
Hari ini merupakan hari wisuda Ar dan para sahabatnya. Pagi ini mereka sudah berada di rumah Ar untuk mempersiapkan diri di acara wisuda mereka yang akan di laksanakan 2 jam lagi.
Kesibukan mereka merias diri pun terlihat di kamar Ar, para perias yang membantu mereka juga terlihat sangat profesional dalam mengerjakan tugasnya.
Sementara itu Habib yang masih berada di perkampungan dan sudah sejak 3 minggu lamanya dia belum pulang juga.
"Hari ini Aisyah wisuda dan akan menikah dengan Rehan, aku harus ikhlas menerimanya meskipun akan sangat sakit" Ucap Habib dalam hatinya.
Kini Habib sedang duduk di pinggir danau, itu adalah kebiasaannya di waktu senggang setelah mengajar para anak-anak dikampung ini. Di danau itulah Habib bisa merasakan kehadiran Ar.
"Assalamu'alaikum" Ucap Habib ketika menjawab telpon dari Uminya.
"............." Bu Anggun
"Iya Mi, Habib pulang sekarang" Ucap Habib.
"..............."
"Iya Mi, wa'alaikumusalam" Ucap Habib kemudian mematikan sambungan telponnya.
"Aku akan pulang Ar, melihat mu di acara wisuda untuk yang terakhir kalinya" Ucap Habib kemudian berdiri dan pergi dari tempat itu.
"Saya pamit pulang dulu ya Pak, sampaikan salam saya ke anak-anak dan maaf juga tidak bisa pamit kepada mereka dan warga kampung yang juga sangat baik pada saya selama berada di sini" Pamit Habib kepada Pak Ahmad.
"Iya sudah pasti bapak sampaikan dan kamu juga hati-hati di sana, kalau ada waktu ke sini lagi pasti warga kampung akan selalu senang dengan kehadiran kamu" Ucap Pak Ahmad.
"Iya pak, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum" Salam Habib
"Wa'alaikumusalam" Jawab Pak Ahmad.
Habib pun meninggalkan kampung itu dengan mobilnya menuju kota.
Sekarang Ar dan para sahabatnya sudah siap dengan pakaian yang sangat indah, Ar juga sekarang memakai hijab hari ini.
"Kamu yakin Ar mau pakai hijab di acara wisuda kita" Ucap Ajeng kepada Ar.
"Iya karena gue rasa udah waktunya gue pakai hijab, gue ngerasa waktu gue di culik itu sebagai teguran buat gue" Ucap Ar.
Memang Ar sudah cerita pada Arin dan Ajeng tentang penculikannya tapi tetap Anin tidak memberitau kepada siapapun kalau yang menculik Ar adalah Bima.
"Iya kita sih cuma bisa ngedukung supaya lo bisa terus berhijab seperti ini apalagi li bakalan nikah sama ustadz Rehan" Ucap Anin.
"Tapi Ar kenapa gue udah engga pernah liat Habib di pesatren ya, waktu kita ikut pengajian setiap jumat" Ucap Arin.
"Gue juga bingung Habib sekarang dimana dan sepertinya dia menjauhi gue semenjak hari itu" Ucap Ar.
"Sebenarnya lo masih suka sama Habib kan Ar" Tanya Ajeng.
"Iya Ar buktinya lo masih pakai tuh cincin dari dia yang pernah lo buang" Ucap Arin menunjuk cincin yang Ar pakai.
"Engga ada yang bisa gantiin posisi Habib di hati gue, meskipun nanti gue nikah sama Kak Rehan dan mencintai dia tetap Habib akan ada di hati gue meskipun itu hanya sebagai kakak ataupun sahabat karena engga mungkin gue mencintai 2 pria sekaligus" Ucap Ar sambil melihat ke arah jarinya yang terdapat cincin pemberian Habib dan Rehan.
"Jadi lo belum cinta sama ustadz Rehan" Tanya Anin.
