
Di rumah Rehan
Setelah orang tua Ar pergi Rehan masuk ke kamarnya, Rehan berbaring di kasurnya sambil menatap langit kamarnya.
“Semoga cewek yang di jodohin sama gue cantik dan shaleha, tapi ngga mungkin Umi sama Abi jodohin gue kalau ceweknya ngga baik” gumam Rehan memikirkan masalah perjodohannya dengan orang yang tidak ia kenal.
“Han, Nak Umi boleh masuk” ucap ibu Ani di balik pintu.
“Iya Umi, Masuk aja” Ucap Rehan kemudian Bangun melihat Uminya masuk ke kamarnya.
“Nak, Umi tau kamu pasti memikirkan rencana perjodohan itu kan” ucap Bu Ani yang duduk di pinggir kasur dekat Rehan.
“Iya Umi tapi Umi tenang aja aku terima perjodohan itu kalau memang kalian Umi mau, karena Rehan yakin pilihan Umi sama Abi yang terbaik” ucap Rehan sambil tersenyum melihat Uminya.
“Ini kamu liat dulu fotonya, tadi Abi kamu yang minta ke Pak Andi dan Foto kamu juga Abi sudah kasi ke Pak Andi” ucap Bu Ani sambil menyerahkan selembar foto kepada Rehan.
Rehan menerima foto yang di berikan Uminya, “Namanya Aisyah Rahma, eh sudah kamu Cuma boleh liat foto ini bentar aja” ucap Bu Ani memperkenalkan Wanita yang ada di foto itu yang tidak lain adalah Ar.
Kemudian Bu Ani mengambil Foto itu karena melihat anaknya yang menatap foto itu tanpa berkedip.
“Dia kan cewek yang datang ke pesantren waktu itu, yang ketemu sama Habib kenapa dia cantik banget di foto dengan menggunakan hijab dan baju syar’I” batin Rehan.
“Nak, gimana pendapat kamu tentang gadis itu” ucap Bu Ani membuyarkan lamunan Rehan yang masih memikirkan Ar yang ada di foto itu.
Orang tua Ar memang sengaja memberikan Foto Ar yang menggunakan Hijab supaya terlihat sopan dan itu adalah foto Ar sewaktu bulan Ramadhan yang memang saat itu Ar memakain baju syar’I yang membuatnya terlihat sangat cantik.
“Dia cantik Mi, tapi kita juga harus menilai sikapnya kan Mi. Rehan pengen punya istri yang shaleha dan bisa jadi ibu sekaligus istri yang baik buat Anak anak Rehan dan Rehan sendiri. DIa juga Harus sayang dan hormati Abi sama Umi” ucap Rehan dengan tulus dan serius membayangkan keluarga kecil yang bahagia nantinya.
“Itu pasti Nak, Jadi nanti saat kalian ketemu bisa saling kenal sekaligus kamu bisa Tanya sama dia apapun yang menurut mu perlu di tanyakan. Anggap saja kalian sedang taaruf” ucap Bu Ani menepuk bahu Anaknya.
“Iya Umi” ucap Rehan mengagguk.
“Iya sudah Umi keluar dulu, kamu jangan lupa siap siap kita shalat berjamaah di bawah” ucap Umi kemudian keluar setelah Rehan mengiyakan.
“Astaga apa benar dia itu cewek yang kemarin ke pesantren, kenapa bisa cantik gitu. Jantung gue kenapa deg deg kan kayak gini Ya. Itu baru fotonya gimana aslinya, eh tapi pas di pesantren dia ngga pakai hijab” ucap Rehan setelah Uminya keluar
“Ahhh, Apa hubungan dia sama Habib, kenapa bisa dia di jodohi sama gue, kayaknya dia suka sama Habib waktu itu. Gimana Ya, apa gue harus bilang sama Habib soal ini” Ucap Rehan dengan perasaan campur aduk dan juga bingung.
Di tempat lain Habib yang harus menggantikan Rehan mengajar santri putri.
