
Para kariawan mulai saling berbisik bergosip melihat perubahan Kenzo yang menurut mereka tak lazim, tidak pernah sebelumnya Kenzo mengakhiri rapat dalam waktu singkat. Perubahan Kenzo membuat karyawannya bergidik memikirkan apakah laporan yang mereka kerjakan tidak membuat Kenzo puas.
Kenzo seakan tak peduli dengan tatapan bergidik dari semua bawahannya, dia dengan tersenyum, melangkah meninggalkan ruangan rapat di ikuti asisten Thomas.
Asisten Thomas seperti sudah tahu apa yang membuat bosnya itu berubah, bibirnya tersenyum tipis hampir tak terlihat. Diwajahnya terpancar kebahagian yg tak bisa dipahami. Hati Asisten Thomas dan Kenzo seperti tuhubung. Apa karena Thomas sudah lama mengikuti Kenzo, jadi dia bisa tahu perubahan yg terjadi pada bosnya itu karena apa, dan bukanlah sesuatu yang mengerikan seperti pemikiran karyawan lainnya.
*
Sesampainya April dirumah Yuri, dia langsung menghampirinya mencari tahu yg sebenarnya terjadi, April akhirnya tahu kenapa sahabatnya ini tidak ada kabarnya.
" Kalau memang apa yg dikatakan pengasuh dirumah Aryo, dia sedang ikut sminar, kita tunggu saja sampai waktu yang ditentukan sminar berahir." April berusaha menenangkan Yuni.
" Kamu benar, percuma juga lapor polisi, semua seperti direncanakan dengan rapi, bahkan aku menjadi bingung, antara itu mimpi atau kenyataan, karena aku tiba-tiba terbangun dikamarku, dan bahkan tidak ada sedikit petunjuk atau bukti yang bisa aku temukan.."
April mendekap Yuni, sperti sedang berusaha menenangkannya.
" O yah.. aku sampai lupa, gimana operasi Tante? apa berjalan lancar.?"
Yuri mendongak memandang April, sorot matanya terlihat begitu cemas. April terdiam, kesedihan yg tergambar diwajahnya menjadi jawaban dari pertanyaan Yuri.
'' Kamu yang sabar ya say... aku yakin Tante pasti akan baik baik saja." Mereka saling merangkul seperti ingin berbagi beban bersama.
**
Thomas hanya bisa berdiri diam memandangi garis wajah Kenzo yang bahagia,Kenzo seakan melupakan di mana saat ini dia berada.
Panggilan telpon masuk merubah ekpresi Kenzo. Dia menggerutu kesal karena terganggu.
Matanya tak sengaja menangkap ekpresi sumringah wajah Thomas.
Tidak tahu berapa lama Thomas berdiri di ruangannya. Berpikir Thomas memperhatikannya sendari tadi membuatnya Kesal dan juga malu.
" Aisss... sejak kapan asisten Thomas berdiri disini??" Gumammnya sambil menggerutu menyembunyikan rasa malu.
Phonsel masih berdering..
" Presdir??" Panggil Thomas
" Ada apa!!." Sahut Kenzo, nada suaranya terdengar Kesal dengan mata yang melotot membuat Thomas sedikit menciut.
" I..itt..itu phonselnya." Tunjuknya kearah suara dering yang berbunyi di saku Kenzo.
Kenzo dengan kasar mengambil ponselnya. Dia menghela napas berar mengetahui siapa yang menelpon,, Nyonya besar Beliondra,, itu adalah nama yang tertera di panggilan masuk.
" Ada apa Bu??" Ucapnya bertanya malas.,, membuat nyonya Melisa dibakar kemarahan mendengarnya.
" Dasar!!! anak nakal,, kamu nanya ada apa? ini sudah berapa hari kamu janjiin mama. Pokoknya mama mau nagih janji kamu, mama kasih kamu waktu dua hari buat bawain calon menantu mama, kalau tidak jangan salahkan mama tidak mendukungmu." Telpon langsung diputus oleh nyonya Melisa Biliondra tanpa mau mendengar sepatah kata dari Kenzo.