"Belum Nin, gue masih cinta sama Habib tapi semoga setelah gue nikah sama dia bisa buat gue lupa sama cinta gue ke Habib" Jawab Ar.
"Terus alasan lo nikah sama ustadz Rehan apa" Tanya Anin lagi.
Sebelum Ar menjawab pertanyaan Anin pintu kamar Ar terbuka dan masuk Bu Dar.
"Kalian sudah siap ayo kita berangkat supaya engga telat ke acara kalian" Ucap Bu Dar setelah masuk.
"Iya Ma, ayo" Ucap Ar kemudian mereka turun.
Dibawah para orang tua mereka sudah siap juga untuk menghadiri acara wisuda anak-anak mereka.
Mereka pun berangkat ke kampus, sesampainya di sana mereka langsung masuk ke dalam gedung acara karena sebentar lagi acara akan di mulai.
"Ar ustadz Rehan engga datang" Tanya Ajeng tidak melihat Rehan.
"Katanya sih engga karena ada ujian di pesantren jadinya dia harus mengawas gitu" Jawab Ar.
Pembawa acara sudah berada di atas panggung dan membuka acaranya, setelah sambutan-sambutan kini tibalah acara dimana pengumuman lulusan terbaik.
Saat pembawa acara mengumumkan lulusan terbaik adalah Ar mereka semua sangat bahagia. Ar pun naik ke panggung untuk memberi sambutan.
"Eh itu benar Ar?"
"Masya Allah ukhty Ar"
"Makin cantik aja Ar kalau pakai hijab"
"Ar udah berhijab makin cantik aja"
"Dia udah mau nikah kali"
Begitulah ucapan para teman kampus Ar, mereka yang memang mengidolakan Ar baik laki-laki maupun perempuan meskipun tak jarang ada kaum wanita yang iri padanya tapi tidak berani menghina Ar.
Kecantikan Ar yang bertambah dengan memakai hijab membuat para penggemarnya semakin memujinya tetapi mereka harus pata hati terutama untuk para lelaki yang menyukai Ar karena sebentar lagi Ar akan menikah.
Undangan Ar yang sudah tersebar untuk beberapa teman kampusnya, meskipun hanya beberapa temannya yang mendapat undangan tapi seluruh kampus bahkan para dosenpun sudah tau masalah pernikahan Ar, tapi mereka tidak tau kalau yang akan menikah dengan Ar adalah seorang ustadz.
"Selamat ya Ar" Ucap para teman-teman Ar saat Ar sudah turun dari atas panggung.
"Terima Kasih" Ucap Ar dengan senyum.
Orang tua Ar juga sangat bangga pada Ar dengan prestasinya selama ini. Meskipun Ar termasuk cewek nakal dan suka bicara kasar pada orang yang mengganggunya tapi tetap saja Ar di sukai karena kepintaran dan prestasinya.
Setelah acara selesai mereka pun berfoto-foto sebagai kenangan. Setelah itu mereka keluar dari gedung acara menuju parkiran untuk pulang.
"Oiya, Besok Om undang kalian datang ke rumah untuk syukuran atas kelulusan dan prestasi dari anak kesayangan Om ini jadi kalian harus datang" Ucap Pak Andi kepada sahabatnya Ar.
"Pastilah Om, kalau soal makanan kita bakalan datang om, iyakan gays" Ucap Ajeng semangat.
"Iya om pasti" Ucap Arin dan Anin bersamaan.
"Ya sudah ayo kita pulang pasti kalian semua capek dan butuh perayaan bersama keluarga kalian" Ucap Bu Dar.
"Iya tante, om kalau gitu kami pamit. Assalamu'alaikum" Ucap 3A pamit kemudian masuk ke dalam mobil mereka masing-masing karena orang tua mereka sudah menunggu.
Ar pun masuk ke dalam mobil dengan wajah seperti tak bahagia karena menanti seseorang.
