Ustadz & Badgirl

Ustadz & Badgirl
Saling Menyalahkan



"Ustadz Rehan beri saya waktu untuk bicara, kenapa ustadz jadi seperti ini" Ucap Habib heran melihat Rehan yang kesal padanya.


Rehan mulai diam membiarkan Habib bicara. Melihat Rehan diam Habib pun mulai berbicara lagi.


"Ustadz saya tau kalau ustadz menyukai Aisyah dan bahkan kalian di jodohkan. Masalah apa yang saya katakan pada Aisyah tidak ada maksud untuk membandingkan dia tapi saya cuma ingin dia sadar dan berubah penampilannya yang terbuka itu" Jelas Habib tenang.


"Apa ustadz bilang? Hanya ingin membuatnya sadar?. Coba ustadz pikirkan jika ustadz dibanding bandingkan dengan orang lain apakah ustadz akan terima begitu saja apalagi yang mengatakan itu adalah orang yang di sukai itu sangat lah menyakitkan" Ucap Rehan masih kesal.


"Kalau memang ustadz ingin merubah Aisyah bukan dengan cara seperti itu. Ustadz bisa bicara baik-baik dan menurut saya Aisyah tidak terlalu buruk dia bahkan tidak pernah pacaran, dia juga rajin beribadah, iya saya akui kekurangannya yang tidak berhijab membuat dia seperti wanita nakal diluar sana tapi dia juga punya perasaan" Kesal Rehan.


"Oky ustadz saya mengakui kalau saya bersalah tapi saya tidak pernah menyembunyikan itu pada Aisyah. Berbeda dengan ustadz yang dulu waktu pertama kali melihat Aisyah datang ke pesantren ustadz juga yang mengatakan sendiri kalau ustadz tidak menyukainya karena tidak berhijab, lalu kenapa sekarang ustadz seakan akan membelanya sampai seperti ini" Ucap Habib yang juga mulai kesal dengan ucapan Rehan yang menyudutkannya.


Rehan diam karena memang betul dulu dia pernah mengatakan itu saat pertama kali melihat Aisyah.


"Kenapa ustadz diam. Jangat terus menyalahkan orang lain ustadz sebelum bercermin melihat diri sendiri karena kita sama-sama tidak menyukai penampilan Aisyah bukan" Ucap Habib melihat diamnya ustadz Rehan.


"Tidak ustadz, dulu memang saya mengatakan itu tapi setelah mengenal Aisyah saya jadi tau kalau dia juga wanita baik-baik yang masih butuh bimbingan untuk menjadi lebih baik. Tidak membandingkannya dengan wanita lain yang belum tentu baik hanya karena penampilannya" Ucap Rehan dengan penuh ketegasan setelah terdiam mendengar kata Habib.


Kini Habib yang diam mendengar ucapan Rehan.


"Saya heran dengan ustadz yang katanya mengenal Aisyah sejak kecil tapi sampai sekarang belum memahami apapun tentang Aisyah" Ucap Rehan lagi yang ingin membuat Habib sadar.


"Sekali lagi saya katakan pada ustadz kalau Aisyah adalah wanita baik baik dan saya ingatkan pada ustadz jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja" Ucap Rehan dengan sedikit keras karena melihat Imah dan Lia berada di depan ruang ustadz.


Sebenarnya Imah dan Lia ingin membawa buku ke dalam ruang ustadz tapi sesampainya di sana dia melihat ustadz Rehan dan Habib sedang berbicara.


"Mah, maksud ustadz Rehan tadi apa. Kenapa saat mengatakan itu dia menatap kita seperti tidak suka" Bisik Lia ketika melihat Ustadz Rehan yang menatap ke arah mereka.


"Mungkin kebetulan aja" Bisik Imah juga.


Habib pun mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk.


Setelah mereka menyimpan buku itu kemudian mereka keluar dari ruangan itu setelah mengucapkan salam.


"Ustadz sengaja tadi mengeraskan suara karena mereka datang, apa maksud ustadz" Ucap Habib setelah Imah dan Lia keluar.


"Iya saya sengaja, kalau mereka sadar ya syukur tapi kalau tidak berarti mereka memang tidak punya perasaan seperti ustadz" Ucap Rehan sinis.


"Kalau ustadz masih ingin berdebat masalah ini jangan di pesantren. Saya tidak mau ada orang lain dengar dan itu tidak baik bagi kita sebagai ustadz disini" Ucap Rehan berusaha menghentikan perdebatan ini.


"Baiklah, tapi ingat urusan kita belum selesai karena setelah ini saya akan membuat ustadz kehilangan Aisyah karena dia akan menikah dengan saya" Ucap Rehan dengan tegas.


"Silahkan ustadz bisa menikahi santri yang bernama Imah tadi. Kalian cocok karena sama-sama egois dan tidak punya perasaan" Ucap Rehan lagi.


"Saya permisi Ustadz. Assalamu'alaimum" Pamit Rehan pada Habib.


"Wa'alaikumusalam" Jawab Habib melihat Rehan meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam Mobilnya.


"Aaaaa, Kenapa gue bisa sebodoh itu, apa sebegitu kasarnya omongan gue kemarin kepada Aisyah sampai dia tidak pulang dan pergi ke danau" Habib memukul meja dengan keras, beruntung ustadz yang lain belum datang.


"Maafin gue syah, gue engga bermaksud nyakitin lo" Ucap Habib lirih duduk di kursinya sambil memegang kepalanya.


.................


Jangan lupa vote, rate, like dan komen.


Terima kasih