
Mau yang alur Santai sudah finish Mak coba baca ini Mak, hari ini ketar-ketir up.date cleopatra MAKKK🤧🤧🤧.
Senja menatap dalam wajah tampan laki-laki yang ada dihadapan nya tersebut tanpa mengeluarkan sedikit pun suaranya, memperhatikan ritme kata-kata yang di ucapkan oleh laki-laki tersebut untuk beberapa waktu.
Membiarkan laki-laki tersebut terus menyampaikan apa yang memang seharusnya dia dengar kan dan dia setujui dalam kesepakatan yang mereka lakukan bersama.
Dia mendengarkan dengan baik apa saja yang di ucapkan laki-laki tersebut tanpa pernah berpikir untuk menjawab atau membantah nya di kala laki-laki tersebut terus bicara.
Di hadapan gadis tersebut terdapat beberapa lembar surat yang berisi tulisan-tulisan yang sebenarnya cukup memberatkan dirinya, tapi dia lebih memilih diam dan menyelesaikan membacanya tadi.
Entahlah bagaimana permulaan mereka bertemu, bagaimana bisa mereka pada akhirnya duduk ditempat ini saling berhadapan wajah antara satu dengan yang lainnya.
apakah ini takdir atau hanya sebuah kata kebetulan di mana mereka sama-sama dalam posisi menginginkan sesuatu dan juga membutuhkan sesuatu.
seolah-olah sejak awal ada ikatan benang yang menarik mereka berdua untuk berkumpul di sini dan menyepakati sesuatu yang senja tidak tahu apakah ini menguntungkan dirinya atau merugikan dirinya namun jelas menguntungkan laki-laki yang ada dihadapannya tapi dia tidak paham apakah itu juga akan merugikan laki-laki di hadapannya tersebut satu hari nanti.
Senja, begitu orang-orang memanggil nama nya.
Mereka bilang Senja merupakan momen indah saat sore hari sebelum matahari terbenam. Datangnya senja bisa dikatakan waktu favorit menjelang malam dan menjadi momen yang sering ditunggu-tunggu banyak orang.
Senja atau magrib adalah bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam, ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari CAKRAWALA.
Apakah Senja memiliki manfaat untuk orang-orang disekitar nya?.
yah tentu saja ada.
Mereka bilang Senja Memberi persepsi baru tentang waktu. Pernahkah Anda merasa waktu berjalan sangat cepat? Biasanya hal ini akan Anda rasakan ketika sedang melakukan hal yang menyenangkan hingga waktu terasa berjalan cepat. Atau mungkin saat Anda sedang dikejar deadline pekerjaan yang sangat banyak. Dalam kondisi tersebut, saat memandang sunset Anda akan merasa seolah waktu sedang berjalan dengan lambat. Hal ini terjadi karena Anda terpaku pada keindahan pemandangan tersebut sehingga merasa waktu berjalan lebih lambat. Selain itu, luasnya langit yang tidak terbatas semakin memberi kesan yang sama.
Bahkan berkat melihat Senja membuat kita lebih bersyukur, indahnya pemandangan sunset akan membuat Anda merasa lebih bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menikmatinya.
"Jangan memimpikan pernikahan penuh cinta, aku dan kamu hanya menyepakati surat perjanjian kedua belah pihak untuk saling membuat keuntungan antara satu dengan yang lainnya"
Laki-laki dihadapan Senja terus bicara, menatap datar kearah Senja sembari menyesap minuman nya.
mungkin dari seluruh sosok laki-laki yang pernah dia temui di muka bumi ini, laki-laki di hadapannya ini merupakan laki-laki yang cukup datar dan tidak memiliki hati.
dia tidak tahu apakah laki-laki itu memiliki permasalahan hidup yang sangat berat sama seperti dirinya, tapi saat mereka melakukan kesepakatan seperti ini bisa saja pastikan jika laki-laki di hadapannya tersebut memang tidak memiliki sedikitpun hati.
bagaimana bisa laki-laki tersebut menjanjikan pernikahan tanpa hati dan juga tanpa cinta?!.
Cakrawala adalah nama laki-laki tersebut, yang baru dua hari dia kenal, datang membawa harapan atas keputusannya dalam beberapa waktu ini.
ketika dia berpikir dia tidak lagi memiliki jalan dan dia sudah berpikir jika jalan yang akan ditempuhnya menjadi buntu seolah-olah Tuhan mengirimkan malaikat penolong untuk dirinya namun juga laki-laki di hadapannya tersebut seolah-olah menjadi malaikat yang siap mencabut nyawanya kapan saja.
