
"Sayangnya mama, kamu kenapa sih engga kabarin mama kalau kamu ke sini. Kemarin kita semua khawatirin kamu karena engga pulang" Ucap Bu Dar khawatir kemudian memeluk Ar.
"Iya ma, maafin Aisyah udah bikin kalian khawatir. Tapi sekarang lepasin dulu pelukan mama sesak ini" Ucap Ar berusaha melepaskan pelukan mamanya yang terlalu erat.
"Iya kan mama khawatin sama kamu" Ucap Bu Dar melepaskan pelukannya.
"Cerita sama papa kenapa kamu engga pulang setelah menemui Habib. Apa ada yang Habib katakan dan membuat kamu sedih" Tanya Pak Andi.
"Kenapa kamu diam Ar, kalau benar Habib yang buat kamu sedih kami sebagai sahabat bakalan balas dia" Ucap Arin yang di setujui oleh Anin dan Ajeng.
"Udahlah kalian engga perlu kayak gitu, lagian aku juga yang salah terlalu berharap sama Habib padahal dia engga suka sama cewek nakal kayak aku. Dia lebih memilih anak pesantren yang kebetulan salah satu muridnya yang di jodohkan orang tuanya" Jelas Ar berusaha tegar.
"Apa jadi Habib beneran terima perjodohan itu" Tanya Anin kaget.
"Iya" Jawab Ar singkat.
Ar tidak ingin memberitau kepada mereka apa saja yang Habib katakan apalagi ada orang tuanya.
"Kak Rehan" Ar baru sadar ada Rehan karena memang Rehan berada di belakang orang tua Ar.
"Iya" Ucap Rehan.
"Sayang, sebaiknya kita masuk ke dalam untuk bicara sekalian duduk" Ucap Pak Andi mengajak mereka.
Mereka pun berjalan masuk ke dalan vila.
"Aisyah mandi dulu ya, dari kemarin belum mandi" Ucap Ar tersenyum malu karena di sana ada Rehan.
"Pantas aja kayak ada bau engga enak ternyata dari badan lo" Ucap Ajeng berpura pura mencium bau.
"Iya bau ketek gitu dari tadi" Ucap Arin juga.
"Enak aja lo, gue engga mandi 3 hari juga masih wangi beda kayak lo bertiga engga mandi sehari udah bau ketek" Ucap Ar tak terima.
"Eh gue engga ikut ngejek lo ya, kenapa jadi gue yang kena" Ucap Anin protes karena dirinya juga di tunjuk oleh Ar.
"Iya deh Anin engga termasuk" Ucap Ar meralat ucapannya.
"Sudah kalian ini apa tidak malu di liatin tuh sama Rehan" Bu Dar menegur mereka yang sedang berdebat karena sedari tadi Rehan tersenyum melihat tingkah mereka.
"Ya udah Aisyah ke kamar dulu" Pamit Ar menuju kamarnya di lantai 2.
Setelah perginya Ar, mereka duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Pengurus vila sudah menyediakan minuman dan cemilan untuk mereka.
"Pa, mama masih penasaran apa yang Habib katakan pada Aisyah sampai bisa seperti itu" Ucap Bu Dar pada Pak Andi yang duduk di sampingnya.
"Sudahlah Ma, kita kan tau kalau Aisyah tidak akan cerita kecuali kita tanya langsung ke Habib tapi tidak mungkin juga kan" Ucap Pak Andi kemudian meminum kopinya.
"Biar kami aja om yang bicara sama Habib" Ucap Anin ikut bicara.
"Tidak usah, biar saya saja. Saya dekat dengan Habib jadi biar saya yang bicara baik-baik sama dia" Ucap Rehan melarang.
"Iya sudah Tante sama Om percayain itu sama kamu" Ucap Bu Dar setuju.
"Kalau gitu kami ke kamar Ar dulu ya tante Om, kak Rehan" Pamit mereka kemudian pergi ke kamar Ar.
"Om tante saya ke toilet dulu sebentar" Pamit Rehan juga.
"Den, toilet yang dibawah rusak dan masih dalam perbaikan jadi kalau mau ke toilet ke atas aja yang di dalam kamar tamu" Ucap Pengurus vila yang saat itu mendengar Rehan yang hendak ke toilet.
"Oiya pak, makasih" Ucap Rehan kemudian ke lantai atas.
"Ar cerita dong sama kita apa yang Habib bilang ke lo sampai engga pulang ke rumah dan malah ke sini menyendiri" Tanya Ajeng penasaran.
"Iya Ar, kami janji engga bakalan kasi tau siapapun tapi cerita sama kita siapa tau kita bisa bantu atau ngasih saran apa gitu" Ucap Arin juga penasaran.
"Iya nanti gue cerita" Ucap Ar sambil menyisir rambutnya.
Mereka sekarang berada di kamar Ar yang di vila. Bertepatan dengan Ar yang sudah selesai mandi mereka juga sudah ada di kamar Ar.
"Sekarang Ar, benar kata mereka. Setidaknya beban di hati lo sedikit berkurang setelah cerita sama kita sahabat lo" Ucap Anin juga membujuk Ar untuk bercerita.
