Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Menolak jatuh cinta



Kenzo memikirkan kembali apa yang di jelaskan Dr. Andre kepadanya, dia sebenarnya tidak terlalu percaya dengan semuanya, mustahil sekali dirinya menggantikan April ngidam, dia masih menyangkal kalau dirinya begitu perduli dan menghawatirkan April bukan karena bayi yang di kandungnya.


Semenjak 10 tahun yg lalu perasaan cinta di hati Kenzo sudah mati. Dia tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.


Mengetahui dirinya jatuh cinta membuatnya marah. Kenapa memangnya dengan jatuh cinta? kenapa Kenzo menolak untuk jatuh cinta? dia sangat tidak ingin jatuh cinta. Tetapi cinta bukanlah sesuatu yang bisa manusia kendalikan hanya karena dirinya tida ingin, cinta sama halnya seperti oksigen, tidak bisa kita singkirkan dan akan selalu kita butuhkan. Cinta juga seperti udara yang hanya bisa kita rasakan dan tidak bisa kita tolak keberadaannya hanya karena kita tidak menginginkannya.


Sungguh Kenzo benar-benar aneh, mengetahui dirinya jatuh cinta,,, justru membuatnya bersedih, dia seakan menolak menerima dirinya mencintai April. Seperti jatuh cinta itu kutukan saja bagi dia. Apa dia benar benar ingin hidup tanpa perasaan cinta.


Kenzo berdiri disamping April sambil memperhatikannya dalam diam dalam waktu yang cukup lama, seperti ingin menguji dirinya sendiri bahwa dia tidak jatuh cinta dengan gadis yang saat ini mengandung anaknya, walau semua itu terjadi karena kesalahan. Kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan.


Dia menghela napas panjang dan berat. Berusaha menyangkal perasaan di hatinya. Padahal terlihat sekali gurat kekhawatiran di wajahnya tentang April. Kalau tidak kenapa sampai saat ini di belum bisa berterus terang kalau sebenarnya dia adalah lelaki waktu itu, lelaki yang sudah merenggut ke sucian April.


Bukan karena dia takut mengakuinya, tetapi dia takut gadis ini akan membencinya. Perang batin di hatinya bergejolak. Dia mungkin saja bisa membohongi dirinya dan perasaannya. Namun reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong.


Dia mendekat menyelimuti April. Matanya memancarkan aura khawatir melihat bibir dan tubuh April bergetar, dia seperti sedang mimpi buruk.


Air mata mengalir di pipi April.


" Jangan.... jangan lakukan itu, kumohon.." Dia mengingau, Wajahnya pucat dan ketakutan, keringat dingin membasahinya. Dia masih mengingau dengan ucapan yang sama.


Kenzo menggenggam erat tangan April, dia ingin tahu mimpi apa yang membuat gadis ini begitu menderita.


Kembali April mengingau. " Tolong lepaskan saya,, kumohon jangan lakukan itu..?" April menangis sambil memohon.


" Hey.... ada apa??" Kenzo berusaha membuat April tersedar.


" Jangan.......!!" April berteriak, kemudian dia terjaga dalam ketakutan, napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya berkeringat dingin.


" Kamu baik-baik saja?" April justru ketakutan melihat Kenzo di dekatnya, suara napasnya menjadi begitu cepat meringkut dalam ketakutan.


" Jangan....!! jangan sentuh saya..!!" Dia menyusut menyembunyikan dirinya ke sudut ranjang. Seperti orang yang ketakutan.


" It's okay... tidak apa-apa?? lihat..? ini aku, kamu aman di sini? kamu hanya mimpi buruk." Kenzo perlahan berusaha mendekati dan menenangkan April.


April masih ketakutan,, pandangannya samar dan tidak jelas, namun dia mulai sedikit tenang mendengar suara Kenzo.


" Kamu tenang ya? kamu hanya mimpi buruk." Kenzo mengelus lembut kepala April berusaha menenangkannya.


" Permisi Tuan?" Panggil bi Sumi, tatapannya segera di alihkan ke tempat lain, lalu berdiri menyamping di samping kamar, ragu untuk melanjutkan kembali ucapannya, karena tidak sengaja melihat bosnya seperti berpelukan dengan April.


" Ada apa Bi?" Sahut Kenzo sedikit malu melihat ke salahpahaman bi Sumi.


