Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Ingin Akrab?



Sementara para Santri Putri mengerjakan tugas yang Habib berikan, dan merasa mereka sudah tidak lagi ada yang berbisik, Habib pun duduk di kursi dengan membaca buku berisi hadis.


Hampir 1 Jam berlalu para santri putri sudah selesai mengerjakan tugas yang Habib berikan.


Kring kring (suara bel)


“Karena waktu pelajaran hari ini sudah selesai jadi kalian bisa kumpul tugas kalian” ucap Habib setelah mendengar suara bel tanda selesai pelajaran.


“Kumpul dimana ustadz” ucap salah satu santri


“Kalian kumpul sama ini, siapa nama mu” ucap Habib sambil bertanya pada Imah


“Imah ustadz” jawab imah dengan perasaan bahagia karena pertama kali berbicara pada ustadz yang dia sukai.


“Iya kalian kumpul tugas kalian ke Imah dan kamu Imah bawa tugas teman kamu ke meja ustadz Rehan” ucap Habib


“ Iya ustadz” jawab Imah.


“kalau begitu cukup sekian pelajaran hari ini, Assalamu’alaikum” ucap Habib mengakhiri.


“Wa’alaikumusalam ustadz” jawab Santri serentak.


Habib keluar dari kelas itu dengan di ikuti para santri yang kembali memujinya dan saling berbisik membicarakan Habib.


“Ayo kita ke masjid siap siap ini udah mau shalat Asar” ucap Lia kepada Imah.


“hmmm, mulai deh” gumam Lia melihat Imah yang senyum senyum.


“woy, Ngga usah mikirin sampai segitunya juga Mah, mendingan sekarang kamu bawa itu tugas teman teman ke meja ustadz Rehan dari pada kamu senyam senyum disini kayak orang gila” ucap Lia sambil menarik Imah yang masih melamun.


“Ih kamu itu kenapa sih Li, bentar napa ngga usah tarik juga kayak gini” ucap Imah yang di tarik sambil memegang buku tugas teman teman mereka.


“Berhenti senyum Imah, kamu mau di kirang orang gila senyum terus kayak gitu” ucap Lia sambil berjalan dengan buku di tangannya.


“Iss kamu itu iri aja sama aku kan” ucap Imah melihat Lia di sampingnya.


“Cuma mau nasehatin, kamu jangan terlalu seneng kaya gitu ntar kalau kamu liat ustadz sama cewek lain pasti kamu sedih” ucap Lia serius.


“Iya sahabat ku yang baik. Aku bakalan ngontrol emosi supaya ngga terlalu baper tapi ngga janji yah” ucap Imah sambil tertawa.


Lia hanya menggeleng kepala dengan memutar bola matanya malas, sahabatnya ini dinasehati tapi dianggap bercanda.


Mereka sudah sampai di ruangan ustadz kemudian menyimpan buku buku itu di depan meja ustadz Rehan.


“Eh Li, ini meja ustadz Habib pasti” ucap Imah melihat meja dekat Meja Rehan.


“Iya itu kan kamu lia namany, yaudah ayo kita keluar. Kita harus ke masjid buat ngaji sambil nunggu waktu Asar” Ucap Lia menarik tangan Imah yang masih memperhatikan meja Habib.


Saat mereka keluar Habib yang juga saat itu mau masuk berpapasan dengan mereka.


“Assalamu’alaikum Ustadz” ucap Imah dan Lia bersamaan.


“Wa’alaikumusalam” ucap Habib kemudian masuk


Sementara Imah dan Lia ke arah masjid, “Ingat kamu harus jaga sikap depan ustadz jangan ganjen nanti dia ngga suka sama kamu” ucap Lia memperingati Imah yang menatap Ustadz Habib yang baru saja masuk masjid.


Mereka saat ini berada di dalam masjid untuk shalat Asar.


Di kamar Ar


“Papa sama Mama kenapa sih jodohin gue sama cowok yang ngga gue kenal, kenapa juga tu cowok mau aja nerima perjodohan ini. Awas aja kalau ketemu gue bakal bikin dia nolak” ucap Ar dengan penuh rencana.


“Aisyah, ayo turun nak. Kita shalat berjamaah sama sama” Suara mamanya yang teriak di bawah memanggil Ar.


“Iya Ma” Ucap Ar kemudian ke kamar mandi untuk berwudhu kemudian turun ke bawah untuk shalat berjamaah di masjid kecil rumahnya.


