Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Merawat April.



" Maafkan aku.. maafkan aku."


Kata-kata itu terdengar lirih dan penuh penyesalan di ucapkan oleh Kenzo sambil mendekap erat erat tubuh April.


April tak bisa berkata kata,, perasaannya menjadi tiba-tiba emosional membuat air matanya mengalir begitu saja, tak bisa dibedung. Kenzo berusaha menenangkannya dengan mengelus lembut kepalanya. Seperti memberinya ke hangatan dan rasa aman.


Dia perlahan melepaskan pelukan Kenzo, Wajahnya begitu bingung tak tahu harus mengucapkan apa dan melakukan apa. Dia membeku dan membisu, menatap lekat lekat lelaki yang saat ini tepat di hadapannya.


Pikirannya sungguh kacau. Apa yang terjadi saat ini diluar dugaan, hingga membuatnya tak mengerti dengan apa yang dilakukan lelaki arogan ini. Lelaki yang terkadang begitu lembut dan perhatian namun terkadang juga bersikap dingin, angkuh dan menyebalkan. April benar benar-benar di buatnya bingung oleh perubahan drastis lelaki yang saat ini menjadi calon suaminya,, lelaki yang ingin menjadikannya istri kontrak penghasil keturunan. Sungguh hal yang sangat aneh melihat apa yang dilakukannya saat ini.


Kenzo memelukku?? ada apa ini, apa dia benar-benar menghawatirkanku? tapi kenapa?? dan kenapa juga dia minta maaf. Kata kata itu menjanggal di pikiran April. Ingin rasanya April bertanya,, apa yang terjadi sebenarnya,, mengapa Ken tiba-tiba perduli terhadapnya, dan kenapa juga dia terlihat begitu mencemaskannya, hal ini dapat dia lihat dari penampilan Kenzo yang basah kuyup dan berantakan, seperti sudah berada berjam jam di bawah hujan. Wajahnya juga terlihat putih pucat, bibirnya bergetar kedinginan. Apa dia benar-benar mencariku,, ahh.. April tak percaya dengan semua yang ada dipikirannya. Karena tidak mungkin seorang Peresedir dari perusahaan besar mencarinya. Buang jauh pemikiran itu. Kehampaan dan rasa sakit kembali menggerogoti hatinnya membuatnya semakin takut dan bingung. Sekarang apa yang harus dia lakukan??


Kenzo menatap mata itu,, mata yang menatapnya dengan tatapan hampa dan tanda tanya. Mata itu penuh dengan rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan.


Asisten Thomas tiba di waktu yang tepat di ikuti beberapa mobil di belakangnya yang ikut berhenti setelah menemukan Kenzo dan juga April. Asisten Thomas dengan cepat berlari turun dari mobil lalu memayungi keduannya yang terlihat menggigil di bawah derasnya air hujan.


" Peresedir..?" sapa Asisten Thomas cemas.


Kenzo tak merespon, dia justru menggedong tubuh April yg terlihat semakin lemah, padahal tubuhnya juga menggigil dan bergetar, tetapi dia seorang laki-laki, dan laki-laki akan selalu melindungi wanitanya, meski nyawanya jadi taruhan. Langkahnya berat dan terseok seok, dia tetap berusaha melangkah menuju mobil.


" Buka pintu mobil." Perintahnya terlihat kelelahan dengan napas pendek dan berat.


Perlahan dan lembut Kenzo meletakkan tubuh lemah itu di kursi belakang kemudi. Dia melihat kekhawatiran di mata April, tatapannya tak berpaling dari gadis malang tadi, gadis yang terlihat ketakutan sambil memeluk kedua kakinya di pojok jembatan. Kenzo mengikuti arah pandangannya,, lalu dia mengisyaratkan Asisten Thomas membawa gadis itu untuk segera membawanya kerumah sakit.


Setelah gadis itu di bawah pergi, April menatap ke arah kenzo tanpa mengucapkan sepatah kata. Hening, ya.. itulah gambaran dari keadaan mereka.


