
"Bi, Mi, Om, Tante. Boleh Rehan bicara sebentar sama Aisyah" Ucap Rehan saat kedua orang tua mereka sedang bahagia mendengar penerimaan Ar.
"Iya silahkan. Kalian perlu mengenal atau bisa di katakan taaruf dulu lah sebelum menikah" Ucap Pak Andi mengizinkan.
"Kami mau bicara di luar saja boleh" Tanya Rehan lagi.
"Kenapa bukan di sini saja biar kami sedikit menjauh kalau kalian butuh privasi berdua" Ucap Pak Bambang.
"Tidak perlu Bi. Kami mau bicara di luar saja" Ucap Rehan.
"Biarkan lah mereka, sudah kalian boleh bicara berdua" Ucap Pak Andi.
"Terima kasih. Ayo Syah" Ucap Rehan kemudian mengajak Ar keluar.
"Lo mau bicara apa Kak" Tanya Ar saat mereka sudah berada di satu meja di luar dari ruangan tadi, tepatnya tak jauh dari meja para sahabatnya Ar.
"Apa kamu serius mau menerima perjodohon ini" Tanya Rehan.
"Iya kak, gue serius" Ucap Ar.
"Bukannya lo suka sama Habib, ya meskipun jujur gue emang suka sama lo tapi kalau lo nerima perjodohan ini karena terpaksa itu engga baik juga" Ucap Rehan serius.
"Gue serius kak, gue udah pikir ini dari lama dan mungkin jodoh gue itu kakak jadinya Allah engga biarin gue sama Habib" Ucap Ar
"Kalau memang benar begitu gue seneng, tapi apa lo suka juga sama gue atau ...." Ucap Rehan menghentikan bicaranya.
"Untuk masalah suka atau engga bisa kita jalani dulu kak, karena biasanya cinta datang karena terbiasa bersama. Banyak orang yang di jodohkan tanpa dasar cinta tapi tetap bisa bahagia" Ucap Ar menjawab Rehan.
"Gue juga berharap gitu, dan gue seneng banget lo terima perjodohan ini" Ucap Rehan dengan senyum bahagianya dan di balas senyum juga oleh Ar meskipun tak sebahagia Rehan.
"Gue tau Syah, lo masih cinta sama Habib tapi gue yakin suatu saat nanti lo bisa cinta sama gue dan lupa sama Habib" Batin Rehan melihat Ar.
"Semoga keputusan gue ini adalah yang terbaik" Batin Ar.
"Aisyah, kamu sudah mau pulang atau masih mau bicara sama Rehan" Tanya Bu Dar yang tiba tiba datang di dekat Ar.
"Aisyah pulang sama Arin,Arin dan Ajeng aja Ma, kan mereka juga masih disini" Ucap Ar melihat Sahabatnya masih duduk dan juga melihat ke arahnya.
"Rehan juga pulangnya nanti aja Bi, sekalian ngikutin mereka pulang sampai rumah" Ucap Rehan pada Abinya padahal belum di tanya.
"Ya sudah tapi jangan pulang tengah malam" Ucap Pak Bambang pada Rehan yang di iyakan.
"Kalau gitu kami pulang dulu ya, Assalamu'alaikum" Pamit Orang tua
"Wa'alaikumusalam" Jawab mereka.
"Kak, kita gabung ke sana aja yuk supaya lebih seru" Ucap Ar mengajak Rehan gabung dengan sahabatnya Ar.
"Ya sudah Ayo" Mereka pun pergi ke meja tempat para sahabatnya Ar duduk.
"Cie kayaknya seneng banget kak" Ucap Ajeng menggoda Rehan yang memang terlihat bahagia setelah perjodohannya dengan Ar di resmikan.
"Iya jelas lah Jeng kan bentar lagi bakalan ada yang jadi calon pengantin" Ucap Arin juga menggoda mereka.
"Terima kasih ya" Ucap Rehan sedikit canggu berinteraksi dengan sahabat Ar.
Sedangkan Ar hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya.
Mereka pun duduk bersama dan makan malam sebagai perayaan resminya perjodohan Rehan dan Ar.
Di rumah Habib.
Habib yang baru pulang dari pesantren dan langsung memasuki rumahnya.
"Assalamu'alaikum" Salam Habib ketika memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumusalam, Habib tunggu sebentar Abi mau bicara" Ucap Pak Justin memanggil Habib yang hendak ke kamarnya.
"Ada apa Bi" Tanya Habib mendekati abinya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton tv.
"Apa kamu sudah tau kalau perjodohan Aisyah dan laki laki yang katanya bernama Rehan anaknya Pak Bambang itu sudah di resmikan" Ucap Pak Justin pada Habib yang duduk di sebelahnya.
Mendengar itu membuat Habib kaget dan tidak percaya.
"Abi tau dari mana, engga mungkin bisa secepat itu. Kemarin aja Aisyah sendiri yang bilang kalau dia tidak menerima perjodohan itu" Ucap Habib tak percaya
"Pak Andi sendiri yang bilang dan rekan bisnis kami juga sudah banyak yang tau, sebentar lagi katanya tangga pernikahan mereka akan di tentukan" Ucap Pak Justin.
"Habib ke kamar dulu Bi" Ucap Habib berdiri.
"Bib, Abi kan sudah bilang kalau kamu memang menyukai Aisyah bilang dari awal dan kalau masalah berhijab atau tidak kamu bisa mengajarinya setelah menikah bukan menunggu sampai dia hijrah dan akhirnya di lamar oleh orang lain" Ucap Pak Justin menasehati Habib yang sudah berdiri.
Habib hanya diam kemudian pergi ke kamarnya dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Aaaaaa, kenapa jadi seperti ini" Teriak Habib saat sudah memasuki kamarnya.
"Gagal semuanya" Ucap habib sambil memegang kotak kecil berwarna merah..
"Kenapa kamu menerima perjodohan itu Syah, kenapa kamu engga tunggu aku" Habib membuka kota yang berisi cincin putih dengan berlian di tengahnya.
"Padahal besok aku udah mau datang dan ngelamar kamu Syah. Aku baru sadar dan ingin melamar kamu supaya tidak ada yang merebut kamu dari aku tapi semuanya sudah terlambat" Habib membanting cincin itu ke kasurnya.
"Lo bodoh Bib, liat sekarang orang yang lo suka bakalan jadi milik orang lain. Lo sangat bodoh Bib" Habib marah dan kecewa pada dirinya sendiri.
Setelah kemarin Rehan datang dan menemui Habib, membuatnya sadar dan berencana akan melamar Ar sebelum Rehan benar- benar merebut Ar darinya tapi ternyata Rehan lebih dulu dan bahkan Ar sudah menerima perjodohan itu.
Bahkan cincin yang sudah lama Habib beli untuk Ar yang dia pesan jauh jauh hari baru sempat dia ambil tadi karena ingin melamar Ar besok.
Tapi tiba-tiba abinya tadi mengatakan kalau perjodohan itu sudah di resmikan dan tanggal pernikahan Ar akan di tentukan.
...........
Jangan lupa vote, rate 5, like dan komen
Terima Kasih