Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Terlalu Kecewa



Mereka pun ke kamar setelah shalat.


"Ar jadi gimana nanti kalau keluarga kak Rehan datang apa lo bakalan terima atau nolak" Tanya Anin saat mereka sudah di dalam kamar Ar.


"Gue juga masih bingung Nin" Ucap Ar duduk dengan memangku bantal.


"Gue saran ya Ar sebaiknya lo terima deh dari pada ngarepin Habib yang ngeselin itu" Ucap Ajeng memanas-manasi.


"Iya gue juga setuju kalau lo sama kak Rehan yang lebih baik menurut gue" Ucap Arin juga.


"Gue masih sayang sama Habib masalahnya, meskipun dia udah buat gue sedih tapi gimana perasaan engga bisa di paksa juga" Ucap Ar.


"Lupain Habib, Ar. Apa lo engga dengar dia sendiri yang bilang kalau dia udah nerima perjodohannya dengan santri itu jadi apa yang lo harapkan dari dia" Ucap Anin yang berusaha menyadarkan Ar kalau Habib itu tidak baik untuknya.


"Gue mau pastikan lagi besok kalau Habib bilang kayal gitu lagi atau dia udah engga peduli sama gue maka gue bakalan nerima perjodohan ini juga" Ucap Ar


"Apa lagi yang lo pastiin sih Ar, jelas-jelas kata dia yang kemarin itu udah keterlaluan dan jelas banget dia engga peduli sama lo bahkan sampai sekarang dia engga berusaha buat ngehubungin lo buat sekedar nyari kabar kalau memang dia bersalah" Ucap Ajeng yang kesal sendiri melihat sahabatnya keras kepala dan gila dengan cintanya pada Habib.


"Udah Jeng, biarin dia buktikan besok" Ucap Anin membiarkan Ar kembali membuktikan perasaannya pada Habib besok.


"Kalian dari pada bahas itu mending kita tidur. Gue udah ngantuk banget nih" Ucap Arin yang sudah nyaman dengan guling yang dia peluk dan berbaring di kasur.


Mereka pun ikut berbaring, dengan Arin dan Ar di kasur atas sedangkan Ajeng dan Anin mengeluarkan kasur dari bawah kasur Ar.


Ke esokan harinya.


"Pagi tante, om"


"Pagi Ma, Pa" Sapa mereka ketika sudah berada di ruang makan.


"Pagi" Jawab Pak Andi dan Bu Dar.


"Ayo sarapan dulu" Ajak Bu Dar.


"Engga usah Ma, kami buru- buru ke kampus soalnya ada kuliah pagi jadi engga keburu kalau sarapan" Ucap Ar menolak.


"Iya sudah kalian bawa aja nih bekal bisa kalian makan di jalan" Ucap Bu Dar memberikan kotak bekal berisi roti selai untuk mereka.


"Iya udah makasih Ma, Assalamu'alaikum" Ucap Ar kemudian menyalami orang tuanya.


"Makasih tante, Om kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum" Ucap 3A.


"Wa'alaikumusalam, Hati-hati" Ucap Pak Andi dan Bu Dar.


Mereka pun berangkat ke kampus, mereka memang ada kelas pagi jadinya mereka datang lebih awal dari biasanya.


Sesampai di kampus mereka langsung turun dari mobil Ar karena Ar yang meminta untuk mobilnya saja yang di bawa supaya lebih irit.


"Pagi Ar" Sapa Bima yang sudah berada di hadapan Ar.


"Pagi kak" Jawab Ar cuek.


"Ar lo kemana aja sih dari kemarin gue telponin engga di jawab" Tanya Bima yang pura-pura tidak tau masalah Ar padahal dia sudah di beri tau oleh Lia dan Imah tentang apa yang Habib katakan pada Ar.


"Liburan" Ucap Ar singkat.


"Liburan engga ngajak sih Ar, kan kita bisa pergi bareng dan pasti seru" Ucap Bima mengikuti Ar yang sudaj berjalan ke arah kelasnya.


"Nanti kita bicara lagi kak. Gue ada kelas pagi" Ucap Ar kemudian menjauh dari Bima.


"Dah kak Bima" Ucap Arin dan Ajeng mengapa Bima.


Bima hanya tersenyum ke arah mereka yang berjalan jauh darinya.


