Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Resepsi



"Masya Allah menantu Umi cantik banget" Puji Umi kepada Aisyah yang baru turun dari tangga dengan menggunakan gaun berwarna biru yang sangat indah.


"Makasih Umi" Ucap Ar tersenyum.


"Ayo Sayang, suami kamu suami kamu sudah menunggu di mobil" Ucap Bu Dar.


"Ajeng, Anin sama Arin kemana Ma" Tanya Ar karena sahabatnya tidak terlihat.


"Mereka baru aja pergi ke lokasi, katanya mereka bakalan menyambut kalian di sana" Jawab Bu Dar.


"Ya sudah kita berangkat aja sekarang" Ucap Bu Ani


Mereka pun keluar dari rumah Ar, di mobil sudah ada Habib yang duduk menunggu.


"Kamu semobil sama suami kamu ya sayang" Ucap Bu Dar ketika sudah ada di dekat mobil Habib.


"Iya Ma" Ucap Ar kemudian masuk ke dalam mobil.


Ketika masuk ke dalam mobil Habib tersenyum melihat Ar dan Ar pun membalas senyum Habib.


"Kita berangkat sekarang tuan" Ucap Sopir yang menyupiri mereka berdua dan Habib pun mengiyakannya.


Di mobil lain ada Umi dan Mamanya Ar yang mengikuti dari belakang. Selain 2 mobil itu ada 1 mobil lagi yang mengikuti mereka yaitu para penjaga untuk mengawal mereka hingga tempat acara karena semua orang pun sudah ada di lokasi.


Tak ada pembicaraan hingga mereka sampai, Ar dan Habib hanya diam dan terlihat canggung. Bahkan mereka duduk pun tak seperti pasangan suami istri yang akan berdekatan.


Beruntung jarak antara hotel dan rumah Ar tidak terlalu jauh jadi setelah 30 menit perjalanan mereka sampai dan sudah banyak yang menyambut mereka.


Habib pun keluar lebih dulu dan berdiri di samping mobil menunggu Ar keluar, setelah Ar keluar dengan sopir yang membukakan pintu untuknya.


"Kirain dia yang bakalan bukain pintu" Batin Ar berharap.


"Ar... Lo udah tau kan sikap dia jadi engga usah berharap deh" Batin Ar lagi setelah keluar dari mobil dan berdiri di samping Habib.


Tanpa di sangka Habib memegang tangan Ar dan menggandengnya, perlakuan Habib yang tiba-tiba itu membuat Ar kaget dan juga senang melihat tangannya di gandeng oleh orang yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Dengan penuh senyuman mereka melangkah masuk ke dalam hotel dengan disambut banyak orang.


Pintu yang mereka lewati ini memang khusus untuk menuju tempat acara jadi hanya tamu undangan yang bisa melihat kedatangan mereka dan sekaligus menyambut mereka.


Tempat resepsi berada di lantai 1 tepatnya di sebuah ruangan yang sangat luas dan tamunya pun sangat banyak diantaranya para rekan bisnis orang tua mereka dan teman kampus Ar dan Habib yang ada beberapa mereka undang.


Pujian untuk mereka tak henti-hentinya terdengar, kecantikan dan ketampanan Habib membuat mereka terlihat sangat serasi.


Sesampainya di tempat duduk mereka yang sudah seperti singgasana raja dan ratu itu mereka langsung duduk dan melihat tamu mereka yang duduk dengan meja dan kursi yang di sediakan.


Acara berlangsung sangat meriah, kini waktu istirahat dan para tamu bisa memberi selamat sekaligus berfoto bersama sang pengantin.


"Kamu udah capek" Tanya Habib kepada Ar setelah menyambut beberapa tamu.


"Engga sih, cuma bosen aja di sini terus. Aku pengen kita jalan aja gitu untuk menyambut tamu" Ucap Ar.


"Ya udah, Ayo" Ucap Habib memegang tangan Ar.


"Eh mau kemana" Tanya Ar.


"Katanya mau nyambut tamu langsung" Jawab Habib"


"Emang boleh" Tanya Ar lagi


"Ini pernikahan kita jadi apapun boleh"Jawab Habib kemudian membawa Ar menuju para tamu mereka.


Mereka pun mendatangi meja para tamu satu persatu dan berfoto bersama. Ar tak henti-hentinya tersenyum untuk menyambut tamu mereka yang sangat banyak itu.


