
Pak Muldi berjalan menuju dapur, dan mulaia memanaskan air kemudian menyeduh kopi hitam pahit kesukaan bosnya Kenzo.
" Anak ini, kenapa suka sekali minum kopi, padahal kopi tidak terlalu baik untuk kesehatan."
Pak Muldi mendesah cemas memikirkan Kenzo yang selalu meminta kopi setiap malamnya, bahkan dipagi hari juga. Pak Muldi termenung sambil tangannya terus menerus mengaduk gelas berisi kopi,, Terbesit ide lain dipikirkan pak Muldi, dia dengan semangat menyiapkan satu cangkir lagi, tapi bukan untuk di isi dengan kopi melainkan minuman lain, minumannya itu Wedang jahe,, karena sepengetahuan pak Muldi wedang jahe lebih baik daripada kopi. Meskipun nantinya Kenzo tidak suka, namun pak Muldi tetap ingin mencoba memberikannya.
Pak Muldi terlihat puas, garis wajahnya menarik senyuman. Kopi dan wedang jahe sudah ditata diatas nampan, tinggal mengantarkan saja keruang kerja Kenzo.
" Buat siapa itu pak."
Brayan bertanya tiba tiba kepada pak Muldi, sambil mengintip isi dari kedua gelas.
" Astaga naga.. Astagfirullah.. Tuan muda, bapak kaget lho, untung jantung bapak gak jatuh kelantai.
Sambil mengelus elus dadanya, menoleh kearah Brayan.
" Ah.. lebay...."
Brayan menyeringai ,,, pandangannya pokus ke arah dua cangkir kopi dan wedang jahe yang dibuat oleh pak Muldi.
" Itu buat saya.."
Brayan menunjuk kearah diri sendiri,, tersenyum sumringah memandang pak Muldi.
" Tuan mau..?"
" Mau, saya ambil ya."
Brayan mengeluarkan tangan hendak mengambil salah satu dari cangkir itu, tapi tangannya dipukul pelan oleh pak Muldi.
" Aow... "
Brayan berteriak meringis, pura-pura kesakitan sambil mengibas ngibas tangannya.
" Jangan yg ini Tuan? ini buat Tuan Kenzo,, bapak antar ini dulu, baru kembali lagi buatkan untuk Tuan Muda.
" Gak pengen lagi..!!
Brayan berlagak kesal,, dan meninggalkan pak Muldi. Tapi pak Muldi tak menghiraukan,, dia sangat tahu bagaimana meredakan kemarahan Brayan nanti,, Brayan kalau sama pak Muldi selalu bersikap manja, dan pak Muldi sangat mengenali karakter tuan muda keduanya yang cukup manja itu.
Pak Muldi segera bergegas mengantarkan kopi dan wedang jahe ke ruang kerja Kenzo.
Sesampainya didepan pintu ruang kerja Kenzo, pak Muldi mengetuk pintu.
Tok..tok..tok..
" Tuan muda besar.. kopinya?"
" Oh ya pak, masuk aja."
Pak Muldi segera masuk dan berjalan kearah Kenzo.
" kopinya pak..?
" Taroh disitu saja pak.." Tangannya dia kibaskan tanpa melihat. Sepertinya Kenzo terlihat lelah, banyak map diatas meja kerjanya, sesekali dia memijit pelipis matanya sambil tetap membolak balikan isi map.
Pak Muldi belum beranjak, matanya masih memperhatikan Kenzo.
" Apa mau sekalian bapak bawakan cemilan Tuan? Sepertinya Tuan sangat sibuk, dan tuan juga belum makan malam.
" Tidak usah pak,, kopi saja cukup."
Pandangannya mulai terangkat dan menoleh kearah dua cangkir disampingnya. Dahinya mengkerut.
" i..ini..?"
" Wedang jahe Tuan? baik untuk kesehatan, bapak ganti gulanya pakai madu."
Pak Muldi menjelaskan dengan antusias, dia sengaja menambahkan madu karena Kenzo belum menyentuh makan malamnya.
" Diminum ya Tuan,, jangan cuma minum kopi saja.
Kenzo tidak menjawab, dia terpaku menatap dua cangkir disampingnya.
" Tuan muda,, di..minum."
Pak Muldi menyuruh Kenzo dengan sedikit keraguan sambil menatap cemas kearahnya.
" Wedang jahenya enak."
Pak Muldi tersenyum. " Kalau begitu diminum sampai habis ya tuan? kopinya saya bawa balik aja."
Kenzo ingin menolak,, tapi kemudian tak jadi. dia membiarkan saja pak Muldi membawa kopi hitamnya keluar. Dia tahu pak Muldi mungkin menghawatirkannya.. pak Muldi bukan hanya sekedar kepala pelayan dirumahnya,, semenjak ayahnya Matius Beliondra meninggal dia menjadi orang terdekat yang selalu perduli dan menghibur Kenzo serta adik adiknya.
