Who Took My Virginity??

Who Took My Virginity??
~ Menghilanya April



Perasaan penghinaan, kemarahan menekan dadanya. Hatinya terasa hancur dan sakit. Ingin rasanya April berteriak melampiaskan rasa sakitnya. Namun kepahitan mencekat suaranya membuatnya membeku dan hampa. Hanya air mata yang keluar seperti buliran mutiara dan meresap di pipinya.


Saat ini April benar-benar bingung dengan semuanya. Pikirannya bleng tidak tahu musti melakukan apa.


Lelaki itu adalah lelaki yang sudah merenggut kesuciannya. Dan kini juga merampas kehidupan remajanya. Dia mengikatnya dengan pernikahan kontrak.


April mendongak, bola matanya berputar putar menatap langit langit kamar sambil bibirnya tersenyum sinis mengejek nasipnya sendiri.


Takdirnya apa harus dibilang buruk, atau baik.


Saat ini meski perasaannya begitu sangat terluka dan hancur karena mengetahui kebenaran siapa lelaki yang merenggut kesuciannya, namun apa dia punya hak untuk marah? bukankah kenyataannya dia sudah menggadaikan dirinya sendiri demi kesembuhan ibunya dan juga demi stabilnya Perusahaan keluarganya.


Memikirkan semuanya membuat April hanya bisa menangisi dirinya sendiri.


☆☆


Semenjak mengetahui April menikah, Aryo benar-benar hancur. Dia bukan lagi Aryo yang dulu bersemangat dan ceria. Hari harinya dia habiskan dengan mabuk-mabukan. Orang tuannya bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi menasehatinya.


" Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini."


Yuri berdiri di depannya. Matanya menatap kecewa lelaki yang berpenampilan kusut dan linglung di depannya. Tangannya masih memegang gelas minuman beralkohol.


Aryo mengangkat pandangannya yang mengabur melihat ke arah suara. Bibirnya dia tarik melengkung. Kemudian satu tangannya melambai.


" Hay.. Yuri.." panggilnya dengan suara yg hampir tidak jelas.


Yuri mendekat ke arahnya, kemudian menarik lengannya dengan paksa untuk berdiri menyeretnya pergi dari tempat yang penuh dengan sekumpulan manusia mabuk.


Disudut lainnya nampak terlihat Brayan juga seperti sedang menghilangkan perasaannya yang hancur dengan mabuk mabukan.


Kedua lelaki ini tak saling mengenal, namun menyimpan perasaan yang sama unruk gadis yang sama pula, memang benar-benar sudah terjerat dengan cintanya April.


" Aku gak mau pulang. Aku masih mau di sini."


Aryo merenggek seperti anak kecil. Pengaruh alkohol membuat langkahnya terseret linglung.


Yuri tak mendengarkan dia masih membopongnya. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti, dia menatap wajah Aryo yang mabuk dengan tatapan menyakitkan.


" Ini adalah pertemuan terakhir kita. Ku harap kamu akan menjalani harimu dengan baik." Buliran air mata jatuh dari pelupuk matanya, dengan cepat Yuria menghapusnya sebelum Aryo melihatnya.


☆☆


Gadis itu benar-benar menghilang tidak tahu kemana.


Perasaannya begitu khawatir dan cemas. Wajahnya terlihat begitu ketakutan. Semua setap rumah sakit juga turut membantunya mencari.


April menghilang bagai buih. Bahkan tidak tertangkap kamera cctv. Kenzo mulai menggerakkan semua anak buahnya, memberi printah mencari keseluruh pelosok kota A keberadaan April.


Kakinya tiba-tiba lemas, Kenzo memegang tembok menyanggah tubuhnya yang hampir jatuh.


" Presdir, apa Presdir baik-baik saja."


Asisten Thomas dengan cepat memegannya, melihat tubuh bosnya yang goyah dan mulai tak seimbang.


" Cari dia dia ke semua sudut. Kalian harus menemukannya."


Hari sudah hampur gelap, namun semua anak buah Kenzo belum juga menemukan keberadaan April. Hal itu membuat Kenzo semakin cemas. Dengan berat hati dia memerintahkan anak buahnya mencari ke seluruh Rumah sakit di Kota A mengingat hal buruk bisa saja di lakukan gadis itu.


Kenzo benar-benar takut, memikirkan apa yg bisa di lakukan gadis itu. Kesedihan dan ketakutan tergambar jelas diwajahnya.


Namun kenzo berpikir lagi, apa mungkin gadis itu menghilang begitu saja? bukankah hari ini orang tuannya akan berangkat ke cina. Dia sangat tahu persis bagaimana wanita itu bahkan rela terhina demi kesbuhan ibunya.


Tapi mengapa dia tiba-tiba menghilang di hari keberangkatan ibunya. Apa dia benar-benar menyerah dengan hidup?


Phonselnya tiba-tiba berdering.


Dengan cepat Kenzo memgangkatnya. Wajahnya begitu serius memdengar apa yang di ucapkan sang penelpon.


Tiba-tiba Kenzo membanting ponsel di tangannya. Dia mengepal tinjunya erat erat. Matanya memerah, wajahnya gusar dan marah.


Asisten Thomas bertanya tanya dalam hati apa yang sebenarnya di dengar bosnya itu sehingga membuatnya begitu marah.


" Suruh mereka semua berhenti mencarinya." ucapnya memerintahkan Asisten Thomas dengan tatapan bengis.


Asisten Thomas tak bertanya, dia menelpon anak buahnya menyapaikan printah Kenzo.


^_^