Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Kehilangan akal



Jaga baik baik kandunganmu..


April tak mengerti dengan apa yang di ucapkan pria tadi,, pria yang dia sendiri tidak tahu siapa namanya,, dia ingin meminta penjelasan atas apa yang disampaikannya, namun pria tersebut sudah benar benar pergi. April menjadi panik dan bingung.


Dia begitu takut apa yg tadi dipikirkannya benar benar menjadi kenyataan.


" Suster... " panggillnya cukup keras melihat suster yang hendak keluar dari ruangan IGD. Perawat itu melihat ke arah panggilan dan menghampirinya.


" Ya.. apa ada yang bisa saya bantu mba?"


" Gini Sus,, saya mau nanya??" April terlihat begitu gugup dan cemas, namun wajahnya juga sedikit ragu untuk bertanya, dia juga takut untuk mendengar kebenarannya. Suster mengernyit menunggu pertayaan dari April.


" Sa.. ya.. saya sakit apa ya Sus?" April memberanikan diri bertanya.


Perawat itu tersenyum mendengar pertanyaan April, lalu dengan tenang menjelaskan.


" Ow.. mba gak sakit apa apa kok,, tadi cuma pingsan karena kebanyakan muntah,, biasa kalau lagi hamil pasti mengalami morning sickness.


" Duarrrrrr..... jedarrrr....


Wajah April seketika membeku dan pucat karena syok mendengar kebenaran yg di takutnya menjadi kenyataan.


Hamil.


Kata kata itu membuat dunianya serasa berhenti berputar untuk sesaat.


" Apa Sus,, hamil..??" ujarnya dengan pandangan kosong disertai wajah yang kaku,, tak percaya apa yang barusan didengarnya.


" Iya mba, memangnya ada hal lainnyayg mba pikirkan?"


April tak menjawab,, air mata perlahan mengalir di pipinya. Semua yang terlihat seakan berputar putar dia tak lagi bisa mendengar jelas suara siapa siapa. Panggilan perawat yang khawatir melihat perubahan ekpresinya seperti berdengung di telinganya. semua menjadi samar dan mulai gelap dari pandangannya.


April kembali pingsan karena terkejut dan tidak siap menerima kenyataannya.


Perawat itu menjadi gugup dan panik,, dia segera memencet tombol darurat memanggil Dokter.


" Apa yang terjadi?" Tanya Dokter ketika hendak memeriksa kembali April.


Perawat itu bingung harus menjawab apa, karena dia benar-benar tidak tahu kalau April belum mengetahui dirinya hamil.


" Sa.. sa-ya kasih tau kalau dia sedang hamil." Perawat itu mencoba menjelaskan,, bibir. dan tubuhnya bergetar hebat.


Dokter tak lagi mengintrokgasi perawat tersebut, melihat wajahnya yang gugup dan ketakutan.


" Cepat hubungi kasih tahu AsistenThomas! berdoalah semoga Presdir tidak membunuh kita!!" ujarnya memerintahkan perawat tersebut.


15 menit kemudian,, Kenzo sudah berada di rumah sakit. Semua perawat dan Dokter yang bertugas sangat cemas,, mereka begitu takut Kenzo akan mengintron gasi mereka.


" Kenapa dia bisah pingsan lagi!!" Tanyanya meminta penjelasan.


Dokter Dengan perasaan gugup dan juga takut menjelasakan semuanya kepada Kenzo.


" Terus, kenapa kalian masih biarkan dia disini! Cepat pindahkan dia ke ruangan terbaik!"


Dokter dan perawat tak berani membantah, mereka segera memindahkan April ke ruangan VIP.


Tiga jam sudah berlalu,, Kenzo dengan perasaan cemas menunggui April. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 17.40. April mulai tersadar, perlahan dia menggerakkan bola matanya. Dia meringis memegang kepalanya yang masih terasa pusing dan berat.


Dia mencabut paksa selang infus yang menempel ditangannya. Dengan putus asa dan sedih di berjalan keluar dari rumah sakit. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, dia terlihat kacau dan sedih. Berjalan seperti mayat hidup menyusuri trotor jalan.


Langit menghitam, sepertinya akan turun hujan. April berjalan sekian jam tanpa tujuan,, hatinya saat ini sangat sedih sehingga pikirannya ikut kacau.


▪︎▪︎


" Suster.. pasien yang terbaring di ruangan ini kemana?" tanyanya kepada beberapa perawat yg lewat.


Mereka semua menggeleng,, karena benar-benar tidak tahu. Ketakutan terlihat jelas di wajah mereka yang menunduk tak berani menatap langsung wajah Kenzo.


" Arrrggghhh... " Kenzo terlihat sangat kesal dan panik,, lalu keluar mencari ke tempat lain. Dia segera menelpon Asisten Thomas untuk segera memeriksa CCTV, seluruh petugas keamanan di rumah sakit dikerahkan.


