
"Hei tunggu" Panggil Bina kepada Ar yang baru saja keluar dari ruang kelasnya.
Ar pun terpaksa berhenti karena Bima sudah ada di dekatnya.
"Kenapa?" Tanya Ar cuek.
"Lo mau kemana?" Tanya Bima kembali.
"Bukan urusan lo" Ucap Ar kemudian berjalan kembali di ikuti para sahabatnya.
"Eh, gue belum selesai ngomong. Ingat janji lo tadi" Teriak Bima yang membuat Ar berhenti. Bima mendekati Ar
"Lo juga ingat kalau lo juga engga boleh ikut campur urusan pribadi gue" Ucap Ar menatap tajam Bima.
"Tapi lo juga engga boleh marah apalagi cuek kayak tadi" Ucap Bima tak mau kalah.
Ar terdiam karena memang tadi dia sudah cuek pada Bima.
"Lo udah engga ada kelas kan jadi gimana kalau kita makan bareng sekalian sama teman lo dan gue yang teraktir" Ucap Bima kemudian kepada Ar.
"Maaf, gue ada urusan penting dan engga ada waktu buat makan bareng" Ucap Ar menolak
"Tapikan lo harus tanda tangan ini surat perjanjian kita" Ucap Bima memperlihatkan map berisi surat perjanjian.
"Besok aja, gue ada urusan penting banget. ayo gays. Gue duluan" Ucap Ar pamit mengajak temannya pergi meninggalkan Bima.
"Permisi kak" Ucap Arin kepada Bima sambil tersenyum dan di balas senyum juga oleh Bima.
"Gays tadi kakak Bima senyum sama gue dan itu manis banget" Ucap Arin kepada para sahabatnya setelah mereka berada di parkiran.
"Lebay banget lo Rin" Ucap Ajeng.
"Bilang aja lo cemburu" Ucap Arin melihat wajah Ajeng yang memang kesal karena mereka sebenarnya bersaing secara sehat buat dapatkan hati Bima.
"Kalian berisik tau, ayo masuk ke mobil masing masing" Ucap Anin menegur Arin dan Ajeng yang mulai berdebat.
Mereka kemudian keluar kampus. Bima yang penasaran jadinya mengikuti mereka.
Sesampainya di tempat tujuan mereka, Ar dan sabahatnya turun dari mobil mereka masing masing.
Sementara Bima yang juga sudah berada di belakang mereka tadi juga sampai.
"Mereka ngapaian ke pesantren?" Gumam Bima saat melihat mobil Ar masuk ke pesantren.
Mereka memang ingin ke pesantren untuk bertemu dengan Kak Nia yang sudah janjian akan bertemu di pesantren karena kebetulan dia juga mulai di bagian administrasi di pesantren.
"Ar itu kayaknya mobil kak Bima deh" Ucap Ajeng saat mereka sudah turun dari mobil mereka.
"Ngapain sih tu cowok ngikutun samapai ke sini" Ucap Ar kesal kemudian mendekati mobil Bima yang berada di depan pesantren.
Melihat Ar mendekat Bima kemudian dari mobilnya.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Ar saat sudah berada di hadapan Bima.
"Ngikutin lo" Ucap Bima santai
"Ini bukan tempat nongkrong dan mending lo pergi deh jangan buat masalah di sini" Ucap Ar mengusir.
"Gue engga cari masalah, gue cuma nyari lo dan pengen akrab sama lo aja" Ucap Bima
"Gue ada urusan di sini dan laki laki engga boleh ikut karena ini urusan perempuan" Ucap Ar berusaha tenang.
"Gue tunggu lo disini sampai urusan lo selesai" Ucap Bima
"Gue disini sampai malam jadi sebaiknya lo pulang deh, kita bicara besok aja" Ucap Ar yang sebenarnya mulai kesal.
"Oke tapi lo janji besok" Ucap Bima senang.
"Iya udah sana pergi deh" Ucap Ar mengusir.
"Ok deh kalau gitu gue pamit. dah Aisyah" Ucap Bima masuk ke salam mobilnya.
"Panggil gue Ar, itu panggilan gue" Ucap Ar karena mendengar Bima menyebut namanya.
