
" April...?" Sapaan itu menghentikan langkah April. Dia mendongak ke arah panggilan tersebut.
Lelaki muda perkiraan usia 23 tahun dengan tinggi sekitar 72 cm, kulit sawo matang poni di biarkan tergerai kedepan. Menggunakan kaos oblong warna putih perpaduan celana jeans warna hitam, memang gaya anak muda masa kini. Wajahnya tidak kala tampan dari Kenzo. Dia Aryo, boleh di bilang mantan pacar atau pacar April. Hubungan mereka juga tidak jelas.
Aryo yang tadinya duduk, langsung berdiri dengan senyuman tersungging di bibirnya melihat kedatangan April.
April yang di sapa diam, wajahnya terkesan bingung. Lelaki ini apakah sengaja menungguhnya di depan Ruang inap ibunya?
Dia mendekat ke arah April. Tas Ransel di gantung di kiri bahunya.
" Hay..." Sapanya lagi bersemangat.
April hanya bisa tersenyum kaku melihat Aryo mendekat kearahnya.
" Kamu apa kabar?" Ucapanya sambil memperhatikan dari bawah ke atas penampilan April. Baju yg di kenakan April terlihat mahal dan elegan, tetapi bukan itu yang menjadi pokus Aryo. Dia melihat wajah April begitu pucat dan lemah. Matanya seperti menyimpan beban yang besar.
" Kamu sakit..??" Tanyanya cemas
" Gak kok. Aku baik-baik aja."
April gelapan menghindari tatapan penuh selidik Aryo.
Hal itu membuat dahi Aryo berkerut. Dia merasa ada yang di sembunyikan April darinya.
Dia memegan tangan April, sambil memperhatikan.
" Jangan bohong. Ini Apa?" Aryo mengangkat tangan April menyuruhnya melihat bekas jarum infus yang masih menempel plaster di tanggannya sendiri.
Dengan cepat April menarik tangannya lalu dia sembunyikan ke belakang badannya.
" Aku gak pa-pa. Kamu ada apa kemari? apa ada yang sakit atau mau menemuiku." Ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aryo terdiam sesaat, lalu menarik napas panjang dan berat. Sepertinya dia tau April tidak ingin membangi bebannya dengan dirinya.
" Aku memang sengaja menunggu kamu. Kamu susah di hubungi. Aku sms kamu gak pernah balas."
" Hp ku rusak." jawab April berusaha menyembunyikan perasaan bersalahnya. Hingga membuatnya besikap cuek dan dingin.
Aryo memandang senduh wajah itu, wajah yang selalu ia pikirkan dan ia rindukan, tapi begitu dingin dan tidak bersahabat.
Aryo dengan tiba-tiba memeluknya, kerinduan di hatinya tidak bisa dia tahan lagi. April tadinya ingin menghindar namun perasaan sedih dan bersalah yang menyelimuti hatinya membiarkan Aryo memeluknya tuk yang terahir kali sebelum dia menjauh dari Dunianya.
Kenjadian ini di lihat langsung Kenzo, darahnya seakan mendidih melihat keromantisan dua kekasih di depannya. Perasaannya yang tadi bersemangat tentang cinta membuatnya kembali membenci cinta, cinta yang hampir membuat hatinya luluh. Padahal dia bertekad untuk mengakui semuanya kepada April tentang perasaannya selama ini. Tapi apa? Kini cinta kembali menghianatinya.
Dia tak tahan melihat penghianatan itu semua. Dengan emosi yang menggebu langsung menonjok wajah lelaki di depannya. Barang yang sudah menjadi miliknya takkan dia biarkan orang lain menyentuhnya. Ke egoisan kembali menguasai hatinya.
" Bukss...!!" Bogem mendarat di wajah Aryo, darah segar menetes di bibirnya.
" Aryo...!!"
Replek April berteriak panik melihat Aryo tersungkur jatuh kelantai karena tonjokan yang tiba-tiba.
