
"Assalamu alaikum Ma", ucap Ar ketika sudah masuk ke dalam rumahnya dan melihat Mamanya berada di ruang tengah menonton televisi.
"Wa alaikumusalam", jawab Mamanya Ar tapi Ar sudah tidak mendengar itu karena dia berlalu begitu saja ke kamarnya.
Melihat Ar seperti itu Mamanya langsung mengikuti anaknya karena dia tau kalau biasanya Ar pulang tanpa menyalaminya pasti anaknya itu ada masalah.
Ar yang sudah masuk ke kamarnya langsung merebahkan diri ke kasur dengan kesal dia memukul bantalnya, Ar berusaha menahan Airmatanya.
Pintu kamarnya terbuka dan Ar melihat Mamanya masuk langsung duduk. "Kamu kenapa sayang bukannya seharusnya kamu senang karena tadi Kamu bisa ketemu sama Habib?" Tanya mamanya Ar yang sudah duduk di kasur dengan Ar yang terlihat sedih.
"Ma...." Ar memeluk mamanya dengan air matanya yang memerah karena ingin menangis.
"Ada apa sayang? kamu kenapa sedih? apa Habib menyakitimu atau kamu melihat Habib jalan dengan perempuan lain" tanya mamanya Ar karena ngk biasanya anaknya itu bersedih, terakhir kali Ar bersedih seperti itu ketika Habib dan keluarganya pindah ke luar kota.
"Ma... Apa yang salah dengan pakaian ku" ucap Ar tanpa melepaskan pelukannya.
"Memangnya kenapa sayang, kenapa kamu bertanya seperti itu apa Habib mengatakan sesuatu", Ucap mamanya Ar binging dengan ucapan anaknya.
"Habib tidak suka melihat ku berpenampilan seperti ini Ma, padahal aku sudah berusaha untuk berpakaian dengan sopan bahkan berbeda ketika aku ke kampus, apa yang salah dengan penampilanku ini Ma", ucap Ar masih dengan posisi memeluk mamanya.
"Apa yang Habib mengatakan itu sayang?" tanya Mamanya.
"Iya Ma, Habib bilang kalau dia tidak suka melihat penampilan ku, dia bahkan tidak mau bicara pada ku, Habib tidak yang dulu selalu lindungi ku sekarang menjauhi ku Ma padahal Aisyah cuma pengen bicara sama Habib karena Aisyah kangen sama Habib Ma, Apa itu salah" ucap Ar yang sudah meneteskan Air matanya.
Mamanya Ar yang melihat putrinya sudah menangis berusaha untuk menenangkan putrinya, dia tau kalau anaknya itu sangat merindukan Habib karena saat dia tau Habib akan datang dia sangat senang waktu itu.
"Nak, sudah jangan menangis", ucap Mamanya Ar sambil mengelus pundak anaknya.
Ar melepaskan pelukannya dari Mamanya, "Lihat penampilan Aku Ma, apa aku kurang sopan dengan penampilanku saat ke rumah Habib", ucap Ar sambil berdiri dihadapan Mamanya.
"Aku udah pakai Rok panjang hingga Mata kaki, aku juga pakai baju lengan panjang dan itu juga tidak ketat Ma, kurang sopan apalagi. Mungkin kalau ke kampus aku selalu pakai pakaian ketat meskipun menutupi tubuhku tapi setiap aku bertemu Habib aku selalu memakai pakaian yang tidak ketat karena aku tau kalau dia seorang ustadz sekarang dan aku menghormatinya" ucap Ar dengan perasaan kesal bercampur sedih.
Mamanya menggeleng kepala mendengar ucapan Ar karena dia tidak sadar kalau dia belum menutup seluruh auratnya jadi Habib pun tidak suka dengan Hal itu.
Ar yang melihat dirinya di depan cerminpun berusaha untuk menilai dirinya dan, "Mah... Hijab, Aku tidak memakai Hijab. Apa karena itu Habib tidak mau melihatku" ucap Ar menyadari bahwa selama ini dia tidak pernah memakai Hijab bahkan semenjak bertemu pertama kali dengan Habib waktu itu di rumahnya.
Mamanya Ar tersenyum. "Sekarang kamu sudah tau kan, Habib itu seorang ustadz sayang, dia tidak suka memandang wanita begitu lama apalagi yang memperlihatkan Auratnya karena itu akan menjadi dosa bagi yang melihat dan memperlihatkan auratnya" ucap mamanya Ar menjelaskan.
Ar pun terdiam mendengar penjelasan Mamanya dan dia juga baru ingat bahwa dulu dia pernah bilang ke Habib kalau saat dewasa dia akan memakai hijab dan Habib juga pernah bilang kalau Ar memakai hijab maka dia akan menikahi Ar.
"Betapa bodohnya aku sampai melupakan itu, aku harus minta maaf kepada Habib karena sikap aku yang sudah kurang sopan padanya tadi", ucap Ar dalam hati.
"Tapi nak, kalau memang kamu belum siap untuk berhijab jangan di paksakan, jangan karena laki laki kamu melakukan itu tapi lakukan itu karena Allah" ucap mamanya Ar menasehati anaknya.
Setelah itu Mamanya Ar pun keluar karena anaknya sudah mulai tenang.
Sedangkan Habib yang sudah di pesantren dan sedang mengajar terlihat tidak fokus bahkan ketika salah santri putra yang bertanya kepadanya tidak ia dengar.
"Jadi Ustadz bagaimana hukumnya itu" tanya salah satu santi putra lagi ketika pertanyaannya tidak di dengar oleh Habib.
"Ustadz" panggil nya lagi.
"Eh iya, Maaf apa bisa di ulang pertanyaannya tadi", ucap Habib setelah kesadarannya datang karena tadi dia melamun memikirkan perkataan dan sikapnya terhadap Ar tadi, dia merasa bersalah tapi juga tidak bisa mengontrol emosinya ketika melihat Ar yang tidak menutup Auratnya.
Sebenarnya Habib tidak ingin Ar berdosa memperlihatkan auratnya dan juga Habib tidak ingin jika Laki laki lain melihat Auratnya Ar yang memang Habib akui bahwa Ar sangat cantik jadinya dia tidak rela ada laki laki lain yang melihat itu.
Santri Yang bertanya tadi pun mengulang pertanyaanya kemudian di jawab oleh Habib.
Setelah Habib selesai mengajar dia langsung berpamitan pulang.
............
Jangan lupa vote, like dan komen
Terima kasih