"Kami janji" Ucap mereka kompak.
Ar pun menceritakan apa yang Habib katakan padanya, tidak satupun cerita terlewatkan dan di lebih lebihkan. Mulai dari alasannya pergi ke pesantren hingga tidak pulang ke rumahnya.
"Songong banget tuh si Habib, udah dapet yang dia suka terus lo di lupain gitu" Ucap Anin pada Ar.
"Gitu deh. Menurut kalian gue harus pakai Hijab atau tetap kayak gini dan relain Habib sama anak santri itu" Tanya Ar meminta saran.
"Jangan Ar, hijrah itu butuh persiapan yang sempurna bukan cuma karena seseorang apalagi buat Habib yang belum tentu nerima lo nantinya" Ucap Arin memberi saran.
"Iya benar kata Arin benar Ar, masih ada Rehan yang kayaknya dia bisa nerima lo dan bakalan bantu lo hijrah apalagikan sudah jelas Rehan mau nerima lo meskipun dia tau penampilan lo kayak gini" Ucap Anin membenarkan ucapan Arin.
"Iya gue setuju sama pendapat Arin yang baru aja bener selama hidupnya" Ucap Ajeng memulai lagi perdebatan.
"Mulut lo tu yang harus di benerin supaya kagak jelek orang mulu" Ucap Arin melempari Ajeng dengan bantal.
Ar dan Anin tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya yang selalu berdebat itu.
Di luar kamar Ar, tanpa mereka ketahui Rehan sedari tadi mendengar pembicaraan mereka mulai dari Ar yang menceritakan masalahnya hingga saat ini.
Saat Rehan baru dari toilet yang ada di kamar tamu tepat samping kamar Ar. Tak sengaja dia mendengar mereka bercerita dan menyebut nama Habib. Jadinya Rehan mendekati kamar Ar dan mendengarkan semuanya.
"Habib, kamu keterlaluan. Kamu akan menyesal mengatakan itu pada Aisyah" Batin Rehan.
Rehan kemudian turun ke bawah.
"Tante, Om. Rehan pamit dulu ada urusan mendadak dan sangat penting jadi maaf Rehan engga bisa nganter pulang" Ucap Rehan pada Bu Dar dan Pak Andi setelah berada di ruang tamu.
"Iya nak engga apa-apa, tapi kamu engga makan dulu sebelum pergi. Perjalanan juga jauh" Ucap Pak Andi.
"Engga usah Om, Rehan buru-buru soalnya. Rehan pamit dulu ya. Asslamu'alaikum" Pamit Rehan kemudian keluar dari vila.
"Kenapa dengan Rehan ya pah" Tanya Bu Dar heran melihat tingkah Rehan.
"Mungkin memang dia ada urusan penting Ma" Ucap Pak Andi santai.
Rehan melajukan mobilnya meninggalkan Vila.
"Ma, Pa. Kak Rehan kemana" Tanya Ar saat dia dan para sahabatnya turun dan berada di ruang tamu melihat Rehan sudah tak ada di sana.
"Tadi sih katanya ada urusan jadi harus balik ke pesantren" Ucap Bu Dar.
Sekitar 2 jam perjalanan Rehan pun sampai di pesantren. Dia turun dari mobilnya menuju ruang ustadz.
"Ustadz Habib" Panggil Rehan pada Habib yang baru saja ingin masuk ke dalam ruang ustadz.
"Iya ada apa ustadz" Tanya Habib.
"Bisa bicara sebentar" Ucap Rehan dengan nada dingin.
"Iya Bisa. Oiya ustadz kemarin dari mana saja baru datang hari ini" Ucap Habib ramah meskipun dia tau kalau Rehan adalah orang yang dijodohkan dengan Ar.
"Itu tidak penting ustadz, sekarang saya cuma mau bilang sama ustadz tolong jangan pernah bandingkan Aisyah dengan wanita mana pun karena itu sangatlah tidak pantas apalagi Anda yang seorang ustadz mengatakan itu" Ucap Rehan tegas sambil menunjuk Habib.
Habib sangat bingung melihat sikap Ustadz Rehan yang sudah di anggap sahabatnya ini tiba tiba mengatakan itu.
"Maksud ustadz Apa" Tanya Habib bingung.
"Jangan pura-pura ustadz, saya tau kalau kemarin Aisyah datang ke sini dan saya juga sudah tau semuanya yang ustadz katakan padanya" Ucap Rehan mulai kesal.
"Mulai detik ini saya tidak akan lagi membiarkan ustadz menyakiti Aisyah karena saya akan membuat dia mencintai saya dan melupakan ustadz selamanya. Sudah cukup dia menderita hanya karena cintanya pada ustadz" Ucap Rehan lagi masih kesal dan bahkan tidak memberikan kesempatan Habib untuk bicara.
"Saya pastikan ustadz akan sangat menyesal telah mengatakan itu pada Aisyah. Ingat itu ustadz ini bukan ancaman tapi benar akan terjadi pada orang yang telah menyakiti seseorang, Anda sebagai Ustadz pasti tau hal itu" Ucap Rehan tegas dan penuh penekanan.
............
Jangan lupa vote, rate, like dan komen.
Terima Kasih