Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Keegoisan



Ar masuk ke dalam rumahnya dan melihat kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


“Assalamu’alaikum Pa, Ma” Salam Ar sambil menyalami kedua orang tuanya


“Wa’alaikumusalam” Jawab Bu Dar dan Pak Andi.


Ar langsung diantara kedua orang tuanya kemudian memakan cemilan yang ada di hadapannya.


“Syah, kamu ini baru datang bukannya bersih bersih dulu ini langsung makan engga cuci tangan lagi kebiasaan banget deh” Tegus Bu Dar melihat Ar memakan cemilan dengan lahap.


“Aisyah laper Ma, tadi siang Cuma makan bakso sampai sekarang belum makan” Ucap Ar setelah menghabiskan 1 cemilan di tangannya.


Bu Dar menggeleng kepala melihat tingkah anaknya.


“Udah lah Ma, kasian itu pasti laper” Ucap Pak Andi yang memang sangat memanjakan Ar meskipun dia akan menjadi tegas jika Ar melakukan kenakalan.


“Sayang gimana acara pengajiannya tadi, apa yang dibahas?” Tanya Pak Andi lagi.


“Seru banget Pa, tadi di sana bahas masalah keistimewaan perempuan. Tadi juga Aisyah sempat ngobrol sama yang jadi motivator di acara itu yang ternyata sepupunya Rehan, dan yang paling bikin AIsyah seneng itu tadi Habib udah mau bicara sama Aisyah bahkan tadi dia ngikutin Aisyah sampai rumah katanya supaya Aman di jalan. Aisyah seneng banget deh pokoknya Pa, Ma” Jelas Ar dengan penuh bahagia.


“Ia pastinya Habib mau bicara sama kamu karena kamu pakai hijab kayak gini sayang, siapa sih yang engga suka liat kamu yang secantik ini” Ucap Bu Dar memuji Aisyah yang masih memakai Hijab.


“Tapi kalau kamu engga pakai Hijab pasti dia bakalan menghindar lagi” Ucap Pak Andi yang membuat Ar cemberut.


“Ihh papa bukannya dukung anaknya malah membuatnya cemberut tuh liat kan “ Ucap Bu Dar yang melihat Ar cemberut.


“Udah sayang apapun yang kamu sukai akan mama dukung, kamu engga usah cemberut gitu dong” Ucap Bu Dar menghibur Ar.


“Papa bukannya engga dukung kamu sayang, papa Cuma pengen kamu bisa menikah sama cowok yang mencintai kamu” Ucap Pak Andi menjelaskan ucapannya.


“Aisyah yakin Pa, Habib pasti suka juga sama Aisyah” Ucap Ar yakin


“Ya sudah sana kamu mandi terus makan, mama udah siapin makanan tingga di panasin kalau kamu mau makan” Ucap Bu Dar mengusap kepala Ar dengan penuh kasih sayang.


“Ya udah Aisyah ke kamar dulu” Ucap Ar kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.


Selesai mandi Ar dan memakai baju tidur warna biru polos kemudian dia turun ke bawah untuk makan, karena kedua orang tuanya sudah lebih dulu makan jadinya dia makan sendiri, mbok surti juga sudah pulang ke rumahnya karena memang sudah hampir pukul 10 malam.


Setelah selesai makan Ar kembali ke kamarnya, dia hari ini sangat lelah sekaligus sangat senang karena Habib sudah mau bicara seperti dulu lagi padanya.


Di rumah Habib


Sesampainya di rumahnya Habib langsung masuk ke kamarnya setelah menyalami oaring tuanya yang berada di ruang tengah.


“Maafin aku Aisyah, aku bukannya mempermainkan kamu tapi selama perasaanku belum bisa ku pastikan maka aku tidak akan membiarkanmu jatuh cinta pada pria lain termasuk Rehan” Ucap Habib yang sudah berbaring di kamarnya setelah sebelumnya sudah mandi.


Flashback on


Habib meninggalkan Rehan yang masih berdiri di dekat parkiran setelah tadi Rehan mengatakan kalau dirinya lah yang akan di jodohkan dengan Ar.


“Kenapa gue kesal mendengan ucapan Rehan, kenapa dengan perasaan gue” Ucap Habib yang berada di depan WC ustadz.


