
"Pagi Ma, Pa" Sapa Ar kepada Mama dan Papanya yang sedang sarapan.
"Pagi sayang" Jawab Mereka.
Ar pun ikut sarapan bersama kedua orangtuanya.
"Ar nanti malam kita makan malam di luar sama keluarga om Bambang sekalian meresmikan perjodohan kamu sama Rehan" Ucap Pak Andi setelah menyelesaikan sarapannya.
Mendengar itu Ar sangat kaget bahkan di tersedak air.
"Sayang hati-hati minumnya" Ucap Bu Dar.
"Pah, kan Aisyah belum nerima perjodohan itu kenapa bisa di resmikan" Tanya Ar tak terima.
"Iya nanti malam kan kamu tinggal terima terus di resmikan, gampang kan?" Ucap Pak Andi santai.
"Pa, aku engga bisa Pa. Kan papa tau kalau Aisyah suka sama Habib jadi engga mungkin Aisyah terima perjodohan itu" Ucap Ar kesal.
"Habib mau di jodohin sama anak pesantren yang katanya itu adalah wanita impian Habib jadi tidak mungkin kalau dia mau sama kamu nak" Jelas Pak Andi.
"Engga mungkin Pa, Habib engga mungkin di jodohin dan kalau pun iya pasti dia nolak. Papa jangan sok tau kayak gitu" Ucap Ar berusaha tak percaya meskipun sebenarnya dia sangat sedih.
"Abinya sendiri yang bilang dan katanya Habib juga terima perjodohan itu. Kalau kamu engga percaya tanya langsung sana sama orangnya" Ucap Pak Andi serius.
"Nak, Benar kata papa kamu. Habib memang udah terima itu jadi kamu juga harus ikhlas dan menerima perjodohan kamu sama Rehan, mungkin memang Habib bukab jodoh kamu dan Rehan lah jodoh kamu sebenarnya" Jelas Bu Dar dengan penuh kasih sayang.
"Aisyah mau tanya dulu sama Habib kalau dia yang bilang langsung dengan menatap Aisyah baru Aisyah percaya, Aisyah pergi dulu Ma, Pa mau ketemu Habib" Ucap Ar sambil mencium tangan orang tuanya. "Assalamu'alaiku" Salam Ar.
"Wa'alaikumusalam" Jawab mereka.
"Pah, mama khawatir anak kita akan nekat nantinya. Kita kan tau kalau dia sudah lama suka sama Habib" Ucap Bu Dar khawatir melihar Ar kecewa.
"Dia itu anak yang tegar Ma, tidak mungkin dia melakukan hal bodoh hanya karena cinta" Ucap Pak Andi menenangkan karena di sangat tau anaknya yang memang akan bersedih tapi tidak akan melakukan hal yang merugikan siapapun termasuk dirinya.
Ar pergi meninggalkan rumahnya dalam keadaan sangat kecewa sekaligus masih tidak percaya dan kini dia menuju ke pesantren untuk menemui Habib.
Di pesantren
"Imah tunggu" Panggil Habib pada Imah yang lewat di depan ruang ustadz.
"Mah, ada ustadz Habib pasti dia mau nanya tentang perjidohan itu" Bisik Lia yang juga bersama Imah saat itu.
"Iya ustadz ada yang bisa saya bantu" Ucap Imah dengan sopan.
"Saya mau bicara tapi bukan di situ. Kamu ada waktu nanti sore kita ke cafe dekat sini sekalian kamu ajak teman kamu ini supaya tidak menjadi fitnah nantinya" Ucap Habib menunjuk Lia.
"Iya Ustadz bisa" Jawab Imah.
Sementara dari kejauhan Ar melihat Habib berbicara pada Imah dan itu semakin membuat Ar kesal, Dia mendatangi mereka.
"Habib" Panggil Ar dengan tatapan tajam.
"Aisyah, kamu ngapain ke sini" Ucap Habib heran karena hari ini kak Nia yang biasa jadi alasan buat Ar datang sedang cuti persiapan pernikahan kak Nia.
"Aku ke sini mau bicara berdua sama kamu" Ucap Ar sambil menatap Imah.
Imah yang di tatap seperti itu merasa tidak enak dan berniat ingin pergi.
"Ustadz kalau gitu saya pamit dulu" Ucap Imah hendak pergi.
"Tunggu Imah, kamu dan teman kamu engga usah pergi. Engga enak sama yang lain kalau liat kami bicara berdua jadi sebaiknya kamu temani kami di sini" Ucap Habib melarang.