Kenzo tidak tahu harus bagaimana, sepertinya ancaman ibunya tidak main main kali ini. Suaranya tadi terdengar benar-benar kesal. Kenzo khawatir ibunya itu akan berulah lagi dengan menjodohkannya, bahkan mungkin seluruh keluarga Beliondra akan turut campur dalam masalahnya ini. Karena ini menyanggut ahli waris keturunan keluarga Beliondra kedepannya.
Dia berpikir sejenak,, mau tidak mau dia harus terap menjalankan rencana sebelumnya.
Thomas mengerti dengan printah dari bosnya itu, tanpa menunggu lama dia sudah menelpon supir untuk menyiapkan mobil.
Mobik melaju dengan kecepatan sedang.
Sekitar 15 menit mereka sampai di rumah sakit.
Asisten Thomas bergegas masuk terlebih dahulu memberitahukan Pak Sanjaya akan kedatangan Kenzo.
Pak Sanjaya berdiri didepan pintu menyambut kedatangan Kenzo yang tiba-tiba. Wajahnya sedikit terkejut, kemundian pandangannya diturunkan sambil membungkuk memberi hormat kepada Kenzo. Entah kenapa melihat itu membuat perasaan Kenzo sedikit tak nyaman, padahal hal itu semua sudah biasa baginya, Dihormati...
Kenzo langsung nyelonong masuk kedalam, tanpa dipersilakan, kemudian duduk dishopa.
" Kemari pak." Panggilannya kepada Pak Sanjaya yang mematung dipintu masuk, pak Sanjaya bergegas menghampirinya, tubuhnya terlihat kaku, dan raut wajahnya sedikit gelisah membuat Kenzo tak nyaman
" Ah,,,, ada apa denganku, kenapa perasaanku menjadi bimbang begini, ini tidak bisa dibiarkan." Batinnya.
Kenzo kemudian menyuruh Pak Sanjaya untuk duduk bersamanya.
" Bagaimana Pak, apa lamarannya sudah bisa kita lanjutkan." Ujarnya langsung ke pokok persoalan.
Pak Sanjaya terdiam, tubuhnya sedikit tegang dan berkeringat dingin, ia ragu ragu untuk menjawab, takut akan menyinggung perasaan Kenzo.
" Begini Tuan,,,," sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
Kenzo memperhatikan, dia dengan sabar menunggu jawaban pak Sanjaya.
" Ini.." Pak Sanjaya masih takut dan ragu untuk melanjutkan ucapannya.
" Ada apa? katakan..?!"
" Ini... maaf Tuan, bukannya saya tidak mau, tapi kondisi istri saya...?" Pak Sanjaya tidak melanjutkan ucapannya, pandangannya menatap sedih ke tubuh istrinya yang berbaring ditempat tidur menggunakan perlatan medis yang begitu banyak.
" Saya paham maksud bapak, tapi janji adalah janji, bapak harus ingat, bapak sendiri yang memohon kepada saya,, dan masalah istri bapak, saya berjanji akan membantunya. Kebetulan Keluarga Beliondra punya Dokter terbaik diluar negeri yang hanya diperuntukkan untuk anggota keluarga Beliondra saja. Jadi kalau bapak ingin istri bapak segera ditangani oleh profesional ahlinya,,, silahkan Bapak putuskan kembali langkah apa yang sebaiknya Bapak ambil." Kenzo berdiri, kemudian merapikan jasnya menyampingi pak sanjaya.
Dia menoleh sesaat ke arah pak Sanjaya.
" Sebaiknya Bapak tidak banyak menunda waktu." Sambil menatap ke arah istri Pak Sanjaya, tatapan itu Syrat akan makna, dan tentu saja sebagai orang pintar Pak Sanjaya akan paham dengan maksud dari ucapan Kenzo.
" Saya permisi..?!"
Kenzo dengan langkah yang berwibawa meninggalkan ruangan itu.
Happy reading...
Minta dukungannya....
Dengan cara like n komen, biar author tahu ada yg nungguin kelanjutan dari novelku ini๐