
Wanita itu menatap datar ke luar jendela. Tatapannya kosong dan hampa, entah apa yang di pikirkanya saat ini.
Jalanan begitu sepi, cahaya lampu berpendar menyinari sudut jalan. Tidak banyak kendaraan berlalu lalang, hanya terkadang beberapa mobil melewati gang itu, maklum karena wilayah itu adalah komplek perumahan yang cukup di bilang elit.
Orang tua Yuri sama dengan orang tua April, seorang pendatang baru. Ayah Yuri di pindah tugaskan ke Kota A Empat tahun yang lalu, dan mempunyai jabatan sebagai Maneger pemasaran di Perusahaan yang cukup tersohor di kota A. Sekarang sedang di pindah tugaskan ke luar kota dalam waktu yang cukup lama.
Ibunya sekarang terpaksa harus ikut pindah menemani Ayah Yuri. Sementara Yuri sudah memutuskan meninggalkan Kota A. untuk melanjutkan kulyanya di luar negeri.
Keputusan yang begitu sulit bagi Yuri. Namun dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak ingin hatinya semakin terluka. Mengingat kegilaan yang sudah dilakukannya bersama Aryo.
Hanya dia yang mengingatnya, hal itu membuatnya menggila memikirkannya. Kesuciannya sudah dia berikan kepada lelaki yang tidak pernah mencintai bahkan meliriknya sama sekali. Karena di hatinya hanya ada nama April.
Memikirkannya membuat Yuri begitu sesak. Hatinya benar-benar hancur dan sakit. Tidak ada yang bisa ia salahkan, semuanya karena kebodohannya sendiri. Cinta membuatnya kehilangan akal sehat. Jelas- jelas dia tahu di malam itu Aryo hanya memanggil nama April, bukan dirinya.
~ Yuri... berhentilah memikikannya. Apa yang bisa kamu dapatkan dengan terus terusan memikirkan semuanya??? hanya rasa sakit yang akan kamu rasakan. Lupakan semuanya. Sudah saatnya kamu harus melupakannya. Dia tidak mencintaimu.. Dihatinya hanya ada sahabatmu April.
Yuri begitu dilema antara cinta dan benci. Haruskah dia membencinya? agar dia bisa melupakan semuanya. Namun jika masih menyimpan cinta untukknya hanya dia yang akan terluka.
Satu jam sudah Yuri berdiri menatap kehampaan jalanan yang sepi. Sama seperti hatinya yg saat ini hampa.
Dia mengingat kembali pertemuan pertama bersama Aryo saat duduk di bangku kelas 1 SMP.
Yuri adalah Murid pindahan di SMP Saka Nusa. Saat itu dia tersesat tidak tahu ruangan kelasnya. Dia begitu kelelahan mengelilingi Sekolah.
Yuri menyeka pelunya menggunakan tangan. Napasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba sebuah tangan tersodor di depannya. Tangan itu seperti tangan emas mengengam botol minuman.
" Untukmu." Ucapnya. wajahnya datar dan acuh. Namun terlihat begitu menawan.
Yuri tak bisa berkata-kata. Mulutnya menganga. Matanya berbinar indah tanpa berkedip menatapnya. Lelaki itu seperti seorang malaikat.
Lelaki itu berlalu begitu saja meninggalkanya setelah memberinya minuman.
Hari berikutnya di sebuah taman kota A. yang tidak terlalu jauh dari komplek perumahannya, Yuri kembali bertemu dengan lelaki itu. Lelaki itu seperti dua orang yg berbeda. Wajahnya saat ini tersenyum begitu lembut kepada seorang bayi sekisaran usia 1 tahun.
Saat itu Yuri benar benar mengaguminya. Anak laki laki yg begitu penyanyang.
Yuri memberanikan diri menghampiri. Berdiri didepannya.
" Hay...." Sapanya sambil melambaikan tangan tersenyum canggung.
Lelaki itu menatap sekilas, kemudian kembali pokus ke arah bayi tadi. Dan sepertinya bayi itu adalah adiknya.
" Hay.. nama aku Yuri, murid pindahan kelas 1 SMP Saka Nusa." Ujarnya memperkenalkan diri tanpa di minta.
" Kemarin,,,, minumanya,, maksih ya?" Crocosnya lagi.