"Oke Ar dah" Ucap Bima kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Gue suruh pulang" Ucap Ar santai.
"Dia kenapa tadi?" Tanya Anin kepada Ar.
"Biasa kepo banget dia" Ucap Ar
"Ayo kita ke kak Nia" Ucap Ar lagi mengajak temannya.
"Siapa lagi cowok itu?" Batin Habib saat melihat Aisyah berbicara pada Bima.
Habib tadi kebetulan baru saja keluar dari ruang ustadz dan ingin ke parkiran untuk pulang karena jadwal ngajarnya sudah selesai melihat Ar berbicara dengan Bima.
"Aisyah... " Habib memanggil Aisyah yang hendak masuk ke gedung pengurus pesantren.
"Habib" Guman Ar.
"Itu kan Habib kenapa dia manggil kamu Ar biasanya kan dia engga suka liat kamu" Ucap Anin tidak suka melihat Habib.
"Syah, kamu ngapain ke sini?" Tanya Habib saat sudah berada di depan Ar.
"Aku mau nemuin kak Nia, urusan perempuan biasa" Ucap Ar dengan senyum dan Habib hanya mengangguk.
"Ngapain si lo dekati Ar lagi, bukannya dulu lo engga mau liat dia karena penampilannya yang engga syar'i" Ucap Anin sinis.
"Siapa Ar?" Tanya Habib tak mengerti siapa Ar yang di maksud.
"Itu nama panggilan aku Bib kalau sama teman" Ar yang menjawab.
"Ar ayo ke kak Nia pasti dia udah nunggu" Ucap Ajeng yang juga tidak suka pada Habib.
"Eh itu kak Rehan" Ucap Arin melihat Rehan yang berjalan ke arah mereka sambil melambaikan tangan yang di balas oleh Ar dan para sahabatnya.
Habib yang melihatnya hanya diam.
"Hay, kalian mau ketemu kak Nia?" Tanya Rehan saat sudah berada di dekat mereka.
"Iya kak" Jawab mereka bersamaan.
"Ya sudah ayo kak Nia ada di ruangannya kebetulan juga aku mau ketemu sama dia" Ucap Rehan mengajak mereka.
"Eh Bib katanya lo mau pulang?" Ucap Rehan melihat Habib yang hanya diam.
"Iya, Aisyah aku pulang dulu" Ucap Habib pada Ar.
"Kamu mau ke perusahaan Abi?" Tanya Ar yang tidak sadar menyebut Abinya Habib dengan sebutan Abi juga.
"Iya aku di suruh bantuin abi di sana kalau udah selesai ngajar?" Jawab Habib.
"Kamu manggil Abinya Habib dengan sebutan Abi juga Syah?" Tanya Rehan heran.
"Eh iya soalnya udah kebiasaan dari kecil kan memang aku sama Habib udah dekat jadinya sama orang tuanya juga udah dekat" Jelas Ar yang baru sadar dengan ucapannya tadi.
Rehan kesal dengan ucapan Ar yang secara langsung menjelaskan kedekatannya dengan Habib. Sedangkan Habib sangat senang dengan ucapan Ar dan melihat wajah kesalnya Rehan.
"Duluan ya Syah, semuanya Assalamu'alaikum" Ucap Habib kemudian pergi sana.
"Wa'alaikumusalam" Jawab mereka.
Setelah Habib pergi Ar, Anin, Arin, Ajeng dan Rehan ke ruangan kak Nia.
Di dalam mobilnya Habib sebenarnya tidak ingin pulang dan tidak rela juga jika Ar bersama Rehan.
"Gue kenapa engga rela banget kalau ngeliat Aisyah sama cowok lain, dan kenapa juga Aisyah pakai pakain seperti itu lagi" Ucap Habib yang memang melihat Ar tadi memakai pakaian yang biasa dia pakai ke kampus tapi dengan tambahan jaket tebal dan hijab pasmina yang hanya menutupi kepalanya Jemison dililitkan di lehernya.
"Siapa juga cowok tadi, kenapa sekarang Aisyah punya teman cowok? sejak kapan?" Banyak pertanyaan yang membuat Habib sangat penasaran.
..........
Jangan lupa vote, tip, rate, tambahkan ke favorite, like dan komen.
Terima Kasih