Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Perjumpaan kembali



" Hay.. " Sapa Sonya, mengangkat tangannya tersenyum sedikit canggung.


Namun Kenzo yg di sapa berlalu begitu saja dengan wajah datar. Ke terkejutannya sesaat berhasil ia kuasai sehingga tanpa biasa saja.


Melihat suasana tidak mengenakan itu, Indri hanya bisa tersenyum canggung ke Sonya yg tersirat jelas malu dan kecewa di wajahnya.


Sonya pun ikut tersenyum canggung menyembunyikan kekecewaan di hatinya. Dia tak menyangka akan mendapat respon seperti itu dari Kenzo. Benar benar di luar dugaannya. Kenzo ternyata sudah berubah, tidak seperti Kenzo yg di kenal dulu. Yang akan terlihat begitu bahagia bila bertemu dengannya. Ternyata waktu bisa merubah segalanya. Termaksud perasaan seseorang.


Merasa terabaikan, Sonya memutuskan pergi.


" Aku balik dulu, soalnya belum sempat ngabari keluarga kalau udah di Indo."


Dia bergegas mengambil tasnya tanpa menatap Indri.


" Gak tunggu mama dulu ka?" ucap Indri yg ikut berdiri melihat Sonya yg akan pergi.


Dengan senyuman yg sedikit dipaksakan Sonya melihat ke Indri.


" Nanti aku main ke sini lagi. Salam kangen buat tante." Ujarnya lalu benar benar pergi.


" Baiklah... " Indri mendesah pasrah dengan wajah sedikit muram.


" Besok main ke rumah lagi." Teriak Indri yang melihat Sonya semakin jauh.


Sonya berbalik, lalu tersenyum sederhana.


Sementara April yg beridiri sedari tadi di pojok ruangan hanya bisa diam karena tak sengaja menyaksikan ke adaan itu. April berpikir keras, ekpresi macam apa itu, kenapa ke duanya canggung. Apa ada sesuatu terjadi di masalalu antara keduanya? itu hanya pikirannya April yg tanpa tahu ke siapa harus di tanyakannya.


Namun tidak perlu mencari tempat Bertanya, April bisa mendengar dengan jelas gosip para pembantu.


°°^


" Wah bukankah yg tadi itu Nona Sonya mantan tunangannya Tuan Muda Kenzo."


" Dia cantik sekali, cocok banget bersanding sama Tuan Muda." Sahut yg berbadan agak sedikit gempal.


" Cantik si cantik,,, tapi demi menjadi model ternama meninggalkan Tuan Muda, malah sekarang gak ada malu malu nya kembali."


'Sssssttttt...


" Ada NY. Muda." ucap salah satu nya sambil menyikut lengan yg lain nya, lalu mereka buru buru pergi.


April hanya diam menatap kepergian pelayan pelayan itu.


Dia pun berjalan menuju kamarnya, Kamar yg terlihat sunyi dan rapi, tidak ada tanda- tanda seseorang masuk ke dalam nya. Padahal harus nya Kenzo sudah ke ka Kamar bertukar baju.


April duduk termenung di pojokan Kamar dekat jendela, pandangannya lurus ke taman. Pikirannya berkelana tak tentu arah. Terlalu banyak yg ia pikir kan sampai tak sadar hari semakin gelap.


Ketukan pintu menyadarkannya. Suara dari balik pintu memanggilnya sopan.


" Ny. Muda, di tunggu Ny. besar makan malam. "


April melihat ke sekeliling, ternyata sudah gelap dan beberapa tempat hanya di terangi cahaya lampu. Angin yg berhembuspun semakin bertambah dingin. Dia menutupi jendela dan beranjak, sambil menyahuti pembantu tadi.


" Baiklah saya segera turun."


April sedikit berbenah, namun seketika langkah nya terhenti melihat pantulan dirinya di cermin.


Wajah lusu, perut yg mulai besar terlihat tidak menarik sama sekali, berbeda jauh dengan Sonya yg cantik dan menarik. April merasa sangat Insecure dengan penampilan nya. Bagaimana mungkin Kenzo akan tertarik kepada dirinya melihat dari bentukan nya yg begitu. Pemikiran itu bergelayut di benaknya.


