The twin's Mask

The twin's Mask
Salam cinta



Mak untuk pem..baca lama yang cari Yash dan Alessia S.2 sudah ada di sini yah Mak, insya'Allah hingga akhir di sini Mak sampai clear, mulai dari Ep..sode 150 Mak yahhhh.


Perjuangan panjang banget untuk bikin ini kisah Yash dan Alessia Mak🤧🤧🤧🤧 .




*******


...SALAH SATU PETIKAN EPI.. SODE...


Bola mata Gadis tersebut menatap dalam laki-laki berpakaian mendominasi berwarna putih yang ada dihadapan nya tersebut, satu kata yang melesat dari bibir laki-laki itu cukup membuat dia kehilangan kata-kata nya.


"Kita harus melakukan operasi nya secepat nya"


Gadis tersebut diam, tidak menjawab ucapan dokter dihadapan nya, dia seolah-olah kehilangan kata-kata tepat untuk dirinya sendiri saat ini.


''Operasi nya harus dijalankan?!.'


Bayangkan bagaimana dia mendengar apa yang diucapkan oleh dokter dihadapan nya tersebut, seolah-olah dunia akan runtuh saat ini juga atas keputusan yang dibuat tanpa pernah dia duga.


setelah berita buruk soal dirinya sendiri ini dia harus menerima berita lainnya soal saudara kembarnya.


Dia diam, memilih terus mendengarkan ucapan dokter yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu sembari sesekali dia menggenggam kedua telapak tangannya.


Pikiran yang berkelana untuk ke mana dia tidak tahu, yang dipikirkan saat ini adalah bagaimana caranya biar mendapatkan uang untuk melakukan operasi saudara kembar ya yang tidak baik-baik saja dan berada dalam kondisi kritisnya.


Mereka hanya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa karena tidak memiliki keluarga satupun di sana, saling bertahan antara satu dengan yang lainnya dan hanya ada seorang bibi muda yang selalu menjaga mereka.


Andaikan saja mereka orang kaya mungkin dia tidak harus seperti hari ini bekerja pagi, siang,sore dan malam hanya untuk membanting tulang, dan adaikan mereka adalah orang kaya mungkin biaya operasi hanya seperti mimpi, seolah-olah mengeluarkan selembar kertas atau bahkan dedaunan yang ada di halaman depan rumah.


Sesulit inikah menjadi orang miskin? apa-apa harus dinilai dengan uang dan setiap kali mencarinya harus butuh perjuangan ekstrim, tanpa berjuang setengah mati maka tidak akan mungkin sampai pada titik menjadi orang kaya yang memiliki segala-galanya.


Lelahkah dia?!.Entahlah dia tidak tahu jawabannya.


"Apakah tidak ada pilihan lain?" Tanya gadis tersebut pelan, dia masih menggenggam erat takut tangannya, bisa dilihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah penuh kegelisahan tampil di balik wajah cantik gadis tersebut, masih berharap mungkin ada pilihan lain atau mungkin apapun itu selain daripada operasi.


Dia dan kembarannya realitanya tidak baik-baik saja, mereka berada pada fase yang sangat sulit sekali untuk dijelaskan dengan kata-kata.


Sama-sama sulit, dia dan sakit nya di mana dalam beberapa hari kemarin satu proses pengecekan kesehatan nya membuahkan hasil, dokter berkata ada kanker di rahim nya.


"Hahhh!"


Alessia ingin sekali menangis, namun dia berusaha untuk tertawa, menyembunyikan rasa sakit yang ada di dalam hatinya, tidak menampakkan sedikitpun luka di hadapan kembarannya atau bahkan bibi muda.


memaksakan diri untuk berkata jika dia baik-baik saja.


Lalu kini bagaimana bisa kembaran nya harus melewati masa sulit pada kehamilan kritis nya, di buang oleh keluarga yang menghamili Agnessia yang ada di luar nikah karena jebakan seseorang pada satu malam berat hingga berakhir seperti ini.


"Hahhhh"Gadis tersebut mengehela kasar nafasnya.


"Kita Sudah tidak memiliki pilihan lainnya"jawab dokter yang ada dihadapan nya tersebut pelan.


Alessia kembali tidak menjawab, memilih diam sembari terus menatap ke arah depan, kenapa takdirnya masih sekejam ini kepada mereka juga kepada dirinya.


******


Ruang rawat inap.


Rumah sakit xxxxxxx.