“Eh Itu ustadz Habib”
“Astaga ganteng banget”
“eh dia ngapain ke sini bukanya dia ngga ngajar santri putri”
Ucapan para santri putri yang heboh dengan kedatangan Habib yang jarang Mereka liat.
“Ngga mau Lia males ih palingan dia ada urusan sama ustadz yang ngajar di kelas lain” ucap Imah malas untuk keluar.
“Ih kamu tu ya, kalau ngga Ada ustadz Habib mikirin dia, bahkan kamu selalu curi pandang kalau ngeliat ustadz ganteng itu dari jauh tapi sekarang dia bisa kamu liat dari dekat tapi kamu ngga mau, gimana sih” ucap Lia mengoceh dengan sikap Sahabatnya itu membuat Imah membulatkan matanya kemudian melihat sekelilingnya.
“Kamu itu bisa diam ngga sih, entar kalau ada yang dengar bagaimana” ucap Imah sambil memukul lengan Lia.
“Aduhh sakit, Kamu itu galak banget, gimana ustadz Habib bisa suka sama kamu coba” ucap Lia mengadu kesakitan karena di pukul.
“kamu bisa diam atau itu mulut perlu di lakban, ha” Ucap Imah mengancam.
Beruntung hanya mereka berdua yang berada di kelas itu karena teman temannya semua keluar melihat Ustadz Habib yang katanya ada di daerah santri putri.
Sejak pertama melihat Habib, imah memang sudah menyukainya tetapi dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya kecuali dengan sahabatnya Lia pasti dia selalu curhat, Lia dan Imah sudah menjadi sahabat sejak kecil jadinya wajar jika mereka tidak memiliki rahasia di antara mereka.
Saat Lia ingin berbicara lagi, semua teman kelasnya tiba tiba masuk dengan penuh bahagia, dan kemudian ustadz Habib punikut masuk ke dalam kelas itu.
“Astaga Imah, dia masuk ke kelas kita” bisik Lia kepada Imah yang duduk di sebelahnya.
Imah yang sangat bahagia sekaligus malu bertemu sedekat ini dengan orang yang dia sukai, apalagi dia dan Lia berada di bangku bagian depan tepat di hadapan meja tempat Habib .
“Assalamu’alaikum dan selamat pagi” ucap Habib saat berada di hadapan para santri putri.
“Wa’alaikumusalam ustadz” ucap para santri dengan penuh semangat.
“Astaga ngga tahan gue di sini, pengen keluar tapi harus ngajar gantiin si Rehan” batin Habib yang sudah dari tadi tidak merasa nyaman karena trus di perhatikan.
“Saya di sini akan menggantikan Ustadz Rehan untuk hari ini tidak bisa mengajar, jadi saya hanya akan memberikan soal yang harus kalian kerjakan dan di kumpul setelah jam pelajaran selesai” Jelas Habib kemudian menulis beberapa soal di papan tulis.
“Imah ternyata ustadz Habib lebih ganteng ya kalau di liat dari dekat” bisik Lia yang masih bisa didengar oleh Habib.
“Diam Lia nanti Ustadz dengar kamu mau di hukum” bisik Imah memperingatkan.
Bukan hanya mereka berdua bahkan santri yang lain pun membisikkan Habib sedari tadi. Habib yang sedang menulis di papan tulis berusaha menahan kekesalannya karena dia memang tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Kalian kerjakan soal ini, saya kasi waktu 1 jam kalau, selesai tidak selesai harus kumpul, dan jangan ada suara sedikitpun. Jika ada yang saya dengan bicara makan akan saya hukum berdiri di dekat pintu sambil mengangkat satu kakinya. Mengerti” ucap Habib dengan tegas dan membuat santri putri yang ada di ruangan itu pun diam dan mengerjakan tugas yang di berikan.
Imah yang sedari tadi menunduk karena tak berani menatap Habib semakin mengagumi Habib karena menurutnya Sikap Habib yang sangat tegas itu menandakan kesetiaan seorang laki laki yang baik.
............
Jangan lupa Vote, rate 5, like dan komen
Terima Kasih