
Pak Sanjaya tertududuk lemas memikirkan apa yg barusan Kenzo ucapkan, memang benar dirinya yang memohon untuk menikahi putri semata wayangnya, tapi sebelumnya dia tidak pernah berpikir, apakah putrinya akan bahagia menerima perjodohan itu, yang dia pikirkan seseorang yang berkuasa seperti Kenzo Beliondra akan bisa menjaga dan merawat putrinya.
Pak sanjaya menarik napas panjang dan berat.
" Aaahh... apa yang harus aku lakukan??"
" Ada apa Yah..? desahannya terdengar sampai keluar lho..?"
April melihat kesekeliling ruangan sambil kembali menutup pintu kamar. Tidak ada yang aneh, pikirnya memperhatikan dengan seksama sekeliling.
Pak Sanjaya tentu saja merespon sedikit kaget,, dia berpikir apakah tadi April sempat berpasan dengan Tuan Muda Kenzo,, dan bukannya menjawab pertanyaan April, pak Sanjaya justru bertanya sesuatu yang membuat April bingung.
" Apa kamu bertemu dengannya tadi..?"
" Siapa Yah.." April mengeryit bingung.
" Bukan siapa-siapa.
April mendekat ke arah ayahnya, dia merasa ada sesuatu yg sedang disembunyikan.
" Yah.. apa tadi kita kedatangan tamu."
" Kenapa kamu nanya begitu?"
" Ya gak pa-pa sih, soalnya tadi kayaknya ada yang keluar dari ruangan kita,, tapi April gak bisa lihat jelas wajah orangnya, kelihatan seperti orang penting gitu."
Pak Sanjaya merasa berat ingin menyampaikan permintaan Kenzo kepada April. Meskipun mereka pernah membicarakannya, tapi situasi saat ini apakah benar benar memungkinkan?
" Nak...? begini.. ada yg ayah ingin katakan kepadamu."
Keraguan terpancar jelas diwajah pak Sanjaya. Bola matanya seperti menyimpan kesedihan dan juga kegelisahan.
April memandang Pak Sanjaya dengan tatapan sudah siap mendengar apapun berita yang akan disampaikan ayahnya itu.
Tatapan berat diwajah pak Sanjaya masih terlihat jelas.
" Yah..."
" Nak... Ayah... lamarannya dua hari lagi, bagaimana menurutmu?"
April terdiam kaku dengan pandangan hampa, bingung harus menjawab apa,, sepertinya dia tidak bisa lari lagi,, mereka sudah terlalu banyak mebantu keluarganya, meskipun pak Sanjaya tidak menjelaskannya, dia sangat tahu kamar VIP, biaya operasi Bundanya, tidak mungkin dari seorang dermawan yang tak dikenal, dia sangat rasional, di dunia ini tidak akan ada darmawan yang mau banyak rugi tampa mendapat timbal balik.
" Yah.. April keluar bentar..?"
" Mau kemana nak,, ini sudah mau gelap,.? "
" Gak pa-pa kok Yah,, cuma keluar sebentar. "
Pak Sanjaya mengangguk mengizinkan, mungkin April butuh waktu menenangkan dirinya sendiri.
" Luccu.. !!?" Gumamnya tersenyum sinis dan menyedihkan.
Kenangannya bersama Aryo terputar kembali di memory nya, seperti ingin mendelete satu persatu kenangan indah saat bersama orang yang dia cintai., atau mungkin saja menyimpannya rapat rapat di memory terdalamnya yang di mana tidak ada satupun orang yang bisa menemukannya.
Lama April mendongak kelangit yang sudah sepenuhnya gelap.
" Hay.. girl's, are you okay..?"
Brayan yang memperhatikan April sedari tadi, duduk tampa dipersilahkan disampingnya.
April terkejut dan juga bingung,, merasa aneh dengan pria yang menyapanya, dia tidak merasa mengenal pria yang duduk disampingnya.
Brayan tanpa basa basi, menyodorkan sapu tangan kepada April.
" A beautiful girl should not cry alone without someone to accompany her. ( Seorang gadis cantik tidak seharusnya menangis sendirian tanpa ada yang menemani ).
" Apa anda mengenal saya??"
" Yes... maybe? because your face is beautiful ( ya.. mungkin saja? karena wajahmu cantik.)"
April merasa tidak senang dengan jawaban Brayan, dia berpikir laki lak ini mungkin ingin mengisenginnya,, perasaannya yang sensitif membuatnya cepat emosi.
" Apa anda ingin menggoda saya..!!! "
April langsung berdiri kesal dan melepar saputangan yang di berikan Brayan kepadanya.
" Wait.. this is a misunderstanding. ( Tunggu... ini salah paham.)"
Brayan ikutan berdiri berusaha menjelaskan,, melihat reaksi April yang berubah emosi. Dari dalam saku celananya dia mengeluarkan sebuah jam tangan dan menyerahkan kepada April.
" I'm sorry to have misunderstood you, I just wanted to leave this to you.( Aku minta Maaf membuatmu salah paham, aku hanya ingin menyerahkan ini kepadamu.)"
April memperhatikan jam tangan yang dipegang Brayan dengan teliti, benar saja jam itu memang miliknya, dia memang sudah mencarinya, namun tidak ketemu.
" I.. ini..... jam saya kenapa bisa ada di anda?"
" Haaaaa... syukurlah, akhirnya aku bisa mengembalikan kepada pemiliknya. " Brayan tersenyum lega.
" Ingat jangan sampai pingsan lagi..??"
Kata kata Brayan membuat April mengingat kembali kejadian di mana waktu itu April terjatuh pingsan dan kepalanya hampir menyentuh lantai, beruntung ada seseorang yang dengan cepat menangkapnya, hanya saja dia tidak tahu kalau pemuda itu adalah Brayan, karena waktu itu pikirannya benar-benar sedang ngebbleng. Sepertinya mereka memang memiliki ikatan takdir.
Brayan tersenyum misterius, kemudian melangkah pergi meninggalkan April yang masih termangu berusaha mengingat kejadian waktu itu, bahkan April belum sempat mengucapkan terimakasih dan juga permintaan maaf karena salah paham terhadapnya.
Brayan menghilang dengan cepat dari pandangan April tanpa jejak seperti buih.
Happy Reading....