Bola mata Alessia menatap dalam satu sosok perempuan yang tidak berdaya di atas kasur rumah sakit mendominasi berwarna putih dihadapan nya tersebut, dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, menatap nanar kearah sosok perempuan yang memiliki wajah sama persis seperti dirinya tersebut.


gadis tersebut baru saja membuka pintu kamar dimana saudara Kembar nya dirawat, melangkah maju mendekati Agnessia secara perlahan, memilih duduk di satu kursi kayu tepat di samping kanan di mana saudara kembarnya tergeletak tak berdaya saat ini.


bisa dia lihat bagaimana perut yang sudah membesar tinggal menunggu masa kelahiran milik Agnes, keadaan tersebut membuat dirinya semakin resah saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Alessia membatin didalam hati nya, menatap gusar pada Agnessia yang belum juga terjaga, selang-selang Infus tertancap ditubuh Perempuan yang ada di hadapannya itu.


selama kehamilannya saudara kembarnya tidak baik-baik saja, ada berbagai macam penyakit yang menyerangnya belum lagi tingkat stress yang menghantam Agnessia.


meskipun mereka telah mencoba berbagai macam alternatif untuk pengobatan Agnessia, realitanya mereka tetap saja tidak berhasil untuk menyembuhkan perempuan tersebut, dan kini pada akhirnya ada di sini sang kembaran nya, berjuang di antara hidup dan mati di atas kasur mendominasi berwarna putih dan tidak lama lagi akan berjuang di atas ruang operasi.


"Apa yang harus aku lakukan?"


lagi perempuan tersebut bergumam pelan.


Yah apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan banyak uang untuk operasi Agnes? kemudian untuk sakit yang dia derita saat ini.


Bekerja menjadi pelayan di salah satu toko kua kemudian bekerja sampingan di mini market terasa sangat sulit, mengumpulkan pundi-pundi uang dari sana hanya cukup untuk makan, belanja kebutuhan, bayar kontrakan dan lain sebagainya, sisa nya sukur-sukur bisa di tabung kalau ada sisa.


Alessia menghela pelan nafas nya, mencoba untuk menggenggam tangan nya secara perlahan, mengelus lembut telapak tangan saudara kembarnya secara perlahan.


"Kita akan pergi sejauh mana setelah ini? kadang aku cukup menyerah dengan keadaan, tapi bukankah semua hanya ujian?"


Alessia berguman, memejamkan sejenak bola matanya sembari membiarkan punggung tangan Agnessia berada di pipinya.


*******


Derap langkah kaki memecah keheningan malam, ketika dering handphone nya memecah keheningan, dikala dia terkantuk-kantuk menunggu mini market 24 jam waktu tengah malam dimana pengunjung tidak benar-benar banyak, Alessia gelagapan saat mendapatkan berita di seberang sana.


"Agnes masuk pada masa kritisnya"


"Apa?"


Alessia seketika mencoba mencari pegangan, bola matanya mencari teman seperjuangan nya di mini market tersebut.


"Adik ku..."Bibir Alessia bergetar.


Dia tahu gadis tersebut tidak baik-baik saja.


Kini Alessia terus melangkah kan kaki nya berlarian menembus angin malam, membiarkan sepatu nya saling beradu dengan lantai rumah sakit yang dia datangi, wajah penuh kekhawatiran Menghantam dirinya.


Lagi, lagi, dan lagi Agnessia masuk pada masa kritis dan sulitnya.


Alessia berusaha untuk menahan tangisannya, mencoba menguatkan diri dan berkata semua pasti baik-baik saja, jangan khawatir soal apapun, dan dalam perjalanan hidup Allah SWT akan selalu memberikan jalan terbaik untuk umat nya.


Bola mata gadis tersebut mencari ruang unit gawat darurat, terus bergerak melangkah ke depan tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarnya, dia berusaha untuk mencari bibi muda dengan perasaan yang jelas diterpa ribuan kegelisahan yang mendalam.


hingga pada akhirnya bola mata gadis tersebut menangkap satu sosok yang sangat tidak kenal, lebih mudah berdiri di ujung sana menatap kedatangan nya.


Alessia langsung sembari menyelisik tanya lewat bola mata mereka, bertanya apa yang terjadi pada Alessia tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya.


"Maafkan bibi Karena tidak bisa menjaganya dengan baik"


wanita tua di hadapannya tersebut meminta maaf sembari langsung berhamburan memeluk Alessia, dia tahu jika semua tidak baik-baik saja, Agnessia di dalam sana seolah-olah sedang bertarung pada masa sulit nya.