Kenzo mengambil handuk yang di siapkan di mobil, lalu memakaikannya ke tubuh April yang mengigil kedinginan, dia juga membantunya mengeringkan rambut April, meski sedikit canggung, namun kenzo tetap melakukannya. Hah..!!! hal yang belum pernah dilakukan seorang Kenzo seumur hidupnya sekarang dia lakukan kepada April. Dia begitu perduli dengan keadaan April, padahal dia sendiri juga kedinginan karena berjam jam dibawah hujan karena berusaha mencari keberadaan April. Namun hal itu tidak dia perdulikan.


Mobil melaju dalam kecepatan sedang.


Tidak ada yang berbicara diantara mereka,, Suasana didalamnya begitu hening dan sunyi,, terkadang sesekali Kenzo melirik April dari spion. Dia terlihat menyenderkan kepalanya di pintu mobil, dengan mata yang tertutup. Guratan kesedihan masih tertinggal di wajah manis itu.


Arah mobil menuju ke selatan kota A, jelas sekali bukan arah perumahan April. Karena selatan kota A meruapakan kompleks Apartemen elit, yang harganya di luar imajinasi. Kompleks Apartemen itu juga ke amanannya sangat ketat, tidak sembarangan orang bisa masuk,, dan juga tidak semua orang bisa membelinya, meski mereka mampu untuk membelinya. Selain tempatnya yang sangat aman, pemandangan di situ juga sangat indah dan menakjubkan.


Kenzo telah sampai di apartemen, sebelum membawa April masuk terlebih dulu dia memberi tahu pak Sanjaya agar tidak khwatir nantinya, karena Kenzo tidak bisa mengantar April ke rumahnya dalam kondisi seperti saat ini.


Dia bergegas menggendong April langsung ke dalam kamar Apartemen yg terletak di lantai 5. April tak beraksi,, tidurnya begitu sangat pulas. Sesampainya di kamar Kenzo dengan hati hati sambil menahan napas membaringkan April ke tempat tidurnya. Tempat di mana belum pernah ada seorangpun berani duduk di atasnya. Bahkan untuk melangkahkan kaki ke kamarnya saja tidak di izinkan.


Dia terlihat bingung melihat pakaian basah yang masih menempel di tubuh April. Kalau tidak segera di ganti itu tidak akan baik,, bisa mengakibatkan demam dan masuk angin. Kenzo terlihat mondar mandir sembari berpikir,, antara melepaskan baju April atau tidak. Dan dia akhirnya memutuskan melepas baju April.


Dia mengambil selimut lalu menutupinya keseluruh tubuh April, kemudian Kenzo dengan gugup berusaha melepaskan baju April. Ah masa bodoh pikirnya,, yg terpenting saat ini melepaskan dan menganti baju April, agar dia tidak demam dan masuk angin.


Dengan perjuangan panjang dan usaha keras akhirnya Kenzo bisa juga melepas serta menganti baju April dengan baju miliknya. Karena disitu tidak ada pakaian wanita, jadi dengan terpaksa menggunakan pakaiannya.


Hal terpenting dan menegangkan sudah berhasil Kenzo lewati,, Saat ini dia hanya perlu mengobati luka di kaki April. Perlahan dan lembut Kenzo membersihkan luka di kakinya, lalu mengobati dan memperban kedua kakinya yang terluka.


Kenzo termangu menatap wajah teduh yg terbaring di depannya. Dia merasakan perasaan aneh yang dia sendiri tak mengerti, ada apa dengannya, melihat wanita ini menderita membuatnya juga ikut menderita. Dia menghela napas panjang dan berat, lalu pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Malam semakin larut,, Kenzo masih terjaga karena April yang selalu mengigau dan terkadang berteriak histeris karena bermimpi buruk. Tubuhnya semakin panas, Kenzo semakin cemas dan bingung, dia tidak tahu harus melakukan apa, seumur hidup dia belum pernah merawat seorang pun, Dia mencari petunjuk di internet cara menurunkan demam.