Matanya langsung menoleh ke arah peria yang dengan tiba-tiba memukul Aryo. April tak bisa berkata-kata, suaranya seakan tercekat di tenggorokannya melihat siapa pria yang saat ini dia lihat. Kenzo di penuhi kemarahan, ia kembali ingin memukul Aryo, tetapi dengan cepat April menghentikannya sambil berlutut memohon.
" Jangan. kumohon jangan sakiti Dia."
Melihat April yang memohon untuk pria itu membuat Kenzo semakin marah. Dia mengepal tinjunya kuat kuat berusaha menahan emosi di hatinya yang saat ini hampir meledak.
Aryo tak mengerti melihat semuanya. Dia berdiri memandang Kenzo dengan seksama. Penampilan yang kuat dan berkarisma.
" Siapa Kamu."
" Memangnya Kamu pantas mengetahui siapa Aku."
" Ril...apa Kamu mengenalnya?"
Aryo mendekat ke April, ke dua tangannya memegang bahu April. Perasaan cemas tergurat di wajah Aryo menunggu jawaban dari pertanyaannya.
" Dia.. dia.." April tidak tahu harus mengatakan apa kepada Aryo.
" Dia wanitaku dan Aku calon suaminya. Lepaskan tangan kotormu darinya.
Kenzo menghempas tangan Aryo dari bahu April. Tatapan Matanya kejam dan membunuh.
Aryo tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia terdiam kaku, berusaha mencerna apa yang di katakan lelaki ini kepada nya. Matanya dengan sedih menatap wajah April menunggu penjelasannya, namun April tak berucap sepatah katapun, dia seolah membenarkan apa yang di katakan lelaki yang barusan memukulnya. Hati Aryo menjadi begitu sakit seperti di tusuk ribuan jarum. Tatapannya begitu menyayat melihat wanita yang di cintainya di bawa pergi dari hadapannya.
" Aku calon suaminya, dia wanitaku." perkataan itu mengoyang giyang di telinga Aryo.
" Arkkkkk......" Dia berteriak menyedihkan.
**
Kenzo melaju dengan kecepatan tinggi. Emosinya seakan meledak tak terkendali membuat April ketakutan melihatnya.
Sesampai di Apartemennya dengan kasar dia menyeret April.
" Bruk..." Tubuh April di lemparnya kerajang.
April ketakutan. Tubunya gemetar hebat, sambil menangis berusaha menutupi tubuhnya yang di lucuti. Kini semua serpihan pakaiannya berserakan di lantai.
" Bersihkan tubuhmu. Lain kali jangan biarkan aku menangkamu dengan lelaki itu. Kalau tidak bukan wajahnya yang akan ku pukul, tapi akan ku kirim dia ke Neraka!!"
Kenzo benar-benar sangat emosi. Namun hatinya saat ini juga sakit mengingat April yang begitu perduli dengan lelaki itu.
" Lahirkan keturunan Beliondra!! Maka Kamu bisa lepas dari Neraka ini." Ujarnya berdiri sambil memyampingi April. Kemudian pergi meninggalkannya dalam kemarahan.
April terdiam meringkuk mendengarnya. Tangannya gemetar menarik selimut menutupi bagian tubuhnya yang terekspos. Hidupnya terasa lebih sakit dari pada kematian. Dia benar-benar menyesal masuk ke dalam dunia yang lebih buruk dari neraka ini. Tapi apakah dia punya pilihan? hidup orang tuannya bergantung kepalanya.
**
Kenzo melempar barang barang di ruang kerjanya berusaha melampiaskan semua kekecewannya. Dia membenci dirinya yang dengan bodoh berpikir ingin mengakui semuannya kepada wanita yang masih menyimpan perasaan untuk lelaki lain.
Dia berteriak keras mengeluarkan emosinya. Air mata menitik di pipinya. Ha... benar-benar lucu. Seorang Kenzo Beliondra menangis dalam kepedihan. Apakah dia mengakui kalau dirinya jatuh cinta kepada April hingga hatinya begitu hancur dan kecewa??
