
"Aisyah gimana apa kamu mau mencoba untuk memakai hijab" Tanya kak Nia pada Ar yang berada di hadapannya.
"Aisyah masih belum siap kak" Ucap Ar tak enak hati karena ini sudah seminggu Ar menemuai kak Nia sebagai motivator.
"Iya sudah Syah, merubah diri itu bukan hal yang mudah jadi kakak mengerti" Ucap kak Nia dengan lembut.
"Kak, apa benar bulan depan kak Nia mau nikah?" Tanya Ar.
"Kamu tau dari mana" Ucap Kak Nia.
"Kak Rehan yang bilang kemarin" Ucap Ar dengan senyum.
"Iya doakan kakak ya" Ucap Nia dengan senyum juga.
"Pastilah Kak" Ucap Ar penuh semangat.
"Terus kamu sama Rehan gimana? Perjodohan kalian katanya belum dipastikan karena kamu belum memberi jawaban" Tanya Kak Nia.
"Iya kak, Aisyah belum bisa kasi jawaban karena masih bingung" Jawab Ar
"Kenapa? Apa ada orang lain di hatimu yang membuat kamu ragu? " Tanya Kak Nia lagi.
"Iya kak" Ucap Ar tak enak hati.
"Kakak cuma bisa doakan yang terbaik buat kalian, kalau memang jodoh pasti akan disatukan" Ucap Kak Nia dengan tulus.
"Iya Kak, kalau gitu Aisyah pulang dulu kak" Paint Ar.
"Assalamu'alaikum" Ucap Ar yang kemudian keluar dari ruangan Kak Nia.
"Wa'alaikumusalam" Jawab Kak Nia.
Ar berjalan ke arah parkiran perantren tempat dimana dia memarkir mobilnya, sudah 3 hari ini dia tidak ditemani temannya karena mereka ada urusan masing-masing.
"Ar...." Teriakan dan panggilan Bima yang baru datang dan masuk ke pesantren itu membuat Ar memijit pangkal hidungnya.
"Kamu ngapain ke sini" Tanya Ar pada Bima yang bersandar di pintu mobilnya.
"Kan udah seminggu kita engga ketemu jadinya aku kangen" Ucap Bima.
Sehari setelah kejadian di kampus itu Bima memang bilang ke Ar kalau dia akan ke luar kota membantu pekerjaan Ayahnya yang bermasalah.
"Lebay lo" Ucap Ar
"Kita jalan yuk Ar kan kemarin acara jalan jalan kita tertunda karena aku ke luar kota jadi sebagai gantinya hari ini kita jalan sekalian malam mingguan" Ucap Bima mengajak Ar.
"Apaan lo malam mingguan kayak abg aja lo udah berumur juga" Ucap Ar mengejek.
"Kita cuma beda 2 tahun Ar jadi gue masih bisa dianggap muda" Ucap Bima protes.
"Besok aja deh gue hari ini capek banget" Ucap Ar menolak.
"Ayolah Ar, setelah isya kita pulang deh" Ucap Bima.
"Aisyah" Belum Ar menjawab suara Habib terdengar memanggil Ar.
Bima yang membelakangi Habib saat ini pun berbalik melihat orang yang memanggil Ar.
"Inikan cowok yang pernah bicara sama Aisyah waktu itu. Ngapain juga dia ke sini" Batin Habib mengenali Bima.
"Hay Bib" Sapa Ar.
Hubungan Habib dan Ar memang mulai membaik meskipun mereka hanya komunikasi sebentar jika bertemu di pesantren.
"Ini siapa Ar" Tanya Bima.
Mereka pun saling berjabat tangan tanda perkenalan.
"Kamu mau pulang syah?" Tanya Habib pada Ar.
"Engga. kami mau jalan dulu sekalian malem mingguan" Ucap Bima mendahului Ar yang ingin bicara.
Ar hanya bisa diam mendengar ucapan Bima yang terlalu santai itu tapi membuat Habib kesal.
"Kamu mau pergi sama cowok syah, dan malam mingguan? Apa dia pacar mu" Tanya Habib pada Ar tapi menatap tajam Bima.
Bima yang ditatap seperti itu hanya biasa saja . "Engga Bib, dia cuma teman aku" Ucap Ar cepat.
"Udahlah Ar, ayo keburu magrib ini" Ucap Bima tidak sabaran.
"Bib, Aku duluanya" Ucap Ar hendak pergi.
"Aisyah aku ikut" Ucap Habib kemudian.
"Kagak ada lo ikut pak Ustadz. Mau lo jadi setannya kalau ikut sama kita" Ucap Bima tak terima.
"Bima..." Tegur Ar kepada Bima.
"Gue ini sahabat Ar sejak kecil dan gue dari dulu udah jadi pelindung dia dari cowok kayak lo" Ucap Habib kepada Bima.
"Ternyata Habib hanya menganggapku sahabat. Tapi itu lebih baik yang penting kami masih bisa dekat" Batin Ar karena mendengar ucapan Habib.
"Biarin aja lah Bim kan engga enak juga kalau kita pergi berdua" Ucap Ar membolehkan.
"Tapi Ar..." Protes Bima.
"Engga ada tapi. Iya udah ayo Bib" Ajak Ar.
"Pakai mobil gue aja" Ucap Bima karena mereka masing masing bawa mobil jadi Bima mengusulkan mobilnya.
Merekapun menyetujui. "Ar lo kenapa duduk di belakang, eh ustadz lo yang duduk di belakang sana" Ucap Bima melihat Ar membuka pintu mobil.
"Kan kalain berdua laki-laki dan gue satu perempuan jadi lebih baik gue duduk di belakang, udah lah banyak protes lo" Ucap Ar yang hanya bisa di iyakan oleh Bima dengan terpaksa.
Mereka pun pergi dari tempat itu dan Habib sangat senang bisa jalan dengan Ar meskipun harus bertiga seperti ini.
"Ustadz Habib kayaknya suka sama itu cewek deh Mah, kan setiap cewek itu datang ustadz Habib selalu bicara dan ketemu sama tu cewek" Ucap Lia kepada Imah melihat mobil Bima pergi.
Sedari tadi mereka sudah melihat mereka bertiga bicara bahkan selama Ar selalu datang ke pesantren Imah yang di temani Lia selalu melihat Ustadz Habib bertemu dan bicara pada Ar.
"Aku engga bisa biarin ini Li, Mulai sekarang aku bakalan buat ustadz Habib suka sama aku. Aku bakalan buat dia terkesan dan aku bakalan berusaha interaksi sama dia" Ucap Imah masih menatap ke arah depan.
"Tapi Mah, kalau ustadz Habib malah menjauhi mu karena kamu terlalu mendekatinya bagaimana" Tanya Lia
"Aku udah punya Rencana Li, dan aku yakin itu pasti berhasil, aku akan bisa selalu dekat ustadz dan peluangku juga akan semakin besar" Ucap Imah dengan senyum.
"Aku sebagai sahabat dukung kamu terus Mah, Aku juga bakalan berusaha buat ngambil hatinya ustadz Rehan dari cewek itu. Karena sepertinya ustadz Rehan juga suka sama dia" Ucap Lia yang mulai suka pada ustadz Rehan.
"Kita berjuang buat dapat jodoh kita yang di rebut sama itu cewek Li" Ucap Imah menatap sahabatnya dan mereka bertos ria.
Mereka sangat percaya diri kalau mereka bisa mendapatkan ustadz Rehan dan ustadz Habib.
......................
Jangan lupa like dan komen serta votenya juga.
Terima kasih