Namun belum sempat bi Sumi melanjutkan ucapannya, Nyonya Melisa sudah berdiri di depan pintu kamarnya sambil mengoceh.


" Dasar kamu a...." nyonya Melisa tiba tiba menghentikan omelannya, matanya terbelalak melihat situasi canggung di depannya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi dengan kelakuan putra tertuanya.


Wajah Kenzo berubah masam dqn canggung, namun kebalikan dengan wajah nyonya Melisa yang terlihat berseri seri.


" Ibu, tunggu, kamu, di ruang, tamu."


Nyonya Melisa mengucapkan kata demi kata dengan suara yang pelan namun isyarat bibirnya cukup jelas untuk tidak bisa di pahami oleh Kenzo.


Melihat Kedatangan anaknya Nyonya Melisa mulai menceramahinya.


" Anak ibu ternyata benar-benar ya..? di sini sudah tinggal bersama calon menantuku, tapi lupa dengan urusan pernikahannya. Ingat ya..? kamu jangan sampai membuatnya tidak tidur semalaman?? ibu tahu kalian ini masih sangat ber...ga..irah. Tapi jangan lupa, menantuku itu lagi hamil. Awas ya kamu."


Mendengar ucapan nyonya Melisa membuat Kenzo bersemu. Dia sangat malu dengan pemikiran ibunnya yang berlebihan.


" Ibu ini ngomong apa sih. Gak usah mikir yang aneh-aneh deh."


Nyonya Melisa tersenyum melihat tingkah malu malu Kenzo, dia dengan jail menggoda Kenzo.


" Yakin.... kamu bisa tahan?"


" Ah.. ibu. Apaan sih. Sudah larut, mending ibu pulang."


" Kamu ngusir Ibu..?? baiklah ibu tidak ganggu lagi, tapi ingat, besok harus pergi tanda tangan semua berkas berkas untuk pernikahan kalian?"


" Iya..? cepat pulang?"


Nyonya Melisapun pulang membawa sejuta kebahagiaan. Kemarahan yang tadi mengebu-gebu, seketika menghilang melihat putranya kembali normal. Apa yang dia cemaskan selama ini akhirnya kini membuatnya bisa bernapas lega.


Kenzo kembali ke kamar, dia melihat April sudah duduk di ujung ranjang. Suasana sedikit canggung di antara ke duanya.


" Apa kamu lapar?"


April menggeleng menanggapi pertanyaan Kenzo. Perasaannya sedikit rumit dan kacau.


" Sa... sa-ya... saya...?"


" Ada apa?" Kenzo menatap April tajam, menunggu apa yang hendak di ucapkannya.


" Tidak.. tidak ada apa-apa."


April terlihat gugup, sambil mere..mas re..mas tangannya. Pandangannya tertunduk tidak berani menatap Kenzo.


" Baiklah, kalau tidak ada apa-apa, kamu sebaiknya istirahat dan pulihkan dirimu, jangan berpikiran sempit lagi. Ingat orang tuamu pasti akan sedih kalau tahu anaknya berniat bunuh diri."


April hanya bisa diam menahan kesedihannya mendengar ucapan Kenzo. Apa yang Kenzo katakan memang benar dan tidak salah, tapi apa yang di rasakannya saat ini benar benar membuatnya bingung. Entah hidup atau mati tidak ada bedanya, bukankah kalau Kenzo tahu dirinya sudah ternoda sama saja dengan mati?? jadi di mana bedanya. April terus memikirkan semua itu.


" Ingat, kamu itu milikku, ja..di aku tidak izinkan kamu mengahiri hidupmu, terlepas dari apapun masalahnya." Ucapnya lagi, namun ada yg aneh dari tingkahnya, dia tidak berani menatap langsung ke arah April, seolah-olah ada rasa bersalah yang besar di dihatinya yang sampai saat ini masih di tekan oleh ke angkuhannya.


April masih diam mendengarkan, kepalannya masih menunduk. Dia masih terlihat khawatir dan takut.


" Kamu tidurlah. A.. a-ku akn tidur di shopa." Kenzo segegera berinisitif agar April merasa tenang namun ucapannya sedikit kaku, terbatah bata dan canggung.


Happy reading...


Buat reader semuanya, terimaksih karena suda mau membaca novelku, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya? Like And Komen๐Ÿ’–


Tungguin Updatenya lagi besok ya?๐Ÿ˜˜