
"Habib ayo makan dulu nak, udah di tunggui tuh sama Abi" Ucap Umi nya Habib sambil mengetok pintu kamar Habib.
Karena tak ada jawaban dari Habib jadinya bu Anggun Uminya Habib pun masuk ke dalam kamar Habib.
"Astagfirullah" Ucap Bu Anggun melihat kamar Habib berantakan.
"Umi ngapain di kamar Habib" Habib baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Seharusnya umi yang nanya kenapa kamar kamu bisa berantakan kayak gini Bib" Ucap Bu Anggun karena melihat kamar Habib begitu berantakan dan kotor.
"Tadi Habib main lempar barang Mi jadinya berantakan kamarnya. Nanti juga Habib beresin" Ucap Habib santai sambil memilih baju.
"Kamu ini kayak anak kecil main lempar barang. Atau karena berita perjodohan Aisyah jadinya kamu marah dan berantakin kamar kamu kayak gini" Ucap Bu Anggun curiga.
"Udah umi turun aja nanti Habib turun juga setelah pakai baju" Ucap Habib tak mengacuhkan ucapan Uminya.
"Habib Habib, kamu jangan selalu putus asa dulu kan pernikahaan mereka masih lama bahkan tanggalnya saja belum di tentukan jafi kamu masih punya kesempatan kalau memang kamu serius sama Aisyah" Ucap Bu Anggun sambil membereskan barang-barang Habib yang sudah berserakan di lantai.
"Meskipun mereka mau ijab kabul tapi Allah berkendak lain maka itu akan batal jika memang dia jodoh kamu" Ucap Bu Anggun lagi.
"Ya sudah kalau gitu Umi ke bawah dulu. Jangan lupa beresin ini yang masih berantakan" Ucap Bu Anggu kemudian keluar dari kamar Habib.
"Benar juga ya, apa kata Umi. Besok gue coba buat ketemu sama Aisyah dan bilang semuanya. Semoga Aisyah masih bisa ngasih satu kesempatan buat gue" Ucap Habib memikirkan perkataan Uminya tadi.
Keesokan Harinya.
Selesai sarapan seperti biasa Habib berpamitan ke pesantren.
Sesampainya di pesantren Habib bertemu dengan Rehan.
"Assalamu'akaikum Ustadz" Sapa Rehan pada Habib.
"Wa'alaikumusalam" Habib menjawab salam.
Hanya itu kata yang mereka keluarkan saat bertemu setelah perdebatan kemarin.
Mereka tidak bermusuhan tetapi lebih memilih saling diam untuk kebaikan bersama. Tapi tetap meskipun mereka saling diam tak pernah melupakan kewajiban di pesantren ini setiap bertemu harus saling mengucapkan salam.
"Gimana caranya gue bisa ketemu sama Aisyah bahkan nomer Hp nya aja gue engga tau" Gumam Habib setelah berada di ruang ustadz.
"Sudah lah, gue ke kampusnya aja nanti setelah ngajar" Ucap Habib mengambil buku kemudian menuju kelas tempat iya akan mengajar.
Setelah shalat dhuhur Habib langsung menunju ke kampus Ar.
"Ar jadi lo udah lupain Habib nih atau masih suka sama dia" Tanya Arin ketika mereka berada di kantin sedang makan siang setelah shalat tadi.
"Gue... " Ucapan Ar terhenti saat Bima datang dan duduk di depannya menggeser Arin.
"Hai semuanya" Sapa Bima dengan senyum manisnya.
"Hai kak Bim" Ajeng dan Arin yang menjawab sedang kan Ar hanya mengangguk dan Anin cuek tak peduli.
"Kita jalan yuk nanti malem sekalian malam mingguan gitu" Ucap Bima
"Yuk kak, kebetulan kita lagi kosong malam ini. Iyakan" Ucap Arin semangat.
"Kalian aja, gue engga bisa lagi sibuk" Ucap Ar menolak.
"Sibuk apa sih Ar kayaknya kita engga ada tugas atau apa deh" Ucap Ajeng.
"Gue ada acara keluarga" Ucap Ar lagi
"Ya udah deh lain kali aja. tungguin lo ada waktu aja Ar" Ucap Bima membatalkan.
"Kok gitu sih kak, kan ada kita iyakan Jeng, Nin" Ucap Arin
"Iya kak, kan ada kita" Ucap Ajeng mengetujui.
"Gue males keluar" Ucap Anin singkat.
"Nah masa kita bertiga aja, engga seru itu jadi lain kali aja ya" Ucap Bima kepada Arin dan Ajeng.
Arin dan Ajeng terpaksa menyetujui dan gagal sudah acara mereka untuk jalan bersama orang yang mereka sukai.
Sementara itu Habib baru saja masuk ke dalam pekarangan kampus kemudian memarkir mobilnya dan turun.
