Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Gelang Warisan



"Eh astaga harusnya kan kita ketemu sama Umi, gara-gara kalian sih kepo banget" Ucap Ar baru mengingat bahwa dia harusnya bertemu dengan Umi nya Habib.


"Astaga iya Ar, ya udah ayo" Ucap Mereka juga baru sadar.


Mereka pun menuju ruangan dimana Bu Anggun sudah menunggu di sana.


"Assalamu'alaikum Umi, Maaf aisyah telat soalnya tadi ada urusan mendadak tadi" Salam Ar ketika sudah masuk ke dalam ruangan itu dan mencium tangan Uminya Habib sekaligus memberi alasan.


"Iya engga apa-apa, Umi tadi khawatir takut ada masalah sama kalian, baru aja Umi mau keluar cari kalian ternyata lebih dulu masuk" Ucap Umi ramah.


"Ayo silahkan duduk" Ucap Umi lagi mempersilahkan mereka duduk.


Mereka pun duduk dan memesan makanan.


"Sebenarnya Umi ngajak kamu ke sini itu buat ngasih sesuatu sama kamu sekaligus ketemu dan bahas masalah pernikahan kamu sama Habib yang seminggu lagi akan di laksanakan" Jelas Bu Anggun kepada Ar setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.


"Iya Umi tadi Mama udah cerita juga" Ucap Ar sopan.


"Ini Umi berikan untuk mu sayang" Ucap Umi menyerahkan sebuah kotak.


"Kotak Umi? Umi ini gelangnya bagus banget Umi" Ucap Ar setelah melihat dan membuka kotak itu yang berisi gelang emas dengan hiasan berlian yang sangat mahal.


"Iya itu adalah gelang warisan dari neneknya Habib yang di berikan kepada Umi sebelum menikah dengan Abi nya Habib. Gelang itu merupakan gelang turun temurun keluarga kami dan kamu merupakan generasi ke 4 penerima gelang itu" Jelas Bu Anggun sambil memasangkan gelang itu kepada Ar.


"Makasih Umi, gelangnya bagus banget" Ucap Ar sambil memandang gelang itu.


"Sebenarnya Umi masih pengen cerita sama kamu tapi sekarang Umi harus pulang dulu karena ada janji sama teman Umi. Nanti kita ketemu lagi di hari pernikahan kamu sama Habib" Ucap Bu Anggun.


"Ya udah deh Umi, sekali lagi maaf ya Aisyah telat tadi jadinya Umi nunggu lama deh" Ucap Ar merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa sayang, kalau gitu kalian pesan aja makanan sepuas kalian nanti Umi yang bayar ok" Ucap Bu Anggun ramah.


"Makasih Umi" Jawab mereka serentak.


"Kalau gitu Umi pamit dulu ya, Assalamu'alaikum" Ucap Bu Anggun kemudian pergi dari tempat itu.


"Iya nih kan tante Anggun juga bilang kita boleh pesan sepuasnya" Ucap Ajeng.


"Kalian ini kalau makanan langsung cepat" Ucap Ar.


"Iya lah Ar, makanan gratis engga boleh di tolak" Ucap Arin dan Ajeng kompak


"Ar asal lo tau yah, ini itu restoran paling mahal di negara ini dan engga sembarangan orang bisa masuk. Kita juga bisa masuk ke sini karena tante Anggun dan sudah di pastikan kalau keluarga Habib itu termasuk dalam orang penting di negara ini" Jelas Arin dengan serius.


"Jadi kita engga boleh sia- siain kesempatan buat makan di tempat mahal ini. Karena belum tentu kita bisa ke sini lagi" Ucap Ajeng melanjutkan.


"Iya sih, tempat ini memang bagus dan tadi gue liat yang datang juga orang berjas semua kayak orang-orang penting gitu dari luar aja udah kayak istanah dan dalamnya juga mewah banget dan lo liat nih buku menunya harganya mahal banget, uang jajan gue sebulan aja baru cukup buat beli satu porsi makanan" Ucap Anin juga sambil melihat daftar menunya.


"iya Ar dan lo beruntung banget bisa dapatin Habib yang mungkin termasuk orang terkaya di negara ini" Ucap Ajeng.


"Kalau memang benar keluarga Habib orang termasuk orang terkaya negara ini atau semacamnya gue jadi minder buat jadi istrinya dan gue juga sebenarnya engga tau masalah itu. Yang gue tau cuma Habib itu orangnya sederhana" Ucap Ar.


"Lo engga usah minder gitu kan sekarang lo udah sama dia dan bentar lagi nikah, harusnya lo bersyukur aja dan mungkin ini alasan Habib engga mau pilih wanita sembarangan dan Habib sendiri yang milih lo" Jelas Arin.


"Iya Ar mungkin Habib menutupi semua karena tidak mau di cintai karena hartanya" Ucap Ajeng kemudian.


"Udah deh Ar, ini udah jadi takdir dan keberuntungan lo tapi gue yakin akan ada kejutan lain tentang kekayaan dan kekuasaan keluarga Habib setelah lo nikah" Ucap Anin membuat Ar semankin tidak percaya diri untuk bersanding dengan Habib.


"Ar dari pada lo mikirin itu mendingan kita pesan makanan sekarang deh gue laper nih" Ucap Arin.


"Iya nih sekalian kita foto -foto lumayan bisa pamer di sosmed" Ucap Ajeng sambil senyum.


"Ya udah deh" Ucap Ar singkat.


Mereka pun memesan makanan dengan senang tapi Ar masih memikirkan status Habib yang mungkin tidak sederajat dengan keluarganya yang sederhana.


"Apakah aku pantas bersanding denganmu yang seorang pangeran tampan dan berakhlah baik sepertimu" Batin Ar.