Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Perasaan yang mulai luluh.



" Baiklah, hanya untuk saat ini aku mengalah. Itu karena kamu lagi mengandung keturunan ku ya?!"


Kenzo bergumam sambil mengangguk aguk berusaha meyakinkan diri sendiri. Wajahnya berbinar binar, bibirnya sedikit melengkung, membenarkan kalau apa yang di pikirkanya sangat masuk akal.


Dia kemudian beranjak dari ruang kerjanya yang selama ini menjadi tempat berkutatnya.


Seperti biasa, April selalu sudah terlelap ketika dia kembali. Dan Kenzo selalu berdiri untuk sejenak menatapnya.


Sepertinya malam ini dia tidak bisa mengucapkan permintaan maafnya melihat April yang sudah tertidur dengan lelap.


Wajah itu benar-benar terlihat teduh dan damai ketika terlelap. Tahi lalat yang seperti titik kecil jatuh di bawah matanya menjadi hiasan kecil di wajah ayunya yang lembut. Bibirnya merona merekah membuat Kenzo selalu meneguk salipahnya ketika menatapnya.


" Ah... apa yang ku lakulan." Ucapnya kepada diri sendiri, ketika pesona April kembali membuatnya terhipnotis.


Dia melangkah perlahan mendekati April. Lalu seperti biasa tertidur di samping gadis itu tanpa sepengetahuannya.


Meski tanpa sepengetahuan April, Kenzo selalu membuatnya tetap hangat. Dan selalu memperhatikan hal hal kecil yang di butuhkan gadia itu.


Malam ini tanpa sengaja April menyaksikan semuanya. Matanya perlahan terbuka ketika sebuah tangan merangkulnya. Dia begitu tegang dan tak berani menggerakkan tubuh. Napasnya seakan tertahan. Pandangannya jatuh kepada tangan yang melingkari tubuhnya.


Cincin pernikahan masih melekat di jari itu. Perlahan April berbalik ke arahnya. Matanya langsung menatap wajah Kenzo yang sepenuhnya sudah singgah ke alam mimpi.


April tertegun, wajah itu begitu tenang dan damai. Sementara tangannya masih melingkar diatas tubuh April. Jarak wajah mereka begitu dekat, April bahkan bisa mendegar suara halus dengkuran napasnya dan detak jantungnya yang berirama.


Namun entah kenapa melihat situasi ini, membuat April tidak marah. Justru membuatnya merasa begitu tenang dan merasa terlindungi. Apa karena pengaruh bayinya? ataukah karena hatinya mulai luluh dengan perhatian kecil Kenzo.


Lelaki ini walau terkadang tempramenya buruk, namun masih bersikap baik dan peduli kepadanya.


Misalnya, ketika dia tertidur selalu menyelimutinya. Memastikan suhu ace di kamar. Bahkan mengganti ubin kamar mandi dengan ubin yg khusus yang pijakannya tidak berbahaya. Sarapan pagi dan makan malampun semua di atur olehnya.


Beberapa hari ini melihat semua perhatian kecil itu membuat hatinya mulai sedikit luluh. Hanya saja dia tidak tahu cara untuk meresponnya.


Garis bibirnya sedikit tersenyum ketika mengingat semuanya.


Pandangannya kemudian pokus ke wajah Kenzo. April mengangkat tangannya. Seketika ingin membelai wajah itu. Namun tangannya terhenti.


" Apa yang ku pikirkan." Batinnya. Wajahnya memanas dengan semua hal yang terlintas di pikirkanya. April mulai gelagapan, dia meneguk salipahnya.


Tubuhnya menjadi semakin kaku ketika Kenzo semakin mendekapnya erat, hingga membuat jarak wajah di antara mereka menjadi semakin begitu dekat.


Jantung April berdetak semakin cepat. Dia semakin tak berani menggerakan tubuhnya. Bahkan untuk bernafaspun membuatnya tak berani.


☆☆


Mereka akhinya tertidur memeluk satu sama lain. Cahaya matahari sudah menerobos masuk, namun mereka masih menarik selimut melanjutkan tidur.


Dret...dret...dret..


Suara getar ponsel milik Kenzo membuatnya terganggu dan mau tidak mau harus bangun memeriksanya.


Ketika Kenzo ingin bangun, tubuhnya serara tertahan, dia menoleh, matanya langsung menatap gadis yg meringkut di pelukannya. Baru pertama kali Kenzo melihat April terlelap begitu nyaman di pelukannya. Dia tidak ingin mengganggu momen itu. Dan memutuskan mengabaikan deringan ponselnya.