Cakrawala, bukankah sangat kebetulan sekali nama laki-laki tersebut cakrawala? bayangkan bagaimana ketika Senja dipertemukan dengan Cakrawala, padahal dalam realita Cakrawala tidak bisa hidup tanpa Senja begitu pula sebaliknya.
Tidak pernah terpikirkan jika dua nama tersebut dipisahkan dari bagian ciptaan tuhan tersebut.
Cakrawala laki-laki dingin dan datar, yang tidak pernah menggunakan hati nya dalam beberapa tahun belakangan, bagi nya Perempuan tidak menjadi kebutuhan nya, dia menutup hati dan mata nya untuk makhluk bernama perempuan, dia lebih suka membuat kesepakatan untuk mendapatkan kemauan nya.
Kehilangan membuat dia melupa bagaimana rasanya mencintai, jatuh cinta bahkan di cintai.
Tekanan keluarga untuk menikah lagi dan mendapat kan keturunan terus menggila dalam setengah tahun belakangan, karena itu mau tidak mau dia mencari cara untuk membebaskan diri dari perjodohan yang akan diciptakan oleh orang tuanya, dia mencari seorang gadis yang bisa dia bayar dan saling memanfaatkan antara satu dengan yang lainnya demi sebuah keuntungan.
"Hanya hingga kamu melahirkan bayiku, kita akan membuat sebuah konflik hingga terjadi perceraian di antara kita, bisa siapapun yang akan menjadi salah di antara kita nanti, sebelum itu akan menjadi cara untuk kita berpisah"
Cakra kembali Bicara, menatap wajah Senja dengan tatapan tajam bagaikan elang.
wajah tampan mendominasi meskipun usianya jelas telah jauh lebih matang daripada usia para laki-laki yang pernah sejak kenal, tapi percayalah laki-laki itu merupakan laki-laki paling tampan dari seluruh laki-laki yang pernah Senja di dalam seumur hidupnya.
"Apa kamu sudah memahami semua kontrak perjanjiannya?"
Ketika laki-laki tersebut bertanya ke arahnya Senja mencoba menelisik bola mata laki-laki tersebut, kemudian gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan atau ada yang ingin kau sampaikan dalam perjanjian pernikahan kita selanjutnya?"
laki-laki tersebut bertanya sambil menelisik lawan bicaranya, memastikan jika sebenarnya surat perjanjian yang dibuat sudah sangat jelas tanpa cacat.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Cakra seketika membuat Senja kembali menatap dalam bola mata Cakra, dia menelisik mimik wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu.
"Apakah aku bisa minta uang muka nya?"
Hanya itu barisan pertanyaan yang ingin dia tahu,dia hanya membutuhkan uang nya untuk operasi ayah nya saat ini tidak lebih.
Cakra terlihat tidak bergeming mendengar ucapan yang dilontarkan oleh gadis di hadapannya.
"Aku akan mengirimnya ke rekening mu sekarang juga.
*****
Pernah bertanya apa impian yang diinginkan Senja?!.
Menjadi ratu sehari dalam pernikahannya.
Semua perempuan mengimpikan momen sekali seumur hidup ini. Tampil cantik jadi ratu sehari di panggung pelaminan.
Tidak cuma gaun dan riasan, perempuan juga punya impian tentang kehidupan pasca menikah. Menjalani hari-hari manis berdua sebagai sepasang suami-istri.
jadi sepertinya pasti memikirkan banyak hal di hari pernikahan mereka, ingin mendengar keriuhan dan juga canda tawa dari para teman-teman yang mungkin akan merasa iri dengan pernikahan yang digelar sekali dalam seumur hidup mereka.
Tapi nyata nya dia harus menelan semua impian nya hari ini, karena pada akhirnya impian seseorang terkadang harus kandas karena keadaan, bahkan terkadang apa yang direncanakan di masa lalu tidak akan terlaksana sesuai harapan di masa sekarang.
Pernikahan sederhana dengan mas kawin seadanya, seperangkat alat sholat dan ucapan janji suci didepan penghulu, selebihnya tidak ada, karena itu dia memilih diam dan membuang semua impiannya.
"Saya terima nikahnya, kawin nya....."
Sayup-sayup suara Cakra terdengar memenuhi ruangan mendominasi berwarna putih tersebut, dimana beberapa saksi dan juga tamu menghadiri akad nikah mereka.