Tiga jam dia mengurung diri di Ruang kerjanya. Setelah perasaannya sedikit lebih tenang Kenzo kembali ke kamarnya, dia berdiri kaku memandangi wanita yang saat ini tengah mengandung benih darinya.
Perasaannya menjadi kacau melihat April menyelimuti dirinya sambil meringkuk. Wajahnya masih meninggalkan jejak ketakutan. Terlihat dari tangannya, yg begitu erat mengepal ujung selimut.
Kenzo mendekat lalu duduk di samping April. Dia memandang begitu lama wajah April. Wanita ini begitu kurus dan pucat, apakah dia tidak di kasih makan? Bagaimana mungkin dia akan bisa melahirkanketurunan dengan sehat.
Dia berinisitif memasak makan malam yang sehat untuk April. Namun bagi dirinya yang belum pernah masak bahkan untuk dirinya sendiri akan sangat sulit membuatnya. Dia menyesal menyuruh bi Sumi pulang tanpa menyiapkan makan malam.
" Apa aku lihat di Google aja." Gumamnya sambil berpikir.
Dia mulai mengotak atik ponselnya sambil berjalan menuju dapur. Tangannya masih mengotak Atik ponselnya mencari resep makanan sehat untuk ibu hamil.
Dengan susah payah Kenzo berusaha mengikuti resep, beberapa kali dia gagal. Makanannya terkadang gosong dan terkadang kelebihan asin. Namun Kenzo tidak menyerah.
" Aow... aow.. " Kenzo meringis sambil mengibas tangannya yg kepanasan memegang panci yang masih panas.
Dapur itu terlihat kacau dan berantakan. Suara gadu terdengar sampai ke kamar tempat April tidur.
April mulai berpikir apa yang sedang terjadi. Dengan perasaan takut dan cemas mengintip keluar kemudian berjalan perlahan menuju arah suara gaduh.
Matanya terbelalak melihat dapur yang berantakan seperti terjadi pencurian.
Dia meningkatkan kewaspadaannya, mengengam erat selimut yg membungkus tubuhnya. Namun sesaat dahinya mengkerut melihat sosok pria yang dikenalnya berdiri sibuk membelakanginnya.
" Apa yang kamu lakukan?" April memberanikan diri bertanya.
Kenzo berbalik menatap ke arah suara. Tangannya masih memegang suntil, kemudian merasa canggung melempar suntil itu dari tanggannya.
" Kamu bangun?" ucapnya canggung.
" Duduklah, aku akan membuatkanmu makan malam." Sambil menuntun April duduk di kursi meja makan. Namun meja makan itu penuh dengan barang barang. Kenzo dengan segera membersihkannya.
" Tunggu sebentar, makanannya akan siap."
Kenzo berlari kecil menyiapkan makanannya yang sudah hampir siap.
Satu persatu mulai ia sajikan di depan April.
April memperhatikan satu persatu makanan yang di sajikan Kenzo. Dia benar-benar bingung dengan semuanya. Kenapa laki laki ini tiba-tiba membuatkannya makan malam? bukankah itu aneh dan tidak masuk akal?
" Makanah.."
Kenzo menyuruh April makan lalu mengambil posisi duduk tepat berhadapan dengannya.
Karena bingung, April tak menyentuh makanan itu, membuat Kenzo berinisitif menyuapnya.
" Bagaimana, apa kamu suka? aku khusus memasakkannya untukmu." Ucapnya tersenyum tulus menunggu jawaban April.
April masih diam dengan pemikirannya.
" Ada apa dengan lelaki ini? kenapa dia begitu aneh, sesat seperti iblis dan sesat lagi seperti malaikat." April bertanya dalam hatinya.
" Kenapa? apa makanannya tidak enak." Kenzo bertanya sedih melihat April yg hanya diam memandang masakannya.
" Enak." Jawab April canggung.
" Baguslah, kalau begitu habiskan. Makanan ini baik untuk ibu hamil." Jelasnya tanpa melihat ekpresi April yang seketika kaget mendengarnya.
^_^
Hay pembaca yang budiman, autor minta dukungannya dong? dengan cara like n komen ya?
Terimakasih 😘