“Kenapa gue engga rela Aisyah dekat dengan cowok” Ucap Habib lagi.


Kemudian dia membasuh wajahnya. “Ini engga bisa di biarin, Aisyah engga boleh sama cowok manapun sebelum gue tau perasaan apa yang ada di hati gue ini” Ucap Habib kemudian mengambil tisu mengeringkan wajahnya.


Setelah Isya, Habib melihat Ar dan Rehan kembali berbicara, terlihat Ar sangat akrab dengan Rehan membuat Habib semakin kesal.


“Gue bakalan dekati lo lagi Ar, gue harus memastikan perasaan gue buat lo” Gumam Habib kemudian mendekati Ar setelah melihat Rehan pergi.


Keesokan harinya


Suara Adzan subuh berkumandang Ar bangun dan langsung ke kamar mandi membersikan diri kemudisan shalat subuh, itu adalah kebiasaan Ar setiap hari.


“Sayang, kamu kenapa masih pakai seperti ini, bukannya semalam udah pakai Hijab” Ucap Bu Dar melihat Ar turun memakai pakaian seperti biasanya.


“Memangnya kemarin Aisyah bilang mau mulai pakai Hijab? Kan engga Ma” Ucap Ar kemudian duduk dan sarapan bersama.


“Papa mana Ma?” Tanya Ar karena tidak melihat papanya yang biasa sarapan bersama.


“Papa ke udah pergi kerja katanya ada yang harus diurus pagi ini” Jawab Bu Dar yang di anggikkan oleh Ar.


“Aku ke kampus ya Ma, Assalamu’alaikum” Pamit Ar sambil mencium tangan mamanya.


“Wa’alaikumusalam, hati-hati sayang” Ucap Bu Dar.


Sesampainya di kampus Ar langsung turun dari mobilnya karena melihat sudah ada para sahabatnya yang menunggu.


“Aisyah Rahma tunggu…” Teriak seseorang.


Mendengar suara yang menyebut nama lengkapnya membuat Ar sangat kesal, dia memang sangat tidak suka jika nama lengkapnya di sebut kecuali oleh orang tertentu.


“Hai, nama lo bener Aisyah Rahma kan?” Tanya orang yang tadi memanggil Ar.


Ar semakin kesal karena yang ternyata memanggilnya tadi adalam si Bima.


“Dasar cowok gila, nagapai lagi si lo. Muak tau gue liat lo” Ucap Ar marah.


Para sahabat Ar yang melihat itu kemudian mendekat, mereka tau pasti aka nada pertengkaran lagi jika mereka bertemu.


“Terserah lo mau bilang apa yang jelas gue udah tau nama lo, cewek berprestasi di kampus tapi sayangnya galak” Ucap Bima tersenyum.


“Sekali lagi gue dengar lo sebut nama gue kayak tadi, gue tending aset lo” Ancam Ar.


“Itu kan memang nama lo, terus kalau lo engga mau di panggil dengan Aisyah Rahma terus gue panggil ap” Ucap Bima yang menyebut nama Ar lagi.


“Aduh. ...” Bima tiba tiba mengadu kesakitan karena aren benar benar menedang “aset” nya Bima.


“Rasain lo, gue peringatin sekali lagi kalau lo masih pengen hidup” Ucap Ar kemudian pergi dari tempat itu.


“Aduh jadi gue yang ngilu liat kak Bima meringis kesakitan kayak gitu” Ucap Arin kasihan melihat Bima yang sudah kesakitan karena tendangan Ar.


“Ayo kita ke kelas aja, sebelum Ar ngamuk di kelas” Ucap Anin mengajak Arin dan Aini.


Mahasiswa lain yang melihat kejadian itu merinding karena baru pertama kali melihat Ar melakukan kekerasan dengan cowok yang mengganggunya padahal selama ini Ar biasanya hanya diam atau paling parah memarahi orang yang menganggunya.


Mereka hanya tau kalau diantara mereka hanya Anin yang suka melakukan kekerasa fisik seperti itu. Para cewek pun merasa kasihan melihat Bima yang kesakitan dan tiba tiba Bima pingsan di tempat.


“Eh kak Bima pingsan itu tolongin” Teriak salah satu cewek kemudian beberapa cowok mengangkat Bima ke UKS.


...........


Jangan lupa vote, rate, like dan komen.


Terima Kasih