"Kita sebaiknya bicara di dalam ruang Ustadz saja tidak enak kalau di liat sama santri yang lewat" Ucap Habib lagi kemudian mereka masuk ke dalam ruang ustadz yang kebetulan kosong karena mereka mengajar.
"Bib kenapa mereka harus ikut kan aku mau bicara sama kamu aja" Ucap Ar protes.
"Tapi kenapa harus mereka" Ucap Ar masih tak terima.
"Karena kan kebetulan mereka juga ada tadi" Ucap Habib santai.
"Kebetulan ataua kalian tadi baru selesai ngombrol" Ucap Ar mulai kesal.
"Tapi memang kami sempat ngombrol sih. Sudah lah Syah, memang ada apa kamu ke sini bicara cepat karena aku mau ngajar juga" Ucap Habib heran sekaligus kesal juga pada Ar yang terlalu cerewet.
Imah dan Lia yang mendengar pembicaraan Ar dan Habib hanya bisa diam tak ingin ikut campur meskipun Imah sangat cemburu melihat itu dan Lia yang kesal melihat sikap Ar.
"Apa benar kamu di jodohin sama anak pesantren" Tanya Ar
"Iya" Jawab Habib singkat.
"Siapa dia Bib, dan apa benar kata papa kalau kamu menerima perjodohan itu" Tanya Ar lagi.
Mendengar pertanyaan Ar membuat Imah kaget dan juga khawatir kalau sampai Ar tau kalau yang di jodohkan sama Habib itu ada lah dirinya pasti Ar akan sangat marah.
"Li, kita keluar aja yuk. Takutnya kak Aisyah ngamuk" Bisik Imah.
"Eh tunggu dulu kita liat dulu ini, dia engga mungkin juga ngamuk di sini" Ucap Lia masih tak ingin pergi.
"Jawab Bib" Kesal Ar melihat Habib yang diam.
"Kayaknya ini bisa jadi alat buat Ar berubah dengan berpura pura menerima perjodohan ini, eh tapi dari mana Papa Andi tau? ah bodo amat yang penting bisa bantu lancarin rencanaku" Batin Habib.
"Sama Imah, itu di belakang kamu dan ya aku memang menerimanya" Ucap Habib santai.
"Engga mungkin dan dia. Kamu di jodohin sama dia itu engga mungkin kamu terima karena aku tau Bib kalau kamu sukanya sama aku" Ucap Ar sambil menunjuk Imah.
"Sejak kapan aku bilang gitu? dan apa salahnya juga kalau aku terima. Imah berhijab, anak pesantren, cantik, baik, lemah lembut dan shalehah pastinya dan dibanding kamu" Ucap Habib membandingkan.
"Kan aku pernah bilang sama kamu kalau aku maunya nikah sama cewek shalehah dan berhijab, ya kayak Imahlah" Ucap Habib lagi.
"Bib, Terus maksud kamu kemarin perhatian bahkan mau ikut aku jalan sama Bima apa kalau kamu engga suka sama aku" Ucap Ar yang sudah sangat kesal karena baru kemari. Habib bersikap baik padanya.
"Kita kan udah kayak keluarga Syah jadi wajar kalau aku jagain kamu kayak kecil dulu" Ucap Habib.
"Aku juga pernah bilang sama kamu kalau sebaiknya kamu berhijab kalau mau nikah sama aku tapi kamu sampai sekarang engga ada tuh berarti kamu memang engga ada niatkan buat jadi istriku" Jelas Habib kepada Ar yang masih diam karena berusaha menahan emosinya. "Juga kamu udah di jodohin sama Rehan kan" Ucap Habib lagi.
"Dari mana kamu tau itu" Tanya Ar karena dia belum pernah cerita itu pada Habib.
"Dari Abi yang di kasi tau sama Papa" Jawab Habib.
"Iya itu memang benar tapi aku belum jawab dan itu juga belum resmi" Ucap Ar.
"Syah aku harus ngajar jadi sebaiknya kamu pulang dulu nanti kita bicara lagi" Ucap Habib sambil melihat jamnya.
"Tapi Bib," Ucapan Ar terpotong.
"Besok kita bicara lagi Syah, Assalamu'alaikum" Ucap Habib meninggalkan Ar di ruangan itu.
"Kak, kami pamit juga ya" Ucap Imah dengan sopan sekaligus merasa tak enak hati.
Ar hanya diam, kemudian meninggalkab ruangan itu juga dalam keadaan marah.
..........
Jangan Lupa Like dan Komen
Terima Kasih