Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
Senyuman mempesona April



Thomas berjalan sambil sedikit menyeringai memikirkan kembali tingkah bosnya Kenzo yang menurut Thomas terlihat lucu dan menggemaskan, dia tidak ingin lagi menghampiri Kenzo, takutnya entar jadi bahan pelampiasan kekesalan bosnya itu yang sedang berusaha menyembunyikan rasa malunya karena kedapatan mengintip tadi.


Kenzo tak mengerti dengan sikapnya sendiri, Sulit dipercaya, sepertinya si wajah es sekarang sedang jatuh cinta. Namun perasaan itu seperti disangkal olehnya, dia masih belum percaya dengan rasa yang dia miliki untuk April.


Kenzo berjalan kearah parkiran VIP rumah sakit tempat mobilnya terparkir. Kenzo sekarang sedang duduk didalam mobilnya,, dia berpikir keras tentang yang tadi dia lakukan, seorang Kenzo Beliondra sekarang menghawatirkan gadis yang dia bilang hanya sekedar pemberi keturunan.


" Yah.. aku rasa aku khawatir dan peduli padanya hanya karena dia mengandung keturunan keluarga Beliondra." Decaknya mengelabui diri sendiri.


Kenzo hendak menyalakan mobilnya dan meninggalkan parkiran, namun tiba-tiba mobilnya kembali dia matikan, matanya tertuju kepada punggung wanita yang sepertinya tidak asing baginya.


wanita itu terlihat tergesa gesa keluar dari gerbang rumah sakit. Kenzo segera mengikuti menggunakan mobilnya. Rasa penasarannya begitu besar. Tak sedetikpun matanya beralih dari punggung yg menurutnya tidak asing itu.


Wanita itu berdiri dipinggir jalan sambil menelpon, sepertinya dia sedang menunggu Taxi atau mungkin kendaraan lainnya. Kenzo mendekat menghampiri. Benar saja seperti dugaan Kenzo, ternyata wanita yang sedari tadi di ikuti adalah April.


Kenzo bertanya-tanya ada apa dengan April sehingga terlihat panik begitu. Mobilnya dia hentikan tepat dihadap April.


" Hey... anak kecil.. ngapain kamu berdiri disitu..!?"


April melempar pandangan kearah suara lelaki yang terdengar tidak asing dengan sapaan itu kepadanya... lelaki itu,,, lelaki yang tidak asing baginya. Tu-an narsis! mengetahuinya April tak menggubris, dia tidak ingin membuang waktu meladeni si Tuan Narsis.


" Mau kemana??" tanya Kenzo lagi, tak ingin menyerah meski dicuekin.


Namun April masih bersikap cuek.


Sudah lebih 30 menit dia berdiri menunggu Taxi, panas membuatnya berkeringat. Sementara saat ini dia benar-benar sedang terburu-buru, tapi sudah menunggu cukup lama masih juga belum terlihat tanda-tanda Taxi lewat. Kenapa hari ini April begitu tidak beruntung? sudah begitu, manusia narsis menurutnya masih stay sperti sedang mengoloknya.


" Butuh tumpangan gak..?" Tawar Kenzo, melirik menggoda April.


" Ya..sudah kalau gak butuh.." Kenzo berpura pura hendak pergi, namun ekor matanya memperhatikan pergerakan April yang mulai terpancing.


" Tunggu...?!" Panggilnya menyuruh Kenzo menghentikan mobil.


" Apa benar saya boleh numpang..?"


April terlihat sedikit canggung dan malu malu mengingat sikapnya tadi yg sudah cuek terhadap Kenzo.


Kenzo mengangguk tanda setuju.


" Mau kemana?"


" Jl. Merpati 2, bi-sa kan?"


" Okay..." Kenzo mengangkat alisnya sebelah dan siap menuju tujuan.


April seperti ingin mengatakan sesuatu, dia terlihat ragu-ragu sambil ******* ***** buku jarinya.


" Soal tadi....maaf..?"


Kenzo tersenyum samar.


" Tadi memangnya kenapa?" Sahutnya berusaha menggoda April.


" Pokoknya sorry...?" Ucap April sedikit canggung.


" Dan Terimakasih tumpangannya?"


April kemudian memperbaiki posisi duduknya, matanya menatap kedepan dengan tatapan cemas.


" It's okay, no problem.."


Kenzo tersenyum tapi pandangannya tetap pokus kearah jalan.


" Kalau boleh tahu kamu kenapa kelihatan panik tadi?"


April mendesah, Seperti kesedihan menyelimutinya.


" Teman saya diculik." Ujarnya terdengar senduh kemudian menundukkan kepala.


" Diculik..? sudah lapor polisi belum?" ( Kenzo kenzo, kamu nyaranin buat lapor polisi?? gak bakalan nyesal apa, kalau kamu tahu siapa yg hilang, muka kamu akan berubah 180 derajat menjadi bete. hehehe)


" Belum... ?" April tertunduk lemas


" Kenapa belum?''