Jadi meskipun dia sedikit kesal tapi dia tidak akan mengambek seperti kebanyak perempuan. “Pa, pesanan Aisyah masih ada di kamar kalian kan” ucap Ar setelah shalat dan bersalaman dengan orangtuanya.


“Iya sayang, ada di kamar kamu ambil aja” ucap Pak Andi dengan senyum.


Dia bersyukur putrinya itu meskipun manja tapi dia tidak suka ngambek lama lama, seperti sekarang dia sudah mencari pesannya yang dia minta dari papanya.


“Iya udah Aisyah ambil dulu ya Pa, Ma” ucap Ar kemudian berdiri dari tempat shalatnya ke kamar orang tuanya.


Ar melihat kantong belanja dan membukanya satu persatu, di situ ada 5 kantong yang isinya beda beda. Ar memesan 3 sepatu yang dia inginkan, hiasan kamar, dan 2 kantong yang beruliskan nama mamanya yang berarti untuk mamanya tapi 1 kantong lagi tidak ada namanya.


Ar mengambil 3 kantong itu dan membawanya ke ruang keluarga tempat Papa nya sedang menonton tv.


“Papa… Makasih ini bagus banget pa dan banyak banget lagi” ucap Ar memeluk papanya yang duduk di sofa.


“Iya sayang” ucap Pak Andi senang melihat anaknya bahagia.


“Tapi pa, kantong ini untuk siapa” ucap Ar memperlihatkan kantong yang berisi baju.


“Itu baju buat kamu, Papa suka litany jadi papa beli karena menurut papa itu pasti cocok sama kamu” ucap Pak Andi sambil mengusap kepala anaknya.


“Kamu coba pakai deh” ucap Pak Andi lagi


“Nanti aja deh pa, Oiya mama mana” Ucap Ar mencari mamanya.


“Ada di dapur lagi masak” ucap Pak Andi yang kembali melihat tv.


“Ya udah aku mau ke kamar dulu pa, mau kerja tugas” ucap Ar berdiri.


“Kamu pakai baju itu bsk malam pas makan malam sama bersama keluarganya Om Bambang” ucap Pak Andi membuat Ar kembali duduk dan melihat papanya.


“Tapi Pa…” ucap Ar


“Ngga ada tapi tapian sayang, sana ke kamar mu katanya mau kerja tugas” ucap Pak Andi memotong ucapan Ar.


Di rumah Rehan.


Setelah Shalat berjamaah di rumahnya bersama keluarganya, Rehan yang tadinya ingin kembali ke pesantren mengurungkan niatnya karena masih merasa bingung dengan perjodohannya.


“Kenapa harus dia sih yang di jodohin sama gue, apa yang dia pikirkan tentang perjodohna ini setelah liat foto gue ya, kan waktu itu dia juga liat gue. Aduhhh pusing gue. Kenapa jadi mikirin ini sih” ucap Rehan sambil bangun dari kasurnya


"Apa gue minta nomernya aja sama Umi buat hubungin dia, tapi pasti Umi akan ngejek gue kalau gue minta nmrnya tu cewek, minta sama Habib pasti dia curiga dan gue juga belum bisa cerita sama dia" Rehan mondar mandir memikirkan cara untuk mendapatkan kontak Ar.


"Oiya, Abi pasti mau dan ngga bakalan ngejek kayak Umi" Ucap Rehan kemudian mencari Abinya.


Abi keluar kamar dan mencari Abinya yang berada di ruang keluarga dengan laptopnya yang dan berkas untuk bekerja.


"Abi... " ucap Rehan saat sudah ada di dekat Abinya


"Ada apa" Pak Bambang masih fokus pada kerjanya.


"Rehan mau minta nmr hpnya Aisyah" ucap Rehan dengan cepat


"Kamu minta nmr Aisyah anaknya pak Andi buat apa" tanya Pak Bambang sambil menatap anaknya curiga.


"Mau kenalan Pa, kan dia mau di jodohin sama Rehan jadi apa salahnya kalau Rehan minta kan kalau ketemu nanti ngga canggung lagi"Alasan Rehan.


"Nih, tadi kebetulan Pak Andi kasih, jadi kamu ambil tapi jangan macam macan dan jangan terlalu lama ngga baik" Ucap Pak Bambang memperingatkan kemudian memberikan kertas yang berisi nmr Ar yang Papanya berikan tadi.


.........


Jangan lupa vote, rate, like dan komen.


Terima kasih