" Ah... apa yg ku pikir kan. Memangnya siapa aku berhak cemburu, siapa aku di mata Kenzo. Bukankah aku cuma istri kontrak saja. Apa hakku."


Ucapan itu untuk menenangkan hatinya sendiri, mengingat hubungannya dengan Kenzo yg ambigu. Akan tetapi perasaan ya perasaan, bagaimana pun kita berusaha menipunya, dia tidak bisa tertipu. Mata boleh bisa di tipu. Namun hati tidak akan pernah bisa.


Hanya mereka bertiga, indri, Ny. Melissa dan diri nya."


" Sekarang sudah boleh makan kan. Tuan Putrinya sudah di sini." Ketus Indri, karena harus menunggu lama. Dan masih saja mendumel pelan.


Nyonya Melissa mengabaikan saja, dia justru mperhatikan April yg terlihat tidak bersemangat.


" Ada apa sayang? kamu merasa kurang enak badan?"


April hanya tersenyum menggeleng menanggapi kekwatiran mertuanya.


" Ma, kak Sonya tadi mampir ke rumah, dia titip salam tu buat mama." Indri menyampaikannya secara gamblang sembari menyendokan makanan ke mulutnya.


" Sonya,? " NY. Melissa sedikit tak nyaman melihat ke arah April yg terlihat murung.


••™


Malam semakin, larut namun April tak mengantuk sama sekali. Pikirannya sedang berkecamuk.


Sebenarnya April tak perduli dengan entah itu Sonya ataupun Sonia, namun yg menjadi pikirannya saat ini adalah ucapan Aryan. April tak mengerti dengan maksud dari semua ucapannya.


Dan kenapa Aryan menatap perutnya dengan seringai yg membuat April tidak nyaman. Dan apa yg dia ketahui tentang hotel Lurta, April benar benar prustasi dengan semuanya, hatinya semakin tak tenang.


Pintu Kamar tiba- tiba terbuka, Dan di situ berdiri Kenzo dengan menyeringai menatap April yg sedang terbaring.


Kenzo berjalan mendekat ke arah April sambil menteret kaki nya yg gontai. Pertama kalinya Kenzo mabuk dan terlihat tak berdaya.


Melihat Kenzo yg mabuk April seketika bangun membantu lalu mendudukannya di shopa.


" Ka.. mu, sama saja dengan semuanya." ucap Kenzo menunjuki April dengan suara tak karuan.


" Duduklah, biarku ambil kompresan hangat."


April berdiri hendak pergi, namun pergelangan tangannya di tahan oleh Kenzo. Tatapan Kenzo sedikit aneh.


Dia tidak berkata apa apa menatap April, kemudian menatap perut April. Tangannya ingin menyentuh perut buncit April namun di Tarik nya kembali. Dia mengepal erat tangannya hingga menusuk kulitnya.


Kelakuan Kenzo yg seperti itu membuat April tidak nyaman.


Dia segera turun ke dapur menghangatkan air untuk Kenzo.


Ketika dia kembali membawa sebaskom air hangat, Kenzo sudah tertidur pulas. Sesaat April berdiri mematung menatapnya. Kegelisaan Dan rasa takut mulai menyelimuti.


April terduduk lemas si samping Kenzo, satu per satu kancing bajunya dia buka. Tangannya sedikit gemetar, perlahan Dan lembut dia mengompres tubuh Kenzo. Dengan mata yg tertutup dia mengaganti baju Kenzo yg tercium bau alcohol.


April lalu membaringkan tubuh Kenzo ke tempat tidur.


Ting.... notipikasi di phonselnya


Dengan cepat April melihat nya, nomor tak dikenal.


{ Temui Aku di caffe Virgo }.


pesan itu di sertakan foto sebuah liontin yg ia sangat kenal.


Matanya terbelalak kaget, tangannya mulai gemetar, April terjatuh lemas bersamaan dengan phonsel di tangannya.


Bayangan kelam mulai terputar di momorinya, apa ini, ada apa sebenarnya? kalau bukan Kenzo yg bersamanya malam itu, lalu siapa? Siapa yg sudah merebut kesuciannya?


April menanatap perut nya, memegangnya dengan perasaan teriris.


^~^😊