"Habib, kamu kemana aja sih. Aku kangen sama kamu dan kenapa juga kamu pergi tanpa ada kabar sama sekali bahkan orang tua kamu juga engga mau kasi tau aku dimana kamu berada. Apa sebegitu kecewanya kamu sama aku tapikan kamu juga salah udah cuekin aku selama ini" Ucap Ar dalam hatinya mengingat Habib yang tidak ada kabar selama 3 minggu ini.
Bahkan saat Ar ke rumah Habibpun orangtua Habib tak ingin memberitau dengan alasan Habib sendiri yang melarang. Meskipun Pak Justin tidak tega melihat Ar yang sudah di anggap sebagai putrinya sendiri itu bersedih karena tidak di beritau keberadaan Habib tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Flashback on
"Assalamu'alaikum" Salam Ar saat berada di depan rumah Habib.
"Wa'alaikumusalam, eh nak Aisyah" Ucap Bu anggun yang membuka pintu dan melihat Ar.
"Umi, Aisyah mau ketemu sama Habib adakan?" Tanya Ar pada Bu Anggun.
"Masuk dulu yuk sayang" Ucap Bu Anggun mengajak Ar masuk.
Ar pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Mau minum apa sayang" Ucap Bu Anggun ramah.
"Engga usah Umi, Aisyah cuma mau ketemu sama Habib sebentar" Ucap Ar.
"Eh Aisyah, sama siapa datangnya Nak" Tanya Pak Justin yang baru datang kemudian duduk di sofa depan Ar.
"Sendiri Abi, Aisyah mau nyari Habib yang engga ada kabar seminggu ini, bahkan Aisyah ke pesantren pun engga ada" Ucap Ar.
"Maafin Abi, bukannya Abi engga mau kasi tau kamu Habib dimana tapi Habib sendiri yang bilang supaya engga kasi tau siapapun dimana dia jadi Abi dan Umi benar-benar minta maaf ya nak" Ucap Pak Justin merasa tak enak hati pada Ar.
"Iya udah Abi, Aisyah ngerti. Kalau gitu Aisyah pulang dulu ya" Ucap Aisyah pamit.
"Nak, kamu jangan sedih ya, Habib engga marah sama kamu tapi dia cuma butuh waktu aja buat nerima semuanya ini" Ucap Bu Anggun penuh kasih sayang pada Aisyah yang bersedih.
"Iya Umi, Abi Aisyah pulang, Assalamu'alaikum" Ucap Ar menyalami orangtuanya Habib.
"Wa'alaikumusalam" Jawab mereka.
"Umi sebenarnya juga engga ikhlas Bi, kalau Aisyah menantu yang kita impikan menikah dengan orang lain" Ucap Bu Anggun setelah Ar pergi.
"Abi juga engga rela Umi tapi anak kita itu memang terlambat menyadarinya sehingga Aisyah sudah terlalu kecewa dan akhirnya menolak Habib" Ucap Pak Justin.
Mereka memang sudah tau kalau Ar menolak Habib karena Habib sendiri yang cerita juga alasan Ar yang katanya sudah lelah berjuang.
Flashback Off
Setelah mobil Ar pergi, seseorang yang sedari tadi berada di dalam mobil melihat Ar.
"Kamu sangat cantik Syah, seandainya aku bisa lebih cepat sadar akan kesalahanku mungkin kita engga akan sejauh ini" Ucap Habib yang berada didalam mobil sejak tadi dan melihat Ar berada di parkiran.
"Semoga kamu bahagia Syah sama Rehan, dan aku akan pergi jauh dari kamu supaya rasa sakit ini tidak terlalu kurasakan. Maafin aku engga bisa tepatin janji ku sama kamu. Aku janji akan terus menjaga perasaan ini agar aku tau perasaan kamu saat mencintai ku tapi tidak ku balas. Aku janji sama kamu syah engga akan menikah sebagai ganti dari janjiku yang tidaj bisa ku lakukan" Ucap Habib penuh penyesalan.
............
Jangan lupa vote, rate, like dan komen.
Terima Kasih