
Ar pergi meninggalkan pesantren dalam keadaan sangat kecewa dengan ucapan Habib. Dia melajukan mobilnya menuju kampusnya.
"Semoga kamu bisa berubah Syah dan aku janji bakalan perjuangin kamu kalau udah berubah bahkan aku akan melawan semua yang menjadi penghalang kita kalau nantinya kamu berhijab" Batin Habib yang melihat mobil Ar meninggalkan pekarangan pesantren.
Di depan kelas Imah melihat ustadz Habib berdiri. "Mah, kamu dengar sendirikan tadi kalau ustadz Habib udah terima perjodohan kalian, tapi aku jadi sedih karena ternyata ustadz Rehan juga mau di jodohin sama Kak Aisyah gimana nasib aku Mah" Ucap Lia dengan mengeluh.
"Kamu juga dengar sendirikan kalau perjodohan itu belum resmi dan masalah aku sama ustadz Habib aku rasa dia ngomong gitu karena mau buat Kak Aisyah cemburu" Ucap Imah masih memandang Habib.
"Engga mungkin lah Mah, ustadz Habib engga mungkin kayak gitu" Ucap Lia
"Tapi kenapa firasat aku bilang gitu. Tatapan ustadz Habib beda banget saat mandang Kak Aisyah kayak dia punya perasaan cinta yang tersembunyi" Ucap Imah dengan serius.
"Itu cuma firasat kamu aja Mah. Udalah ayo kita masuk kelas tuh Ustadzah udah jalan ke sini" Ucap Lia melihat seorang ustadzah memang berjalan ke arah mereka.
Di perjalanan Ar yang sangat sedih sekaligus kecewa dengan ucapan Habib mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi saat memasuki wilayah daerah yang tidak terlalu banyak kendaraan lewat. Dia mengendarai mobilnya menuju ke vila keluarganya.
Sesampainya di sana Ar langsung memarkir mobilnya di halaman vilanya. Kemudian dia berjalan ke dalam vila menuju ke pintu belakang dimana jalan itu biasa Ar lewati untuk ke danau belakang vilanya.
"Selamat siang Non" Sapa penjaga vila menyapa Ar.
Ar hanya melewati penjaga vila itu tanpa menjawab sapaannya bahkan melirik pun tidak.
"Sepertinya Non Aisyah punya masalah makanya dia seperti itu kasihan dia" Batin penjaga vila itu yang bernama Pak Tono memaklumi Ar yang seperti itu.
Ar sampai di sebuah danau tempatnya bertemu dengan Habib juga tempat favorite mereka.
"Aaaaaaaaaaa, kamu jahat Bib. Kamu tega banget bandingin aku sama cewek itu" Teriak Ar meluapkan kekesalannya.
Ar duduk di pinggir danau yang sepi karena hari sudah malam. Sambil mengingat ucapan Habib tadi dia juga mengingat kenangannya dengan Habib di danau ini.
Hp Ar terus berbunyi, beberapa pesan masuk dan telpon dari orang tuanya, Rehan dan juga para sahabatnya yang mencarinya.
"Pa, gimana apa Aisyah udah jawab telpon papa atau pesan papa. Mama khawatir Pa, dari tadi dia pagi dia belum pulang sampai sekarang" Ucap Bu Dar khawatir.
"Belum Ma, dari tadi papa sudah telpon dia tapi engga di jawab" Ucap Pak Andi terus berusaha menelpon Ar.
"Tante yang tenang, Ar pasti baik-baik aja. Anin yakin Ar engga akan melakukan hal aneh" Ucap Anin menenangkan Bu Dar yang mulai menangis.
"Iya tante, jangan khawatir. Ar pasti akan baik-baik saja" Ucap Arin dan Ajeng juga.
Mereka memang ada di rumah Ar setelah di hubungi oleh Bu Dar kalau Ar pergi ke pesantren menemui Habib tapi tak pulang dan setelah mereka cek ke pesantren tadi siang mereka tidak melihat mobil Ar parkir jadi mereka pulang tanpa bertanya pada Habib.
"Tante percaya Ar engga melakukan hal yang bodoh tapi tante takut Ar kenapa-kenapa di jalan" Ucap Bu Dar khawatir.