Tidak ada lamaran penuh cinta, tidak ada tawa bahagia atau godaan demi godaan yang terlontar untuk calon pengantin baru.
semua berjalan begitu lurus dan datar tanpa ada rasa di dalamnya, persis seperti sayur jadi masak tanpa garam dan micin, hambar juga tawar.
"Sah.?"
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Bola mata Senja sejenak menatap kearah depan, pandangan kosong menerjang pemikiran, di beberapa detik berikutnya bola mata gadis tersebut terlihat berkaca-kaca ketika kata sah terlontarkan dari banyak orang yang menyatakan dirinya telah menjadi milik seseorang.
Meskipun janji suci diikat secara keagamaan bahkan disaksikan para saksi dan juga wali realitanya itu bukanlah pernikahan sesungguhnya di antara dirinya dan Cakra.
Seketika air mata gadis tersebut turun membasahi pipi, dia sama sekali tidak bisa mengekspresikan perasaannya saat ini apakah sebenarnya saat ini bahagia atau dia terluka, tapi terkadang hidup itu adalah sebuah pilihan yang terasa tidak adil untuk dijalani.
Ketika kamu berharap berjalan ke arah kanan realitanya kamu dipaksa menuju ke arah kiri, kamu berharap berjalan ke arah depan tapi terkadang kamu akan ditarik oleh Allah SWT ke belakang.
Sesungguhnya Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan setiap fase dari perjalanan panjang manusia itu.
Dia menunjukkan kepalanya, terisak didalam diam kemudian Senja menaikkan kepalanya yang tertunduk sejak tadi, menatap kearah depan nya untuk beberapa waktu,dia menatap wajah ibunya yang terus menangis di samping dirinya, dia tahu wanita itu tidak ikhlas melepaskan dirinya tapi sama sekali tidak berani bicara, menutup rapat-rapat luka di hatinya sembari mencoba mengembangkan senyumannya dan berkata dia bahagia dengan pernikahan yang dia lakukan saat ini.
Dia ingat apa yang dikatakan ibunya kemarin.
"Menikah itu bukanlah sebuah permainan neng, di mana kamu bisa memulai permainan Ketika siap dan mengakhiri jika sudah mulai bosan. Menikah itu bukan hanya sekedar ikatan janji suci atas kedua belah pihak atara dua orang itu. Tapi ikatan juga terhadap sang pencipta. "
"Pernikahan itu bukan hanya sekedar Buku Nikah, Ijab dan Resepsi, tapi janjinya sama Allah, malu neng sama Allah karena mempermainkan ibadah yang paling di sukai Allah"
Senja sama sekali tidak bergeming, memilih diam sembari sibuk menyiapkan makanan di dapur sederhana beralaskan tanah.
"Bismillah Mak, InsyaAllah"
Dan kini realita nya dia menikah dalam permainan, menganggap ibadah ini hanya perantara mereka untuk saling mendapatkan keuntungan.
Senja menatap Ibu nya lantas membiarkan wanita tersebut memeluknya secara perlahan.
"Jama’allahu syamlakumaa, waas’ada jadda kumaa, wabaarik ‘alaikumaa, waakhraja minkumaa katsiiran thayyiban."
Arti:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (HR. Anas bin Malik dalam Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2: 183, Bab 4).
Bisik Ibu Senja kemudian.
Tangis nya kembali tumpah.
jika ada yang bertanya kenapa dia menangis saat ini, dia bukan bersedih karena pernikahannya saat ini tapi ada beban lain yang membuatnya merasa seharusnya dia tidak terikat didalam pernikahan ini seandainya dia bisa memutar waktu dan memilih di masa lalu.
Sejenak Senja menatap kearah telapak tangan nya, dimana sejak tadi dia menggenggam sesuatu di sana.
Apa kabar mu saat ini?!.
Semoga semua baik-baik saja.
****
Rumah utama keluarga Cakra
Bola mata Senja menatap rumah begaya bak istana dihadapan nya, Seketika dia menelan ludahnya.
Kehidupan Cakra sangat kontras dengan kehidupan nya, dimana semua serba berbeda, bahkan ukuran rumah mereka tidak lebih besar dari ukuran garasi mobil laki-laki tersebut.
Senja terlihat diam, meremas tangan nya untuk beberapa waktu ketika mobil yang mereka naiki berhenti tepat di depan pintu masuk bangunan rumah mewah bak istana tersebut.
