
Matahari bersinar cerah menerobos masuk lewat cela jendela kamar pasien tempat orang tua April dirawat. Pemandangan diluar terlihat begitu sibuk dengan aktivitas orang orang yang berlalu lalang. Suara deru kendaraan yang terdengar samar membuat Suara alam terdengar seperti musik kehidupan. Itulah kehidupan Pana ini,,, manusia dengan kesibukan masing-masing.
Pagi ini, tidak seperti biasanya April telat bangun,, biasanya sebelum waktu subuh dia sudah bangun membenah diri kemudian mempersiapkan keperluan kedua orangtuanya,, ya,,, walaupun keperluan kedua orangtuanya sudah ada perawat yg menyiapkannya,,, namun dia tetap ingin menyiapkannya sendiri.
April akhirnya terbangun, terdiam sejenak berusaha mengumpulkan kembali jiwanya.
" Apa yg terjadi..?" Gumamnya bertanya tanya melihat sekeliling, seperti bukan ruangan orang tuannya, ruangan ini terlihat mewah dan berkelas, dilengkapi tv, kulkas serta shopa yg harganya terbilang pantastis,, Dekornya begitu indah dan elegan. Pemilihan warna dinding dan gorden yg pas menambah keindahan dan kemewahan ruangan.
" Apa aku bermimpi.." Gumamnya melihat ke dua orang tuanya juga berada di ruangan itu.
" Wah.... ini bukan mimpi..?!" Ucapnya setelah mencubit lengannya yg terasa sakit. Lalu April beranjak turun dari tempat tidurnya.
Dalam keadaan masih bingung April menghampiri ayahnya yang sedang dibersihkan oleh perawat.
" Sus....biar saya saja." Tawarnya sopan.
" Yah..ini dimana? kok kita bisa pindah ke sini? sepertinya ini ruangan VIP, apa ini tidak terlalu mahal Yah?"
April menatap pak Sanjaya menunggu penjelasannya.
Pak Sanjaya tak bisa menjawab,, bukan karena tidak tahu,, tapi dia bingung harus menjelaskan dari mana.
Awalnya pak Sanjaya berusaha menolak kebaikan Kenzo, namun ini menjadi syarat agar istrinya bisa dioprasi, mau tak mau pak Sanjaya menerima. anya dengan hati berat.
" Yah...?! kok bengong?"
Pak Sanjaya mulai berpikir dan mencari alasan.
" Oh ini, seorang dermawan berhati mulia yang ayah juga tak kenal membantu kita?"
" Masa sih yah." ujarnya ragu. Karena April yang masih berpikir rasional tidak serta merta percaya akan kata kata Ayahnya,, apa mungkin di dunia ini akan ada seorang dermawan segitu baiknya, hingga menyiapkan kamar sebesar dan semewah ini hanya untuk orang yang sama sekali tak dikenal.
" Sudah..sudah... hal ini gak perlu dibahas lagi, yg jelas kita syukuri saja, karena besok jadwal ibumu dioperasi."
Pak Sanjaya lalu serius menatap putrinya.
" Sekarang Ayah mau tanya."
Dia menjeda pertanyaannya.
" Tadi malam,,, apa yang sebenarnya terjadi?" Setidaknya
" O.. Iyah..tadi malam." Spontan April menepuk jidatnya pelan, berusaha mengembalikan ingatan ke kejadian tadi malam.
" Kenapa aku bisa disini?? tadi malam aku?" Ucapannya tidak dilanjutkan. Dia menutup wajahnya karena malu.
Pak Sanjaya hanya melihat dengan bingung kelakuan April yang mengoceh tidak jelas.
" Yah, tadi malam apa yang terjadi? Kenapa April bisa berada ditempat tidur." Tanyanya antusias sedikit tak sabar mendengar jawaban Ayahnya.
" Kamu benar benar tidak ingat apa yang terjadi?" Selidik pak Sanjaya.
April memperlihatkan wajah mayunnya yg terlihat prustasi.
" Ingat sih...tapi sebelum April tidur disini?"
" Kamu ini anak gadis, ngapain keluyuran malam malam. Untung yg mengantarmu pemuda baik,, dia sampai menggendongmu kekamar, benar benar menyusahkan orang." Ujar pak Sanjaya menasehati April.
" Jadi, maksud Ayah? si Tuan narsis itu yang menggendong April kesini?" Sahutnya tak percaya, memikirkan kembali keheroikannya.
" Hus... manggil orang kok gitu?"
" Emang narsis kok?" Gumamnya.
" Kalau ada kesempatan, jangan lupa untuk berterimakasih padanya."
