
"Jadi ustadz Rehan mau nikah sama kak Aisyah" Tanya Lia pada Bima.
Mereka sedang berbicara di sebuah taman dekat pesantren. Karena kebetulan hari ini hari jumat jadinya para santri bebas keluar asalkan tidak lewat dari jam 8 malam.
"Iya, itu 3 minggu lagi. Gue engga bisa biarin sebenarnya tapi gue juga udah bingung mau ngelakuin apa" Ucap Bima.
"Kak Bima lakuin apa kek buat dapatin kak Aisyah, kan kita udah sepakan buat saling bantu dapatin orang yang kita suka" Ucap Lia membujuk Bima.
"Gue juga bingung Li, lo bantuin gue juga kek mikir apa gitu" Ucap Bima.
"Kakak dong yang mikir kan aku udah dulu kasi rencana buat misahin kak Aisyah sama ustadz Habib" Ucap Lia.
"Gue udah punya rencana, tapi lo juga harus bantuin gue" Ucap Bima setelah berpikir.
"Bantuin apa kak" Tanya Lia penasaran.
Bima pun memberitau rencananya dengan berbisik takut ada yang mendengar.
Keesokan Harinya.
Pagi ini karena Ar tidak ke kampus jadinya dia berencana untuk pergi ke pesantren menemui ustadz Rehan sekalian membawakan makanan yang dia masak tapi sebenarnya ini rencana mama nya supaya mereka bisa dekat dan lebih saling mengenal.
"Ma, Aisyah berangkat dulu. Assalamu'alaikum" Ar berpamitan pada mamanya.
"Wa'alaikumusalam, hati-hati" Teriak Bu Dar yang sedang berada di ruang keluarga sedangkan Ar sudah keluar.
"Aduh lupa kan, mobil masih di bengkel lagi. Terpaksa deh naik taksi" Ucap Ar kemudian keluar dari pekarangan rumahnya untuk mencari taksi.
"Mana sih taksinya engga ada yang lewat" Ucap Ar sambil melihat jalan.
Tapi tiba tiba ada mobil berhenti dan kemudian seorang pria bertopeng langsung menghampiri Ar dan membekap mulut Ar hingga dia pingsan.
Ar kemudian di bawa ke dalam mobil oleh pria tadi.
"Ar... " Teriak Anin yang kebetulan baru datang karena ingin datang menemui Ar.
Tapi dia terlambat karena Ar sudah di bawa oleh pria misterius itu.
"Brengsek, siapa orang itu, harus gue ikuti itu" Ucap Anin marah kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil pemculik Ar itu.
Anin mengejar mobil itu tapi tetap berusaha agar tidak di ketahui.
Mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah tapi nampak tak terawat dari luar, Anin yang sudah sadar tapi diikat dan di tutup mulutnya hanya bisa memberontak tapi kekuatannya yang lemah menjadikan dia tidak sanggup lepas dari genggaman tangan orang itu.
"Brengsek, lepasin. tangan kotor lo dari tangan gue" Ucap Anin tapi tidak jelas karena penutup mulutnya.
"Siapapun tolong gue, Ya Allah tolong kirim sesorang buat bantu hamba" Batin Ar memohon karena dia sangat takut.
Sesampainya di dalam rumah itu ternyata sangat indah dan megah, jika di lihat dari luar seperti bangunan tak berpenghuni tapi dalamnya sangatlah megah bahkan sangat bersih.
Ar dibawa ke sebuah kamar yang besar seperti kamar utama. Kemudian orang bertopeng itupun keluar dan meninggalkan Ar di sana tanpa membuka ikatannya.
"Ini rumah siapa dan kenapa gue dibawa kesini, apa salah gue sih" Batin Ar yang bingung melihat dirinya berada di tempat mewah seperti ini.
Biasanya orang di culik pasti di tempatkan di ruangan yang kotor tapi sekarang dia di culik dan di tempatkan di ruangan yang sangat mewah.