"Sudah lah Ma, jangan bicara seperti itu lebih baik doakan Aisyah" Ucap Pak Andi duduk di hadapan istrinya.
"Assalamu'alaikum" Salam dari luar.
"Sepertinya ada tamu" Ucap Pak Andi.
"Biar saya yang buka om" Ucap Ajeng berdiri membuka pintu.
"Wa'alaikumusalam, eh kamu Rehan kan" Ucap Ajeng melihat tamu yang datang.
"Iya ada ayo masuk" Ucap Ajeng mempersilahkan masuk.
"Assalamu'alaikum" Salam Rehan sudah ada di ruang tamu.
"Wa'alaikumusalam" Jawab mereka.
"Rehan, Maafkan Om sama Tante lupa kalau pertemuan malam ini karena Aisyah dari belum pulang sejak tadi pagi" Ucap Pak Andi kepada Rehan.
"Apa Om, Aisyah belum pulang sejak pagi? Kenapa bisa Om dan kenapa tidak ada yang mencari" Tanya Rehan khawatir.
"Kami sudah menghubunginya beberapa kali tapi dia tidak menjawab, bantu kami nak Rehan tante sangat khawatir" Ucap Bu Dar yang menangis.
"Iya tante pasti Rehan bantu, tante tenang dulu" Ucap Rehan menenangkan Bu Dar.
"Kenapa kamu bisa di sini dan dimana orang tua mu" Tanya Pak Andi karena Rehan datang sendiri.
"Abi sedang tidak enak badan dan sebenarnya saya kesini mau bilang kalau Abi dan Umi tidak bisa hadir di acara makan malam kali ini" Jawab Rehan.
"Om, kalau boleh saya tau kenapa Aisyah sampai tidak pulang" Tanya Rehan.
Mereka pun menceritakan kejadian tadi pagi. "Dan kami juga sudah datang ke pesantren tapi mobil Ar tidak ada jadi kami pikir dia sudah pulang kami juga sempat bertanya pada santri di sana dan mereka bilang kalau mereka memang melihat mobil Ar datang dan pergi sejak tadi siang" Jelas Arin melanjutkan.
"Kemana biasanya Aisyah pergi untuk menenangkan diri" Tanya Rehan kemudian.
Mereka semua terdiam sambil berfikir. "Engga mungkin Ar ke sirkus balap kan" Bisik Arin ke Anin dan Ajeng. "Atau ke bar" Bisik Ajeng juga.
"Iya engga mungkin lah. Ar engga bakalan ke bar tanpa kita dan kita juga udah cari ke tempat balapan juga engga ada kan" Bisik Anin kepada mereka.
"Kalian kan sahabatnya Aisyah dan pasti tau tempat yang biasa Aisyah datangin" Tanya Rehan kepada Anin, Arin dan Ajeng yang sedang berbisik dan Rehan sempat mendengar.
"Kami sudah mencari Ar tadi tapi Ar engga ada di sana" Jawab Arin yang di iyakan oleh Arin dan Ajeng.
"Tapi ada 1 tempat yang belum kita datangi" Ucap Anin kemudian.
"Dimana, ayo kita ke sana pasti Aisyah ada di sana" Ucap Bu Dar dengan penuh harapan.
"Tapi tempatnya jauh tante, itu di vila keluarga tante yang ada danaunya itu" Ucap Arin lagi.
"Iya kalian benar, Aisyah pasti ada di sana karena memang dia sangat suka ke sana kalau sedang ada masalah" Ucap Pak Andi.
"Kalau begitu kita tanya saja ke penjaga vila di sana tante pasti ada kan penjaga atau pengurus vila di sana. Kalau Aisyah tidak menjawab telpon kita kenapa tidak kita telpon penjaga vila di sana" Ucap Rehan memberi saran.
"Iya tante, kita hubungi saja penjaga vila di sana" Ucap Anin setujuh.
"Ya sudah biar Om yang hubungi" Pak Andi kemudian menelpon penjaga vilanya.
..........
Jangan lupa vote, rate 5, like dan komen
Terima kasih