Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Rencana Bima



Sesampainya di kelas Ar langsung mebanting tasnya, mahasiswa yang ada di salam kelas itu langsung kaget dan melihat Ar.


“Apa kalian liat, mau gue colok tu mata” Ucap Ar marah.


Mereka kemudian kembali melanjutkan kegiatannya karena tidak mau berurusan dengan Ar yang terlihat sangat marah.


“Ar lo kenapa sih marah-marah” Ucap Ajeng yang baru datang di ikuti Arin dan Anin.


“Kalian tadi dengar kan si cowok gila itu berani banget nyebut nama lengkap gue di depan umum” Ucap Ar kesal.


“Iya kita tau tapi lo bisa tenang kan, jangan lampiasin emosi lo kayak gini” Ucap Anin menenangkan Ar.


Di saat Ar berusaha menenangkan dirinya tiba tiba ada yang datang.


“Ar lo dipanggil Pak Iwan ke UKS” Ucap cowok yang baru datang itu.


“Ada apa?” Tanya Ar.


“Kak Bima pingsan tadi saat lo tendang dan dia sekarang ada di UKS dan sekarang lo dipanggil” Ucap cowok itu.


“Astaga Ar kak Bima sampai pingsan gara-gara lo tending tadi, kalau dia nuntut lo gimana Ar” Ucap Arin khawatir.


“Bodo amat, dia aja yang lemah kayak gitu aja langsung pingsan” Ucap Ar santai.


“Yang lo tendang tadi itu aset cowok dan itu ibarat kehidupan mereka” Ucap Anin.


“Udah gue mau ke UKS dulu” Ar pergi ke UKS diikuti para sahabatnya.


“Assalamu’alaikum” Salam Ar yang kemudian masuk ke dalam UKS tetapi Anin, Arin dan Ajeng hanya menunggu di depan ruangan.


“Wa’alaikumusalam” Ucap Pak Iwan yang ada di ruangan itu.


“Permisi pak, apa Pak Iwan panggil saya?” Tanya Ar saat masuk ke dalam UKS.


“Iya, kamu liat katanya ini kelakuan kamu yang menedang Bima sampai seperti ini” Ucap Pak Iwank sambil menunjuk Bima yang masih pingsan di atas tempat tidur.


“Iya Pak” Ucap Ar santai.


“Kamu tau, perbuatan kamu ini bisa saja sampai ke jalur hukum jika Bima melaporkan kamu dengan alasan kekerasan” Ucap Pak Iwan.


“Saya cuma membela diri pak, karena dia ini selalu menggangu saya jadi itu sangat mengganggu kenyamanan saya” Ucap Ar membela diri.


“Kamu ini sudah salah bukannya menyadari malah semakin membela diri” Ucap Pak Iwan.


Sementara itu Bima yang sebenarnya sudah sadar sedari tadi berusaha menahan senyumnya supaya tidak ketahuan berpura pura pingsan.


Tadi saat Bima dibawa ke UKS kebetulan pak Iwan melihat dan mengikuti hingga ke UKS.


“Bima kamu sudah sadar?” Ucap Pak Iwan melihat Bima yang sudah membuka matanya.


“Pak, Kenapa saya ada disini?” Tanya Bima pura pura.


“Tadi kamu pingsan dan di bawa ke sini sama mahasiswa yang melihat kamu, dan katanya kamu ditendang oleh Aisyah” Ucap Pak Iwan.


“Iya pak saya ingat, tadi saya di tendang sama dia” Ucap Bima sambil menunjuk Ar yang berada di dekatnya juga.


Ar terlihat masih santai meskipun melihat Bima yang pingsan karenanya.


“Pak saya mau menuntut dia kalau dia tidak mau tanggung jawab, karena yang dia tendang itu aset saya” Ucap Bima.


“Aisyah kamu dengarkan” Ucap Pak Iwan kepada Ar.


“Terus lo mau apa, mau laporin gue ke polisi?” Tanya Ar dengan santai.


“Engga, lo cuma perlu jadi teman gue dan janji engga bakalan kasar lagi sama gue” Ucap Bima.


