
Jika ingin memulai sesuatu pasti akan ada kesulitan yang mengikutinya tapi di balik itu semua juga ada kebahagian yang akan di dapatkan karena sesunggunya Allah tidak akan menguji suatu kaum melebihi batas kemampuannya.
Sudah tiga hari Habib berada di desa tempat kenangan masa kecilnya bersama Ar. Dia tinggal di sebuah kamar keci di mesjid itu sambil membantu membersihkan mesjid sekaligus membantu pak Ahmad mengajar mengaji anak-anak di sana.
Para penduduk pun sangat antusias bahkan selalu mengirimkan Habib makanan, bukan hanya karena tampan tetapi juga karena suaranya yang merdu dalam membaca Al Quran ataupun saat mengumandangkan adzan dan juga pada saat menjadi imam shalat.
Bahkan semenjak Habib datang ke kampung ini, jamaah mesjid semakin bertambah untuk datang shalat berjamaah.
Habib kemarin sudah memberitau orang tuanya untuk sementara ini tidak pulang karena ingin menenangkan diri di sini.
Berita pernikahan Ar yang sudah di tentukan membuatnya semakin sedik dan kecewa jadinya dia masih ingin tinggal di kampung ini.
Setiap Habib merindukan Ar pasti dia selalu ke danau dan duduk di pinggir danau.
Sementara Rehan sangat senang dan tengah sibuk mempersiapkan segala pernikahannya dengan Ar.
Ar 2 minggu lagi akan sidang skripsinya, dia lulus lebih cepat karena memang dia sangat pandai begitupun para sahabatnya.
Jadi pernikahan Rehan dan Ar akan di adakan 3 minggu lagi, yaitu 1 minggu setelah sidang.
Persiapan pernikahan mereka sudah hampir 80%. Itu semua di atur oleh para orang tua jadi Ara dan Rehan tinggal memilih baju pengantinnya.
Ar bukannya melupakan Habib tapi dia sibuk dalam mempersiapkan sidahnya nanti. Tapi setiap ada waktu luang tetap Ar selalu mengingat Habib bahkan cincin pemberian Habib yang pernah dia buang pun kini ia pakai di sebelah cincin pemberian orang tua Rehan.
"Ar jadikan nikah sama Rehan" Tanya Arin saat mereka sedang berada di kantin kampus untuk makan siang.
"Apa, Ar mau nikah" Tanya Bima yang baru datang terkejut mendengar itu.
"Ar lo beneran mau nikah? Sama siapa dan kapan? Kenapa lo engga kasi tau gue" Tanya Bima bertubi tubi.
"Biasa aja kali, engga usah lebay kayak gitu" Ucap Anin sinis.
"Ar jawab dong" Bima tidak peduli dengan ucapan Anin.
Ar hanya diam dan tidak menjawab.
"Kapan" Tanya Bima lagi.
"3 minggu lagi setelah sidang skripsi" Jawab Ajeng.
"Kenapa lo engga bilang sama gue Ar, dan setau gue juga lo sukanya sama Habib. Tapi kenapa lo nikahnya sama Rehan" Ucap Bima yang sebenarnya tidak terima tapi berusaha untuk tenang.
"Gue di jodohin" Ucap Ar singkat.
"Trus lo terima?" Tanya Bima.
"Iya" Jawab Ar
"Kak Bima kenapa sih kayak engga rela gitu kalau Ar nikah" Tanya Ajeng curiga melihat wajah Bima.
"Biasa aja, gue cuma kaget gitu apalagibAr engga bilang padahalkan kita udah jadi teman" Ucap Bima dengan alasan itu supaya mereka tidak curiga.
"Undangannya belum kesebar, jadi engga usah lebay gitu" Ucap Ar santai tanpa mengetahui kalau Bima sebenarnya suka sama dia dan tidak rela jika harus menikah dengan cowok lain.
"Awas lo Han, gue bakalan buat pernikahan lo gagal. Gue engga rela Ar nikah sama cowok manapun apalagi sama lo" Batin Bima kesal.
"Kak, mau kemana" Tanya Arin melihat Bima berdiri.
"Gue mau ngajar dulu gantiin dosen yang engga masuk hari ini" Ucap Bima kemudian pergi dari tempat itu.
Anin melihat kepergian Bima, "Keselkan lo" Batin Anin tertawa
..................
Jangan lupa like komen dan vote
Terima Kasih