Namun lelaki itu bersikap cuek dan acuh, tidak menanggapi.
" Boleh kenalan gak." Yuri tak menyerah mengganggunya.
Lelaki itu bergeling malas menatapnya karena sudah merasa terganggu.
Yuri terus memaksa berkenalan. Dia tidak patah arang. Mengekor di setiap langkah lelaki itu yang sedang berjalanjalan sambil mendorong kerata bayi.
Pria itu berhenti. lalu berbalik menatap Yuri yang terus terusan mengikutinya.
" Aryo, kakak kelasmu." Ucapnya ketus, menatap aneh wajah Yuri yg tersenyum lebar dan bersemangat.
Dari saat itu Yuri mulai menganggu Aryo dan lama kelamaan mereka mulai dekat.
Memikirkan kembali kenangan itu, membuat wajah Yuri merona bahagia.
☆☆
" Bagaimana keadaannya." Tanya Kenzo kepada Dr. Andre selesai memeriksa kondisi April.
" Kondisi fisik semuanya bagus. Hanya masih syok dan tarauma. Istirahat beberapa hari akan membaik. Biarkan pikirannya rilex dan santai. Dia terlalu tegang dan ketakutan."
Kenzo tidak berucap, namun dia terlihat serius mendengarkan setiap apa yg disampaikan Dr Andre.
Merasa Kenzo memahami segalanya, dan juga tugasnya sudah selasai, Dokter Andre pun pamit.
" Kalau begitu saya permisi."
Kenzo hanya menganguk membiarkan Dr. Andre pergi. Lalu pandangannya menatap ke arah Asisten Thomas yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
" Sudah kamu introgasi Dia." Tanyanya kepada Asisten Thomas.
" Sudah. Dia tetap mengaku kalau tidak ada yang menyuruhnya.
" Biarkan saja kalau Dia tetap mau bungkam. Dia terlalu bodoh untuk berakting melawanku." Ujarnya
" Selidiki semuanya, jangan ada yang terlewatkan sedikitpun. Aku mau detailnya besok pagi sudah ada di meja kerjaku."
Asisten Thomas mengangguk paham. Dia sedikit membungkuk memberi hormat kemudian pergi.
Setelah mengurusi semuanya, Kenzo berjalan pelan menuju kamarnya. Langkahnya terhenti sekitar lima meter dari tempat tidur April. Matanya menatap nanar punggung April. Gadis itu tidak pernah lagi berdebat dengannya. Seolah ada jurang di antara mereka.
Dia kumudian berjalan mendekat kearahnya.
Perlahan menarik selimut menyelimuti tubuh itu. Tubuh yg meringkuk membelakanginnya.
Hari hari berlalu dalam ke sunyian, Dan hampir satu bulan sudah April berusaha menghindari nya. Hal itu membuat Kenzo tak bisa lagi menahan kekesalanya. Apalagi ketika mihat April berlari menghindarinya yg tepat di depan matanya. Selama ini dia sudah cukup mentolerir sikap April yang selalu menagacuhkannya.
Dia adalah Kenzo Beliondra, orang terkemuka di Kota A. Dan dia tidak bisa di perlakukan seperti itu.
Kenzo merasa prustasi dengan sikap April yang tak mau berbicara bahkan menatapnya.
" Sudah cukup!" Kenzo mencegat tangan April yg berusaha menghindarinya lagi. Penthouse itu terlalu kecil untuk bisa terus terusan menghidar dari pandangan Kenzo. Apa lagi mereka tinggal seatap dan di kamar yang sama.
April berpaling tak ingin menatapnya. Dia berusaha melepaskan genggaman tangan Kenzo. Namun Kenzo semakin mempererat gengamannya. Dia semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh April. Membuat April seketika menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan dan kebencian.
" Ada apa.!! Kenapa matamu melototiku. Segitu tidak senangnya kamu melihatku! Kamu pikir, karena aku memberimu ke longgaran kamu bisa bersikap angkuh begini."
Wajah April semakin marah dan tidak senang mendengarnya. Kemudian memalingkan wajahnya dengan angkuh dari tatapan Kenzo.
Kenzo berdecak kagum dan tersenyum sinis dengan kesombongan April.