“Ok” Jawab Ar singkat.


“Kalau gitu saya mau keluar” Ucap Ar hendak keluar.


“Tunggu gue belum selesai ngomong” Ucap Bima menahan Ar.


“Gue belum selesai ngomong, tanggung jawab lo itu berlaku selamanya dan kalau gue mau gabung atau mau bareng sama lo, lo engga boleh nolak dan …” Ucap Bima yang terhenti karena Ar.


“Bawel lo, gue setuju terserah lo asalkan jangan ikut campur masalah pribadi dan hidup gue” Ucap Ar dengan menatap tajam Bima.


“Ok, Pak Iwan jadi saksi kami dan besok gue bakalan buat surat perjanjian buat kita supaya lo engga lari dari tanggung jawab” Ucap Bima menatap Ar juga.


“Terserah lo, gue mau keluar karena gue ada kelas. Permisi Pak” Ucap Ar kemudian keluar dari tempat itu.


“Ar gimana?”


“Lo engga dilaporin ke polisi kan?”


Tanya Arin dan Ajeng yang heboh saat Ar keluar dari ruangan itu.


“Berisi lo berdua, gue engga apa apa?” Ucap Ar melihat 2 temannya itu.


“Terus apa yang terjadi Ar?” Tanya Anin.


“Gue Cuma di suruh tanggung jawab dengan bersikap baik sama dia” Ucap Ar santai kemudian berjalan ke ruang kelasnya.


Masih di UKS, Pak Iwan bertos dengan Bima.


“Makasih banyak om udah mau bantu Bima” Ucap Bima dengan senyum.


“Iya kamu kan sudah om anggap seperti anak sendiri jadi apapun yang bisa om bantu pasti om lakukan” Ucap Pak Iwan.


“Ya sudah kamu istirahat dulu, om ada urusan dulu” Ucap Pak iwan lagi kemudian keluar dari UKS meninggalkan Bima sendirian dengan senyum penuh bahagia.


“Akhirnya gue bisa dekat sama lo cewek jutek” Ucap Bima dengan senyumnya.


Flashback On


“Bima kamu sudah sadar” Ucap Pak Iwan khawatir.


“Om Iwan. Aduh…” Ucap Bima yang baru sadar dan merasa kesakitan di bagian area sensitifnya.


“Kamu jangan bergerak dulu” Ucap Pak Iwan menahan Bima yang ingin bangun.


“Kenapa Bisa seperti ini, kamu katanya ditendang sama Aisyah?” Tanya Pak Iwan.


“Iya om, om mau bantu saya?” Ucap Bima.


“Bantu apa?” Tanya Pak Iwank.


“Om nanti panggil Aisyah ke sini kayak salahin dia aja nanti aku akan pura pura masih pingsan om supaya nantinya aku bisa minta pertanggung jawaban sama dia. Aku bakalan jadiin ini kesempatan buat dekati dia om, bantuin saya om” Ucap Bima menjelaskan.


“Kamu ini benar – benar nakal, tapi nanti om bantu” Ucap Pak Iwank setuju.


Bima pun menejaskan apa yang harus omnya sekaligus dosen di kampus ini supaya membantu nya melakukan rencanya.


Flashback off


Sementara Ar dan para sahabatnya baru masuk ke kelasnya mendapat hukuman dari dosen yang lebih dulu masuk.


Ar dan para sahabatnya di larang masuk pada matakuliah dosen itu jadinya mereka pun ke kantin untuk makan karena Ar juga sangat lapar akibat kemarahannya tadi.


"Jadi lo bakalan bersikap baik dan bakalan terima dia dengan senang hati kalau gabung atau mau ketemu sama lo" Tanya Anin setelah Ar menceritakan kejadian di dalam UKS tadi.


Ar mengiyakan ucapan Anin sambil makan bakso di depannya.


"Jadi kak Bima yang ganteng itu bakalan sering gabung sama kita dong" Ucap Arin senang.


Ar hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Arin.


.........


Jangan lupa like dan komen


Terima Kasih