Bisa dia lihat Cakra turun dari mobil yang dia naiki tanpa banyak bicara, Senja pada akhirnya ikut turun dari mobil tersebut Secara perlahan.
Bagaikan kisah drama Korea ketika memasuki rumah seorang penguasa, beberapa pelayan tanpa menundukkan kepala mereka di hadapan Cakra kemudian Senja.
Tidak ada yang aneh sama sekali Dari semua orang yang ada di, ketika kedatangannya disambut dengan baik dengan senyuman yang merentang lebar di balik bibir masing-masing orang yang ada di dalam rumah besar tersebut.
Seorang laki-laki seusia ayah nya, seorang wanita yang lebih tua dari ibu nya dan seorang perempuan berusia sekitar 1-2 tahun di atas Cakra.
"Kau sudah pulang membawa istri pilihan mu?"
Wanita yang bergaya begitu mewah dan elegan dengan rambut yang disanggul dengan sempurna serta dandanan ala ibu pejabat bicara menyambut Cakra, Senja tebak itu pasti adalah ibu Cakra.
Pandangan wanita tersebut ke arah dirinya terlihat tidak baik-baik saja, cukup berbeda dengan cara laki-laki seusia ayahnya menatap dirinya.
Laki-laki tua itu mendekati Senja sembari menatap dalam wajah Senja untuk beberapa waktu, kemudian laki-laki itu berkata.
"Kamu akan butuh waktu cukup lama untuk bisa beradaptasi dengan keluarga Cakra, ayah harap kamu betah tinggal di sini bersama semua orang, nak"
Saat laki-laki tersebut bicara seperti itu Senja bisa menebak karakter yang dimiliki oleh sang mertua laki-lakinya.
"Ckckckck meskipun aku tidak bilang selera mu buruk, tapi dia tetap saja gadis desa"
Terdengar suara berdecak Mengejek dari bibir Wanita yang adalah ibu Cakra, wanita tersebut menatap Senja untuk beberapa waktu, menelisik gadis itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
Fuhhhh..
wanita tersebut menghela kasar nafas nya.
Gadis tersebut sama sekali tidak takut atau berusaha menelan salivanya, dia hanya berpikir wajar jika seorang ibu tidak benar-benar menyukai menantu pilihan anak-anak mereka karena tidak sesuai dengan kriteria dan harapan mereka.
Saat didalam kandungan seorang ibu mengharapkan kebaikan anak-anak mereka mendoakan hal yang naik dan berjuang untuk melahirkan buah hati mereka, begitu lahir berjuang keras untuk menjadi madrasah utama, jangan sampai menciptakan generasi yang salah.
pagi, siang malam mendoakan kebahagiaan, bahkan tidak jarang merancang masa depan untuk anak-anak mereka, berharap satu hari anak-anak akan hidup lebih baik dari diri nya dan mendapat kan menantu Sesuai harapan mereka.
Realitanya begitu anak-anak dewasa mereka sudah berani membuat keputusan sendiri yang tanpa pernah disadari menyakiti hati seorang ibu.
Senja mengembang kan senyuman nya, berusaha menampilkan ekspresi terbaik nya, bergerak mendekati wanita tersebut dan menyalaminya secara perlahan.
"Ckckckck tidak perlu berlaku sopan segitu nya, nanti juga kalau masuk dalam kehidupan kota adab menghilang sendiri karena gaya hidup yang mulai berubah"
Cetus, sangat cetus kalimat tersebut terucap dari balik bibir merah wanita di hadapan Senja.
Dia telah apa dengan karakter manusia seperti itu, orang udik yang masuk ke kota awalnya terlihat biasa-biasa saja dan sangat lugu juga bodoh, namun nanti setelah pintar dan pandai menggunakan sandal, lupa semua nya, bahkan tidak ingat mereka pernah datang dari desa.
Hilang sudah sopan santun dari desa, berubah jadi gaya kekotaan yang gaul.
Itu Realita yang acapkali terjadi didalam kehidupan nyata.
Alih-alih sakit hati, Senja menjawab dengan lembut.
"InsyaAllah tidak, Bu"
Dia tahu di antara orang-orang yang menyukai kita akan ada yang membenci kita, di antara rasa nikmat yang diberikan Allah SWT, akan ada ujian yang tidak terhingga.
Nikmati saja, satu hari kamu akan merindukan proses ini, dibalik berhasil atau tidak nya sebuah proses dalam kehidupan, akan ada masa kamu merindukan masa lalu dan ingin menoleh kebelakang untuk menjadikan nya sebuah pembelajaran.