"Gue tanya aja deh sama orang disini siapa tau mereka kenal sama Aisyah" Batin Habib yang bingung harus mencari Aisyah dimana.
"Kayaknya saya pernah sengar tapi lupa siapa orangnya" Jawab orang itu.
"Oiya, ciri-cirinya kayak gimana" Tanya orang itu.
"Dia itu punya 3 teman cewek, dan saya juga pernah liat mereka kayak terkenal gitu kalau datang ke kampus selalu jadi pusat perhatian gitu" Jelas Habib.
"Oww, itu sih Ar. Idola kampus saya tau" Ucap pemuda itu.
"Iya itu. Terus kamu tau atau liat dia dimana" Tanya Habib lagi.
"Iya barusan saya liat dia di kantin lagi makan sama teman-temannya" Jawab pemuda itu.
"Ya sudah makasih ya" Ucap Habib kemudian pemuda itu pergi dan begitu pum Habib berjalan ke arah kantin yang di tunjukkan pemuda tadi.
Kantin tempat Ar sekarang berada di ujung jadi mudah di temukan.
Setelah sampai kantin Habib langsung melihat Ar yang duduk. Tapi saat mendekat Habib melihat ada Bima disana dan membuatnya kesal apalagi Bima menatap Ar.
"Assalamu'alaikum" Sapa Habib pada mereka setelah sampai di meja tempat Ar makan.
"Wa'alaikumusalam Habib" Jawab Ar kaget melihat Habib tiba-tiba ada di dekatnya.
"Ngapain kamu ke sini" Ucap Ar santai karena dia tidak ingin berdebat di depan umum apalagi dengan Habib yang seorang ustadz.
"Aku mau bicara sama kamu. Apa kita bisa ke luar sebentar dari kampus" Ucap Habib.
"Maaf Bib, bentar lagi aku ada kelas jadi engga bisa keluar" Ucap Ar menolak.
"Kalau gitu aku tunggu sampai kelas kamu selesai. Kita bicara di taman yang dekat kampus" Ucap Habib
"Sebentar aja Syah" Ucap Habib berusaha membujuk Ar.
"Iya sudah setelah Ashar kita ketemu di sana" Ucap Ar.
"Ya udah kalau gitu aku pamit dulu. Assalamu'alaikum" Pamit Habib.
"Wa'alaikumusalam" Jawab mereka.
"Lo masih mau ketemu sama Habib lagi Ar, Buat apa" Tanya Anin setelah Habib pergi.
"Iya mungkin ada hal penting yang mau di bicarakan, tapi kalian tidak usah khawatir gue engga bakalan ingkari janji gue sama kalian" Ucap Ar.
"Engga bisa di biarin. Liat aja gue engga akan tinggal diam buat bisa dapatin lo Ar" Batin Bima mendengar ucapan Ar tadi.
Sore harinya.
Ar pun menemui Habib di taman yang memang berada di dekat kampusnya. Di ikuti oleh Sahabatnya, Ar pun sampai di taman itu.
"Ingat Ar jangan kepancing sama ucapan Habib yang bisa buat lo batalin perjodohan lo sama Kak Rehan" Ucap Anin memperingati.
"Iya lo tenang aja" Ucap Ar kemudian turun dan menemui Habib yang sudah menunggu di taman itu.
"Assalamu'alaikum Bib" Salam Ar pada Habib.
"Wa'alaikumusalam" Jawab Habib.
"Jadi lo mau bilang apa" Tanya Ar langsung tanpa basa basi.
Sebenarnya Ar sangat senang bisa bertemu dengan Habib tapi mengingat janjinya untuk tidak lagi mengharap dan menerima perjodohan itu jadinya dia harus menahan perasaannya.
"Aku mau minta maaf sebelumnya sama kamu, perkataan ku selama ini mungkin sangat kasar tapi jujur aku engga bermaksud menyakiti kamu"Jelas Habib.
"Engga apa-apa Bib, aku ngerti dan udah engga aku permasalahin lagi masalah itu" Ucap Ar berusaha tenang.
"Iya Syah, aku tau aku salah tapi sebenarnya aku cuma pengen kamu berubah dan hijrah tapi ternyata aku sadar bahwa caraku itu salah" Jelas Habib lagi.
Ar hanya diam mendengarkan Habib.
"Syah aku juga udah tau kalau kamu perjodohan kamu sama Rehan sudah di resmikan tapi aku masih berharap kamu batalin itu demi aku karena aku tau kamu masih cinta kan sama aku dan kamu juga terima perjodohan itu supaya aku cemburu kan" Habib berusaha untuk meminta kesempatan lagi pada Ar.
..............
Jangan lupa vote, rate 5, like dan komen.
Terima Kasih