Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Bersikap Acuh



April masih mematung memandangi jam ditangannya, hari ini benar benar berat, itulah yang dia rasakan. Entah dia bersedih karena menemukan kembali jamnya,, atau jam itu mengingatkan kembali kepada kenangannya bersama Aryo yang keberadaan saat ini tidak diketahui, jam itu adalah kado dari Aryo untuknya, April sangat berharap Aryo akan baik baik saja. Dia menghapus buliran bening yang menyelinap jatuh ke wajahnya.


April menarik napas panjang sambil memejamkan mata berusaha menenangkan pikirannya, dia tidak boleh berlama lama seperti ini diluar pikirnya, karena ayahnya pasti akan sangat khawatir.


April berbalik dan melangkah dengan mantap, namun tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang badannya cukup keras dan berotot.


April tanpa menoleh langsung membungkuk meminta maaf.


" Ah.. maaf saya tidak hati-hati. "


Kemudian mengangkat pandangannya.


" Sekali lagi, saya minta... " Ucapannya tercekat ditenggorokan mengetahui pria yang dia tabrak.


" Ken..? " ujarnya dalam hati,, namun April tak bisa berucap melihat tatapan dingin dan acuh Kenzo kepada nya. Kenzo seolah olah tidak mengenal dirinya, padahal belum ada satu hari mereka tertawa bersama.


Kenzo berjalan meninggalkannya tanpa mengucap sepatah kata, seakan mereka adalah orang asing.


**


Hari lamaran yang disepakati akhirnya tiba. April bersama Ayahnya terpaksa pulang menyiapkan segalanya dirumah,, mereka menitipkan Bundanya dalam penjagaan Dokter dan Perawat di Rumah Sakit.


" Say.. apa kamu yakin? bakalan menerima begitu saja lamaran pria yang kamu sendiri tidak kenal?" Yuri yang menemani April mempersiapkan segalanya bertanya khawatir.


" Trus bagaimana dengan Aryo, apa dia sudah tahu tentang semua ini? " Ujarnya lagi.


April menggeleng,, kesedihan menyelimuti wajahnya.


Yuri yang kasihan melihat kesedihan diwajah sahabatnya, merangkul dia kedalam pelukannya.


" Yang kuat ya say...?? hidup itu sama halnya seperti langit, dia tidak selalu mendung, pasti akan ada hari cerah dalam hidupmu. Tuhan itu tidak tidur,, dan Tuhan pasti melihat pengorbanan tulus untuk keluargamu.


Iringan rombongan lamaran sudah tiba, sepuluh mobil mewah dengan warna hitam mengkilat berjejer rapi seperti parade. Tidak banyak yang menyambut mereka dari keluarga pak Sanjaya hanya Ayahnya dia dan Yuri beserta beberapa tetangga. Karena mereka tidak memiliki keluarga di kota A. Pak Sanjaya adalah perantau yang datang dari kampung mengaduh nasip di kota A yang dijuluki Kota para penguasa.


Nyonya melisa yang begitu antusias tak sabar ingin bertemu calon menantunya, penampilannya yang terlihat elegan berperawakan mudah dan cantik, dengan lipstik merah tebal dibibirnya ,, tidak akan ada yang percaya kalau dia adalah ibu dari tiga anak yang sudah dewasa dan siap menikah.


" Apa ini kediaman calon menantuku? " Gumamnya sembari melepas kaca mata hitam,, mengedarkan pandangan kerumah yang berukuran minimalis namun terlihat ada kehangatan didalamnya.


Nyonya melisa tersenyum puas.


" Ayo kita temui calon kakak ipar mu?" ajaknya kepada Indri yang hanya menatap malas ke sekitar.


" Nyonya Melisa yang cantik,,, yakin disini tempatnya..?? " Indri bertanya tidak percaya dengan apa yang disaksikannya,, rumah calon iparnya bukan Mansion seperti pemikirannya.


Nyonya Melisa menatap tanpa ekpresi kearahnya.


" Memangnya ada apa dengan tempat ini? Ayo turun, gak usah banyak nanya!!" Tegas nyonya melisa.