"Sudahlah, bawa dia naik ke atas, muka nya bisa membuat ku sakit kepala"
Ibu Cakra menepis tangan nya kasar, enggan disentuh perempuan udik yang benar-benar bukan selera dia.
Perempuan muda yang berdiri di samping wanita tersebut terlihat menggelengkan kepalanya.
"Ma..."
Dia berusaha mengingatkan, melirik kearah Senja sambil melebarkan senyuman nya.
"Mbak antar ke kamar yah, Cakra juga harus buru-buru ke perusahaan, Pa .. Nabila titip Icha"
Setelah berkata begitu, perempuan muda tersebut langsung menuntun tangan senja, membiarkan seorang bibit pelayan membawa koper yang ada di tangan gadis tersebut.
"Jangan tersinggung sama sifat mana, beliau memang begitu, tapi sekali nya suka sama seseorang, Mama baik nya bagaikan malaikat"
perempuan tersebut berbisik sambil menepuk-nepuk punggungnya, membuat senja menoleh kearah nya.
"Panggil kakak, kak Nabila,kakak 2 tahun di atas Cakra, tidak perlu khawatir soal apapun hmmm"
Lanjut perempuan itu lagi.
Senja mengembangkan senyuman nya, minimal sesulit apapun pernikahan nya, masih ada yang baik dan mensuport dirinya.
Karena tidak semua keluarga kaya itu punya hati tinggi dan angkuh bukan?!.
****
"Bukannya mama tidak suka, apa kamu tidak lihat gadis itu dari kampung Nabila, kampung.... catat kampung"
Mama Niar terus mengeluh didepan putri nya, sembari tangannya sibuk membersihkan buah-buahan di atas tempat cucian piring, berapa hari ini kepalanya terasa ingin pecah saat dia tahu Cakra, putra kesayangannya menikahi gadis miskin juga dari kampung.

bayangkan bagaimana perasaan nya saat ini, dia menekan putranya agar menikah, memilihkan calon pengantin yang terbaik untuk menggantikan menantunya yang meninggal dunia.
5 tahun sudah cukup baginya melihat chakra terpuruk dalam keadaan karena mengingat mantan istrinya.
"Orang yang sudah meninggal tidak mungkin kembali lagi, berhentilah berpikir Jelita akan pulang lagi ke dunia"
"Mama akan mengenalkan kamu dengan putri teman mama, Putrinya seorang dokter Cakra, tidak bakal malu kamu dapat anak Pak Santoso dan ibu Irma, sudah cukup setara kalau jadi menantu keluarga Gunawan"
"Mama pingin punya cucu juga, kepengen bawa Cucu di tiap acara arisan ibu-ibu bareng teman mama"
itu yang selalu dia katakan kepada Cakra, putranya agar menikah dengan gadis pilihannya, siapa sangka jika disahkan tekanannya selama beberapa waktu belakangan malah membuat Cakra berkata jika dia telah menemukan tambatan hatinya dan juga calon istri nya.
"Tidak gadis kampung juga Cakra.."
"Tapi dia lebih cocok jadi makmum ku Ma, lebih suka istri rumahan, bukan istri yang memiliki karir cemerlang yang akan mempersulit hubungan kami karena ego pekerjaan masing-masing"
"kalau kamu nikah sama gadis pilihan kamu mama sama papa tidak bakal datang ke pernikahan kalian, camkan itu"
dan pada akhirnya apa yang dia takutkan terjadi juga, Cakra hanya meminta Restu dan benar-benar menikahi gadis kampung yang tidak dia ketahui putranya menemukannya di mana.
belum lagi putranya bukan membawa dia atau suaminya melainkan membawa saudara laki-lakinya, itu sangat keterlaluan.
Mama Niar menghela kasar nafasnya.
"seleranya kok rendah sekali, memangnya gadis kota kurang cantik apa? pakai acara cari perempuan di kampung segala"
Oceh Mama Niar lagi, dia terus membasuh buahan yang tersisa di hadapannya.
Dia tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan kekecewaannya dan kekesalannya saat ini, tapi dia wajar merasa kecewa dan kesal pada keputusan Cakra yang dianggapnya telah melewati batasannya.
bagaimana mungkin putranya tersebut menikah tanpa izin darinya sama sekali, seolah-olah tidak menganggapnya ada dan sama sekali tidak menganggapnya sebagai seorang ibu.
hati ibu mana yang tidak akan kecewa saat putranya tiba-tiba menikah dan membawa menantu ke rumah mereka tapi mereka sama sekali tidak tahu menang soal siapa menantu mereka tersebut.
di tengah kekesalan dan kemarahan mamanya, Nabila Tampak diam. Dia memilih memotong buah semangka di atas meja makan, tidak mengeluarkan suaranya sama sekali sejak tadi.