April hanya mengangguk patuh menyetujui ucapan Ayahnya.
" Benarkah itu yah?!" Sahut April exsaited.
" I..ya..?" angguk pak Sanjaya.
" Tapi Ayah mau tetap disini sampai operasi ibumu selasai."
" April ingin bertemu orang itu dan mengucapkan terimakasih padanya karena sudah mencarikan donor untuk bunda dalam waktu secepat ini."
" Iya... hutang kita terlalu banyak kepadanya,, maafkan Ayah karena tak mampu menjadi ayah terbaik untukmu, ayah harap kamu tak berpikir kalau ayah menjualmu." Ujar pak Sanjaya terlihat sedih.
" Yah,,,,, jangan ngomong gitu? April tidak pernah berpikir seperti itu tentang Ayah."
" Kamu anak yang baik nak, Ayah beruntung memiliki anak sepengertian dirimu."
Wajah pak Sanjaya terlihat sedih dan juga bangga melihat putrinya yg begitu berhati besar.
☆▪︎
Ditempat lain,, Yuri mulai sadar dari pingsannya,, Cahaya matahari pagi sepertinya sudah terlihat meninggi menerobos masuk lewat tirai jendela yang tidak ditutup dengan benar.
Saat semua pikirannya kembali,, dia sedikit tercengang mendapati dirinya berbaring dikasurnya sendiri.
Dia dengan buru buru keluar dari kamarnya,, saat ingatan tentang Aryo melintas dikepalanya.
Seperti tidak ingin perduli hal lainnya,, Yuri dengan segera mengambil kunci mobil Ayahnya dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi,, tanpa perduli dengan panggilan kedua orang tuannya. Ia bergegas menuju ketempat kejadian kemarin tempat seseorang yg tak dikenal membawanya bersama Aryo.
" Sepertinya disini.." Gumamnya berusaha mengingat. Sesampainya di TKP tidak terlihat hal aneh yang terjadi.
Dia begitu bingung. Antara mimpi atau kenyataan. Berpikir terlalu keras,, apa yg sebenarnya terjadi, Yuri kepikiran untuk menelpon Aryo,, namun ponselnya tidak aktif. Yuri kembali yakin kalau semua bukan mimpi.
kemudian segera bergegas menuju rumah Aryo. Dengan panik Yuri menerobos masuk. Dia mendapati adik adik Aryo sedang dijaga oleh pengasuhnya.
" Bu Mi, Aryo mana ya?" Tanyanya tak sabar karena khawatir.
" Mas Aryo bilang Ada Seminar diluar kota dua Minggu, jadi ibu disuruh jagain anak-anak mba.
" Seminar??" Sahut Yuri terkejut mengulangi perkataan Bu mi."
" Iya mba." jawab Bu mi Sangat yakin.
" Tapi, kenapa ponselnya tidak aktif?" tanyanya lagi karena masih ragu.
" Kata Tuan tempatnya memang tidak ada Singal karena dikelilingi pegunungan. Tuan bilang dia menelpon sebelum memasuki daerah itu."
" Benarkah..?!" ujar Yuri merasa bingung dan juga ragu.
Yuri sangat yakin,, kalau Aryo diculik. tapi hal ini sungguh terlihat begitu aneh. Karena merasa ada yg tidak beres, Yuri segera bergegas Kerumah sakit untuk memeriksa cctv, Yuri sangat yakin bisa mendapatkan bukti kalau Aryo dan dirinya pernah diculik.
" Ini bukan mimpi." Gumamnya meyakinkan diri sendiri sambil bergegas keruang cctv. Sesampainya diruang cctv dia meminta petugas untuk memutar kembali rekaman pas saat mereka diculik, walau awalnya permintaannya ditolak oleh petugas, namun karena dia bersikukuh temannya diculik, petugaspun mengalah dan memberinya waktu 15 menit untuk memeriksa.
Namun 15 menit berlalu dia tidak mendapatkan hal yg diinginkannya. tidak ada vidio rekaman dirinya dan Aryo. Keadaan parkiran rumah sakit terlihat seperti biasa. Dia menggerutu kesal dan pasrah.
Hanya bisa menunggu satu Minggu untuk mengetahui kebenarannya.
Happy reading 😘😘
Hay reader Who took my Virginity.
terimakasih karena sudah mendukung novelku sejauh ini.
Jangan lupa untuk selalu mendukung karyaku ini ya? supaya outhor smagat upnya.
dan mampir juga kenovelku " Cinta terpanas masa remaja " kali saja kalian tertarik.
Selamat membaca.. Semoga hari kalian menyenangkan ❤️❤️