Mau tak mau Indri harus turun mengikuti ibunya.


" Semuanya ikut saya kedalam ke dalam, jangan sampai barang bawahannya ada yang sampai lecet satupun, kalau sampai ada,, gaji kalian saya potong.!! " Tegasnya memberi printah kepada pelayanan yang membawa barang untuk lamaran.


" Wah.... apa ini parade mobil mewah..?" Yuri yang berdiri dibalkon kamar April berdecak kagum melihat barisan mobil mewah dengan harga pantastis berjejer rapi didepan rumah sahabatnya. Ini seperti kisah Cinderella dalam dongeng,, tapi sayang pangerannya bukan pria yang dicintai oleh putri.


Pak Sanjaya dan beberapa tetangga yang ikut hadir menyambut dengan ramah kedatangan keluarga Beliondra,, ada yang memandang kagum,, ada juga tetangga yang memandang dengan pandangan iri melihat begitu banyaknya barang mewah hadiah pertunangan yang dibawah pengusaha nomor satu dikota A itu,, mereka seperti bermimpi dapat bertemu langsung dengan keluarga Beliondra.


" Mari silahkan duduk..? " Pak Sanjaya dengan sopan dan ramah mempersilahkan nyonya melisa beserta keluarganya duduk.


" Calon menantuku mana..?" Tanya nyonya melisa menatap ramah kepada pak Sanjaya.


" Sebentar nyonya,,?? anaknya lagi siap- siap."


**


" Say... camermu nyariin tu,,,?? Kamu yakin,, bisa ngelakuin ini semua..?" Yuri mencoba mencari tahu lagi apa yang diputuskan oleh sahabatnya ini.


April mengangguk mantap menarik napas panjang sambil memejamkan mata.


" Ayo.. bawa aku turun?" Pintanya.


Yuri membantu April berdiri,, kemudian membawanya turun kebawah menemui keluarga Beliondra. Tatapan mata tertuju kepada mereka berdua, April berusaha tersenyum ramah, meski hatinya tidak tenang.


" Kamu gak pa-pa say..??" Bisik Yuri di telinga nya pelan, merasakan tangan April yang berkeringat dan tegang.


" Aku gak pa-pa,, bantu aku berjalan dan duduk bersama mereka. " Ujarnya.



" Wah calon menantuku sangat cantik.?" puji nyonya Melisa tersenyum ramah.


April tersenyum canggung menanggapinya.


" Ngomong ngomong,, aku tidak melihat kakakmu dari tadi? di mana dia?" Bisik nyonya melisa bertanya kepada Indri.


Indri menggeleng tak tahu.


" Dasar..!! anak nakal, apa dia berencana tidak hadir di acaranya sendiri."


Nyonya Melissa menggeram marah.


" Sebentar,, Mama tinggal dulu ya cantik?" Ujarnya kepada April. Nyonya Melisa menghampiri pak Muldi kepala pelayanan dirumah mereka guna mencari tahu keberadaan Kenzo.


" Di mana anak nakal itu..!!" Tanyanya geram,, pak Muldi terkena imbas kemarahan nyonya Melisa.


" Coba telpon Asistennya Thomas." Ujarnya lagi memberi printah.


Pak Muldi mengeluarkan ponsel berniat menelpon Asisten Thomas,, Namun kerumunan orang membuat nyonya Melisa menghentikannya.


" Tunggu.."


Nyonya Melisa berjalan kearah kerumunan orang,, pria tampan dengan stelan jas hitam dan dasi kupu kupu menggantung di lehernya membuat penampilannya begitu karismatik. Tatapan yang dingin tanpa senyuman begitu maskulin dan mendebarkan hati gadis remaja yang melihatnya,,



" Siapa pemuda tampan itu,, seperti pangeran dari negeri dongeng. " Ujar Yuri yang terpanah Melihatnya.


April melempar pandangan Kearah lelaki yang membuat sahabatnya itu terpanah.


Deg..


April membeku...


Kenzo terus berjalan mendekat ke arah April tampa memalingkan tatapannya dari wajah April.


Happy Reading...