg hampir di injak April.


" Kirain apaan." Ny. melissa mendegus dan menatap aneh anaknya. Kemudian menggandeng April berjalan memasuki Mensionnya.


^_^