*
Lelaki itu terbaring,, cahaya matahari pagi mulai menyebar diseluruh permukaan tubuhnya, matanya bekedip kedip,, perlahan terbuka. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya,, matanya kemudian menatap selang infus yang tertancap ditangannya. Pandangannya mulai memperhatikan sekeliling yang tampak sepih. Dahinya mengernyit bingung, Ingatannya kembali pada waktu dia dan Yuri di bawah masuk ke dalam mobil Van berwarna hitam.
Suara langkah kaki terdengar mendekat kearah kamarnya. Pintu terbuka, seorang wanita berbaju putih seperti mengenakan pakaian perawat mendekatinya.
" Mas akhirnya sadar, bagaimana? apa mas yang kurang nyaman?
Dia tersenyum ramah sambil mencatat sesuatu dipapan kertas yang ia bawah. Aryo masih tak mengerti dengan situasinya.
" Saya dimana??"
Suara Aryo terdengar berat, sambil memegang kepalanya karena merasa sedikit pusing, matanya berkeliaran menatap ruangan asing yang baru kali ini ia lihat.
" Masnya pingsan dari kemarin, dokter sudah melakukan tindakan, tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
" Pingsan?? siapa yang bawah saya kesini.?"
Suster itu tidak menjawab, dia justru tersenyum, kumudian mengganti infus yang hampir habis dengan yang baru.
" Mas istirahat saja,, ada apa-apa pencet saja tombol disamping tempat tidur. Tombol hijau untuk perawat dan tombol merah kalau benar benar argen.
Suster itu menjelaskan kemudian berbalik untuk pergi tapi dihentikan oleh panggilan Aryo.
" Suster..!! tunggu, teman wanita yang kemarin bersama saya mana?"
Suster mengerutkan dahi karena bingung dengan pertanyaan Aryo. " Tidak ada wanita bersama Mas kemarin,," ucapannya terdengar meyakinkan,, " jika tidak ada yang penting,,, saya permisi dulu."
Aryo tidak bisa bertanya lagi, suster itu sudah pergi. Dia bergerak gerak mencari tasnya. Tidak ada apa apa dikamar itu selain dirinya dan peralatan rumah sakit.
**
Hari ini jadwal operasi ibunya April,, dia terlihat begitu gelisah,, perasaan takut menyelimuti hatinya, garis wajahnya benar-benar terlihat khawatir,, pak Sanjaya mendekat kemudian menggenggam tangannya berusaha menenangkan April.
Operasi sudah berjalan sekitar tiga jam, tidak ada tanda tanda Dokter akan ke luar, April semakin cemas, operasi kali ini berlangsung lama dari operasi sebelumnya. Arah pandangnya sekilas tertuju kepada Ayahnya yang tak kala cemas darinya. Dia mulai sadar, kalau dia tidak boleh terlihat begitu lemah, ayahnya ada disini dan kondisinya juga belum terlaluh membaik,, dia teringat kalau mereka belum menyentuh makanan dari tadi pagi karena saking bersemangatnya mengetahui bundanya bisa dioperasi,, makanan yang sudah tersaji tidak masih utuh dodlam kamar VIP tempat mereka.
April begitu menyesal,,, karena kelalaiannya ini ayahnya bisa saja kondisinya kembali memburuk.
" Ayah... April antar kekamar ya..?? biar April yang nungguin bunda."
Pak Sanjaya tak sempat menjawab,, matanya tertuju ke lampu hijau di ruang operasi yang akhirnya menyala. April juga ikut melihat,, perasaan mereka menjadi campur aduk menunggu pemberitahuan dari Dokter.
April begitu gelisah menunggu Dokter keluar dari ruang operasi. Ketika Dokter keluar,, dia langsung menghampirinya untuk bertanya.
" Dok-ter..?? operasi bunda saya bagaimana.??"
Wajah April benar benar gelisah menunggu jawaban dari Dokter.
Wajah Dokter yang terlihat menyesal membuat April Sangat takut. Akhirnya pak Sanjaya mendekatinya dan ikut bertanya.
" Dok-ter istri saya bagaimana kondisinya??"
Pak Sanjaya terlihat seperti sudah siap mendengar apapun hasilnya. Dia merangkul bahu putrinya agar tidak ambruk karena lemas. Dia menatap wajah April berusaha menguatkannya.
Dokter itu membuka masker yang menutupi sebagian dari wajahnya. Dia terlihat serius memandangi kedua Ayah dan anak tersebut,, tatapannya menjelaskan hasil dari operasi yang pastinya tidak baik.
" Pak... operasi hari ini tidak berjalan lancar,, fungsi dari kedua ginjal istri bapak kurang bisa merespon ginjal yang baru kami pasangkan??
kami minta maaf, karena sepertinya istri bapak masih harus bergantung pada alat medis untuk sementara waktu, sampai operasi selanjutnya kami jadwalkan? Mohon bersabar..?"
Duarrrrrr..
Berita itu seperti petir disiang bolong bagi April, harapan untuk melihat senyum dan suara ocehan bundanya kini hanya harapan yang tak tahu kapan terwujudnya.
Happy reading 😘😘😘
Author butuh like dan dukungan reader semua ya..? biar author bisa selalu up