Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Maaf



"Kamu mau kemana sayang", ucap Mamanya Ar ketika melihat Ar turun dan berjalan ke arahnya dengan memakai pakaian rapih.


"Aku mau minta izin Ma, aku mau main ke rumah Anin, udah lama kami ngk kumpul bareng. Bolehkan Ma kali ini aja", ucap Ar memohon karena dia takut Mamanya akan melarangnya untuk pergi


Ibu dar sebenarnya mau melarang pergi tapi melihat tadi anaknya itu sedih jadi dia mengizinkannya supaya anaknya kembali bahagia. "Ya sudah kamu hati hati ya, pulangnya jangan kemaleman dan kamu cuma boleh ke rumah Anin jangan kemana mana" ucap mamanya Ar mengingatkan.


"Iya Ma, aku pamit ya Mah. Asalamu'alaikum" ucap Ar sambil menyalami Mamanya.


Selama kejadian di klub Ar dan teman temannya memang sudah tidak lagi ke klub itu di tambah lagi Ar yang memang tidak boleh keluar malam semenjak dia pulang larut malam saat itu.


Hampir seminggu ini mereka hanya kumpul sampai jam 5 sebagai solidaritas karena Ar yang masih menjalani hukuman.


Baru malam ini mereka berkumpul lagi setelah seminggu lamanya.


Setelah mereka semua sudah ada dan berkumpul di kamar Anin.


"Akhirnya kita bisa kumpul lagi malam ini" ucap Ajeng yang sedang duduk di sofa kamar Anin.


"Iya gue kangen dengan dunia malam kita yang selalu kumpul", ucap Arin sambil memakan cemilan yang sudah di siapkan sang tuan rumah.


"Iya tapi kalian jadikan nginep soalnya bokap nyokap gue lagi ke luar negri buat ngurus perusahaannya." ucap Anin yang memang orang tuanya sangat sibuk itu dan diantara mereka yang paling tajir itu Anin karena bokapnya udah punya beberapa cabang perusahaan hingga ke luar negri.


Sementara Papanya Ar yang memang kebetulan sedang ke luar kota mengurus proyek pembangunan untuk membangun cabang perusahaan barunya jadi Ar bisa keluar malam.


Sebenarnya Ar tidak akan keluar malam jika Papanya ada karena dia sangat melarang Ar untuk keluyuran tetapi mamanya Ar yang memang sangat memanjakan Ar selalu menuruti kemauan Ar tapi terkadang Mamanya Ar juga bersikap tegas jika Ar sudah terlalu nakal seperti saat dia pulang tengah malam.


"Iya pasti dong kan kita akan berpesta malam ini" ucap Ajeng


"Iya kebetulan besok juga kan kita jadwalnya siang jadi bisalah pesta sampai tengah malam" ucap Arin


"Yoi lah, udah lama juga ini. giman Ar kok Lo diam aja sih ngk biasanya" ucap Anin yang melihat Ar hanya diam saja mendengar pembicaraan temannya itu.


Ar sebenarnya masih memikirkan masalah tadi pertengkarannya dengan Habib, dia terus menatap lurus ke arah tv tapi pikirannya di tempat lain


"Ar lo kenapa sih", ucap Arin mengguncang bahunya Ar yang tidak menjawab.


"Ha? kenapa" ucap Ar setelah sadar dan melihat temannya menatap tajam dan penuh dengan kecurigaan.


Anin yang duduk di pinggir kasur berjalan mendekati Ar yang sedang duduk di sofa panjang samping Arin.


Anin duduk di Sofa tunggal di samping Ar dan di depan Ajeng. "Kamu jadikan nginep di sini" ucap Anin sambil melihat Ar.


"Gue tadi cuma pamit buat ikut kumpul sebentar dan batasnya cuma sampai jam 8" ucap Ar melihat temannya secara bergantian.


"Biar gue yang bilang ke tante Dar pasti dia izinin kan bokap lo juga di luar kota kan" ucap Anin yang di setujui oleh Ar.


