Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Mulai menjauh



POV Habib


Gue lagi berbicara dengan Ustadz Rehan tapi tiba tiba Gue denger orang manggil nama gue, dan ternyata orang itu adalah Aisyah.


"Dia siapa Bib, cantik juga tapi sayang ngk pakai hijab jadinya kurang adem kalau di liatnya" ucap Rehan yang melihat Aisyah berjalan ke arah kami


"Kamu ngapain kesini" tanya Gue ke Aisyah yang sudah ada di hadapan gue.


"Aku kesini mau minta maaf Bib, soal sikap aku kemarin ke kamu dan sekarang aku udah sadar kenapa kamu sampai tidak mau melihatku" ucap Aisyah sambil menunduk tanpa melihat gue.


"Ngk penting juga kamu sudah tau atau tidak dan kalau kamu ke sini cuma mau minta maaf aku sudah memaafkanku jadi sebaiknya kamu pergi dari sini karena aku masih harus mengajar dan tidak ada waktu buat bicara sama kamu" ucap gue yang cueknya tapi sebenarnya gue seneng kalau Aisyah sudah ingat dengan ucapan kami waktu kecil dan gue berharap dia mau berhijab setelah mengingat itu.


"Apa kamu tidak malu datang kesini dengan pakaian seperti itu, bahkan tamu yang datang ke pesantren ini harus memakai hijab dan baju yang sopan sementara kamu hanya memakai kerudung untuk menutupi kepalamu itu pun tidak sempurna", ucap gue lagi sebenarnya gue ngk bermaksud dan ngk tega ngomong gitu tapi gue ngk rela melihat Aisyah keluar dengan pakaian seperti itu tanpa menutup seluruh auratnya


Gue juga ngk marah sebenarnya sama dia tapi cuma ngk rela aja kalau ada orang yang melihat auratnya dan kecantikan Aisyah dengan berpakaian seperti itu apalagi gue juga pernah ngeliat Aisyah ke kampusnya dengan pakaian ketat bahkan sering di godaain cowok cowok di kampusnya karena itu gue ngk suka tapi.


"Maaf Bib aku udah salah dan aku ke sini cuma mau minta maaf ke kamu... Aku juga mau bilang ke kamu kalau setelah ini aku ngk bakalan gangguin kamu lagi Bib, aku akan berusaha buat ngejauhin kamu karena aku sadar kalau aku bukan wanita yang baik buat kamu... Aku permisi Assalamu alaimum" ucap Aisyah masih belum menatap gue.


Mendengar Aisyah mengatakan itu gue yakin dia berusaha untuk menahat tangisnya. Gue sebenarnya Sayang banget sama dia bahkan selama gue pindah dan jauh dari dia perasaan gue masih sama tapi saat gue ke rumahnya gue kecewa saat melihatnya ngk pakai hijab.


Setelah mengucapkan Hal itu Aisyah pun pergi ninggalin gue, Gue pengen ngejar dia dan jelasin semuanya tapi melihat teman temannya gue ngk jadi mengejarnya.


"Bib dia siapa sih kenapa tadi dia ngomong gitu ada hubungan apa Lo sama dia", ucap Rehan yang masih berada di dekat gue dan melihat Aisyah pergi menggunakan Mobil bersama teman temannya.


"Bukan siapa siapa, udahlah ngk penting juga itu", ucap gue kepada Rehan tapi sebenarnya gue cuma ngk mau cerita sama orang lain apalagi ikut campur masalah gue.


Rehan pun hanya bisa mengangguk dan kamu pun pergi ke ruangan Ustadz dan beruntung saat itu para santri sedang belajar jadinya tidak ada yang melihat kejadian itu.


POV Author


Di tempat lain Ar yang sedang berada di dalam mobil bersam temannya setelah pergi dari pesantren hanya terdiam dan teman temannya membiarkan Ar untuk tenang dulu karena mereka sudah tau kalau Ar nanti akan menceritakan setelah tenang nanti.


Anin yang sekarang menyetir mobil karena tak mungkin Ar menyetir dengan keadaan yang tidak baik seperti ini.


Sesampainya di rumah Anin mereka turun dan masuk ke dalam rumah dengan Ar yang masih diam.


