Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Bertengkar



"Syah, antarkan kue ini ke rumah Habib nak" Ucap bu Dar dengan memberikan Sebuah bingkisan yang isinya kue ke pada Ar yang sedang bersantai di depan televisi.


hari ini adalah hari minggu jadi Ar tidak punya jadwal kuliah. Setelah membantu mamanya membuat kue dia pun bersantai sebentar di ruang keluarga.


"Itu kue yang tadi kita buat kan ma", tanya Ar melihat Bingkisan yang sudah ada di tangannya.


"Iya Habib sangat suka katanya dengan kue brownis jadi kamu bawakan untuk dia ke rumahnya sekalian kan kalian bisa kenal lebih dekat dan akrab seperti dulu" ucap mamanya Ar yang memang sudah tau sejak kecil Ar menyukai Habib hingga sekarang.


"Iya udah deh Ma sekalian pdkt sama calon suami dan calon mertua kan ma", ucap Ar dengan senyum bahagia dan itu membuat Mama nya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang sudah jatuh hati pada anak sahabatnya suaminya itu


"Iya boleh aja sih tapi emangnya Habib mau sama kamu yang nakal ini, sering keluyuran pula" ucap mamanya Ar yang membuat Ar cemberut karena mamanya mengatakan itu


"Ya udah sana kamu berangkat nanti Habib keburu pergi ke pesantren lagi kamu ngk biss ketemu", ucap Mamanya Ar yang memang sudah tau kalau Habib mengajar di pesantren


"Oiya ma, Aku pamit ya", ucap Ar sambil mencium tangan Mamanya kemudian keluar dengan menggunakan Mobilnya.


Orang tua Habib waktu itu memang sudah bercerita kalau Habib mengajar di pesantren. Dan membuat Ar dan orang tuanya semakin kagum pada Habib yang menjadi Ustadz.


Rumah Habib memang agak jauh dari rumahnya Ar, dan membutuhkan waktu sekitar 15 menit jika tidak terlalu macet.


Sesampainya di rumah Habib, Ar langsung keluar dari mobilnya tak lupa mengambil bingkisan yang berisi kue yang akan di berikan kepada Habib.


Saat Ar ingin mengetuk pintu tiba tiba pintu terbuka dan Habib muncul di balik pintu itu, Habib memang sudah mau berangkat ke pesantren.


Melihat Ar yang berada di depan nya dengan tersenyum lebar melihat dirinya, Habib hanya menatapnya sebentar dan berlalu tanpa mengucapkan apapun kepada Ar. Padahal Ar sangat berharap Ar akan menyapanya.


"Bib, tunggu" ucap Ar melihat Habib hanya melaluinya tanpa bicara.


Habib berhenti tanpa berbalik melihat Ar, "Kamu kenapa sih selama kita ketemu di rumahku sampai sekarang kamu tidak mau bicara bahkan sekedar menyapakupun tidak pernah", ucap Ar mendekati Habib yang masih membelakanginya.


Habib masih diam. "Bib jawab dong aku lagi ngomong sama kamu, setidaknya kamu berbalik melihat orang yang bicara sama kamu", ucap Ar kesal melihat Habib yang tidak menjawabnya.


"Aku ngk suka liat kamu pakai pakaian seperti itu", ucap Habib tanpa berbalik melihat Ar.


"Memannya kenapa dengan pakaianku, aku masih pakai baju yang sopan dan tidak terbuka", Ucap Ar sambil melihat Penampilannya sendiri.


Habib diam tanpa menjawab. "Ternyata kamu tidak ingat dengan ucapanmu Syah", ucap Habib dalam hatinya karena Ar tidak mengingat ucapannya sebelum Habib pindah ke luar kota untuk melanjutkan sekolahnya di pesantren.


"Kenapa kamu berubah menjadi sombong seperti ini Bib, dulu meskipun kamu cuek ke semua orang tapi kamu masih peduli sama aku bahkan selalu menjagaku dari orang orang yang suka menghinaku waktu kecil", ucap Ar yang menatap Habib yang mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa melihat Ar yang sudah sangat kesal.


Habib masih diam, sebetulnya dia tidak mau mengacuhkan Ar seperti itu tapi dia juga sangat kecewa karena Ar tidak menepati janjinya untuk memakai hijab saat dewasa bahkan pakaian Ar sangat ketat membuat Habib semakin tidak suka melihat penampilan Ar.


"Aku udah bilang kalau aku ngk suka liat penampilan kamu, jadi kalau sudah tidak ada yang penting atau kalau kamu mau ketemu Umi ada di dalam jadi langsung masuk aja", ucap Habib kemudin berlalu ingin masuk ke mobil.


"Habib... aku belum selesai bicara", teriak Ar sambil menutup pintu mobil Habib yang sudah di buka oleh Habib yang ingin masuk.


Ar sudah tidak peduli lagi dengan menjaga kelakuannya di depan Habib karena dia sudah sangat kesal.


Habib masih biasa saja meskipun dia melihat Ar seperti itu karena dia memang sudah tau sifat Ar dan pastinya dia memaklumi karena mungkin Ar kesal juga melihat sifatnya yang cuek dan tidak peduli dengan Ar.


"Apa lagi sih, aku mau ke pesantren dan ngk ada waktu untuk bicara sama kamu kalau tidak penting" ucap Habib cuek


"Aku ke sini cuma mau nganterin kamu Kue kesukaan kamu, tapi kamu malah menganggap kalau aku buang waktu kamu" ucap Ar yang sebenarnya berusaha untuk menahan air matanya.


Ar kemudian meletakkan bingkisan itu di tanah karena dia pikir untuk mengambil langsung pemberian Ar pun Habib tidak akan mau.


"Aku pamit pulang Bib, Maaf kalau sudah menggangu kamu", ucap Ar yang langsung pergi dari hadapan Habib dan masuk ke mobilnya.


Melihat Ar yang sudah meninggalkan halaman rumahnya Habib memijat pangkal hidungnya, dia merasa tidak tega tetapi juga kecewa melihat penampilan Ar.


Orang tua Habib dari tadi melihat mereka berdua bertengkar karena saat mendengar suara Ar.


Mereka tidak mau ikut campur urusan keduanya jadi mereka hanya bersembunyi di balik jendela melihat pertengkaran itu.


"Kasihan Aisyah Bi pasti dia sangat sedih dengan sikap Habib yang seperti itu", ucap Umi nya Habib setelah melihat Ar pergi. "Umi tau Habib kecewa dan tidak suka melihat Ar yang tidak memakai Hijab tapi sebagai wanita Umi bisa merasakan apa yang Aisyah rasakan saat orang yang dia sukai bersikap seperti itu" ucap Uminya Habib lagi karena mereka sudah tau kalau Ar suka sama Habib sejak kecil dari orang tuanya Ar.


Sebenarnya Habib juga menyukai Ar sejak kecil terbukti dengan Habib yang selalu melindungi Ar jika di di ganggung oleh teman laki lakinya.


"Iya Umi, Abi juga merasa kasihan tapi mau bagaimana lagi kita tidak bisa ikut campur karena mereka sudah dewasa dan harus menyelesaikan masalah mereka sendiri", ucap Abinya Habib yang memang selalu membiarkan Habib hidup mandiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri.


.............


Jangan lupa vote, like dan komen