Setelah Anin berbicara kepada Mamanya Ar yang sudah memberi Izin untuk Ar bermalam di rumahnya Anin. Mamanya Ar memang sudah mempercayai Anin meskipun sama sama nakal tapi Anin pernah menolong Ar dari gangguan Laki laki jadi Mamanya Ar tidak khawatir jika Ar berteman dengan Anin.


"Ar Lo ada masalah ya, cerita aja sama kita kan kita sahabat siapa tau kita bisa bantu", ucap Anin melihat Ar masih melamun.


"Iya Ar cerita aja", ucap Arin yang di angguki oleh Ajeng.


Ar pun menceritakan kejadian saat pertama bertemu Habib termasuk pertengkaran mereka tadi dan juga saat bercerita kepada mamanya.


Mereka memang sudah mengetahui cerita Ar dan Habib waktu kecil.


"Jadi gimana, apa Lo mau memakai Hijab seperti ucapan lo ke Habib waktu kecil?", tanya Ajeng setelah Ar menceritakan semuanya.


"Gue masih bingung" ucap Ar


"Menurut gue apa yang nyokap lo bilang itu bener, Lo ngk boleh Berhijab karena orang lain tapi harus dengan sepenuh hati dan itu pun karena Lo mau berubah lebih baik bukan cuma untuk mendapatkan Habib seperti yang Lo cerita itu" ucap Arin yang memberi pendapat dan semua temannya pun menatap Arin karena baru kali ini temannya berbicara secara Agamis.


"Tumben Lo bicaranya bener gitu biasanya omongan lo ngk ada yang benar", ucap Anin yang kemudian mendapatkan lemparan bantal dari Arin karena kesal.


"Sialan Lo", ucap Arin yang mulai berbicara tidak benar lagi.


"Tuh kan bicaranya ngk bener lagi" ucap Ajeng yang hanya di balas dengan lemparan bantal juga oleh Arin.


"Tapi gue setujuh dengan ucapan Arin karena berhijab itu bukan hanya sekedar pakai aja tapi kelakuan dan sifat lo juga harus bener jangan sampai cuma jadi gaya doang buat deketin Habib" ucap Anin sambil memakan cemilan di depannya.


"Iya Ar tapi sebaiknya Lo minta Maaf deh ke Habib karena Lo udah kasar banget waktu bicara sama dia", ucap Ajeng yang dianggukan Arin dan Anin.


"Iya besok gue bakalan temuin dia dan minta maaf" ucap Ar tegas


"Bersulam untuk pesta malam ini" ucap Anin yang kemudian bunyi gelas bersentuhan.


Mereka berpesta dengan banyak cemilan dan minuman dingin malam ini, mereka tidak lagi meminum alkohol semenjak mereka tidak keluar malam.


Keesokan Harinya.


Ar, Anin, Arin dan Ajeng berangkat ke kampus dengan mobil Anin karena nantinya setelah pulang dari kampus mereka akan berkumpul lagi di rumah Anin untuk kerja kelompok.


Mereka memang satu jurusan dan setiap kerja kelompokpun selalu bersama.


Sesampainya mereka di kampus seperti biasa mereka selalu menjadi pusat perhatian terutama Ar dengan memakai celana jens panjang dan baju lengan panjang yang tidak terlalu ketat, dia memakai baju nya Anin karena kemarin dia tidak sempat membawa baju ganti.


"Guys gue duluan ya mau ketemu Habib buat minta maaf" ucap Ar kepada temannya yang saat ini memang mereka sudah selesai dan tidak punya jadwal kuliah lagi.


"Kita temenin Lo Ar sekalian gue pengen liat yang namanya Habib itu, seberapa gantengnya sih dia sampai bikin Lo kayak orang gila gara gara jatuh cinta sama dia", ucap Anin dengan menahan Ar yang sudah keluar dari ruangan.


"Iya Ar kita ikut" ucap Arin dan ajeng bersamaan.


"Iya udah ayo", ucap Ar yang berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh temannya.


Mereka memang sudah sepakat akan menemani Ar untuk menemui Habib.