Semua petunjuk dan arahan di ikututinya, dia mengompres jidat menggunakan ai dingin dengan penuh kesabaran, namun demamnya masih juga belum menghilang. Akhirnya dia menyerah kemudian menelpon Dr. Andre untuk memeriksa kondisi April.


" Ya ampun Tuan... ini sudah jam berapa?? kamu memanggilku ke singgah sanamu." Grutu Dr. Andre sambil menguap malas.


" Jam 3." jawab Kenzo biasa saja.


" Nah.. itu tau.?? "


" Udah... gak usah banyak protes,, mau kamu saya kirim ke Afrika.


Dr. Andre tersenyum masam.


" Ada apa,, kamu sakit apa lagi?? jangan bilang colestrol." Dr. Andre wanti wanti mengingat kejadian lalu,, Kenzo mendiagnosis dirinya sendiri terkena colestrol karena tidak sakit, tetapi kekeh mengatakan kalau dirinya mungkin sakit Colestrol. ☺☺ ada ada aja si Kenzo, auto lebay.


" Udah.. ikut aku." Ajaknya sambil melangkah ke arah kamarnya.


Dokter Andre menghentikan langkahnya tepat di pintu masuk kamar Kenzo.


Kenzo berbalik menyadari Dr. Andre tidak berada di belakangnya.


" Kenapa masih disitu.??!"


" Yakin... aku boleh masuk..?" Tanyanya cemas dan bingung.


" Tuan muda Yakin tidak akan mengirim saya ke Afrika jika masuk ke kamar ini??"


" Gak..!! kamu akan aku kirim ke Papua!!" Ujarnya ketus, merasa greget dengan kelakuan Dr. Andre. Dalam hati Dr. Andre berkata, lebih baik di kirim ke Afrika dari pada Papua,, ihh mengantar nyawa,, pikirnya bergidik ngeri.


Dr. Andre melangkah ragu. Matanya terbelalak kaget melihat seorang wanita yang terbaring di tempat tidur Kenzo.


" Dia kenapa??" Tanya Dr. Andre.


" Demam!!" jawab Ketus pura-pura bersikap cuek namun terlihat jelas kekhawatiran di gurat wajahnya.


Dr Andre tak ingin bertanya laki,, dia seperti memahami sifat dari Kenzo yang ya.. boleh di bilang apa ya?! author jadi bingung ngejelasinnya. Tanpa banyak bertanya lagi D.r Andre memeriksa kondisi gadis tersebut.


" Tidak perlu khawatir.. Dia hanya Demam karena ke hujanan dan sedikit kelelahan. Saya sudah memberinya infus vitamin, dan jangan lupa, memberiny obat ini nanti supaya demamnya turun." Jelas Dr. Andre sembari mengeluarkan beberapa lembar obat dari tasnya.


" Kalau begitu,,, apa saya sudah boleh pamit pulang untuk tidur?? " Ujarnya lagi sedikit menggoda Kenzo.


Kenzo mengangguk acuh. Dr Andre segera pergi sambil mengeleng - geleng kepala melihat tingkah Kenzo, yang berpura-pura tidak peduli padahal jelas jelas terlihat khawatir.


Kenzo memperhatikan obat yang ditinggalkan Dr Andre lengkap dengan aturan minum serta kegunaan obat masing-masing. Sepertinya Dr. Andre sudah bersiaga supaya tidak diganggu lagi.


Kenzo berusaha memberikan obat kepada April. Dia mengangkat sedikit bahu April agar bisa meminumkannya. Dia terlihat begitu kewalahan, beruntung dia berhasil membuat April meminum obatnya.


Perasaannya menjadi sedikit lebih tenang. Karena mengantuk dan kelelahan akhirnya dia tanpa sadar berbaring tidur di samping April.


Happy Reading....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya..? 😊❤