"Sebentar lagi lo akan jadi milik gue Ar, gue pastiin satu persatu penghalang bakalan pergi" Batin Bima tersenyum licik.


"Ar tunggu" Panggil Bima saat melihat Ar sudah keluar dari kelasnya.


"Ar kita ke cafe yang dekat kampus yuk. Katanya ada menu cake dan minuman baru di sana. Gue teraktir kalian deh hari ini, kalian juga bisa ikut" Ucap Bima setelah berada di dekat Ar.


"Maaf kak, Gue ada urusan dulu jadi lain kali aja" Ucap Ar menolak.


"Ihh Ar terima aja, jarang banget kita di traktir sama cowok ganteng kayak kak Bima ini" Ucap Ajeng yang di setujui oleh Arin.


"Iya udah deh tapi sebentar aja" Ucap Ar setuju.


Mereka pun ke cafe dengan menggunakan mobil mereka.


Di cafe.


"Maaf ya,baru kali ini saya sempat ada waktu setelah kemarin batal untuk ketemu" Ucap ustadz Habib kepada Imah dan juga ada Lia di sana.


"Iya ustadz engga apa-apa" Ucap Imah dengan menunduk menyembunyinya wajahnya yang sudah memerah karena senang bisa bertemu seperti ini dengan orang yang dia sukai.


"Jadi langsung aja ya, saya tidak bisa berbasa basi jadi untuk masalah kemarin saya benar-benar minta maaf" Ucap Habib.


"Iya tidak apa-apa ustadz saya mengerti" Ucap Imah masih menunduk.


"Ok jadi maksud saya ke sini mau bilang ke kamu kalau masalah perjodohan kita itu saya benar benar minta maaf karena tidak bisa menerimanya. Bukan karena kamu tidak cantik atau apapun itu tapi saya tidak mencintai kamu, dan saya tidak bisa menikah dengan orang yang tidak saya cintai" Jelas Habib yang membuat Imah dan Lia yang mendengar itu langsung kaget.


"Tapi kemarin ustadz bilang ke kak Aisyah kalau ustadz menerimanya" Ucap Imah masih tak percaya.


"Maaf kalau masalah itu saya hanya ingin membuat Aisyah sadar dan berubah menjadi lebih baik atau bisa di katakan supaya dia cemburu dan membatalkan perjodohannya juga dengan ustadz Rehan" Ucap Habib jujur.


"Maaf ustadz saya permisi ke toilet dulu" Ucap Lia menghentikan pembicaraan mereka.


"Saya tau kamu juga kecewa dan merasa di tipu tapi saya betul-betul minta maaf dan saya harap kamu mengerti" Ucap Habib.


"Iya ustadz kalau memang itu keputusan ustadz saya juga tidak masalah" Ucap Imah berusaha menyembunyikan kecewanya di balik senyum.


"Terima kasih kamu sudah mengerti semoga kamu bisa dapat yang lebih baik lagipun kamu juga masih sekolah dan masih panjang perjalanan mu" Ucap Habib tersenyum dengan mendengar perkataan Imah.


Disaat itu Ar dan sahabatnya termasuk Bima melihat Habib yang senyum dengan Imah.


"Pas banget waktunya" Batin Bima.


"Ar itukan Habib" Ucap Arin menunjuk Habib yang belum menyadari kehadiran mereka.


"Kita pulang sekarang, maaf kak lain kali saja kita ke sini" Ucap Ar kemudian pergi begitu saja dari cafe itu.


Bima tak menahannya karena rencananya sudah terlaksana.


Sahabat Ar pun ikut keluar dari cafe itu mengejar Ar yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ar lo kenapa" Tanya Anin melihat Ar yang terdiam.


"Gue bakalan nerima perjodohan itu, apa yang gue liat tadi udah jadi bukti kalau Habib memang udah engga peduli sama gue" Ucap Ar masih mematap lurus.


*Apakah mencintaimu sebuah kesalahan hingga aku harus di hukum dengan rasa sakit yang mungkin tak memiliki obat untuk menyembuhkannya. Ar


Aku mencintaimu sebesar biji mangga dan kamu mencintaiku hanya sebesar biji kacang.


Aku kecewa untuk ke sekian kaliannya dan aku pun menyerah*.


.............


Jangan lupa vote, rate, like dan komen.


Terima Kasih