"Kita ke rumah Habib aja biar gue yang nyetir", ucap Ar kemudian mengambil kuncil mobil Anin.


Mereka pun meninggalkan parkiran kampus menuju rumahnya Habib. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Keluarga Habib.


"Rin lo bisa ngk turun buat tanya ke satpam Habib ada atau ngk", ucap Ar yang di iyakan oleh Arin


"Katanya Habib lagi ke pesantren dan belum pulang" ucap Arin setelah turun menanyai satpam


"Ya udah ayo kita ke pesantren aja yuk", ucap Ar setelah Arin masuk ke dalam mobil


"Lo yakin Ar ke pesantren. liat penampilan kita Ar udah kayak cabe cabean kalau mereka melihatnya" ucap Ajeng yang ragu untuk ke pesantren.


"udahlah cuma sebentar doang kok lagian biar gue aja yang turun nanti kalian tunggu aja di mobil", ucap Ar kepada temannya yang terlihat ragu.


Sesampainya mereka di Pesantren yang baru mereka tau dekat dengan kampunya, Ar langsung turun setelah tadi singgah untuk berganti yang lebih sopan dan menggunakan penutup kepala seperti hijab.


"Kalian tunggu di sini" ucap Ar kemuadian pergi ke ruangan Pemilik pesantren untuk meminta izin bertemu Habib.


Saat Ar berbalik untuk ke ruangan pemilik pesantren dia melihat Habib sedang berdiri di depan ruangan yang bertuliskan ruangan pengurus Pesantren bersama dengan seorang pria yang seusia Habib.


"Habib" panggil Ar kepada Habib sambil berjalan ke arah Habib.


Habib yang melihat Ar berjalan ke Arahnya hanya bisa menggeleng kepala apalagi melihat penampilan Ar yang hanya menutup kepalanya dengan kerudung.


"Dia siapa Bib, cantik juga tapi sayang ngk pakai hijab jadinya kurang adem kalau di liatnya" ucap pria yang bersama Habib adalah ustadz Rehan.


"Kamu ngapain kesini" tanya habib tanpa menjawab pertanyaan Rehan karena Ar sudah ada di hadapannya.


"Aku kesini mau minta maaf Bib, soal sikap aku kemarin ke kamu dan sekarang aku udah sadar kenapa kamu sampai tidak mau melihatku" ucap Ar menunduk karena tak berani melihat wajah Habib


Sedangkan Ustadz Rehan yang mendengar dan melihat hal itu hanya bisa diam tapi dia tidak mau meninggalkan Habib yang berbicara pada wanita.


"Ngk penting juga kamu sudah tau atau tidak dan kalau kamu ke sini cuma mau minta maaf aku sudah memaafkanku jadi sebaiknya kamu pergi dari sini karena aku masih harus mengajar dan tidak ada waktu buat bicara sama kamu" ucap Habib yang


membuat Ar sedih dan Rehan pun tak menyangka bahwa ustadz baru yang sudah menjadi teman nya ini bisa berbicara sekasar itu pada wanita.


"Apa kamu tidak malu datang kesini dengan pakaian seperti itu, bahkan tamu yang datang ke pesantren ini harus memakai hijab dan baju yang sopan sementara kamu hanya memakai kerudung untuk menutupi kepalamu itu pun tidak sempurna", ucap Habib lagi yang semakin membuat Ar sedih.


Ar berusaha menahan Air matanya tapi dia tidak bisa hingga perkataan Habib tadi membuatnya menangis


"Maaf Bib aku udah salah dan aku ke sini cuma mau minta maaf ke kamu... Aku juga mau bilang ke kamu kalau setelah ini aku ngk bakalan gangguin kamu lagi Bib, aku akan berusaha buat ngejauhin kamu karena aku sadar kalau aku bukan wanita yang baik buat kamu... Aku permisi Assalamu alaimum" ucap Ar kemudian berlari tanpa melihat Habib karena dia selalu menunduk saat bertemu habib.


...........


Jangan lupa vote, like dan komen


Terima kasih