Sepuluh menit kemudian Thomas menelpon, dia memberi tahu Kenzo pergerakan terahir April yang tertangkap CCTV- rumah sakit. Thomas juga mengirimkan vidio nya langsung ke HP Kenzo.


Dia melihat April meninggalkan Rumah sakit, Kenzo menjadi semakin panik, pikirannya menjadi takut,, takut April sampai berbuat nekat setelah mengetahui dirinya hamil.


Hujan mulai turun dengan derasnya,, terdengar suara petir menyambar keras. Kenzo menjadi semakin panik,, meski kebahasahan dia tak perduli lagi, yang dia perdulikan saat ini adalah menemukan keberadaan April. Sia mengikuti arah trotoar kemana April bisa pergi.


☆☆


April berjalan tanpa arah seperti kehilangan akal sehat,, telapak kakinya mengeluarkan darah karena berjalan tanpa alas kaki, terkadang kakinya akan menginjak serpihan beling dan juga krikil krikil tajam dijalanan,, namun dia seakan mengabaikan rasa sakit di kakinya, karena rasa sakit di kakinya tidak lebih sakit dari rasa sakit di hatinya yang dia rasakan saat ini.


Dia menjadi lupa diri dan dan putus asa. Tiba-tiba langkahnya terhenti, pandangannya tertuju kepada sosok gadis remaja yang hendak melompat dari jembatan. April tak berpikir lagi,, berlari menangkap gadis tersebut. Beruntung dia cepat dan berhasil menangkap tangannya. Tangisannya menjadi pecah.


" Apa yang kamu lakukan." Teriaknya memarahi gadis tersebut,, gadis itu masih sangat mudah usianya sekitar 14, 15 tahun gitu.


" Lepasin...!! lepasin saya..!! saya mau mati." percuma saya hidup."Teriaknya sambil menangis berusaha melepaskan genggaman tangan April.


" Dasar bodoh!! memangnya hal apa yang membuatmu menyerah dengan hidup. Apa kamu pikir setelah mati semuanya akan usai.. ha..!?"


April sekuat tenaga berusaha menarik gadis itu. Setelah cukup lama berjuang, akhirnya gadis itu berhasil dia selamatkan. April membawa gadis itu ke dalam pelukannya berusaha menenangkannya. April menangis sesak,, entah menangisi gadis itu, atau dirinya sendiri yang sempat mempunyai pemikiran yang sama. Dia tidak berpikir panjang,, bagaimana sedihnya orang tuanya, sahabatnya, mengetahui dia bunuh diri.


Air mata dan air hujan menjadi satu di wajah ke duanya.


" Tolong lepasin saya,, biarkan saya mati,, percuma saya hidup, tidak ada yang menginginkan saya. Orang tuaku bahkan sudah bercerai, mereka sibuk dengan keluarga masing- masing, tidak ada yang perduli denganku." Ucapnya sesugukan menangis pilu.


April tak ingin melepasnya, dia terus mendekapnya erat.


" Tidak..!! aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh."


" Lepaskan.... saya tidak ingin hidup. Biarkan aku mati bersama anak ini,, anak yang tidak tahu siapa ayahnya."


" Hamil...??" bibir April bergetar. Bagaimana mungkin gadis remaja yang masih perkiraan duduk di bangku kelas 2 SMP bisa hamil. Tenyata nasibnya tidak lebih buruk dari nasib gadis itu. Kejadian ini menyadarkannya,, bahwa di dunia ini masih banyak yang jauh lebih bernasib buruk darinya.


" Kenapa kita yang harus mati,, justru mereka yang menghamili kita yang harusnya bertanggung jawab dengan hidup kita. Mereka yang harusnya membusuk di penjara!! Tidak..!! kita tidak boleh menyerah begitu saja.!" Suaranya terdengar berapi-api.


" Kamu tidak punya rumah? kakak punya,, ikut kakak pulang ke rumah, kk janji akan merawatmu."


Kenzo terengah-engah karena berlari seperti orang gila mencari keberadaan April. Akhirnya dia bisa bernapas lega setelah melihat sosok gadis di depannya dalam keadaan baik baik saja.


Tanpa berpikir panjang,, Kenzo berlari menghampiri dan langsung menarik April ke dalam pelukannya, seakan akan takut April akan menghilang.


" Syukurlah... syukurlah..... kamu baik baik saja." Ucapnya terdengar begitu khawatir dan juga lega.


Pelukan itu begitu erat dan hangat,, terasa hangat bagi orang yang butuh seseorang di saat waktu terberatnya.


Entahlah ada apa dengan April,, tangisannya tiba-tiba pecah.


Kenzo dengan lembut dan sabar berusaha menenangkannya.


Happy Reading...


jgn lupa tinggalkan jejak kalian ya..


like n komen.. ❤