"Inikan seperti rumahnya...." Ucap Anin yang sudah sampai setelah mengukuti mobil yang membawa Ar.
"Astaga, engga mungkin dia yang menculik Ar" Ucap Anin tak percaya setelah memperhatikan rumah yang ia kenal.
Anin pun masuk untuk mencari Ar.
"Aku ingin ketemu sama Bima, tanya padanya kalau Nini sahabatnya ingin bertemu" Ucap Anin pada penjaga itu.
"Baik nona, Anda silahkan tunggu di sini" Ucap Penjaga itu kemudian masuk ke dalam rumah untuk bertemu Bima dan memberitaunya.
Ini adalah rumah Bima, dan dia juga yang menculik Ar.
"Tuan ada yang ingin bertemu dengan Anda" Ucap Penjaga itu melihat Bima hendak masuk ke kamar tempat Ar di sekap.
"Bilang ke orang itu suruh dia menunggu karena ada pekerjaan penting yang harus di lakukan" Ucap Bima kemudian masuk ke dalam kamar itu tapi dengan memakai topeng .
Ar yang melihat orang datang langsung merasa kaget sekaligus takut apalagi saat Bima mendekat.
"Kamu mau apa, dan siapa kamu" Tanya Ar dengan berteriak.
Bima tak peduli dengan teriakannya dan langsung membekap mulut Ar dengan kain yang sudah ia beri obat pembius.
"Gue bakalan buat Rehan benci sama lo, maafin gue Ar karena gue cuma engga mau lo di miliki sama siapapun" Ucap Bima kemudian memperbaiki posisi tidur Ar.
Bima menyelimuti Ar hingga batas lehernya sehingga nampak seperti orang yang tidak memakai baju.
Bima kemudian mengambil foto Ar dan dirinya yang seperti tidur bersama.
"Dimana tuan lo itu" Tanya Anin melihat penjaga itu keluar.
"Dia sedang ada pekerjaan penting jadi tidak bisa di ganggu" Ucap penjaga itu.
"Pekerjaan apa? gue udah tau kalau lo tadi yang menculik temen gue dan dia sekarang ada di dalam bersama tuan lo yang brengsek itu jadi biarin gue masuk atau gue bakalan telpon polisi melaporkan kalian atas dasar penculika " Ucap Anin mulai marah dan mengancam penjaga yang tadi menculik Ar.
Anin yang tau postus tubuh pemculik Ar sama dengan penjaga itu bahkan bajunya juga sama.
"Ternyata kamu sudah tua, baiklah kalau begitu kamu juga akan di sekap" Ucap penjaga itu kemudian memegang Anin.
Karena Anin pandai dalam bela diri jadinya dia pun dengan mudah mengalahkan penjaga itu hingga pingsang.
Di rumah ini. memang hanya ada 1 penjaga jadi mudah bagi Anin untuk masuk. Tempat ini juga merupakan tempat untuk Bima melakukan pertemuan rahasia dengan para anggotanya.
"Bima, Bim, Bima keluar lo pengecut" Teriak Anin.
Anin membuka satu persatu ruangan yang ada di rumah itu hingga dia membuka sebuah kamar yang ternyata ada Ar.
Brak
"******** lo Bim, apa yang lo lakuin ke Ar ha" Teriak Anin sangat marah melihat Bima yang sedang berbaring menarap Ar yang tak sadarkan diri.
"Kenapa lo bisa ada disini" Tanya Bima yang terkejut melihat Anin mendobrak pintu.
"Apa yang lo lakuin sama sahabat gue Bim" Tanya Anin sangat marah.
"Santai aja bro gue engga ngapa ngapain dia dan lo bisa liat aja sendiri dia masih utuh belum gue cicip" Ucap Bima santai kemudian membuka selimut Ar dan Ar benar masih memakai pakaian lengkapnya.
.........
Jangan lupa vote, rate, like dan komen
Dukungan kalian adalah penyemangat Author.
Terima Kasih