"Kamu engga punya teman atau sahabat gitu, kok aku engga pernah liat kamu sama sahabt kamu" Tanya Ar saat mereka sedang berjalan menyambut tamu mereka yang memberi selamat.


"Punya, tapi mereka lagi keluar negeri" Jawab Habib.


"Ayo kita kembali ke tempat duduk kita, engga baik juga selalu berjalan seperti ini" Ucap Habib, dan tanpa menunggu persetujuan dari Ar Habib langsung memegang tangan Ar dan menbawanya ke tempat duduk mereka.


"Aku masih pengen di sana, kenapa kita ke sini lagi" Ucap Ar.


"Aku belum nyambut teman-teman kampus Aku" Ucap Ar.


"Nanti mereka juga ke sini, lagian udah ada orang tua kita dan juga sahabat kamu yang nyambut mereka" Ucap Habib.


"Katanya tadi apa aja boleh" Ucap Ar.


"Kan udah jadi engga usah bawel" Ucap Habib.


"Nyebelin banget sih, untung sayang" Ucap Ar dengan suara pelan yang hampir tak bisa di dengat tapi Habib mendengarnya dan tersenyum melihat Ar yang sedang cemberut.


"Engga usah di manyungin tuh mulu, kalau mau di sun langsung bilang ada jangan ngode" Ucap Habib tertawa.


"Ihhh apaan siapa juga yang ngode" Ucap Ar mengelak


"Lagian kamu ini mesum juga ternyata" Ucap Ar.


"Mesum sama istri kan engga apa-apa" Ucap Habib tersenyum.


Ar hendak membalas ucapan Habib tapi terhentikan karena ada tamu lagi yang ingin bersalaman dan berfoto bersama.


Sekitar 2 jam acara berlangsung para tamu pun sudah banyak yang pulang, kini hanya keluarga besar mereka saja yang memang sebagian ada yang menginap di hotel itu.


Ar pun kini sedang berbicara dengan sahabatnya sementara Habib berbicara dengan para bapak-bapak yang masih belum pulang dan ibu-ibu pun berkumpul di lain tempat.


"Ar kenapa lo engga ngadain pelemparan bunga gitu, kan biasanya ada acara kek gitu kalau pengantin" Tanya Arin.


"Sengaja, karena bunga ini mau gue kasi langsung ke salah satu dari kalian" Ucap Ar.


"Kasih aja ke mereka berdua, kalau gue udah bilang belum mau nikah" Ucap Anin.


"Padahal gue mau kasi ke Lo Nin" Ucap Ar.


"Tapi nanti deh tunggu Habib dulu biar ngasihnya sama gitu jadi nanti kita pilih diantara kalian dan kalau Habib maunya ngasih ke Lo Nin berarti Lo yang nerima" Ucap Ar.


"Gue sih mau nerima aja Nin kalau dikasi mah, anggap rejeki" Ucap Ajeng


"Iya tuh gue juga mau nerima kalau di kasih" Ucap Arin juga.


"Tuh Ar, kasi gih ke mereka aja" Ucap Anin.


"Jadi bunganya mau di kasi ke siapa" Tanya Habib yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.


"Aku sih maunya ngasih ke Anin, kalau kamu gimana" Tanya Ar pada Habib.


"Ya udah kasih aja" Ucap Habib.


"Nah kan, Ini Nin Lo yang terima bunganya" Ucap Ar sambil menyerahkan bunga penganting kepada Anin.


"Kasi ke mereka aja deh Ar" Ucap Anin.


"Gue engga mau nerima kalau yang di kasi dari awal itu Lo Nin" Ucap Arin menolak.


"Gue juga engga mau nerima, kan itu buat lo" Ucap Ajeng juga.


"Ya udah deh gue terima"Ucap Anin terpaksa.


"Semoga cepat menyusul Nin" Ucap Ar tersenyum.


"Hmmmm" Jawab Anin.


Anin pun di tertawakan oleh para sahabatnya karena melihat muka Anin yang terlihat bete dan Habib ikut tersenyum tapi bukan karena Anin melainkan karena melihat Ar tertawa.


"Bidadari surgaku" Batin Habib sambil memandang Ar.


.............


Jangan lupa vote, rate 5, like dan komen.


Terima Kasih