" Hhh. segitu tidak sudinya kamu melihatku." Dia menjeda ucapannya. Memainkan jemarinya di wajah angkuh April. " Kamu itu harus ingat siapa kamu dan stustusmu."
Ucapannya terdengar lembut namun begitu menusuk dan menyakitkan. Membuat April seketika merasa terhina dan emosinya meledak.
" Tidak perlu anda ingatkan!! Aku tau statusku itu apa. Aku merasa muak dengan semua sikapmu. Kamu sudah memperkosa dan memanipulasiku. Bersikap seperti Dewa dan tidak merasa bersalah sma sekali dengan perbuatanmu kepadaku.!! Kamu begitu menjijikan!! Kamu pikir aku sudi berada di dekat lelaki yang tidak punya hati seperti kamu!"
April diliputi kemarahan, Wajahnya memerasa dan napasnya berpacu cepat meluapkan segala kekesalan yg tertahan dihatinya.
" Kamu pikir kamu siapa, berani berkata seperti itu. Seharusnya kamu bersyukur kamu bisa tidur denganku dan mengandung anakku. Banyak wanita di luar sana yang ingin melemparkan diri ke rajangku."
" Sayangnya aku bukan wanita itu!!" menekan ucapannya.
" Diam!!" Kenzo tak bisa lagi mendengar pembangkangan April. Matanya melotot tajam memandangi April yang menatapnya dengan tatapan jijik
Lalu bibirnya tersenyum mencibir sambil mendekatkan wajahnya ke wajah April.
" Bukankah pada akhirnya kamu juga memilih naik keranjangku? apa kamu sudah melupakan ke intiman malam pengantin kita."
Napas April bergemuru mendengarnya. Matanya menyipit tajam, dengan alis yg datar, urat urat di lehernya mengeras. Dada ya naik turun karena begitu emosi.
" Dasar menjijikan. Aku membencimu!" Teriaknya histeris berusaha melepaskan cengkraman tangan Kenzo.
" O ya. menjijikan? Kalau begitu aku akan melakukan hal yang lebih menjijikan lagi, bukankah kamu begitu menikmatinya."
Saat ini akal sehat Kenzo benar-benar dikuasai emosi mendengar penghinaan April. Lalu dengan kasar melu..mat bi..birnya. Kemudian tangannya mere..mas payu..daranya, serta mulai bermain di setiap inci tu..buh April.
Baju gadis itu dengan sekali tarik berhasil di koyaknya, hingga buah da..danya yg lembut dan ranum menyembul keluar.
April berusaha melawan dan meronta ronta.
" Kamu bilang menjijikan bukan? bagaimana, apa kamu menyukai yang menjijikan ini?" Ucapnya sambil terus menci..umi setiap inci tu..buh April. Ruang tamu itu di penuhi hawa ke intiman. dan jeritan tangis April.
Bi Sumi yg tak sengaja melihatnya berbalik dan terburu buru pergi. Dia meletakkan belajaan di sembarang tempat. Wajahnya terlihat kebingungan dan canggung.
" Lepaskan..??" April meronta sambil menangis dengan begitu menyedihkan. Dia merasa begitu terhina diperlakukan seperti itu.
Dia tak lagi melawan dan pasrah menerimanya, hanya air mata ygvmasih mengalir mewakili rasa sakit dihatinya. Membuat Kenzo tertegun dan seketika menghentikan kegilaannya. Dia melihat kesedihan yg menyakitkan di wajah gadis itu. Tubuhnya menjadi lemas dan gemetar.
Air mata Masih mengalir di pipi April dalam ketidak berdayaannya. Tangan Kenzo gemetar ingin menghapusnya. Namun tidak dia lakukan, hatinya menjadi begitu sakit dan hancur melihat kesedihan gadis itu.
Dia merasa sikapnya sudah sangat keterlaluan dan kasar. Matanya mulai berkabut, bibirnya gemetar, dan dadanya terasa begitu sesak menatap kepedihan di wajah gadis itu.
Dia tak tahan lagi melihatnya. Lalu dengan langkahnya yg lemah dan gontai pergi meninggalkan April sendiri membawa pikirannya yang saat ini sedang kacau.
^_^
Jangan lupa tinggalkan jempol & komennya ya🥰🥰