Jantung Kenzo tiba-tiba berdetak sangat kencang, ada perasaan aneh yang tak bisa di deskripsikan, semuanya bercampur menjadi satu. Nano nano, seperti manis asam dan asin yang menjadi satu.


Kenzo menyibak seutas rambut yg menutupi wajah April. Memperhatikan dengan seksama wajah itu.


Suara dering phonsel Kenzo membuat April bereaksi. Matanya mulai berkedip kedip dan perlahan terbuka. Tatapan mereka saling bertemu tanpa bisa di hindari, membuat keduanya tertegun dan masuk ke dalam bola mata satu sama lain.


Kencanggungan terjadi diantara ke duannya. Membuat wajah mereka berubah menjadi kaku dan mereka tidak tahu harus saling merespon bagaimana.


April tak menjawab, matanya yang tadi menatap Kenzo tajam dan kaku berkedip - kedip dan pandangannya tertunduk, kemudian cepat cepat bangkit menghindari Kenzo.


April tergesa-gesa menghindar menuju kamar mandi.


Kenzo bisa melihat kepanikan dan salah tingkah April begitu jelas menuatnya tersenyum menatap punggung April yang berlalu meninggalkannya.


Wajah yang tadinya berseri seri seketika berubah kecut mendengar kembali deringan ponselnya.


Kenzo menatap malas dan kesal layar ponshelnya, tertera nama Asisten Thomas.


" Ada apa!! pagi pagi menggangguku. Awas saja kalau yang akan kamu sampaikan tidak penting!!" Ucapnya ketus masih tertinggal jejak kekesalan diwajahnya. Karena panggilan itu berhasil merusak momen indahnya.


Entah apa yang Asisten Thomas sampaikan. Wajah Kenzo terlihat serius mendengarnya.


☆☆


Hampir satu bulan sudah Aryo tidak melihat dan mendengar kabar Yuri. Biasanya gadis itu akan selalu bermain ke rumahnya atau mengiriminya pesan yg tidak penting.


Aryo merasa sangat aneh, dia memandangi layar phonselnya dengan dahi yg mengkerut. Tidak ada chat atau panggilan tak terjawab dari Yuri. Bahkan media sosialnya masih belum ada abdet terbaru. Ini tidak seperti Yuri yg di kenalnya.


Aryo berpikir menelponnya. Namun nomornya di luar jangkauan. Membuat Aryo semakin merasa ada yang aneh. Segera dia bergegas ke Rumah Yuri.


Rumah itu terlihat sepi, tidak ada tanda tanda kehidupan di dalamnya. Berapa kalipun Aryo memencet bel tidak adavyg keluar dari dalam rumah.


" Cari siapa ya Mas?" Tegur salah satu tetangga yang melihat Aryo berdiri di depan pagar rumah Yuri.


" Oh.. saya lagi cari teman saya Bu." Jawabnya sopan.


" Rumah itu kosong Mas? pemiliknya sudah pindah setengah bulan yang lalu."


" Pindah.." Aryo sedikit terkejut mendengarnya.


" Pindah kemana ya Bu?"


" Saya kurang tahu pasti kemana, tapi dengar dengar keluar kota."


Aryo tertegun mendengarnya, dia tidak bisa berkata-kata.


" Kalau begitu saya permisi dulu ya Mas." Ucap ibu itu berlalu, dahinya mengkerut melihat Aryo yg tidak merespon.


Aryo merasa begitu kosong dan hampa. Ditinggalkan oleh kekasihnya dan kini di tinggalkan oleh sahabatnya tanpa salam perpisahan, membuatnya tertawa miris.


Dia tidak tahu ada apa dengan nasibnya karena di tinggalkan oleh orang-orang yang dia anggap begitu penting dalam hidupnya.


Aryo hanya bisa melampiaskan ke kekesalan di hatinya dengan minum minum. Hanya mabuk yg bisa membuatnya melupakan kesedihan di hatinya.


Sebuah pertengkaran antara pria dan wanita terjadi di situ. Entah apa yang di ucapkan gadis itu. Dia terlihat kesal menyeret lelaki yg tengah mabuk itu. Sepertinya mereka sepasang kekasih.


Sekilas samar samar muncul kejadian saat dia mabuk malam itu. Wajah Yuri terlihat begitu jelas di ingatannya.


Aryo bisa mengingat dengan sangat jelas bagaimana dia mencium Yuri. Bagaimana dia menganggap Yuri sebagai April dan melakukan hal tidak senono kepadanya.


" Breksekkk.. brengsek!!! aku ini benar-benar bejat!!" Dia mengepal tinju


" Arkkkk... apa yang sudah ku lakukan." Aryo memaki dirinya sendiri sendiri setelah mengingat semuanya.


^_^