" Saya juga gak ngerti, soalnya menurut teman saya yang waktu itu bersamanya, masalahnya sedikit rumit dan membingungkan."


April menceritakan kepada Kenzo dengan rinci apa yang Yuri ceritakan kepadanya.


" Nah begitu ceritanya??"


" Kamu yg tenang ya? belum tentu temanmu itu diculik."


Dia berusaha meyakinkan April, karena menurut penjelasan April tadi, teman yang dia maksud diculik itu seperti diskripsi lelaki yang sudah membuatnya kesal. Dan lelaki itu, dia sendirilah yang memberinya printah untuk diberi sedikit pelajaran.


" Semoga saja,,"


" Ngomong ngomong kita belum kenalan, padahal sudah sering ketemu." ujar April mengganti topik pembicaraan. Tentu saja hal ini membuat Kenzo sedikit lebih legah.


" Makasih ya..?" Ucapnya lagi dengan tulus mengingat seringnya Kenzo menolong dirinya.


Kenzo berusaha tersenyum, meskipun sedikit dipaksakan mendengar ucapan terimaksih dari April.


Kenzo untuk sesat terpanah melihat senyuman April yg mempesona dan membuatnya melupakan rasa kesalnya.


" O ya... nama om Siapa?"


" Om..??" Kenzo mengernyit mengulangi ucapan April.


" Memangnya saya ini sudah kelihatan tua dan seperti om..om ya? padahal saya ini masih lajang lo..?"


April menjadi malu mendengar penuturan Kenzo. Dia menjadi sangat canggung.


" Bukan begitu, Kakak terlihat masih mudah kok, hanya saja mulut saya yang kecoplosan waktu itu, dan ter..biasa."


" Apa kakak ini wajahnya jelek?"


" Ah... tidak..tidak... siapa yg bilang.? Wajah kakak sangat tampan kok, mirip aktor Korea, Ji Chang Wook." Jelasnya malu malu.


" Benarkah.." Kenzo berusaha menggoda April.


" I..ya benar kok." Sahut April spontan diikuti tatapan matanya yang terlihat berbinar. Membuat Kenzo berdebar aneh melihatnya.


" O..ya nama Kakak Siapa?"


" Yakin mau tahu..?"


" Yakinlah.... Memangnya kenapa?"


" Ya... gak pa pa sih.. takutnya,,, entar kamu bisa jatuh cinta sama saya."


Mendengarnya April tertawa canggung mengerutkan dahi.


" Memang cocok jadi Tuan Narsi." Batin April.


" Gak godah kamu lagi deh.. Nama saya Ken? nama kamu?" tanyanya berpura pura tidak tahu.


" April.."


" Nama yang cantik."


" Nama kakak juga keren, seperti orangnya." puji April serius.


Kenzo kembali tersenyum membalas pujian April.


Tak terasa, mereka sudah sampai di tempat tujuan.


" Ini benar rumah temanmu tidak?"


Kenzo menghentikan mobilnya sambil mengarahkan pandangan kerumah desain ala ala belanda dengan cat berwarna putih tulang, dan dilapisi sedikit marmer hijau di dindingnya.


April menoleh, benar saja itu rumah sahabatnya Yuri.


" Kak Ken hebat juga? seperti gogle maps aja, tepat."


" Iya dong, orang pintar..?" Kenzo menyombongkan diri.


Kenzo membantu April turun dari mobil dengan membukakan pintunya. Saat ini Kenzo benar-benar berbeda. Dia tidak terlihat seperti Tuan Kenzo yang tidak pernah tersenyum dan bermuka kaku.


" Kalau butuh Driver,, bisa call aku nanti." goda Kenzo, tapi sebenarnya dia berkata serius.


" Ah.. Kak Ken, bisa saja..? Tapi makasih buat tumpangannya?"


" Okay..?"


Kenzo tersenyum sumringah seperti bukan Tuan muda Kenzo yang terkenal dengan wibawahnya.


*


Saat ini Kenzo tengah berada ditengah tengah rapat bersama staff terpenting dari perusahaan. Kenzo sepertinya tidak pokus, dia terlihat senyum senyum sendiri membuat peserta rapat bergidik ngerih, melihat perubahan Kenzo, mereka begitu takut hingga berkeringat dingin, tidak biasanya Kenzo seperti itu. Terlihat sangat aneh.


" Presdir.?? Presdir..?" Panggil Thomas, melihat ke tidak wajaran di wajah bosnya.


Kenzo kembali tersadar dengan situasi dan tempatnya saat ini. Dia berdehem " ehem..ehem.." berusaha menghilangkan ketegangan didalam ruangan.


" Baiklah rapat untuk hari ini cukup sampai disini dulu." Kenzo langsung berdiri duluan dan meninggalkan ruangan. Membuat yang melihat tertegun tak percaya dengan apa yang mereka saksikan hari ini.


Happy reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