
Setelah kejadian di taman itu Habib sangat kesal pada dirinya sendiri dan akhirnya dia pun duduk di pinggir danau. Sambil melempari batu ke dalam danau yang menjadu kebiasaan dia dan Ar sewaktu kecil.
"Gue kangen main bareng sama lo Ar. Andai waktu bisa di putar kembali gue lebih baik engga usah ninggalin lo dan kenangan masa kecil kita sampai lo jadi berubah kayak gitu" Ucap Habib lirih.
Suara adzan magrib berkumandang, Habib berdiri dari tempatnya kemudian masuk ke dalam mobilnya menuju ke mesjid terdekat untuk shalat.
Selesai shalat Habib masih duduk termenung di tempatnya sambil berzikir.
"Assalamu'alaikum" Salam seorang bapak-bapak yang berumur sekitar 50an memdekati Habib.
"Wa'alaikumusalam" Jawab Habib saat orang itu yang tadi menjadi Imam shalat magrib duduk di dekat Habib.
"Sepertinya bapak liat kamu bukan orang sini, apa betul" Tanya orang itu.
"Iya pak saya dari kota" Jawab Habib.
"Oiya nah kenalkan bapak namanya Pak Ahmad guru ngaji di mesjid ini" Ucap Pak Ahmad memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Habib pak" Ucap Habib juga memperkenalkan dirinya.
"Sepertinya nak Habib ada masalah" Ucap Pak Ahmad sambil melihat Habib di depannya.
"Masalah kecil pak" Ucap Habib.
"Nak jodoh itu sudah di takdirkan oleh Allah SWT jadi kita sebagai ummatnya hanya bisa bersyukur, terkadang kita menginginkan sesuatu tapi Allah berkehendak lain. Allah tidak mengabulkan permohonan kita bukan karena dia tidak mau tapi Allah lebih tau bahwa apa yang kita inginkan itu tidak baik untuk diri kita. Jadi nak Habib jangan pernah berkecil hati pada apa yang sudah menjadi takdir" Jelas Pak Ahmad seakan tau masalah Habib padahal Habib belum cerita sama sekali.
"Dari mana pak Ahmad tau apa yang saya pikirkan" Tanya Habib karena apa yang di ucapkan Pak Ahmad berkaitan dengan apa yang Habib pikirkan.
"Melihat dari raut wajah kamu saja bapak sudah tau apa yang kamu pikirkan. Suatu saat nanti kamu akan bahagia dengan orang yang mencintai kamu. Sebaiknya bapak sarankan kamu lebih memperdalam ilmu agamamu dulu untuk saat ini" Ucap Pak Ahmad menepuk bahu Habib.
"Sekarang ayo kita bersiap shalat berjamaah isya lagi dan bapak minta kamu jadi imamnya" Ucap Pak Ahmad kemudian
"Tapi pak, bukannya tadi bapak yang jadi imam" Ucap Habib.
"Sekarang bapak ingin mendengar kamu menjadi imam shalat" Ucap Pak Ahmad.
Waktu shalat isya pun datang dan Habib menjadi imam shalat berjamaah. Dengan suaranya yang merdu dalam melafalkan setiap ayat Al quran.
Setelah shalat para jamaah baik pria maupun wanita membicara Habib yang menjadi imam shalat tadi.
Banyak yang memujinya mulai dari suaranya bahkan wajahnya yang sempat ada yang liat tadi.
"Nak Habib sekarang mau pulang kah" Tanya Pak Ahmad pada Habib yang masih duduk ditempatnya.
"Rencananya saya mau menginap di sini untuk beberapa hari apa boleh" Ucap Habib.
"Boleh nak Habib. Kebetulan ada kamar di mesjid ini jika nak Habib mau bisa tempati atau bisa ke vila penginapan dekat sini" Ucap Pak Ahmad.
Habib tadi juga sudah menghubungi orang tuanya supaya mereka tidak khawatir.
Ke esokan Harinya.
Ar dan sahabatnya sekarang berada di mall untuk membeli baju yang akan dia pakai nanti malam di acara lamarannya.
Nanti malam keluarga Rehan akan datang melamar Ar sekaligus memastikan tanggal pernikahan.
"Ar masih ada lagi ngga yang di butuhin selain ini" Tanya Arin yang menenteng kantong belanjaannya.
"Kayanya udah engga ada lagi deh, kan Mama cuma bilangnya beli baju buat kita pakai aja karena semuanya udah mamaku siapkan" Ucap Ar.
"Ya udah yuk sekarang kita makan siang dulu lapernih" Ucap Ajeng sambil mengusap perutnya yang lapar.
"Kita makan disana aja kayaknya enak" Ucap Anin menunjuk salah satu restoran.
"Terserah deh yang penting makan. ayo" Ajak Ajeng antusias karena sudah lapar dan memang selalu lapar dan suka makan tapi badannya tetap saja tidak gemuk.
Malam Harinya.
"Masya Allah Anak mama cantik sekali" Bu Dar memuji Ar yang memakai gamis warna biru dengan Hijab nya yang senada.
"Iya dong tante siapa dulu periasnya. Arin gitu loh" Ucap Arin membanggakan diri karena merias Ar.
"Enak aja lo, dari dulu gue emang cantik" Ucap Ar tak terima dengan Arin yang membanggakan dirinya.
"Becanda gue Ar, sensitif amat lu kek pantat bayi" Ucap Arin terkekeh melihat Ar kesal.
"Sudah, Ayo turun keluarga Rehan sudah datang" Ucap Bu Dar mengajak mereka turun.
Setelah semuanya sudah berkumpul merekapun memulai pembicaraan.
"Aku bakalan beruntung banget milikin kamu Syah" Batin Rehan melirik Ar.
"Jadi sudah di pastikan pernikahan akan di laksanakan seminggu setelah sidang kelulusan Aisyah" Ucap Pak Andi karena sebelumnya Ar mengusulkan juga supaya dia bisa konsentrasi dalam mengurus skripsinya.
Setelah acara penentuan tanggal pernikahan Bu Ani mendekati Ar dan menyematkan sebuah cincin sebagai simbol pertungan Ar dan Rehan.
Karena acara ini bersifat privasi jadi hanya beberapa keluarga dekat mereka yang datang termasuk Abi dan Uminya Habib.
.................
Jangan lupa like, komen, vote dan beri rate 5.
Terima kasih