telinganya telah terbiasa mendengar ocehan mamanya setiap kali segala sesuatu tidak sesuai dengan keinginan mamanya sejak dulu, jadi dia sama sekali tidak mesti heran dengan apa yang dilontarkan oleh mamanya saat ini.
wanita tersebut memang tidak pernah merasa cocok dengan siapapun, bahkan pernikahannya dan suaminya dulu pertama kali juga seperti itu, tidak menyetujuinya di awal namun seiring berjalannya waktu malah jadi menantu kebanggaan.
mungkin itu sudah menjadi sifat alami seorang ibu kepada anak mereka dan juga pilihan anak mereka, mungkin karena awalnya merasa tidak sesuai dengan ekspektasi namun siapa tahu perhatian demi perhatian mampu meluluhkan hati seorang ibu dari para menantunya.
Dan seperti biasadia sudah khatam dengan sifat mamanya, sekalinya wanita tua itu mengoceh maka akan terus bergerak pada 7 turunan, 7 tanjakan juga 7 belokan, bahkan jika diukur dengan gerbang rel kereta api panjangnya mungkin nyaris sama, yang lebih mengerikan penyakit buruk mamanya saat mengoceh adalah wanita itu tidak akan pernah menghentikan ocehannya dan terus berlanjut di setiap periode yang diinginkannya baik pagi siang sore malam baik pada jam makan atau jam bersantai atau bahkan jam nonton TV atau bahkan tengah bermain handphone.
apa istilah nya? pokoknya saking panjangnya ocehan mama nya dia tidak bisa menakar atau menghitung durasi waktu ocehan wanita paruh baya lebih tersebut.
"pernah tidak kamu membayangkan jika seandainya anak itu suatu hari bakal ngelunjak dan merasa jika dia adalah nyonya rumah di dalam kediaman Cakra?"
Mama nya tahu-tahu bertanya sambil menghentikan gerakan tangannya, menatap kearah putri nya untuk beberapa waktu.
Dia menelisik wajah Nabila sembari bertanya-tanya apa mungkin nanti senja akan mengecewakan dirinya.
"pada akhirnya orang udik tetap tidak tahu diri, sekalinya ngelunjak yah tau sendiri"Lanjut Mama nya lagi.
Nabila pada akhirnya menghentikan gerakan tangannya, dia berbalik kemudian menatap Mama nya untuk beberapa waktu, di beberapa detik kemudian Perempuan tersebut mengembangkan senyuman terbaik nya.
"Mama sudah sholat isya?"
tanya Nabila tiba-tiba.
mendengar pertanyaan putrinya seketika membuat Mama Niar diam sejenak, kemudian dia menjawab kesal.
"setelah makan nanti baru sholat"
Wanita itu menjawab cepat kemudian membuang pandangannya.
Dia pikir sepertinya ocehan nya tadi sama sekali tidak didengarkan oleh putrinya, jadi dia pikir sia-sia saja dia mengucap panjang kali lebar kali tinggi sejak tadi, pada akhirnya putrinya akan tetap seperti itu tidak mendengarkannya dan masa bodoh malah mengalihkan pembicaraan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
wanita itu akhirnya menghela kasar nafasnya.
melihat ekspresi mamanya kini Nabila pada akhirnya melangkah mendekati Mama nya tersebut, dia memeluk wanita itu secara perlahan dari belakang, hal itu sontak membuat Mama Niar diam.
"Bukankah kita sudah tahu ma? tidak baik berprasangka buruk padahal kita saja belum mengenalnya?"
“Jauhilah olehmu sebagian besar dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah keburukan (dosa)” (Q.S. Al Hujuraat: 12).
Dalam Hadits, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa:
“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah seburuk-buruknya perkataan”.
"Nikmati saja, jika memang Mama ga suka, itu bukan Hak kita, Senja itu pilihan Cakra bukan pilihan kita, ini tentang hidup Cakrawala, bukan tentang hidup Nabila atau hidup Bagaskara"
Ucap Nabila sambil terus memeluk Mama nya, menenangkan wanita tua itu atas kemarahan dan kegelisahan nya yang tidak dia anggap bermanfaat.