Mendengar ucapan bibi-nya cukup membuat alesia tahu apa yang terjadi pada saudara kembarnya, dia memilih diam dan tidak bicara apa-apa, melangkah mendekati kursi tunggu dan menetap ke arah depannya di mana saudara kembarnya tengah bertarung di dalam sana bersama para dokter ya mungkin sedang berjiwa untuk menyelamatkannya seperti sebelum-sebelumnya.


gadis itu memilih duduk, dia membisu dan tidak lagi mengeluarkan suaranya, sebarin dia merebak kedua belah telapak tangannya Alessia memilih untuk menunggu para dokter menyelesaikan tugas-tugasnya.


entah berapa lama waktu berlalu dia tidak tahu hingga pada akhirnya bisa dia lihat pintu rumah unit gawat darurat terbuka dengan sempurna.


begitu tim dokter keluar dari ruangan itu, Alicia secepat gila langsung berdiri dari posisi duduk ya dan bergerak mendekati salah satu dokter yang ada di hadapannya itu.


"Bagaimana, dok?"dia bertanya dengan tidak sabaran.


dokter yang ada di hadapan Alessia terlihat menghela nafasnya untuk beberapa waktu kemudian laki-laki tersebut berkata.


"Kita harus melakukan operasi nya"


Ketika dokter dihadapan nya berkata begitu, Alessia berusaha untuk mencari pegangan di belakang nya.


"Alessia"Bibi muda nya berusaha menahan tubuh Alessia yang akan jatuh, gadis tersebut jelas shok dan bingung dengan keadaan


Yah keadaan benar-benar terjepit saat ini dan mereka tidak memiliki pilihan atau solusi sama sekali, Hans laki-laki yang berjuang untuk adiknya, sahabat baik adik nya yang bisa mereka andalkan meskipun tidak banyak kini tengah berada di tengah-tengah kematian antara hidup dan mati.


Laki-laki itu sedang berjuang di atas ring kebanggaan nya, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk pengobatan adik kembaran nya dan diri nya.


Agnes dan Operasi lahiran nya karena kelahiran normal tidak mungkin dilakukan.


Dia dan Operasi nya, karena penyakit yang menggerogotinya harus segera di angkat.


Sejenak gadis itu memejamkan bola matanya.


"aku tidak memaksamu untuk menjawab saat ini juga, kamu bisa mempertimbangkannya di rumah dan memikirkannya dengan sebaik-baiknya, setelah kamu telah meyakini keputusanmu maka temuilah aku atau kamu bisa menghubungiku di nomor ini"


"apa hanya ini pilihan akhir darimu ya Allah?" batin gadis tersebut kemudian.


"Aku menunggu jawaban kamu"


kembali terngiang di telinga nya ucapan dari wanita itu kemarin.


Hingga pada akhirnya Alessia menoleh ke arah bibi muda nya untuk beberapa waktu,bola mata nya terlihat berkaca-kaca.


Wanita yang di lihat terlihat mengerut kan keningnya.


Alessia kembali menoleh kearah dokter yang ada dihadapan nya


"Lakukanlah operasi nya"Tiba-tiba Alessia bicara ke arah dokter laki-laki yang ada dihadapan nya tersebut.


Bibi muda nya jelas terkejut dengan ucapan Alessia.


Sedangkan laki-laki tersebut tidak menampilkan ekspresi apapun, dia menghela pelan nafas kemudian berkata,


"Baiklah, kalian bisa menyelesaikan administrasi nya"


"Ya, dokter"Jawab Alessia pelan.


Setelah mendapat kan jawaban, dokter tersebut langsung berbalik dan meninggalkan mereka.


"Alessia"


Bibi muda nya menggenggam erat telapak tangan Alessia.


Wanita itu seolah-olah tahu apa yang difikirkan Alessia, begitu Alessia berusaha melepaskan genggaman tangan nya, dia langsung menggelengkan kepalanya.


Dia mencoba Berkata.


"Tidak,jangan lakukan itu. Jika kamu menerima tawaran wanita itu dan menikah, kamu akan kehilangan seluruh masa depan mu, Alessia."


wanita itu berusaha untuk mengingatkan Alessia,ini soal masa depan gadis muda yang dia pikir pasti masih begitu cerah dan panjang.


*****


Tidak aku pungkiri, rasa nya mata ku pedas karena tangis yang akan meluncur keluar namun berusaha untuk aku tahan,


Hati ku ingin meledak tapi aku pura-pura kuat dihadapan semua orang,


Aku ini hanya si miskin yang tidak memiliki apa-apa,


terombang-ambing di dunia Allah SWT tanpa tahu arah dan tujuan.


Indah sungguh ketika ajal telah datang, itu arti nya perjuangan di dunia mu telah usai.


Tapi realitanya nyawa ku masih begitu enggan di cabut oleh malaikat Izrail, alasan nya karena Allah SWT masih begitu sayang.