"Bi... Ambil minum buat kita" teriak Anin memanggil pembantunya .


"Ar minum dulu nih supaya Lo lebih baik" ucap Anin setelah pembantunya membawakan minuman untuk mereka.


"Gue ngk mau dan gue juga ngk apa apa Nin" ucap Ar dengan senyum yang dia paksa.


Mereka sangat kesal sebenarnya dengan Habib karena sudah mengatakan itu kepada Ar, mereke tadi sempat mendengar ucapan Habib ke Ar yang memang sangat menyakitkan bagi Ar yang mencintai Habib. Apalagi melihat senyum yang di paksa oleh Ar membuat mereka semakin yakin kalau Ar sangat sedih tapi tidak mau memperlihatkannya.


"Lain kali aja kita kerjain tugas kelompoknya kan masih lama juga pengumpulannya" ucap Ar lagi sambil meraih tasnya.


"Iya udah Ar, Lo hati hati ya di jalan" ucap Ajeng yang sebenarnya tidak tega melihat Ar memaksa senyumnya


"Tapi Lo benaran ngk apa apa kan Ar" ucap Arin melihat Ar.


"Gue ngk apa sayang sayangku, memangnya Kalian liat gue terluka apa" ucap Ar sambil memperlihatkan senyum nya yang sebenarnya memang ada luka yang tersembunyi dalam hatinya karena perkataan Habib.


"Iya udah Ar gue anterin ke depan ya" ucap Anin yang sudah berdiri juga


"Ngk usah cuma kedepan doang pakai di anterin segala. Gue pergi dulu ya, dah..." ucap Ar yang sudah menuju pintu sambil.


Teman temannya hanya mengiyakan ucapan Ar, padahal sebenarnya mereka khawatir karena Ar masih dalam kondisi bersedih meskipun mereka melihat senyum Ar.


Ar sangat tidak suka jika ada yang melihatnya menangis jadi dia depan orang lain bahkan temannya sekalipun dia tidak mau menangis.


Di perjalanan Ar sudah menesteskan air matanya yang sedari tadi ia tahan, dia menangis mengingat perkataan Habib yang sangat menyakitkan baginya.


"Kamu jahat Bib, sebegitu rendahnya kah aku di matamu sehingga kamu mengatakan itu padaku", Ar berteriak sambil memukul strir mobilnya


Ar memarkir mobilnya di depan sebuah rumah yang terlihat sangat indah dengan taman yang di penuhi bunga bunga indah.


Sekarang Ar berada di Vila milik keluarganya yang berada di pinggir kota jauh dari keramaian bahkan di sekitar Vila itu hanya ada beberapa rumah penduduk dan sebuah mesjid kecil.


Seorang penjaga Vila menyambut kedatangan Ar yang memang setiap libur selalu ke Vila itu sewaktu masih sekolah tapi semenjak ia kuliah Ar baru datang lagi ke Vila itu hari ini.


Ar masuk ke dalam Kamarnya yang tempat. "Ternyata tempat ini masih sama dan bersih juga" ucap Ar melihat barangbarang di kamarnya masih tertata rapih.


Ar mengambil sebuah kotak besar di dalam lemarinnya, kemudian dia duduk di lantai samping kasur.


Ar membuka kotak itu dan ternyata itu adalah mainkan dan kenangan masa kecil Ar. Ar mengambil sebuah foto yang ternyata fotonya Habib bersama dirinya dalam foto itu Ar tersenyum dan Habib merangkul Ar, mereka terlihat sangat serasi.


Didalam kotak itu ada beberapa barang pemberian Habib berupa mainan. Ar sengaja menyimpan semua itu dalam kotak besar di Vila itu karena di Vila ini lah Habib dan Ar selalu berlibur bersama di tempat ini dulu sebelum Habib ke luar kota.


"Bib Aku sangat mencintai kamu tapi kamu tidak mau sama wanita sepertiku yang nakal ini, jadi aku akan menjauh karena aku ngk mau buat kamu malu", ucap Ar sambil mengelus fotonya Habib yang ada di tangannya.


...........


Jangan lupa vote, like dan komen


Terima kasih